0

Sandwich Dingin

Beberapa tahun lalu ketika pertama kali tiba di Inggris, saya sering heran dengan restoran lokal yang di spanduk depannya mencantumkan menu: Cold Sandwich. Sudah pasti cold sandwich ini bukan roti yang diisi es dungdung kesukaan saya waktu kecil, ataupun jajanan eskirim roti khas singapura yang kekinian. Yang dimaksud di restoran di Inggris ini benar-benar cold sandwich, roti yang diisi sayuran dingin, dengan keju dingin dan daging dingin dari kulkas.

Cold sandwich juga bisa ditemui di minimarket, diletakkan di rak dingin bersama dengan sayur mayur, daging, dan minuman dingin. Awalnya saya pikir, jika membeli sandwich dari kulkas supermarket, bisa diangetin seperti kalau beli hotdog di gerai Sevel Indonesia. Eh ternyata mini marketnya ga menyediakan microwave, dan teman-teman saya juga memakan sandwich yang mereka beli dalam keadaan dingin. Eh ya Allah, jadi keingetan gimana kalau emak saya melihat hal ini, secara emak biasanya wanti-wanti agar saya menghangatkan makanan dari kulkas agar tidak sakit perut.

Sandwich dingin merupakan hal baru bagi saya yang datang dari negara pengguna magicom terbanyak hehe. Dan ternyata tidak hanya sandwich dingin, beberapa makanan di Inggris memang disajikan dingin seperti baru keluar dari kulkas. Makanan panas (hot food) bukan mandatory bagi warga Inggris. Malah bisa dibilang luxury yang hanya bisa didapat jika makan malam bersama keluarga di rumah. Jadi makanan sehari-hari orang sini ya sandwich, yang ga harus anget. Bisa dimakan saat sarapan, makan siang dan juga makan malam. Sampai-sampai di brosur layanan masyarakat yang saya baca di puskesmas dekat rumah, mencantumkan anjuran: “Eat hot food at least once a day to maintain your health.”  

Lah yaa, brarti kan hot food atau stew beneran barang mewah yah di Inggris.

Di indonesia, walaupun lauk-pauknya dingin, minimal nasinya anget ngepul dari magicom (lauk-pauk dingin = tidak hangat, bukan keluar dari kulkas seperti cold sandwich). Apalagi makanan macam gudeg, kebayang ya itu gudeg kan konon makin enak kalo udah di-nget berkali-kali hahaha. Coba juga rendang, diangetin berkali-kali biar makin ngeresep bumbunya, dimakan pake nasi anget. Duh, pengen.

Waktu awal-awal tiba di Inggris, saya sering mengernyitkan dahi ketika abang-abang Subway bertanya apakah saya ingin sandwich saya cheesed and toasted?  Saya yang semacam pengen jawab ketus: “Yaiyalah, toasted biar anget dan kejunya leleh, menurut ngana?”

Tapi setelah beberapa saat, akhirnya saya bisa memahami budaya sandwich dingin ini. Terutama di musim panas seperti sekarang, makan masakan anget tuh nampaknya aneh sekali. Semenjak summer tiba, entah mengapa saya jadi lebih suka makan siang wrap (roti untuk kebab kalo di Indonesia) atau flat bread, diisi tuna atau pepperoni yang sudah saya dinginkan di kulkas, dilengkapi lettuce dingin dan timun, minumnya es kopi. Rasanya cocok, ga berlebihan, selesai makan ga bikin pusing karena kegerahan hehehe.Atau pasta yang saya beri udang dingin, herbs, garlic dan olive oil sebagai topping. Ga ada anget2nya acan.

Padahal waktu di Indonesia, saya suka banget makan siang bakso dan soto, minumnya teh anget. Slesai makan, gobyoss kemeringet, bibir jebleh karena kepedasan. Makanya saya jadi sering bertanya-tanya, kenapa ya kalau di Indonesia kita bisa banget makan masakan hangat di siang hari bolong, sementara di Inggris terasa janggal? Bukan hanya karena rasa masakannya yang ga cocok dimakan saat summer, tapi juga karena badan rasanya menolak. Apakah karena udara di sini terlampau kering ya? Sementara di Indonesia udaranya panas tetapi lembab, sehingga kalo makan yang panas-panas di Indonesia, tubuh tetap bisa menyesuaikan dengan cara berkeringat, sementara di UK susah untuk keringatan?

Bisa juga karena di sini tenaga kerja mahal ya? Ga ada asisten rumah tangga, makanan jajan juga mahal. Membuat orang memilih untuk membuat makanan yang gampang-gampang yang tidak perlu melibatkan kompor terlalu mendalam. Sandwich dan pasta dingin pilihannya hingga akhirnya menjadi budaya: makanan sebisa mungkin mudah membuatnya dan tidak harus panas.

 

Mbuhlah. Jadi, makan siang apa kamu hari ini?

Advertisements
0

Feminisme

Saya banyak mendengar dan membaca hal-hal terkait diskursus feminisme. Dalam sekejap, feminisme selalu menimbulkan stereotipe negatif setiap saya mendengar atau membacanya. Padahal jika dibaca definisinya feminisme justru berniat membantu wanita agar dapat terpenuhi hak-haknya berdasarkan kesetaraan gender. 

Lalu salahnya dimana ya, kenapa saya takut terhadap konsep feminisme? Dan kenapa juga konsep ini terasa jauh tak terjangkau, tidak ada aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari? 

Salahnya ada di saya, sepertinya. Saya yang salah membaca. Yang saya baca, kebanyakan konsep feminisme yang sudah dituangkan dalam gerakan politik, kadang tercampur baur dengan agama.  Kalau merujuk wikipedia, “Feminisme adalah sebuah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, ekonomi, budaya, ruang pribadi dan ruang publik.”

Jadi ketika saya berkata saya ingin sekolah, sama seperti teman-teman saya yang cowo sekolah; maka saya adalah feminis. Ketika ayah saya membantu ibu saya memasak di dapur, agar ibu punya waktu luang untuk les komputer; maka ayah saya adalah feminis. Ketika suami saya memberi uang saku kepada anak perempuan saya dengan jumlah yang sama dengan anak lelaki saya, maka suami saya adalah feminis. Karena mereka semua, memperjuangkan kesetaraan.

Dirunut dari diskursus ini, maka menjadi feminis tidak harus selalu perempuan. Kaum lelaki juga bisa menjadi feminis. Bukan dalam artian lantas menjadi justifikasi kaum lelaki untuk ngondek, melainkan bahwa kaum lelaki juga bisa loh membuat wanita mencapai hak-hak mereka.

Lalu blurrynya dimana ya? Blurrynya menurut saya, ketika para feminis menuntut haknya tanpa memperhatikan kewajibannya dan juga melanggar hak orang lain. Dalam kehidupan nyata, sangat mungkin ketika hak kita terpenuhi, membuat hak orang lain tidak terpenuhi. Misalnya seperti saya, ketika saya mengejar hak saya untuk sekolah lagi, terus terang saya mengurangi hak anak saya untuk mendapat waktu bersama saya. Sebelum perkuliahan saya dimulai, saya punya waktu untuk menemani mereka bermain dan belajar sejak mereka pulang sekolah sampai tidur malam. Namun ketika perkuliahan saya sudah dimulai, wogh boro-boro ngajarin mereka belajar, baca buku penghubung mereka saja kadang saya lupa. Sampai gurunya memberi note: “Rayhan, please ask an adult to sign your book.” Duh. ~~~ sampe sini dulu, belom pengen cerita bagaimana cara saya memitigasi keadaan ini agar semua pihak tetap terpenuhi haknya. Itu akan jadi kajian tersendiri kolom PhD Mama ūüėú.

Hal yang sama dengan konsep my life my body. Yang kadang seterbaca/dengar/lihat-nya saya, sering dipakai sebagai justifikasi wanita untuk menggunakan hal yang mereka suka atau nyaman, misalnya pakaian. Sekali lagi, menurut saya tidak ada yang salah dengan konsep ini. Wanita boleh memakai apapun yang mereka suka dan sesuai dengan kepribadian mereka. Tapi, ada tapinya. Janganlah sampai kita menuntut hak kita, sekaligus di sisi lain merugikan pihak lain.

Yang sering jadi perdebatan dan bikin blurry bagi saya pribadi, ketika ada gerakan wanita muslim tidak wajib memakai jilbab atas dasar feminisme, tidak ingin teropresi oleh agama. Ini sungguh kutak paham. Kalau memang ga mau pake jilbab, ya udah ga usah pake. Tapi ga usahlah cari-cari dalil tipis bahwa jilbab tidak diwajibkan bla bla. Apalagi sampai membuat seolah-seolah wanita berjilbab sebagai wanita yang dalam paksaan pihak lain. Ingat, ada hak dan ada kewajiban. Jika ingin memenuhi hakmu tidak pakai jilbab, monggo. Tapi janganlah sampai mengganggu orang lain yang melihat jilbab sebagai kewajiban. Duh apalagi kalo yang ngomong orang di luar agama tersebut. Rasanya pengen gue pites kepalanya.

Apakah terpaksa? Yaelah apa-apa juga perlu dipaksa hingga titik tertentu. Kalau emak-bapak saya ga maksa saya untuk sekolah, mungkin saya sudah menjadi anak putus sekolah sejak kelas 4 SD. Maka lihatlah juga demikian mengenai orangtua yang melatih anaknya berjilbab. Mereka mendidik, menanamkan prinsip yang diyakini ketika si anak belum tahu mana yang baik/benar/pantas/salah menurut komunitasnya.

Yakale anak kecil pas brojol langsung tau gimana cara makan yang baik dan benar. Enggak kan, harus diajari dulu. Dan bertahap. Pertama tata cara makan yang baik menurut komunitasnya, mungkin saat itu makan yang baik jika pakai tangan kosong. Beranjak besar, si anak melihat dunia yang lebih luas, ada teknologi bernama sendok, garpu, sumpit, pisau steak. Ntar besaran lagi ikut John Robert Power biar paham etika jamuan bisnis. Terus demikian pengetahuannya berkembang, sesuai pertumbuhan kognitif. Hingga si anak tahu mana yang pantas dia adopsi untuk situasi tertentu.

Sama dengan jilbab, Jika kelak si anak sudah memiliki kemampuan pikir komprehensif dan merasa tidak nyaman memakai jilbab, di sanalah letak gerakan feminisme, si anak bisa memilih untuk melepas jilbabnya/tidak. Tentu anak tersebut akan sudah punya pemahaman (nyaris) menyeluruh mengenai konsekuensi tindakannya. Kenapa saya bilang nyaris, ya iyalah karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Kita ga pernah tahu ada variabel lain yang tidak dipertimbangkan oleh akal pikir kita yang IQnya juga kadang lemah tapi belagak pintar perkasa pemilik dunia. Duh, muggle.

Itu tentang jilbab. Lalu apa lagi ya, yang kadang membuat saya blurry dengan konsep feminisme? Kapan-kapan saya tulis lagi ya, kalau sudah ingat.

Regards,

Dian

0

Hidup

Dua hari lalu saya merayakan Idul fitri. Hari raya yang membuat saya banyak tercenung namun juga tumbuh harapan. Tercenung karena biasanya menjelang hari raya, kedekatan dengan keluarga terasa semakin erat. Banyak kabar tentang keluarga yang terkadang membuat kaget: Sepupu saya A meninggal, Keponakan saya B sudah masuk universitas, Uwak saya menikah lagi di usia 60 tahun, dll, dst. Sungguh saya tercenung, betapa manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi padanya satu detik ke depan. Semua bisa terjadi. Siapa yang menyangka sepupu saya akan sakit, salah diagnosa, salah obat, yang kemudian membuatnya meninggalkan dunia ini tiga hari kemudian. Pilu. Atau uwak saya yang digadang-gadang sebagai perawan tua ternyata menemukan jodohnya pada usia 60 tahun. Hanya Allah yang tahu.

Selain kebingungan, harapan juga timbul. Jika yang sehat tiba-tiba sakit, maka sangat mungkin Allah memberi yang sakit tiba-tiba sehat. Semoga saya segera diberi kesehatan kembali. Aamiiin.
Idul fitri kali ini, saya menangis sesegukan di tempat sholat. Entah mengapa. Mungkin karena terlalu bahagia bisa sholat di lapangan dengan suara takbir yang keras (ingat, konteksnya UK dimana muslim adalah minoritas). Mungkin juga karena teringat ayah dan emak. Bisa jadi juga karena capek aja sih, dan PMS, hehe. 

Entahlah, Idul fitri ini rasanya campur aduk. Ingin rasanya duduk diam sejenak, jauh dari hiruk pikuk. Bertanya dalam diri, apa yang sudah terjadi setahun ini. Adakah diri menjadi lebih baik? Adakah diri memenuhi kodrat sebagai rahmat bagi semesta? 
Wallahualam.

Sheffield, 27 Juni 2017.

‚Äč‚Äč

0

IELTS atau TOEFL?

Beberapa rekan yang hendak meneruskan studinya ke jenjang pascasarjana bertanya; Aku enaknya tes IELTS atau TOEFL ya?

 

Saya biasanya menjawab:

Rencananya mau nerusin kemana? Beasiswanya apa?

 

Tes kemampuan bahasa asing biasanya menjadi syarat untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pascasarjana. Tes kemampuan bahasa asing ini bisa menjadi syarat dari universitas tujuan, dan juga bisa menjadi syarat beasiswa – jika melanjutkan studi pascasarjananya berencana disponsori beasiswa bukan dari orangtua.

Jika memiliki keuangan dan waktu yang berlimpah, tidak akan jadi masalah untuk mencoba semua tes kemampuan bahasa asing yang ada. Namun lebih seringnya sih, kita punya keterbatasan keuangan dan atau waktu. Jadi sebagai langkah pertama, mari pelan-pelan direnungkan hendak melanjutkan sekolah kemana.

 

1. Universitas dalam negeri 

Universitas dalam negeri  biasanya mensyaratkan nilai tes TOEFL ITP (Institutional Testing Program) untuk mendaftar di program pascasarjana. Pelaksanaan tes TOEFL ITP ada di berbagai lembaga pendidikan, semisal universitas  dan tempat les bahasa Inggris seperti EF dan LIA. TOEFL ITP biasanya berlaku lokal, umumnya di Indonesia saja. Jarang bisa digunakan untuk mendaftar di universitas luar negeri. Biaya tes sekitar Rp 350.000,-

Namun ada juga universitas dalam negeri yang menguji sendiri calon mahasiswanya, tidak menggunakan TOEFL ITP. Misalnya UGM yang menggunakan tes AcEPT untuk menilai kemampuan bahasa inggris calon mahasiswa.

Untuk itu cermati baik-baik persyaratan universitas mengenai nilai kemampuan bahasa. Kan sayang tuh kalau sudah bayar dan meluangkan waktu untuk tes TOEFL ITP, ternyata tidak terpakai karena universitasnya punya alat uji sendiri.

 

2. Universitas luar negeri

Tes bahasa untuk syarat kuliah di luar negeri akan sangat beragam, tergantung universitasnya apa dan di negara mana. Sebagai contoh, universitas di Amerika biasanya akan meminta hasil tes TOEFL iBT (Internet Based Test), sementara universitas di Inggris akan meminta hasil tes IELTS. Negara lain semisal Prancis atau Jepang, mungkin tidak akan meminta hasil tes bahasa Inggris melainkan hasil tes bahasa Prancis atau Jepang.

Maka setelah menentukan hendak bersekolah di negara mana, dan mengintip syarat bahasa yang harus dipenuhi di universitas tujuan, langkah kedua menentukan tes bahasa asing yang hendak diambil adalah:

Mengintip syarat visa negara tersebut

Ya, karena bisa jadi untuk mengajukan visa di negara tujuan studi ada syarat bahasa yang harus dipenuhi.

Misalnya, tahun 2014 ketika saya mengajukan visa ke Inggris belum ada syarat kemampuan tes bahasa. Namun kampus tujuan saya mensyaratkan nilai IELTS. Maka pada tahun 2014  saya melakukan tes IELTS di IALF. Pada tahun 2016 saya kembali lagi ke Inggris dan mengajukan visa lagi, ada peraturan baru mengenai syarat kemampuan bahasa: Jika kemampuan bahasa belum diasses (dinilai) oleh universitas, maka aplikan visa UK harus menunjukkan hasil tes IELTS yang diselenggarakan oleh IDP atau British Council. Lalu saya cek ke web kampus tujuan, tidak ada perintah spesifik mengenai penyelenggara tes IELTS yang harus dipilih.

Penyelenggara resmi tes IELTS di Indonesia ada tiga, yaitu British Council, IDP dan IALF. Dulu saya pilih tes di IALF karena gedungnya lebih bagus ketimbang gedung IDP, hehe (cetek sih). Namun dengan keluarnya peraturan baru dari kedutaan Inggris mengenai visa, akhirnya saya memutuskan untuk tes lagi di IDP, walaupun hasil tes saya dari IALF masih berlaku (hasil tes IELTS berlaku untuk dua tahun) dan pihak universitas tidak mensyaratkan penyelenggara tes tertentu. Saya waktu itu hanya berjaga-jaga. Karena peraturan mengenai visa cepat dan sering sekali berubah. Makanya saya main aman saja, ikut aturan terbaru dan yang lebih tinggi (peraturan kedutaan menurut saya lebih tinggi ketimbang peraturan universitas).

Lalu hasil tes IELTS keluaran IALF ga bisa dipakai dong? Bisa, untuk apply sekolah di UK dan utamanya Australia (karena IALF adalah lembaga Indonesia – Australia). Tapi jika nanti diterima di universitas di UK, maka harus tes IELTS lagi dong untuk visa, yang versi IDP atau British council. Males ya, dan biayanya juga cukup besar $205 untuk satu kali tes IELTS. Maka dari itu, kukuhkan hati hendak mendaftar di negara mana, universitas mana, dan pastikan sejalan dengan persyaratan visa negara tersebut.

 

3. Syarat Institusi Pemberi Beasiswa

Syarat beasiswa juga termasuk faktor yang menjadi pertimbangan dalam memilih tes bahasa. Syarat beasiswa DIKTI (Sekarang menjadi BUDI) tentu berbeda dengan syarat beasiswa Australia award, Fulbright, Chevening dan beragam beasiswa lainnya. Maka dari itu, pertimbangkan untuk mengambil tes bahasa yang diterima oleh semua beasiswa (Eh ada ga ya, hehe). Atau setidaknya yang paling sering disyaratkan oleh beasiswa.

Kalau beasiswanya mensyaratkan TOEFL iBT, ya udah sih jangan ngotot tes TOEFL ITP. Sayang waktu dan uangnya. Kecuali kalau niatnya untuk pemanasan sebelum tes TOEFL iBT.

 

4. TIPS yang lebih penting: 

Jangan pernah tergoda untuk curang, mau ditawari oknum untuk mendapat hasil tes yang lebih tinggi dari kemampuan diri sebenarnya. Jangan ya. Percayalah, setiap lembaga pendidikan dan beasiswa biasanya punya akses langsung ke database penyelenggara tes bahasa. Jadi dengan sekedip mata, meskipun blanko nilai tes IELTS atau TOEFLnya asli bisa segera ketahuan jika nilainya palsu atau markup.

 

————-

Demikianlah sedikit berbagi mengenai tes bahasa untuk studi pascasarjana. Semoga berhasil yaa.

 

Hwaiting!

 

-Dian

4

Menuju Diagnosa Multiple Sclerosis

 

Saya masih punya hutang untuk bercerita mengenai pertemuan dengan dokter spesialis di Inggris ya. Tapi mumpung masih ingat, saya hendak bercerita mengenai diagnosa MS dulu ya.

Seperti yang pernah saya posting sebelumnya, Multiple Sclerosis (MS) memiliki banyak gejala yang mirip dengan penyakit lain. Pada beberapa orang, membutuhkan jalan yang berliku dan panjang untuk sampai pada diagnosa MS. Pengalaman saya, membutuhkan waktu tiga bulan dan tiga kali MRI untuk sampai pada diagnosa MS (untung ga tiga kali Ramadhan macem Bang Toyib ya,hehe).

Perjalanan saya menuju diagnosa MS dimulai pada Februari 2016. Awal Februari saya merasa keram, kesemutan dan mati rasa pada badan sebelah kiri. Juga sempoyongan jika berjalan dan rasa sakit pada leher sebelah kiri.

Kunjungan pertama saya ke dokter umum. Karena gejalanya mirip orang asam urat atau kolesterol (sakit leher, keram mati rasa) maka dilakukan tes darah untuk mengkonfirmasi mengenai asam urat dan kolesterol. Semuanya normal. Namun dokter menemukan ada parameter yang mengindikasikan terjadi infeksi pada tubuh (kalo ga salah karena kadar sel darah putih yang tinggi). Kemudian entah bagaimana sampailah pada diagnosa Infeksi saluran kencing. Mungkin karena salah satu gejala MS adalah perlemahan pada kandung kemih, sehingga sulit menahan pipis. Mungkin waktu itu saya bercerita ke dokter kalau sering buang air kecil, sehingga dokter menyimpulkan Infeksi saluran kencing. Lalu sakit di leher, keram, kesemutan dan mati rasa? Dokter menyarankan agar saya tidak tidur miring, agar tidak keram kesemutan sebelah.

Seminggu berlalu, leher saya masih sakit dan gejala lain masih terjadi. Saya kembali ke dokter umum. Kali ini dirujuk ke spesialis syaraf. Oleh spesialis syaraf A, diagnosa sementara adalah syaraf terjepit. Namun harus dilakukan MRI terlebih dahulu untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Namun waktu itu dokter spesialis syaraf A harus keluar negeri, sehingga ketika hasil MRI saya keluar, dia tidak ada di Indonesia. Saran beliau waktu itu adalah bisa menunggu dia kembali tiga minggu lagi, atau ke dokter syaraf yang lain jika rasa sakitnya sangat mengganggu.

Karena saya tak sabar menanti, halah. Saya bawalah hasil MRI saya ke dokter syaraf yang lain. Dokter umum saya menyarankan dokter Pinzon. Ketika dokter Pinzon melihat hasil MRI saya, balasan rujukannya adalah suspek Multiple Sclerosis. Masih suspek karena waktu itu saya hanya MRI Spine (tulang belakang/leher) dan hanya ditemukan satu lesi (luka). Dokter Pinzon bilang, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk mendiagnosa seseorang terkena MS, yaitu:

  1. Setidaknya ada dua lesi (luka) berbeda pada syaraf pusat (Otak, tulang belakang, syaraf penglihatan)
  2. Ada bukti bahwa dua luka tersebut terjadi pada saat yang berbeda. Untuk lebih jelasnya bisa merefer pada kriteria MS oleh McDonald. Bahwa harus ada jeda minimal 30 hari antar serangan.
  3. Tiap serangan pada sistem syaraf berlangsung minimal 24 jam.

 

Karena waktu MRI pertama hanya ada satu lesi, maka dokter Pinzon meminta saya melakukan MRI kedua yaitu MRI Spine dengan lokasi yang lebih spesifik di T2 dan MRI otak. Hasilnya keluar seminggu kemudian, lalu patah hati. Di otak ketemu satu luka lagi. Duh.

Dengan adanya dua luka di tempat berbeda itupun, dokter Pinzon masih belum mau mendiagnosa saya terkena MS. Karena waktu itu belum ada pembanding apakah dua luka tersebut terjadi bersamaan atau terjadi dengan selang waktu 30 hari. Ingat, kriteria MS adalah jika jarak serangan satu dan dua minimal 30 hari. Saran dokter Pinzon adalah merujuk saya ke Siloam Jakarta, karena di sana memiliki teknologi MRI yang lebih canggih.

Bulan Mei, saya mengalami serangan kedua yaitu badan sebelah kanan yang keram. Kebetulan saya sedang berada di Jakarta, maka saya sempatkan MRI di Siloam seperti saran dokter Pinzon. Dan hasilnya, di otak ketemu dua luka dan satu luka baru yang terlihat di spine. Jadi ada empat luka. Duh sedih. Tegaklah diagnosa MS di Indonesia.

 

Lalu saya pindah ke Inggris. Sebelum saya berangkat, saya pamitan dulu ke dokter Pinzon. Lalu dokter menyemangati saya agar jangan kuatir, MS adalah penyakit yang sering terjadi di negara subtropis seperti Inggris. Menurut dokter Pinzon, tenaga medis di Inggris akan lebih cekatan menangani MS. Terimakasih dok sudah menyemangati.

Seperti yang tulis terdahulu, saya ke dokter umum di dekat rumah di Inggris, lalu dirujuk ke dokter spesialis syaraf di Hallamshire Hospital. Waktu tunggu dari dokter umum ke dokter spesialis adalah 11 Oktober ke 23 November. Cukup lama yaa, 6 minggu lebih. Saya jadi ingat, waktu di Indonesia pernah sambat karena harus menunggu satu minggu lebih untuk bisa dapat antrian dokter Pinzon (dokter Pinzon sangat terkenal di Jogja, jadi pasiennya banyaaak dan antri. Padahal dalam satu hari dokter Pinzon bisa menerima 60 pasien).

Nah saya belum mau banyak cerita tentang dokter spesialis yaa, postingan berikutnya Insya Allah. Saya cuma hendak bercerita bahwa di Inggris (Kota Sheffield, tepatnya) diagnosa MS oleh dokter Indonesia tidak ditelan mentah-mentah oleh dokter spesialis di Sheffield. Hasil MRI saya masih harus dibicarakan dengan ahli radiologi. Belum tentu MS. Waw saya senang sekali. Masih bisa bukan MS hehehe.

Beberapa hari lalu, saya dapat surat hasil kunjungan seperti ini:

image1

 

Intinya adalah, hasil MRI saya sudah didiskusikan pada pertemuan dengan radiology. Awalnya dokter Price (spesialis syaraf¬† saya) mempertimbangkan autoimun lain yaitu NMO (Neuromyelitis optica) mengingat letak luka saya yang di leher mirip seperti luka pada penderita NMO. NMO ini spesifik menyerang penglihatan. Namun setelah dirapatkan, ternyata luka tersebut tidak cukup panjang untuk terdiagnosa sebagai NMO. Sehingga tetaplah MS. Yaaaaa ūüė¶

Jadi demikianlah, diagnosa MS saya sudah terkonfirmasi dua kali. Di Indonesia dan di Inggris. Jalan yang cukup panjang. Jalan yang mahal, mungkin bagi teman-teman di Indonesia yang  tidak tercover asuransi. Semoga kelak BPJS segera memasukkan penyakit autoimun ke dalam formularium obat BPJS. Aamiiin. 

 

Tetap semangat dan berdoa yaaa.

 

Cheers,

Dian

 

 

 

 

 

3

Hak privat VS Komunitas

Dear Widi,

Kemarin pukul 1 dini hari GMT, seperti biasa aku terbangun. Ritualnya seperti biasa: pipis, main candycrush soda, lalu buka twiter untuk dapat highlight mengenai apa yang terjadi di tanah air. Halah, lewat twitter ūüėÄ

 

Ada convo yang menarik perhatianku, karena ada Rido di sana. Iya, karena Rido itu satu-satunya cowo gahar di timelineku yang bisa bahas korea sembari maskeran, sekaligus juga membahas gimana caranya membesarkan sesuatu pakai batere. Hehehe. Saat itu aku belum perhatian pada siapa partner convonya. Aku cuma tertarik pada kata-kata “belum masalah bahwa pakaian itu ranah privat.” Kenapa lagi nih Rido, apa ada napinya yang kena sexual harrasment. Kemudian aku tarik ke atas convonya, ternyata membahas foto mengenai pria yang mempermasalahkan celana robek2 seorang pelajar wanita. Pelajar itu menggunakan jilbab.

 

Aku tidak tertarik dengan isu public shamingnya, juga awalnya ga tahu siapa pria tersebut, tapi saat itu aku berasumsi pasti dia pria penting karena fotonya jadi viral. Aku hanya concern ke ¬†“pakaian ranah privat” dan kulihat pelajar tersebut menggunakan jilbab, Rido juga adalah islam, maka aku berani berkomentar. Merasa bahwa ini adalah percakapan hari-hari yang biasa banget bagi aku (dan mungkin muslim lainnya) ngeliat anak kecil bandel pake jilbab ga rapih, ga sesuai yang diajarin. Fenomenanya mirip kaya anak kecil pake rok sekolah kependekan, atau yang cowo pake celana sekolah bolong-bolong, pasti emaknya dan gurunya akan nyap-nyap ngomel. Sesimpel itu awalnya.

 

Aku khilaf, mixed-up mengasumsikan Widi, partner convo Rido adalah muslim, sama seperti Rido. Aku tahu Widi, sebagai dokter karena dulu pernah korespondensi  mengenai tulisan yang berhubungan dengan penyakit teman. Namun aku tidak banyak tahu mengenai hal-hal pribadi Widi seperti agama. Hal ini akan jadi krusial, karena ketika aku berasumsi lawan bicaraku muslim, maka yang aku tweet kuasumsikan akan satu frekuensi, tidak perlu penjelasan panjang karena aku berasumsi basic knowledgenya (mengenai kajian jilbab) sudah sama.

 

Aku juga semaksimal mungkin berusaha ga diskusi tentang agama dengan rekan yang berbeda agama. Kecuali kalau rekan tersebut memang menunjukkan ketertarikannya pada agamaku. Karena ilmuku ga cukup. Takutnya malah cuma debat kusir, sementara agamaku meminta untuk meninggalkan debat.
Tapi aku tulis postingan ini deh, untuk mengklarifikasi.

 

Kemarin aku mereply bahwa pakaian pelajar tersebut kurang tepat. Kalau pakai jilbab pakailah sesuai tuntunannya. Hal ini aku tuliskan dengan asumsi yang aku sebutkan di atas, bahwa kedua orang yang aku mensyen tersebut adalah muslim. Sehingga tidak perlu penjelasan mengapa pakaian tersebut kurang tepat, karena muslim biasanya sudah tahu mengenai batas aurat bagi wanita maupun pria. Kembali lagi ke fenomena awal, sama seperti guru yang gerah kalo anak muridnya pake seragam ga rapih. Atas baju pramuka, bawah seragam abu-abu. Ga mecing. Bisa memicu sanksi push-up dari gurunya.

 

Aku juga menulis tweet ke dua bahwa kalau pelajar tersebut tidak memakai jilbab, maka pakaiannya bisa masuk dalam ranah privat. Namun ketika dia menggunakan jilbab, maka ada tuntunan yang harus dipenuhi. Sama seperti pakai seragam sekolah, pasti ada tatacaranya dong, suka atau enggak suka. Kalo pas ga di sekolah, ga pake seragam sekolah sih, suka-suka aja. Mau pake celana bolong, baju ketek, dan lain-lain. Bisa jadi memicu komplain tapi tidak lagi dari guru melainkan dari orang rumah atau pacar. Sesimpel itu.

 

Tweet ke dua masih dengan asumsi bahwa yang aku mensyen adalah sesama muslim, yang sudah tahu bahwa ada tuntunan tersendiri mengenai cara menutup aurat untuk wanita, bahwa paha termasuk yang harus ditutup bagi wanita. Hal yang tidak perlu diperdebatkan. Sama seperti kenapa anak sma harus pake putih abu-abu, anak smp putih biru. Ya udah emang begitu, common knowledge, suka ya pake, ga suka ya cari sekolah yang ga pake seragam atau warna seragamnya beda.

 

Sekali lagi aku ingin menekankan bahwa dua tweet tersebut bukanlah merujuk pada kajian spesifik mengenai islam dan jilbab. Ilmuku ga cukup untuk bicara ke sana, aku cuma tahu common knowledgenya, hukum-hukum dasarnya.

 

Yang aku ingin highlight, sekali lagi adalah: bahwa jika ada simbol-simbol komunitas tertentu dalam pakaian , maka seseorang kehilangan hak privat atas pakaiannya. Dia harus menanggung kewajiban-kewajiban komunitas yang melekat pada pakaian tersebut. Misalnya tata cara berpakaian yang baik dan benar versi komunitas tersebut. Toh tweet awal Rido dan Widi yang aku scroll ke atas juga ga bicara tentang agama, melainkan bicara tentang public shaming dan hak privat berpakaian.

 

Salahnya adalah asumsi-asumsi bahwa lawan bicaraku memiliki keyakinan agama yang sama denganku. Di sinilah chaos dimulai, hehe.

 

Aku mulai sadar kalau ada yang yang ga pas, ketika Widi menjawab bahwa agama adalah ranah privat. Aku langsung klik, mungkin ada yang missed. Aku kan ga bahas itu. Karena biasanya jawaban sesama rekan muslim tidak akan begitu, biasanya diskusi akan berkembang ke arah misalkan pola asuh, pola budaya, dll, penyebab kenapa pelajar tersebut berpakaian seperti itu. Biasanya kami akan lebih membahas faktor2 di sekeliling situasi pakaian pelajar tersebut.

 

Sekali lagi, saat itulah aku baru klik – bahwa Widi sepertinya bukan muslim. Dan karena niat awalku ngetwit adalah untuk bilang bahwa pakaian itu bukan ranah privat kalau mengandung unsur-unsur atau simbol komunitas tertentu, maka aku mencoba memperbaikinya. Aku membuat tweet yang agak panjang, yang menjauhkan bahasan dari sisi agama. Toh sejak awal bukan sisi agama yang hendak aku bahas, kebetulan aja mbaknya pakai jilbab.

 

Balasanku seperti ini:

 

Aku mengubah kata agama menjadi komunitas. Aku melihat premisku mengenai hak privat vs komunitas, relevan untuk komunitas apapun secara umum, tidak harus agama. Statement awalku dan statement akhirku konsisten tentang ranah privat dan komunitas, bukan spesifik agama. Sekali lagi, kebetulan saja yang difoto itu mbaknya pake jilbab.

 

Kalo mbaknya misalnya pake seragam Bank Mandiri (cuma contoh ya, karena aku tahunya code of conduct seragam Mandiri, sama seperti aku tahunya hukum menutup aurat, biasanya aku berkomentar untuk hal-hal yang aku tahu) maka tweet aku yang awal-awal akan berbunyi:


Kalau pakai seragam Mandiri, pakailah sesuai tuntunannya. 


Kalau dia ga pake seragam/atribut Bank Mandiri, pakaian adalah ranah privat. Kalau sudah ada tuntunannya maka sesuaikan. 


Untuk menjauhkan bahasan ini dari ranah agama, aku juga membuat contoh pakaian jas dokter, karena dokter ketika pakai jas dokter akan sangat mudah dikenali di ruang publik. Ketika seseorang pakai jas putih, pasti persepsi dokter akan langsung muncul. Dan aku pakai  contoh jas dokter juga karena menurutku ini contoh yang paling dekat dengan profesi Widi. Aku juga sengaja mengambil titik paling ekstrem dengan mengatakan akan jadi masalah jika hanya memakai beha dan celana dalam dan jas dokter yang ada logo IDI atau RS (maksudnya untuk menunjukkan bahwa selain jas putihnya adalah simbol komunitas yang kuat sebagai dokter, juga ada logo komunitas lain yaitu RS tempat bekerja).

 

Jika membaca contoh tersebut, harusnya sudah cukup menggambarkan ya. Bahwa dari sisi etis, jika situasi ekstrim tersebut benar terjadi dan ketahuan oleh RS atau sesama rekan dokter, akan timbul guncangan-guncangan. Karena aku yakin banget penggunaan jas dokter juga tidak boleh sembarangan. Ada code of conductnya. Jika tidak melekat pada profesi dokternya, mungkin code of conduct melekat pada institusi yang menaunginya, rumah sakit misalnya.

 

Contoh lain: Dulu kantorku di Bank Mandiri, pegawainya harus pakai seragam. Pakai seragamnya juga ga sembarangan, ada tata caranya. Misalnya hari apa pakai seragam warna apa. Berapa centi tinggi rok dari lutut, dst, dll. Melengkapi ketentuan seragam tersebut juga ada ketentuan mengenai aksesoris, seperti berapa titik bisa ada aksesoris. Juga sepatu harus berapa cm. Itu diatur. Termasuk perilaku yang melekat ketika pegawainya menggunakan seragam tersebut. Waktu awal-awal aku bekerja sempat ada ketentuan bahwa seragam kantor tidak boleh dipakai di transportasi publik, juga makan di emperan jalan (sekarang ketentuannya sudah tidak berlaku). Demikian tempatku dulu bekerja menjaga citranya dengan cara menjaga penggunaan simbol-simbol perusahaan seperti seragam.

 

Juga pernah ada pegawai yang diskors karena fotonya sedang menggunakan seragam bank Mandiri masuk koran lokal sebagai yang ikut tertangkap di penggerebekan narkoba. Pegawai tersebut tidak menggunakan narkoba, dia lepas dari sanksi hukum. Namun dia terkena sanksi dari komunitasnya -tempat dia bekerja. Apes. Bahwa pegawai tersebut masuk koran untuk berita kurang baik, ketika menggunakan pakaian yang mengandung simbol komunitasnya Рseragam kantor, itu dianggap sudah menyalahi aturan  code of ethic kantor kami. Disgrace to our corporate image.

 

Demikian maksud aku, sekali lagi untuk menekankan bahwa pakaian bukan lagi ranah privat ketika dia mengandung logo komunitas, apapun komunitasnya. Cara mengunakan pakaiannya, cara bersikapnya ketika menggunakan pakaian tersebut, akan lekat pada hukum formal/non formal yang berlaku di komunitas. Aku ga melihat hal ini sebagai hal yang spesifik agama.
Tapi kemudian bahasannya Widi masih tetap tentang agama, hehe.

 

Widi membahas tentang perdebatan jilbab itu wajib atau tidak, Widi juga membahas seseorang itu memakai jilbab karena paksaan atau tidak, Juga mengenai apakah agama akan guncang karena ada umatnya yang ga taat.

 

Ga Wid, aku ga suka bahas itu. Ilmuku ga cukup. Suatu hari, aku pernah ikut pengajian wanita di Leeds. Aku bertanya tentang suatu hal, yang aku tahu ustadzahku punya kapasitas untuk menjawab karena dia PhD lulusan ilmu alQuran, juga dosen di University of Leeds. Namun karena topiknya sensitif maka dia berkata: akan aku diskusikan dulu dengan Ustad Raam (Imam mesjid Leeds Grand Mosque). Demikian humblenya beliau. Maka apalah aku untuk bisa menanggapi jawaban kamu. Aku memilih dianm dong. Kalau kamu memang membutuhkan jawaban untuk pertanyaan tersebut, mungkin aku bisa ajak kamu janjian dengan temanku untuk main bareng ke Mesjid Al-Azhar, tiap Rabu malam ada kajian di sana. Kamu bisa bertanya pada ahlinya. Bertanya ya, untuk menemukan jawaban. Bukan sekedar berdebat untuk mengklarifikasi bahwa jawabanmu adalah yang paling benar. Atau bisa juga kamu tanyakan pada pemuka agama lain yang kamu kenal. Banyak jalan untuk belajar, tapi debat melalui sosial media sepertinya bukan sarana belajar yang terlalu baik.

 

Awalnya setelah aku reply dengan jawaban yang agak panjang, aku sempat berharap kita akan diskusi apakah dalam dunia yang Widi biasa bersingungan, ada sanksi yang sama jika pakai pakaian (dalam hal ini jas doker) tidak sesuai code of conduct yang ada? Tapi hal tersebut tidak dibahas. Kan jadi sedih hahaha.

 

Aku berharapnya diskusi kita juga akan membahas: kenapa ada negara yang tetap loose pada warga-warganya yang menggunakan simbol komunitasnya. Misalnya kenapa di Inggris kita bisa pake bendera Inggris sebagai alas piknik atau motif bikini, tapi di Indonesia sepertinya ga boleh deh, bisa dituduh subversif.

 

Maka kita bisa diskusi mengenai fenomena tersebut dari sudut pandang Institutional theory tentang hukum formal dan non formal di suatu masyarakat; kita bisa bahas kerangka penelitiannya Hofstede tentang karakteristik negara individual dan kolektif; kita bisa bahas signalling theory tentang bagaimana seseorang berpakaian dan berprilaku agar bisa diidentifikasi sebagai bagian dari komunitas. Dan beberapa hal menarik lainnya. Kita bisa berdiskusi ke arah itu loh, karena twit awalnya Widi kan tentang public shaming dan pakaian sebagai ranah privat. Ga bahas agama. Karena aku sadar, keyakinan kita beda. Susah untuk ketemu.

 

Tapi karena bahasannya jadi agama, maka aku diam. Tidak meneruskan diskusi.

 

Lalu aku dimensyen lagi, ada tautan artikel yang Widi tulis. Tadinya udah semangat, siapa tahu ada bahasan baru. Ternyata masih sama, tentang intepretasi agama, tentang agama menekan hak privat. Duh. Sudahlah.

 

Masing-masing orang memiliki hal yang hendak diperjuangkan. Mungkin Widi saat ini sedang melakukan advokasi bahwa agama itu ga penting, yang penting percaya Tuhan. Demikian yang aku tangkap. Aku cuma bisa bilang, itu hak Widi. Aku cuma ingin memagari satu hal: Jika ingin membela sesuatu, tidak usahlah menjelekkan yang lain. Aku menghargai pendapat Widi bahwa mungkin agama tidak penting. Namun tidak perlu dijelekkan.

 

Bahwa agama sumber perpecahan dan lain-lain, percayalah ilmu kita masih sedikiiit banget untuk bisa menjustifikasi hal tersebut ūüôā

 

Cheers,

Dian

1

Bertemu Dokter Part 1

Taraaaam bertemu lagi dengan Diary MS. Nampaknya ini adalah tulisan pertama saya semenjak pindahan ke Inggris. Bertemu dokternya saya bagi dua postingan ya, soale agak banyak ceritanya. Bagian pertama akan berisi mengenai pertemuan saya dengan dokter umum. Bagian dua akan berisi pertemuan dengan dokter spesialis.

Hampir mirip dengan BPJS di Indonesia, sistem kesehatan di Inggris bernama NHS (National Health Service). Sistem kesehatan ini memfasilitasi penduduk Inggris untuk dapat mengakses jasa-jasa kesehatan di klinik NHS dan rumah sakit NHS secara gratis. Untuk imigran seperti saya, wajib membayar biaya premi kesehatan dengan sebutan IHS (Immigrant Health Surcharge) sebagai syarat pengajuan visa. Dengan membayar IHS maka saya juga bisa menikmati fasilitas NHS gratis seperti penduduk Inggris. Biaya IHS yang harus dibayarkan sebesar ¬£150/tahun yang dibayarkan di awal aplikasi visa. Saya¬† mengajukan visa untuk kuliah berdurasi 4.5 tahun, maka IHS yang harus saya bayar sebesar ¬£150×4.5=¬£675. Kira-kira sejumlah Rp 13.500.000.,-

Hampir mirip dengan BPJS, NHS juga menggunakan dasar domisili. Maka walaupun saya sudah tiba di Inggris sejak tanggal 20 September 2016, saya tidak bisa langsung mendaftar di NHS karena pada saat itu saya belum memiliki tempat tinggal tetap.

Pada tanggal 1 Oktober 2016, saya sudah punya surat kontrak rumah. Maka saya mendaftar ke klinik NHS dekat rumah, dengan membawa paspor dan surat kontrak rumah sebagai bukti bahwa saya bermukim di dekat klinik  dan eligible untuk menggunakan fasilitas kesehatan NHS. Klinik NHS semacam puskesmasnya Indonesia. Mereka menyediakan beberapa pelayanan kesehatan dasar seperti GP (general practitioner = dokter umum), nurse (di Inggris, perawat adalah profesi yang sakti. Kedudukannya setara dengan dokter, kapan2 saya cerita tentang nurse ini ya), periksa darah, fisioterapi, konsultasi psikologis, dan lainnya lupa hehe.

Ini penampakan Klinik NHS dekat rumah saya, namanya Upperthorpe Medical Center. Fotonya saya ambil dari Google streetview.

zest

Tampak depan dan halaman klinik

Ini penampakan dalam klinik:

image1

Ruang tunggu dan reception

image2

ada buku juga yang gratis dan yang dijual

Okay, kembali ke Multiple Sclerosis. Untuk bisa bertemu dokter spesialis syaraf, harus punya rujukan dari dokter umum (GP). Maka, saya bikin janjian untuk bertemu GP. Jangan kaget kalau antrian dokter di sini sangat panjang. Saya buat janji pada tanggal 1 Oktober, dapat jatah ketemunya adalah tanggal 11 Oktober. Panjang banget ya waiting listnya hehe. Yang di Indonesia berarti masih harus bersyukur karena bisa dengan mudah ketemu dokter.

Tanggal 11 Oktober 2016 akhirnya saya bertemu dokter umum. Saya ceritakan kalau saya terdiagnosis MS. Juga cerita mengenai asma yang tiba-tiba jadi kambuh banget semenjak pindah rumah. Kemudian dokter bertanya, apakah saya pernah menggunakan obat steroid. Yang saya jawab dengan iya. Methylpredsinolone untuk MS saya ketika kambuh, namun sudah saya tapper off ketika saya sudah mulai settle di rumah baru. (tapper off: dikurangi secara bertahap – pemakaian steroid tidak bisa berhenti tiba-tiba, harus dikurangi bertahap)

Kemudian Dokter (Dokter Atkinson, cewe dan cantik) berkata, mungkin asmanya sudah ada semenjak kamu tiba di Inggris karena perbedaan cuaca, tapi tersembunyikan oleh steroid untuk MS. Ketika berhenti pakai steroid, inflamasimu jadi semakin buruk, termasuk asmanya.

*Oke, jadi asma juga merupakan jenis penyakit autoimun. Jika tubuh mengalami alergi, maka imunitas tubuh membuat saluran nafas saya menebal (bengkak/inflamasi) agar tidak ada kuman yang masuk ke tubuh, efeknya jadi jalan nafasnya menyempit dan sesak nafas hehe. Steroid adalah obat yang fungsinya untuk menyembuhkan inflamasi dalam berbagai hal. Dari dokter Atkinson saya jadi tahu kalau steroid juga adalah obat asma. Obat asma di Inggris umumnya dua, spray biru unruk mengatasi serangan, cara kerjanya cepat. Jadi kalau di film-film lihat orang bengek trus nyemprotin inhaler trus sembuh, itu berarti dia pakai obat asma versi spray biru Inggris. Satu lagi spray coklat. Spray coklat berisi steroid, fungsinya tidak untuk mengatasi kekambuhan secara cepat, melainkan untuk mengobati inflamasi. Jadi spray coklat ini mengobati sumber sakitnya, sementara spray biru adalah pertolongan pertama.

Pertemuan saya dengan dokter Atkinson berakhir dengan dokter memberi resep dua spray tersebut, membuat janjian bertemu sebulan kemudian, membuatkan saya janji dengan nurse asthma, dan membuatkan saya janji dengan spesialis syaraf.

Tentang nurse asthma.

Saya dapat jadwal bertemu nurse asthma lima minggu setelah saya bertemu dokter Atkinson. Waw waiting list nurse asthma ini juga sangat panjang. Saat bertemu nurse asthma, saya diperiksa lebih menyeluruh mengenai gejala2 dan trigger asma. Saya juga diminta untuk meniup tube untuk melihat kekuatan hembusan nafas. Hasilnya, dibawah rata-rata. Hehe.

Nurse Rosalind (nama Nurse asthma) kemudian bertanya: Kamu jujur ya sama saya, sebenarnya kamu pakai ga spray brown-nya? berapa persen kamu memakainya? 50% atau kurang?

Terus saya cengengesan minta maaf. Alasan saya bahwa kalau pagi saya selalu pakai karena spray coklatnya ada di ruang makan, saya gunakan sesudah makan. Sementara jika malam saya jarang makan malam sehingga lupa. Kadang saya ingat ketika hendak tidur tapi terlalu malas untuk turun ke ruang makan dan memakai spray coklatnya.

Lalu suster Ros berkata: Baiklah saya resepkan satu lagi ya. Satu kamu taruh di ruang tidur, satu di ruang makan. tapi kamu jangan marah ya, saya bukannya nagging (cerewet/rewel), saya cuma ingin kamu sembuh.

Saya tertawa geli sembari say sorry karena sudah merepotkan dia. Sumpah saya ga enak banget rasanya tertangkap tangan kaya gitu hahaha.

Suster Ros kemudian berkata, kalau saya ga sendirian. Beberapa pasiennya punya tiga, untuk diletakkan di mobil. Okesip, gue bukan satu-satunya yang bandel.

Pertemuan dengan dokter umum dan nurse asthma, bisa saya katakan berhasil. Asma saya tidak kambuh lagi. Padahal sebelumnya tiap malam selalu kambuh dan tiap jalan menanjak juga. Alhamdulillah ya, ada hasilnya dicerewetin suster hehe.

Segini dulu ya, cerita mengenai bertemu dokternya. Besok Insya Allah saya update yang part 2.

Cheers,

Dian