0

Sibling convo and their contextual joke

Sibling convo and their contextual joke (baca: Joke lokal).

.

Pernah ga sih sebagai orang tua merasa jadi outcast ketika bocah ngelucu? Gue dan mas surya sering ngerasa gitu. Banyak kala pas kita lagi ngobrol berempat, trus cyla sama rehan nimpalin, trus mereka berdua ketawa ngakak-ngakak, trus saya dan mas surya liat-liatan: Ini lucunya di mana sih sampe mereka ngakak gitu 😅.

.

Trus lama-lama kita mikir, ya mungkin kaya kita lagi nonton srimulat atau tetangga masa gitu, trus kita ngakak-ngakak, trus cyla sama rehan cuma liat-liatan sambil bilang: What is it? Tell me. Trus saya sama mas surya jelasin ke mereka kenapa lucu, trus mereka dengan muka bingung: I don’t get it, that’s not funny 😪.

.

#Yanaseb

Advertisements
0

Disparitas sekolah di UK ~ faktor lokasi dan endowment orang tua

Jadi ceritanya mulai bulan depan saya harus daftar secondary school (high school) untuk cilawati. Setingkat SMP deh kalo di Indonesia. Haaaa tau-tau udah daftar SMP.

Tenang, bukan kelas akselerasi. Kebijakan di sini harus daftar secondary school (SMP) 1.5 tahun sebelumnya. Agar ketika anak mulai masuk year 6, dia sudah tahu diterima di SMP mana. Biasanya 4 bulan sblm masuk SMP si anak year 6 udah mulai ‘magang’ sekolah di calon SMPnya. Misalnya selama tiga minggu si Anak menghabiskan separo harinya di SMP, separo hari di SD. Tujuannya agar anak ga shock, mulai berteman, dan langsung bisa fokus ketika sudah resmi masuk SMP.

Sama seperti sistem zonasi di Indonesia, sekolah di Inggris juga menggunakan zonasi, disebut dengan catchment area. Yang bisa mendaftar di sekolah A, adalah residen yang bermukim di radius 3 mil dari sekolah. Untuk UK, zonasi atau catchment areanya jelas, karena alamat rumah di sini terdaftar dengan jelas dengan kodepos. Alhamdulillahnya, karena rumah saya di lingkungan kampus, catchment areanya ndilalah sekolah-sekolah terbaik di Sheffield yaitu Tapton school dan King Edward VII dengan predikat outstanding.

Sebelumnya saya browsing mengenai sekolah-sekolah dalam catchment area rumah saya, dan menemukan ternyata banyak warga yang merasa keberatan dengan sistem ini. Salah satunya: “ga adil, kenapa kami yang warga negara UK tidak bisa mengakses sekolah bagus, sementara imigran bisa karena mereka tinggal di lingkungan sekolah tersebut..”

Oh wow. Keras ya alasan penolakannya.

Terus saya telusuri lagi komentar-komentar di bawahnya, juga berdiskusi dengan teman saya yang sudah lama tinggal di Inggris mengenai ketimpangan ini dan mengajukan pertanyaan:

Sekolah di Inggris kan hampir semua sekolah negeri, dibiayai sama oleh negara, tapi tetap ada disparitas. Kenapa?

1. Bisa jadi karena faktor manajemen, semisal staff pengajar dan trustee (academy) yang mengelola sekolah tersebut.

2. Atau faktor lokasi. Salah satu komentar yang menurut saya masuk akal adalah: karena sekolah-sekolah bagus tersebut dekat dengan rumah sakit dan kampus..

3. Lah terus kenapa? Terus adalah.. faktor endowment dari orang tua.

Setelah saya membaca komentar dan merenung hasil diskusi: Ketika sekolah berada di dekat kampus atau rumah sakit, banyak penduduk dalam catchment areanya adalah dokter, perawat dan mahasiswa. Tiga profesi tersebut sudah jelas membutuhkan pendidikan formal berupa universitas. Ketika orang tuanya kuliah di kedokteran atau health science atau mungkin mahasiswa PhD, maka anak-anaknya secara tidak langsung seperti sudah ada bayangan, contoh dan motivasi bahwa setidaknya mereka akan menapaki jalan seperti orangtuanya: kuliah. Itulah sebabnya nilai GCSE di sekolah favorit sangat tinggi, karena nilai tersebut dipakai untuk mendaftar universitas.

Faktor endowment lainnya adalah imigran. Saya menyebutnya sebagai endowment hehe. Ketika orangtua murid adalah imigran, kerah biru maupun kerah putih, mereka umumnya memiliki daya juang yang lebih tinggi untuk merubah nasib, termasuk mendorong anak-anak mereka untuk kuliah agar bisa sukses di negara yang mereka datangi. Suka tidak suka, sadar tidak sadar, tetap ada glass ceiling bahwa jabatan tertentu atau sektor tertentu hanya bisa diduduki warga negara Inggris (WNI). Agar imigran bisa sejajar, menduduki posisi elit seperti WNI membutuhkan usaha yang lebih besar. Itulah mengapa dari segi usaha dalam mengikuti pelajaran, anak-anak imigran umumnya lebih keras usahanya ketimbang yang bukan imigran.

Faktor lain masih terkait endowment orang tua adalah: kekayaan orangtua 😂. Dokter dan perawat termasuk profesi yang menjanjikan deh ya di Inggris. Lalu imigran, biasanya karena tidak bisa menembus glass ceiling pekerjaan kantor, para imigran menjadi pengusaha yang umumnya sukses atau jadi landlord (tuan tanah). Mahasiswa? Yah gitu deh hahaha, klo biaya sendiri udah dipastikan biasanya orang berada ya. Kalo mahasiswa beasiswaan dari Jazirah arab, tajir juga, jangan ditanya beasiswa mereka sebesar apa, buat halan-halan tur yurop lebih dari cukup dan ga pake dinyinyirin netyjen kek Indonesia.

Trus kalo orangtuanya kaya kenapa? Yah brarti bisa nambah2 sumbangan untuk fasilitas sekolah. Selain itu kalau orangtuanya kaya, biasanya punya anggaran untuk kasih anaknya les ini itu, jadi ketika ada lomba antar sekolah, si anak udah jago. Akibatnya, sekolahnya tambah harum namanya padahal si sekolah cuma nebeng hasil les2an dari ortu.

Perkara ini saya rasakan waktu nganter anak saya Porseni. Salah satu sekolah bisa banget kok liotard (kostum gymnastic)nya seragam. Ternyata liotard tersebut seragam klub di luar sekolah yang dipake untuk lomba sekolah supaya kembaran satu tim. Brarti kan tanpa harus sewa pelatih, sekolahnya sudah diuntungkan karena muridnya sudah punya ketrampilan yang didapat dari luar sekolah. Begitu juga dengan music, dance, football dll. Untuk mata pelajaran GCSE, banyak siswa dari keluarga berada yang punya tutor privat. Jadi kebayang dong, gurunya ga perlu cape2 ngajar di sekolah, toh nanti di luar jam sekolah muridnya akan pendalaman materi sendiri, hehe.

– – – –

Nah itu kan yang yang kisah sekolah sukses ya. Kalo kisah ga suksesnya gimana, masih ada hubungan dengan endowment dan lokasi? Masih..

Sebelumnya saya sempat galau, kuatir kalau sekolah secondarynya Cyla akan didasarkan pada feeder school. Feeder school itu kaya rayon kali ya klo di Indonesia? Klo kamu sekolah di SD A, maka kamu bisa daftar di SMP X, Y, Z yang masuk rayon SD A. Saya kuatir, karena kalau aturannya feeder school, maka Cyla akan melanjutkan sekolah di secondary school dengan predikat Need improvement. Hiks.

Tapi untungnya setelah dapat surat cara mendaftar, ada penjelasan kriteria prioritas penerimaan murid baru sebagai berikut:

1. People with special education needs

2. Catchment area with sibling

3. Catchment area

4. Sibling

5. Feeder school

6. Other (medical or social reason).

Dari prioritas ini, feeder school kalah oleh catchment area.

Sebenernya sejelek apapun sekolah di UK tetap fasilitasnya jauuuuuh lebih bagus dari sekolah negeri terbaik di Indonesia. Feeder schoolnya Cyla yang rangkingnya cuma “needs improvement” itu, fasilitasnya secanggih sekolah Binus, Sekolah Pelita Harapan, atau Global school, kalo kamu pernah masuk sana dan liat-liat sebagai pembanding. Ini beberapa foto dalam gedungnya sekolah feedernya Cyla yang dinilai kurang baik. Kurang baik aja begini hellowww. Sekolah kurang baik ini punya gym, dua lapangan bola outdoor, lapangan go cart, velodrum, lapangan basket indoor, laboratorium teknologi pangan, dll, dst. Keren b a n g e t s!

Terus kenapa mereka sampe bisa dibilang sekolah yang kurang baik?

Biasanya karena faktor absensi dan nilai GCSE. Ada hubungannya dengan lokasi dan endowment? Ada..

1. Saya perhatikan, sekolah jelek biasanya ada di devriped area. Kenapa bisa disebut devriped? Karena biasanya perumahan bantuan pemerintah dibangun di sini. City council house atau tower, fasilitas perumahan untuk orang-orang kurang mampu di UK dengan biaya sewa yang sangat murah karena disubsidi pemerintah.

Kalo kata temen saya, warga lokal (british citizen orang kulit putih) miskin itu lebih berbahaya ketimbang imigran miskin.

Sementara imigran berusaha keras untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik, Warga negara (i. e british citizen) tidak perlu berusaha (baca: ga perlu kerja) karena mereka ditunjang oleh skema benefit pemerintah. Warga negara yang tidak bekerja bisa mendapat tunjangan cukup untuk hidup layak. Enak toh. Maka konon mindsetnya: untuk apa susah-susah bekerja dan belajar jika bisa hidup dari benefit, toh mama papa dan kakek nenek saya bisa hidup dari benefit.

Nah kebetulan feeder schoolnya Cyla berlokasi di daerah yang dihuni warga negara miskin (non imigran), yang mereka sudah tiga generasi menerima benefit, sehingga tidak ada ambisi untuk sekolah tinggi. Melanjutkan secondary school adalah lebih karena wajib belajar dari pemerintah. Akibatnya tingkat absensi tinggi dan kemajuan akademik di sekolahpun mandek. Akibatnya, rangking sekolah jadi jelek.

Kareba hidup dari benefit, mereka juga ga memiliki dana lebih untuk anak les ini itu. Jadi sekolah ini klo ada olimpiade mata pelajaran, seni atau olahraga, biasanya ga terlalu berprestasi.

Demikianlah seterusnya..

Sehingga wajar banget sekolah favorit akan tetap favorit, dan sekolah jelek ketika tidak ada terobosan, akan tetap jelek.

Oiya tadi saya bilang harus daftar sekolah adalah: Klo sampe batas waktunya (anak saya, 15 Oktober 2018) ga daftar secondary school, orang tua akan dikirimi surat dan ditelpon terus menerus oleh city council. Bagian terburuk, si anak diambil oleh negara karena ortu dianggap lalai memperhatikan pendidikan anak.

Yang menghuni rumah saya sebelumnya (sebut saja keluarga F) kembali ke negara asal tanpa sempat kasih tau ke city council kalo mereka back for good, padahal si anak harusnya September tahun lalu daftar secondary school. Sebagai penghuni berikutnya saya senantiasa menerima surat dari city council utk keluarga F. Karena kenal, ketika ada surat untuk keluarga F, kami masih bisa memberi tahu dan biasanya mereka minta tolong difotokan isinya. Demikianlah saya jadi tahu isi surat peringatan untuk ortu yang lalai mendaftarkan anaknya sekolah.

Okeee trus apa dong kesimpulan tulisan ini? Kesimpulannya: bener banget strateginya si Shancai meteor garden disekolahin di sekolah mahal pake beasiswa. Soale jadi nebeng fasilitas orang kaya hehehe. Nebeng endowment orangtua kaum berpunya.

0

First Ramadan without you

This title is sooo gloomy. Yes, just like my heart right now. I prayed Tarawih and cry out loud in the sujuud. Gosh, I won’t have my dad anymore in the Idul Fitri. Dad, I hope you are doing alright in there. I pray for you a lot. Miss you dad, miss you much.

I hope this Ramadan could heal me. I thought I will be okay that time will heal me. But I’m not okay dad. Time is passing by but I’m still wounded in here, a blank big hole spot in my heart because you’ve left me. I cry like everysingle time I miss you. The loss, grieving, the feeling that I cannot speak to you anymore. It’s hard.

I hope Ramadan will give me strength and faith. Will heal my wound. Insya Allah.

Aamiin.

0

Gender Inclusion – Women Entrepreneurship

Last week I attended a seminar at University of Kent, Canterbury. It’s a part of series seminars about gendered inclusion in contemporary organisation, discusses women’s role in particular organisation context and interdisciplinary perspective. One that I attended was the 5th seminar, it discussed gendered inclusion in the field of entrepreneurship.

My examiner (Dr. Huiping) informed me about the seminar, she thought it could be relevant with my research. Yes, it is. I was very excited when I read the seminar’s title. It’s quite relevant with my research about women’s entrepreneurship. And I was more mesmerized on the D-Day when read the seminars schedule: Gosh, the panels are people whom I cited most on my literature review.

Susan Marlow and Helene Ahl. Omaygat, omaygaaaat. They wrote seminal articles about women entrepreneurs. Their work is classic, must read for those do the research on women’s entrepreneurship.

As I expected, this seminar have given me broader perspective on women entrepreneurs. I had a little discussion with Susan about my research. She suggested me to consider gender perspective for my research, instead of institutional theory. Well yeah, to be honest I still have a blind spot for my research. I know that institution might affect the people’s behavior, but I still need to inquiry futher why those rules of game are different for men and women. Susan suggested me (in-line with Dr. Huiping’s suggestion) to unpack the gender role thingy from the gender perspective.

Still need a lot more reading 😅

0

Women and different battlefield

Last week I talked about Multiple sclerosis (MS) for Mutiara Umat (MU) circle via SKYPE. Mutiara Umat is an Indonesian Muslimah society based in Sweden. It has approximately 100 active members. At first, I told the organiser that I might be not eligible to speak about MS since I do not have medical training background. I recommended them another name that I believe has the expertise to talk about MS. However, the organiser convinced me that rather than a comprehensive medical explanation about MS, they want me to speak about MS from the survivor’s perspectives, such as how I manage to do my daily life and its impact toward my family, and soon. Okay then.

They gave me 1.5 hours to speak and discuss MS. I spoke a glimpse about MS from a medical perspective, such as what is MS, what could cause MS, the symptoms, and the treatment or medication. I also linked it to several common types of autoimmune disease. Moreover, as requested I also discussed how I manage my daily life, especially managing fear and motivation when being challenged by autoimmune disease or disability verdict. I hope the talk can help people to identify or coupe when they or their family members have something suspected/diagnosed with MS, or autoimmune disease in general.

For me, the most interesting part is the Q&A session. The questions indeed ask about how I deal with MS, but I can summarise that the omnibus of the questions is how I manage to do my PhD aside from my roles as mum and wife. The other theme that I can sense from those questions is about women’s guilty or useless feeling because they “just stay at home and do nothing but take care the family” [italic = the exact statement was delivered the same in Bahasa Indonesia].

It makes me uncomfortable to hear women’s struggle to raise legitimacy that they are worth and contribute to the family.

Women, you are worth even when you are a stay at home mum, or whatever you do. It is only a different battlefield for a different woman.

I can do the calculation about how much a household has to spend for childcare or nanny if mummy cannot or doesn’t want to take care their children. There is also economic calculation when a mum breastfeeds the baby, instead of using formula milk. We can also count the cost we spend to eat at restaurant or cafe if mum does not cook. Those are several financial gains can be listed if somebody asks about mum’s contribution toward the family. I believe there are more can be listed.

I mentioned in the talk that people might be facing different battlefield. For me it might be MS and PhD. For other people, the battlefield might be their kids or parents, or works, or spouse, or anything. Whether you are women or men, working women or stay at home, with doctoral degree or not, prestigious school or not, affluent or not, have kids or not: it does not matter. It does not matter what women’s status or label in the society is.

For me, one battlefield is never more important or less important than the other battlefield. I believe it is all the same. In my religion, everything we do is to serve God or if you are not a Muslim, what matters is whether you intend to make society better or not. Just like Jewel mentions in her song: “In the end only kindness matter”.

Some people think my PhD student title looks fancy, not every woman can afford that title. Yes, I agree, I count it as my accomplishment. However, on the other hand, this title makes me put aside other things; such as my time with kids or my ability to cleaning the house. I sometimes envy other mum who can cook fancy food for their kids, or keeps the house always clean and tidy, or can teach their children memorising Al-Quran in very early age.

Everyone has their unique ability. It is true when a woman has a role in the public sphere (i.e. work outside the house, study, be a volunteer, etc) more people can recognise or acknowledge her work or contribution. It is natural because there are more people live outside our household than, let say, five or six family member live inside our house. There is also a tendency for a human to take for granted everything that is free. My mum never charges me for food she makes, I just enjoyed the food and forgot to say ‘thanks’ to my mum, or praise her delicious food. I just realise now that when my kids/husband say thanks or praise my food, I usually am very happy, so does my mum, maybe. What I can do when the useless or exhausted feeling come to me, I repeat it myself: “If there is nobody appreciate my roles or ability, I will make sure that I appreciate myself.”

I believe that everything we do will come back to us. You will harvest apple when you grow an apple. Maybe we can not see the result immediately. It probably comes in the future. The yield can be nice and reliable children that take care of you when you are old. Or succesful kids that make you very proud. Or people who cherish your children when they are away from you in the future. Or the better society for your children to live in. Any good deeds come to you maybe because you did something good in past.

  • – – – –

There is a story about evil ghost’s conversation with his subordinate (Apologies I do not know the source, I found it on some social media):

“If you want to ruin a family, ruin its mother first.

Firstly, make her continuously feels exhausted so that she feels weak, fatigue and powerless.

When she already feels exhausted, take away her gratefulness. Let her feels that she spends her entire life just to take care the family that gives her nothing than tired.

When she already lost her gratefulness, take away her self-confidence. Let her sees only people’s happiness thus forget that she is also happy and worth.  Make her feels the inferiority and useless feeling.

If that has happened, then take away her patience.

Moreover, you will find that house is ruined, started from the door called mother.

Because mother’s happiness leads to family’s endurance.”

  • – – – –

So, women… let’s cheer up and be proud of whatever our role and title are.

#selfreminder

0

Mum, dad and coffee.

This photo was taken 5 days before my dad passed away. That day, they just landed at Jakarta from Medan (a city where my dad has an ongoing airport development project). My sister picked them up from the airport and stopped by a cafe near my parent’s house. My sister took this photo.

I never imagine this could be the last time my mum and dad have a photo as couple. My dad is looked very fine in this photo. When my sister sent this photo to our family whatsapp group, I teased my parent by saying “ciyeeee…” (word usually used to tease couple that looked good together). Then I moaned to my dad that It’s been a long time since he bought me coffee, and I asked him to buy me a lot of coffee when I come back to Indonesia in the next couple months. He okayed me, and joked “Iya nanti beli pabriknya sekalian.” (“Yes, we’ll buy the (coffee) factory as well” – his tricky words that usually used to soothe me and my siblings when we throw tantrum ask him to buy something).

But he would never buy me coffee, anymore.

Oh life we never know what is ahead.

Dad, Miss you.

Mum, be strong.

0

Ayah lagi apa?

Ayah lagi apa? Semoga Ayah bahagia selalu di sana. Diangkat semua dosa2 ayah. Dilapangkan kuburnya. Terang dan nyaman di sana.

Dian sayang ayah. Dian banyak salah sama ayah, maafin dian ya yah. Dian juga jarang nanya kabar ayah. Dian kirain ayah selama ini sehat2 aja, soale ayah ga pernah ngeluh, klo ketemu ketawa melulu. Dian juga ngira ayah kadang sibuk kerja, dian ga mau ganggu. Makanya dian ga pernah kuatir dan jarang telpon-telpon atau WA. Tapi sekarang semua itu jadi kaya sekedar alesan dian aja. Harusnya dian tetep tanya kabar ayah walau dian tau ayah akan jawab “Ayah baik-baik/ sehat.”

Seandainya dian tau ayah akan pergi secepat ini, dian pasti nanya ayah tiap hari udah makan atau belum, ada yang sakit atau enggak. Dian baru sadar kalo WA dian terakhir ke ayah adalah hari Rabu, seminggu sebelum ayah ga ada. Jarang banget kan dian nanya kabar ayah. Dari hari Rabu itu, dian baru sempet videocall hari Minggu. Trus tau-tau hari Rabu berikutnya ayah ga ada. Ya Allah, cepet banget ayaaaaahhhh.

Padahal dian udah beli parfum buat kado ulang tahun ayah (waktu itu sih beli aja dulu, ga tau kasihnya kapan). Trus kalo gini, dian ga bisa kasih kadonya. Ayah 😭😭😭😭😭

Ayah.. dian kangen… ayah lagi apa.

Al- Faatihah