0

PhD is my remedy

Saya mendengar banyak cerita dan membaca publikasi akademis bahwa kuliah S3 atau PhD membuat seseorang rentan terkena gangguan jiwa. Banyak juga kasus mahasiswa PhD yang memilih bunuh diri karena tidak kuat menanggung tekanan beban akademis yang dihadapi. Agak berbeda dengan yang saya baca dan dengar, saya bisa bilang (untuk saat ini) bahwa justru PhD adalah obat yang membuat saya tetap waras. Phd is my remedy. In my circumstance as MS survivor.

Ketika mendengar diagnosis Multiple Sclerosis (MS), saya hampir menyerah dan memutuskan tidak jadi melanjutkan kuliah S3. Waktu itu saya mengkhawatirkan perkembangan penyakit saya. Akankah memburuk dan membuat saya tidak bisa beraktivitas secara normal. Apakah akan mengganggu kemampuan kognitif saya, karena ada lesi (luka) yang bersarang di otak. Ketika didiagnosis MS, saya kehilangan orientasi masa depan. Misalnya muncul pikiran: buat apa sekolah lagi, tidak jelas apakah saya akan kuat untuk menyelesaikan. Kalaupun nanti kuliahnya selesai, tidak jelas apakah akan kuat bekerja atau tidak, dan seterusnya. Beragam justifikasi saya munculkan untuk menyerah, ketakutan pada hal yang belum terjadi.

Untungnya saat itu masih ada satu atau dua percikan semangat menulis di dalam diri. Dasarnya suka curhat nulis, jadi pas liat laptop jadi keluar perasaan iseng-iseng pengen curhat nulis: revisi proposal (riset s3) ah siapa tahu idenya berkembang jadi menarik. Terus pas proposalnya jadi, kepikiran lagi: kirim-kirim proposal ah, siapa tahu ada supervisor yang mau. Pas ada calon supervisor ngajakin Skype meeting ttg proposal tersebut: Belajar dulu ah sebelum meeting, siapa tahu walau ga keterima sama supervisor ini bisa dapet masukan topik atau nama supervisor yang lain. Begitulah milestone PhD saya yang kebanyakan diawali dengan iseng-iseng, tidak berani berharap banyak.

MS membuat saya tidak berani merencanakan sesuatu yang masih jauh-jauh hari. Kalo kata teman, perjalanan hidup jadi ibarat diterangi lampu mobil. Jalannya semeter-semeter, sesuai jangkauan lampu namun akhirnya sampai juga. Alhamdulillah sejauh ini jalan timik-timik PhDnya ada kemajuan. Akhirnya keterima kuliah, dapet supervisor yang ritme kerjanya sesuai dengan ritme saya. Untungnya punya supervisor yang tiap bulan kasih target, harus nulis 2000-3000 kata tentang topik tertentu, deadlinenya tiga minggu, untuk bahan meeting bulan depan. Dengan demikian saya jadi punya tujuan hidup dan passion yang terukur. Tiga minggu menurut saya adalah radius yang masih bisa saya kelola dan bayangkan. Kayanya hidup saya bakalan susah kalo dapet supervisor yang lain. Sebagai contoh, suami saya dapat supervisor yang memberikan keleluasaan besar ke mahasiswanya. Terserah mau nulis apa dan kapan, submit sesukamu kalo kamu merasa hal tersebut oke. Buat suami yang visi misi dan kapabilitasnya memungkinkan untuk berpikir jauh ke depan, supervisor model begini sangat membantu. Tapi kalo buat saya kurang cocok, tidak ada kerangka waktu dan target pencapaian yang jelas.

Tanpa disadari situasi PhD ini jadi obat untuk saya. Saya jadi punya alasan untuk terus berpikir, membuat otak tetap bekerja dan melupakan ketakutan-ketakutan akan MS. Banyak yang bilang stres itu memicu kambuhnya MS. Dan ironisnya seringkali stres yang muncul adalah karena memikirkan MS. Jadi semacam lingkaran setan. Stres mikirin penyakit dan akhirnya jadi sakit beneran. Disibukkan dengan tugas-tugas kuliah membuat saya lupa memikirkan MS.

Membaca adalah kesukaan saya, menulis menjadi terapi saya. Karena dilakukan dalam koridor kuliah dan diberi deadline, membaca dan menulisnya jadi terarah dan menghasilkan hal kongkrit, minimal jadi manuskrip draft tesis.

Kuliah PhD juga menjadi alasan bagi saya untuk tiap hari manjat tangga Ponderosa yang kecuramannya bikin bengek, untuk menuju office di Dainton building. Atau manjat Crookesmoor Road yang kemiringannya hampir 50 derajat untuk mencapai gedung management school. Tanpa disadari aktivitas fisik ini membantu pemulihan badan kiri saya yang sempat paralyses dan mati rasa ketika dahulu diserang MS. Kadang masih suka ada rasa lemah ga bisa gerakin kaki kiri, tapi Alhamdulillah sudah jaaauuuuh membaik dibanding dulu.  Jalan kaki 2-4 km perhari, yang kayanya ga mungkin saya lakukan di Indonesia, jadi makanan hari-hari di sini dan menjadi fisioterapi alami untuk saya. Kesibukan fisik ini juga konon membuat autoimun saya sibuk, sehingga si autoimun ga punya waktu untuk kembali menyerang myelin otak dan spine saya.

Saya tidak bisa mengingkari bahwa ketakutan akan efek MS masih terus hadir, terutama yang berhubungan dengan kemampuan fisik misalnya jadi mudah letih, ga bisa lagi bersih-bersih rumah dengan seksama padahal saya rada OCD. Akhirnya saya cuma bisa ikhlas, mungkin demikian cara Allah memberi saya kesempatan untuk lebih rileks. Udahlah bodo amat ga bisa lagi renang bolak-balik 50 kali kolam ukuran olimpik (kolam ya, bukan kasur springbed). Bodo amat cuma vacuum karpet ruang tamu perlu dibayar dengan tiduran 30 menit. Ga bisa lagi nyuci piring sambil diajak ngobrol, luka di otak membuat berkurangnya kemampuan multitasking. Ya udah kalo emang lagi pusing, beli ayam Shazam aja di tesco tinggal masuk oven trus kenyang, ga usah muluk-muluk harus masak menu Indonesia dengan resep dan prosedur njelimet. Yaudah bodo amat ABCDEFGH, yang penting masih bisa bersyukur, bahagia dan menikmati hidup. Jadi banyak semelehnya hehe. Entahlah kalo orang lain bilangnya kehilangan ambisi, tapi saya menamakannya berdamai dengan hati. Saya masih punya banyak cita-cita dan mimpi yang pengen dicapai, namun perlu direvisi timeline dan cara pencapaiannya karena MS ini.

Sebenernya ada satu terapi lain yang sudah lama tidak saya lakukan, padahal pengen banget: nulis cerpen mellow menye-menye hahaha. Sumpah nulis cerita cinta abal-abal itu harusnya oleh dunia kedokteran dinobatkan sebagai obat depresi 🙂

kalo kamu lagi suntuk atau merasa tak berdaya, apa remedymu?

Best Regards,

Dian

Advertisements
0

On The Way To The Airport – Dilema Stereotipe dan Budaya Patriarkal

Disetani oleh Mbak Indah untuk nonton drama ini. Awalnya sempat agak perjuangan sih, soale alurnya lambaaaat banget padahal saya nunggak 8 episode. Kalo mau ditonton semua dalam 1 malam begadang kan jadi berasa ga seru. Tapi karena kata Mbak Indah bagus, akhirnya aku istiqamah nonton, sekarang sudah di episode 10. Plotnya sejauh ini bagus, detail dalam jalan cerita cukup logis. Namun bukan plotnya yang hendak saya tulis di sini. Untuk plot, casting, dll bisa dilihat di sini ya -> On The Way To The Airport

Yang membuat drama ini menarik bagi saya adalah penggambaran dilema wanita-wanita bekerja, khususnya di wilayah dengan budaya patriarkal dan collectivist, beserta stereotipe yang menerpanya. Utamanya lagi di negara-negara yang tidak punya support system untuk ibu bekerja. Misalnya ga ada pembantu, daycare, atau supir dan cukup dana untuk pesen go-food.

Ada satu percakapan di Episode 9 yang membuat saya cukup tertohok. Ketika Choi soo ah resign, Lee hyun ju (teman soo ah, mantan pramugari di maskapai yang sama) berkata:

“Aku juga tidak habis pikir mengapa kita menjalani kehidupan seperti orang gila. Aku pernah pulang dari penerbangan panjang, menemui rumah dalam keadaan berantakan dan kulkas kosong. Aku ingin menangis.”

Quote ini ga berlinang air mata, tapi saya dengernya sedih. Lebih sedih lagi karena dilema ini nyata dan relevan banget untuk kebanyakan wanita di Indonesia. Situasi pelik yang sering tidak dapat dihindari dan dianggap normal di Indonesia: Ketika wanita memiliki tanggungjawab di luar rumah, namun juga harus mengerjakan pekerjaan di dalam rumah secara penuh tanpa bantuan partnernya. Dilema dari institusionalisasi norma-norma patriarkal-kapitalis dalam kehidupan kita, (gue kali ya).

Kadang diperburuk dengan budaya kolektivist Indonesia dimana keluarga besar ikut campur, pas liat cowo nyuci piring atau bantuin istrinya beberes jadi kaya aib banget, menganggap wanitanya sebagai istri yang ga kompeten, padahal itu adalah contoh suami yang baik dan pengertian.

Patriarki oleh Walby (1990) didefinisikan sebagai sistem dan praktik dalam struktur sosial dimana pria mendominasi, mengeksploitasi dan menindas wanita. Oiya perlu diingat, Walby menyebutnya sebagai “struktur sosial”, sehingga dapat saya sampaikan bahwa dalam kenyataannya tidak semua lelaki di budaya patriarkal adalah dominan, dan tidak semua wanita di posisi lebih rendah.

Ada satu mahzab dalam patriarki yang dikenal sebagai capitalist-patriarki. Hartman (1979) menyebutkan mahzab ini yang mempopulerkan segregasi antara private dan public sphere dalam konsep division of labour. Private sphere adalah peran seseorang di ranah domestik dan reproduksi, tidak dibayar. Misalnya melahirkan, mengurus anak, memasak untuk keluarga. Sementara public sphere adalah peran di ranah publik, di luar rumah tangga dan biasanya dibayar. Nah capitalist-patriarki yang muncul pada era industrialisasi Eropa ini mensyaratkan pemisahan antara private dan public sphere. Dulu banyak pekerjaan industri yang bisa dilakukan di rumah oleh wanita. Seiring munculnya industrialisasi, berbekal alasan efisiensi pekerjaan tersebut di pool di pabrik, tidak bisa lagi dikerjakan dari rumah. Membuat wanita yang memiliki kewajiban natural seperti melahirkan dan menyusui tidak bisa lagi bekerja. Jikapun mereka bekerja, sistem kapitalis akan membayar wanita lebih rendah dengan alasan fungsionalisasi dan keberlanjutan tenaga kerja: wanita bekerja cuma sementara karena cepat atau lambat akan melahirkan dan memiliki anak.

Karena seringnya dibayar rendah, dianggap pekerja kelas dua akibat sifat naturalnya, segregasi upah dan hirarki ketenagaan-kerjaan semakin tajam antara pria dan wanita, mengakibatkan wanita akhirnya menyerah (karena dapatnya ga banyak dan ga akan membuat mereka jadi leader) dan memutuskan “wifery as their career”.

Kesempatan ini kemudian dilanggengkan para lelaki (ini yang ngomong Hartman, cowo loh ya) untuk memelihara dominasi kaum pria. Lama-kelamaan terinstitusionalisasi-lah stereotipe bahwa wanita lapaknya di ranah privat dan pria lapaknya di ranah publik. Ketika wanita berada di ranah privatdan tidak memiliki penghasilan, wanita menurut Walby dan Hartman, tidak memiliki kekuatan ekonomi dan rentan menjadi obyek opresi. Ketika wanita turut mengambil peran di ranah publik, pria (dan masyarakat) melihat peran publik tersebut hanya sebagai pelengkap (meskipun wanita tsb menghasilkan pendapatan sama besar dengan pria, atau menghabiskan jam kerja yang sama dengan pria). Stereotipe ini, menurut Hartman diciptakan untuk melanggengkan dominasi pria.

Sekian abad berlalu sejak masa industrialisasi Eropa, norma segregasi privat dan publik ternyata masih berlaku. Sekarang sudah banyak wanita yang bisa bekerja dan menempuh pendidikan tinggi, tapi ketika sampai di rumah mereka juga dituntut untuk berperan sepenuhnya di ranah domestik. Seperti kata Lee Hyun Juu tadi, pulang ke rumah capek-capek, ternyata kulkas kosong dan rumah berantakan. Suaminya kemana? Suaminya nonton bola sambil minum bir. Ketika Hyun Juu dan Soo Ah minta resign, suami mereka menolak dengan alasan gaji istrinya masih dibutuhkan untuk menopang rumah tangga. Ih kesal kan.

Laki-laki dengan norma patriarki yang berlaku seakan udah “take for granted” sebagai breadwinner (Coba baca Gupta et al 2014 dan Bourne & Calas 2013), sehingga ketika wanita melakukan juga pekerjaan yang menopang keuangan rumah tangga (yang kadang terang-terangan diminta oleh partnernya), tetap dipersepsikan sebagai pelengkap saja, dan tetap disyaratkan sepenuhnya melakukan tugas domestik.

Ga adil ya. Menurut saya sih ga adil.

Terus nanti ada yang protes bawa-bawa agama nih: Makanya cewe itu jangan kerja, di rumah aja.

Guys, FYI Siti Khadijah istri Rasul adalah pedagang masyhur pada masanya, dan setelah beliau menikah, beberapa literatur mencatatkan Siti Khadijah masih turut dalam pengambilan keputusan strategis.

Dan literatur juga menuliskan bahwa Rasul kerap membantu pekerjaan rumah istrinya.

Dan jika diterapkan dalam kondisi keislaman, wanita pada jaman Rasulullah tidak dituntut untuk mencari nafkah sejak mereka lahir hingga mati. Jika di tengah jalan mereka bercerai atau ditinggal mati oleh suami, maka kewajiban memberi nafkah wanita tersebut akan kembali ke ayahnya seperti dulu ketika dia belum menikah, atau ke saudara laki-lakinya. Jika dia yatim piatu, maka akan diurusi oleh sahabat-sahabat Rasul, salah satu cara dengan dinikahi.

Nah sekarang kalo konteksnya Indonesia, coba dipikirin. Kalau ada wanita ditinggal mati atau bercerai:

  1. Belum tentu orang-tua mau menerima dia kembali karena bisa jadi dianggap aib (wanita bercerai oleh sebagian besar masyarakat masih dianggap aib). Atau dari dulu juga wanita tersebut jadi tulang punggung keluarga yang juga menyokong orang tua.
  2. Saudara laki-laki belum tentu mau menafkahinya (apalagi jika sodara laki-laki itu sudah menikah, kebayang ya ada aja istri yang kadang rewel klo suami ngasih duit ke ibunya atau saudara kandung perempuan)
  3. Masyarakat kadang insecure dan melabelinya dengan janda gatel jika wanita tsb masih muda/cantik sehingga akan sulit dinikahi oleh lelaki lain dengan alasan membantu finansial
  4. Atau tidak akan ada lelaki yang mau menikahinya jika wanita tersebut sudah tua (padahal jaman rasul, janda yang dinikahi yah yang sudah tua).

Jadi untuk konteks Indonesia, ketika seorang wanita tidak memiliki kemampuan untuk kuat dan mandiri secara ekonomi, jangan berharap hidup layak. Karena di akhir masa tetap wanita akan berjuang sendiri. Masyarakat kita ga punya jaring pengaman untuk menopang kala wanita jatuh.

Intinya apa?

Intinya, saya ga pengen menghimbau wanita untuk berdikari. Males, kenapa kalo ada kekurangan selalu wanita yang disuruh memperbaiki diri, Kenapa bukan struktur sosialnya yang diperbaiki. Saya dalam tulisan ini cuma pengen menghimbau, lelaki tolong dong jangan arogan melimpahkan semua tugas rumah tangga hanya pada wanita, karena ada porsimu juga untuk chores. Hehehe.

Best regards,

Dian

  • Draft yang lamaaa banget ga sempet-sempet diselesaikan hehehe. Pertama nulis 24 Oktober 2016.
  • Hartmann, H. (1979). The Unhappy Marriage of Marxism and Feminism: Towards a More Progressive Union (H. Hartmann, Ed.). Capital and Class, 8, 1–33.
  • Gupta, V. K., Goktan, A. B. & Gunay, G. (2014). Gender Differences in Evaluation of New Business Opportunity: A Stereotype Threat Perspective. Journal of Business Venturing, 29(2), 273–288.
  • Walby, S. (1990). Theorizing Patriarchy. Oxford: Oxford B. Blackwell, 1990.
0

Budaya Tepat Waktu

Tentang konsep ‘tepat waktu’, terutama komparasi antara persepsi tepat waktu versi Indonesia dan negara lain, mungkin sudah banyak pemikiran dan tulisan memaparkan mengenai hal ini. Biasanya tulisan atau pemikirannya tentang betapa orang Indonesia seringnya ngaret, ga bisa tepat waktu, dll, dst. 

Menjalani hidup di negara orang, rasanya saya harus setuju dengan stereotipe demikian. Kalau kata teman saya, orang Indonesia itu “non-committal“. Tidak bisa berjanji, sukanya “liat ntar aja deh” atau “Insha Allah” sebagai justifikasi molor. Terutama jika kegiatannya gratisan, kadang acara bisa molooooor lama sekali karena peserta ‘take it for granted‘ ga berusaha tepat waktu karena merasa tidak ada materi yang dikeluarkan. 

Jika Indonesian society di kota saya mengadakan acara, biasanya kami booking ruangan dengan durasi satu jam lebih awal plus satu jam lebih akhir. Misalnya ada acara yang rundownnya 2 jam, maka panitia akan memesan gedung selama 4 jam. Yang dua jam adalah antisipasi keterlambatan. Lambat dalam hal memulai acara, juga dalam mengakhiri acara. Waw. Padahal setelah dipikir-pikir, dua jam itu bisa dipakai untuk baca artikel 2 biji, bikin critical review, plus disubmit biar dapet nilai mata kuliah tertentu (lah curhat), atau nonton drama korea dua episode.

Ketika saya pertama kuliah, saya sempat menganggap enteng seminar dan workshop yang diadakan di kampus, pasalnya seminar tersebut biasanya hanya berdurasi 1 jam. Ih kalo di Indonesia, acara seminar seberapapun skalanya ga mungkinlah ya sejam. Acaranya dimulai molor, coffee breaknya molor, paparan pembicara molor, dll, dst. Sehingga kalau ada acara seminar di kampus saya di Indonesia, saya biasanya mengosongkan jadwal seharian, karena ga punya bayangan akan berakhir kapan dan bagaimana acara tersebut.

Nah di kampus Sheffield, dan di kampus seputaran UK yang pernah saya datangi, seminar satu jam itu beneran satu jam loh. Dan isinya padat, efisien, ga ngalor-ngidul. Pembicaranya dari awal udah woro2 nanya ke moderator berapa lama mereka harus bicara, dan pembicara sadar diri memberi timer di hp mereka. Jarang moderator harus mengingatkan sisa waktu. Kecuali untuk seminar yang interaksinya tinggi dengan peserta kadang moderator harus turun tangan untuk meredam antusiasme peserta.

Seminar satu jam, biasanya hanya ada satu pembicara. Tadinya saya berpikir, oke mungkin karena cuma satu pembicara makanya gampang diatur dan selalu tepat waktu. Ternyata enggak juga, saya pernah dateng seminar yang durasinya 2 jam dengan menghadirkan 4 pembicara, tepat waktu semua loh. Ketika dikasih waktu bicara 15 menit, mereka nurut cuma ngomong 15 menit (ga ada tuh awu atau stratifikasi si A jabatan lebih tinggi jadi ngomongnya lebih lama dari si B). Bagi pembicara, seminar hanya untuk memberi ‘flavour’ terhadap topik yang mereka paparkan. Jika ada yang tertarik lebih jauh bisa kontak secara pribadi atau ngobrol selesai acara (jika memungkinkan). 

Efeknya, manajemen waktu saya lebih efisien. Dalam sehari saya bisa menghadiri 3-4 acara seminar atau training tanpa khawatir akan overlap karena yang satu selesainya telat. Meeting juga demikian, karena booking ruangan di sini sangat strict, jadi ketika rapat tuh agendanya udah jelas A, B, C. Ga ada rapat yang isinya ngalor ngidul tanpa agenda. Semua sadar bahwa waktu tiap orang sangat berharga.

Untuk hal yang ga formal, misalnya hiking – itu bisa tepat waktu juga loh. Saya pernah ikutan hiking yang diselenggarakan salah satu ritel brand sport di UK. Acaranya dari jam 11-3, bener dong kita start jam 11 dan kembali ke pool bus jam 3. Panitianya sangat memperhitungkan durasi, jarak dan kesanggupan peserta (mengingat waktu itu hikingnya untuk segala umur). Duh untuk orang yang control freak kaya saya, jadi seneng kalo semua hal terukur gini hahaha.

Konsep tepat waktu di sini memang agak berbeda dengan di Indonesia. Di sini, jika kamu datang 5 menit sebelum acara, maka kamu ontime. Jika kamu datang tepat waktu, maka kamu cuma in-time. Semoga banyak yang saya bisa pelajari di sini mengenai tepat waktu. Dan semoga ketika kembali ke Indonesia saya tetap bisa istiqamah ya tepat waktunya. Aamiin.

0

Kenapa Cowo Harus Bayarin Saat PDKT

Beberapa waktu lalu, teman saya @kopilovie membuat poll tentang siapa yang harus bayar jika jalan-jalan dengan seseorang yang berbeda jenis kelamin. Hasil vote sementara, wanita mayoritas bilang “patungan biar adil”, sementara mayoritas cowo bilang “cowo yang bayarin.”

Well, votingnya mput memang general sih, tidak menjelaskan untuk keperluan apa jalan-jalan tersebut; PDKT-kah, business meeting-kah, atau sekedar jalan-jalan sebagai teman. Kenapa tujuan jalan-jalan turut menentukan siapa yang harus bayar? Iya dong, menurut saya begini alasannya:

 

Hang out dengan teman

Waktu itu saya vote untuk: “cowo lah yang bayarin” karena dalam benak saya, vote itu untuk PDKT. Iya dong, kan katanya kita feminis, penjunjung hak dan kesetaraan wanita (halah). Jika memang feminis, maka gender mustinya tidak ambil peran mengenai siapa yang bayarin. Kalo jalan-jalan dengan teman, bukan prospek PDKT, mau jalan sama teman cewe atau cowo, ya bayar sendiri-sendiri atau patunganlah, jangan dibiasain minta traktir cem orang susah. Kecuali memang dalam acara traktir mentraktir, atau temannya maksa untuk bayarin. Di luar hal tersebut, ketika minta bill, saya biasanya inisiatif bayar sendiri-sendiri. Itu etika dasar.

Mekanisme umum yang biasa terjadi pada saya dan teman-teman jika kami jalan bareng; salah satu bayarin dulu kemudian yang lain transfer ke rekening teman yang bayarin, atau berikan tunai  jika punya nominal yang mendekati dengan pesanannya. Hal demikian lebih elegan, ketimbang saweran duit tunai di atas meja restoran. Duh, hahaha. Saya kalo ke acara kongko-kongko yang orang-orangnya ga terlalu saya kenal dekat, kemudian selesai makan mulai saweran di atas meja, tanpa bermaksud apa-apa biasanya saya akan langsung bilang: “gue bayarin dulu, ntar transfer atau bayar ke gue setelah gue bayarin.”. Bukan apa-apa, ya ribet aja sih harus bayar di meja makan, nyari kembalian buat si A, B, C. Kadang juga waitressnya nungguin di meja agak lama sampe semua duit kita kumpul, malu ah.

Kalau orang yang baik dan benar, biasanya ngerti etika dasar ini. Teman yang baik akan memotretnya billnya trus itung makanan mereka sendiri, dan berusaha kasih duit tunai dengan jumlah paling mendekati untuk ganti duit gue, atau mereka transfer. Orang yang nyebelin adalah orang yang mendadak bego ga bisa ngitung padahal dia bawa smartphone, dan berusaha jadi free rider, bayar paling sedikit ketimbang pesanan dia, atau mendadak amnesia ngakunya mau transfer tapi ga kunjung transfer. Sebagai orang yang hidup diajari untuk punya pride, orang macem ini biasanya gue tagih sekali. Kalo tetap lupa, yaudah asal tahu aja. Kalau cuma urusan kecil teman tersebut ga bisa menempatkan diri, maka jangan pernah kasih urusan besar ke teman tersebut.

Beda halnya kalo dari awal teman tersebut bilang, “traktir gue ya, belom gajian nih.” Maka dengan senang hati saya akan traktir, karena kadang momen untuk bisa ketemuan ga selalu matching dengan momen gajian. Namun perlu diingat, agar hubungan pertemanan tetap sehat dan seimbang, jangan lupa gantian traktir. Jika semua hutang traktir mentraktir selesai, bisa kembali ke pola bayar masing-masing. Eh gue ga tahu sih klo high class society gimana tata caranya, gue nulis ini sebagai bagian dari kelas menengah agak ke bawah dikit, ngehe – yang kita semua tahu masing-masing dari kita punya pertempurannya sendiri, memeras keringat mencari nafkah. Jadi sebagai teman yang baik jangan membebani orang yang kita anggap teman untuk selalu berharap ditraktir olehnya, kecuali kalo dia memang maksa dan bahagia kalo bisa traktir orang.

Bisa jadi gaji teman lebih besar dari kita tapi dia harus menyokong keluarganya atau lagi nabung untuk nikah, kita ga pernah tahu. Jangan pernah jadi benalu. Bahkan secara akademis ada teori social ties yang dicetuskan oleh grannovetter (1973) mengenai The strength of Weak Ties, aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari; bisa bahwa hubungan yang kuat adalah hubungan dimana yang satu dengan yang lainnya sejajar, ketika salah satu udah jadi liabilities atau beban bagi yang lain, misalnya minta traktir mulu tanpa ada timbal balik yang sejajar, maka hubungannya udah bukan strong ties lagi, menurut gue lebih mirip juragan dan jonggos hehehe. Berlaku untuk hubungan dengan kelamin apapun, ingat feminis dan kesetaraan gender, no offens.

 

Business Meeting

Kamu ketemu teman dalam rangka kerjaan? Terlepas temannya cewe atau cowo, yang punya hajat adalah orang yang harus bayarin pengeluaran hari itu. Ketika saya mulai bekerja di Bank, saya dikursusin khusus oleh kantor selama dua minggu di John Robert Power untuk mempelajari etika dasar dalam hubungan bisnis. Mulai dari outfit, table manner, hingga etika siapa membayari siapa. Jika meeting dengan klien, vendor atau nasabah saya selalu membayari mereka. Ada anggaran dari perusahaan untuk itu. Setiap kepala cabang atau kepala unit di kantor saya biasanya punya corporate card untuk kepentingan pihak ketiga. Bukan gratifikasi ya, lebih ke memang demikianlah etika dalam dunia bisnis, saya yang membayari pengeluaran dalam acara business meeting jika saya sebagai pihak yang membutuhkan jasa mereka, tanpa memandang gender.

 

PDKT

Nah ini yang sering bikin galau, siapa yang harus bayarin saat PDKT. Saya mah saklek orangnya: Cowo yang harus bayar saat kalo jalan-jalan saat PDKT. Yaiyalah, kan lagi berusaha memberi impresi baik? Kalo cowonya ga punya duit? ya gampang, ga usah PDKT. Yakale anak orang cuma mau dikasih makan cinta, jadian aja belom. 

Lahir dan dibesarkan dibawah doktrin orang tua: “Kamu sebagai cewe, nikahlah sama cowo yang sayang sama kamu, jangan nikah sama cowo yang kamu sayang tapi dia ga sayang atau dia sayang kamu lebih sedikit, capek nanti.”

Ya bener sih, sebagai orang yang punya beberapa jenis mantan dan saat ini saya sudah menikah, saya melihat cowo punya kecendrungan take for granted, eh ga tau deh itu manusia atau kecenderungan khusus cowo – perlu studi khusus mengenai hal ini. Wanita-wanita yang dulu para pria perjuangkan cintanya dengan sepenuh hati aja, kadang di tengah jalan mereka sering khilaf dan jadilah poligami. Trus gimana dengan yang cewenya ngejer-ngejer coba? Percaya deh, sebagai wanita ga enak hidup kalo ga dianggap ratu di rumah tangga sendiri. Dan wanita biasanya bisa jadi ratu ketika cowonya benar-benar jatuh hati sehingga memperlakukannya sebagai ratu.

Trus apa hubungannya dengan bayar-bayaran ini? Anggaplah bayar-bayaran sebagai ujian, seserius apa cowo tersebut memposisikan cewe gebetannya. Kalau dia serius, percayalah pasti dia akan bayarin. Sampai akhirnya jadian. Pas udah jadianpun, biasanya cowo yang bayarin. Saya kadang bayarin, kadang partisipasi porsi kecil. Tapi mayoritas cowo saya yang bayarin. Bukan karena saya ga mampu, tapi lebih ke pengen lihat bagaimana cowo itu bertanggungjawab ketika dia berani bawa anak orang keluar dari rumah bapak emaknya. Terjamin ga. Lagipula ya, menurut saya, kalau terbiasa bayarin cowo atau patungan saat hubungan masih PDKT atau pacaran yang ga jelas, cowo akan merasa ada di zona nyaman: Bisa punya pacar, ga usah modal, ngapain nikah, entar-entar aja. Cowo jadi lupa bahwa punya kewajiban menikahi anak orang tersebut. 

Tapi kalo dia udah terbiasa bayarin dan bertanggungjawab, dia akan mikir: “Duh PDKT (dan juga pacaran) tuh mahal dan ngabisin duit, secara gue beneran suka sama dia mending gue nikahin.”

Terus terang “pacaran mahal dan susah” itu termasuk salah satu alasan suami  cepet ngelamar saya: Karena dia males nganter saya pulang ke rumah – jauh. Kata dia: “kalo udah nikah kan pulang nonton bisa langsung pulang ga harus nganter ke Bintaro (kostnya di Setiabudi)”. Dia juga merasa duit buat pacaran bisa buat nabung beli rumah. Jadi dia nanya, “mau nikah sama saya ga? tapi kita harus nabung bla bla bla.” Dan demikianlah ceritanya menjadi saya dan suami saat ini.

Oiya, tentang bayar-bayar saat pacaran jadi tagline saya dan suami kalau makan di luar: selesai kongko-kongko, biasanya salah satu dari kami bertanya: “Pacaran atau suami-istri.”

Kalau saya jawab pacaran – biasanya karena saya menganggap ada hal yang harus dirayakan, suami yang bayar. Karena waktu pacaran selalu dia yang bayar. Atau dia otomatis membayar jika dirasa event makan/jalan-jalan tersebut spesial bukan kegiatan rutin pacaran pasca merried (kami punya jadwal pacaran rutin, pergi berdua tanpa bocah).

Kalau saya jawab suami istri, atau biasanya saya yang langsung ke kasir, makan-makan itu atas anggaran rumah tangga, keluar dari dompet saya karena sebagian besar gaji suami sudah diserahkan untuk saya atur. Eh iya, kalo saya prinsipnya: Uang suami adalah uang saya, uang saya ya tetap uang saya hehehe. Dari sanalah saya merasa punya daya tawar dan kesetaraan dalam pernikahan saya.

Kalo ga punya duit, masa ga boleh pacaran karena ga kuat bayarin? Dude kalo kamu ga punya duit, mending energi dan waktumu difokuskan untuk nyari duit ketimbang pacaran. Bangun karir dan kompetensi. Bangun usahamu hingga omsetnya besar. Percaya deh, jadi cowo tuh gampang kalo mapan. Statistik menunjukkan bahwa banyak cowo jelek tapi tajir yang dapet cewe cantik. Yaudah ga usah muluk2 harus tajir dulu deh, tapi cukup tunjukkan bahwa kamu punya prospek memadai, misalnya punya usaha atau pekerjaan yang bisa menghidupi, penghasilan setara UMR misalnya. Udah gitu aja, pilih cewe yang kira-kira semahzab sama kamu trus ajak nikah. Statistik dan sejarah juga sudah banyak menunjukkan cewe-cewe yang ninggalin pacarnya yang udah bertahun-tahun pacaran, karena ada cowo mapan yang ngelamar cewe itu. Semudah itu.

Terus ntar ada yang bilang: “Eh tapi di luar negeri ga harus nikah, mereka bisa hidup bersama. Pengeluaran rumah tangga dibayar masing-masing atau patungan.”

Gue akan jawab: Pertama, kita membahas ini dalam konteks Indonesia, gue ga peduli sama konteks luar negeri. Silahkan bikin tulisan lainnya dan tag gue kalau elo menjalani samen leven di luar negeri sana, gue juga penasaran pengen tahu gimana sih pembagian tugas dan tanggung jawab ketika hidup serumah tapi tidak menikah.

Kedua; Menikah di luar negeri tidak semudah menikah di Indonesia terkait hukum di negara tersebut. Salah satunya, untuk bisa mendaftarkan pernikahan, kamu harus bisa menunjukkan sudah berapa lama pacaran, apakah orangtua atau keluarga besar mengetahui, dst, dll. Itulah sebabnya mengapa banyak orang hidup bersama terlebih dahulu sebelum mereka memutuskan untuk menikah, karena persyaratannya demikian harus hidup bersama dulu.

Dalam konteks UK, untuk mendaftarkan pernikahan bukanlah hal yang mudah. Prosedur hukumnya berbelit, karena UK mengantisipasi human trafficking dan human abuse. Gue kurang paham gimana maksudnya, tapi kekerasan rumah tangga di UK sering terjadi pada pasangan menikah, yang cewe ga bisa cerai karena proses cerai sulit dan mahal. Sehingga banyak wanita tetap menikah dan mengalami kekerasan, bahkan ketika mereka sudah pisah rumah.

Pernikahan di UK dan negara maju lainnya juga sering dijadikan celah untuk memperoleh kewarganegaraan, padahal pasangan tersebut tidak benar-benar menikah. Oleh karenanya UK mengenal istilah cohabitation, domestic partnership atau unmarried spouse yang kadang sering kita salah artikan sebagai hidup bersama tanpa menikah sewenak udele dewe. Enggak juga, cohabitation (living together) dan domestic partnership itu terdaftar, urusannya adalah partner tersebut yang berhak untuk memberi persetujuan atau diberitahu jika ada tindakan terkait nyawa partner, misalnya persetujuan surgery atau alat bantu kehidupan dan pengaruh ke siapa yang bayar city council tax. Jadi hidup bersama di luar negeri pun jelas bahwa si A partner si B, negara tahu. Kalau ada anak dari hubungan tersebut juga pengadilan bisa dengan cepat memutuskan legal guardian si anak. Bukan ujug-ujug hidup bersama sesukaku, besok kalau bosan bisa tinggal pergi. Enggak gitu sih kalau di UK, setau saya Kanada juga demikian. Dan cohabitation serta domestic partnership ini menjadi syarat untuk pernikahan, karena kamu harus udah pacaran atau cohabitation kurang lebih tiga tahun atau jika punya anak dari hubungan tersebut baru bisa mengajukan pernikahan di UK. Kalo baru kenal trus pengen langsung nikah, biasanya orang UK akan menikah di luar UK, secara agama atau adat, lalu kemudian mereka menyertakan foto-foto pernikahan untuk mengurus pendaftaran pernikahannya diakui di UK.

Jadi, jangan cuma nyontoh si anu cuma hidup bersama kok, mereka patungan, baik-baik saja. Enggak, percayalah, cowo baik-baik pasti akan menanggung wanitanya, kalau orang di negara lain (yang baik-baik) belum registered married, biasanya karena hukum negaranya yang sulit, namun sesungguhnya mereka sudah terdaftar oleh negara sebagai couple,  hanya saja namanya bukan pernikahan.

Menurut saya, hidup ditanggung itu lebih menenangkan dan menyenangkan bagi wanita. Karena society itu kejam loh bagi wanita, mereka memaksa wanita untuk punya dua peran bersamaan: Domestik dan publik (Baca bukunyaWalby, 1997; Bezanson & Luxton, 2006; Nicholson 1990). Jadi dengan tugas yang berat dan peran ganda itu, menurut saya sudah sepantasnya kaum pria memastikan dan menanggung wanitanya terpenuhi semua kebutuhan lahir dan batinnya dengan maksimal, agar wanita yang dia sayangi bisa memenuhi tugasnya di ranah domestik dan publik.

Jadi masih mau patungan sama cowo yang lagi PDKT dengan kamu?

 

 


references:

Granovetter, Mark S.  The Strength of Weak Ties,  American Journal of Sociology, 78, no. 6 (May, 1973): 1360-1380.

Luxton, M., Bezanson, Kate, & Luxton, Margaret. (2006). Social reproduction : Feminist political economy challenges neo-liberalism. Montreal: McGill-Queen’s University Press.

Nicholson, L. (1990). Feminism/postmodernism (Thinking gender). New York ; London: Routledge.

Walby, S. (1997). Gender transformations (International library of sociology). London: Routledge

0

Kenapa (saya) memilih sekolah di Inggris?

Pertanyaan ini disampaikan oleh assesor beasiswa saat tes wawancara. Jawaban akademisnya tentu: “Karena supervisor yang memiliki keahlian penelitian di bidang XYZ ada di negara Inggris, universitas DEF, dengan nama Prof HIJ. Saya sudah melakukan korespondensi dengan beliau, dan beliau tertarik dengan riset saya. Ini bukti korespondensinya. Saya juga melakukan riset mengenai kemungkinan penelitian saya dilakukan di perguruan tinggi di negara lain, terutama Asia, namun bla bla bla..”

——-

Ketika suasana sudah cair antara saya dan assesor, maka alasan non akademis juga saya kemukakan:

1. Inggris relatif aman untuk saya yang akan membawa serta keluarga, karena senjata api tidak dilegalkan di Inggris. 

Sebelumnya suami dan saya sempat berencana kuliah di Amerika, proses aplikasi di beberapa universitas Amerika sudah sempat kami lakukan. Namun beberapa alasan membuat kami tidak sreg dengan US, selain karena perkuliahan PhD di US cukup lama (normalnya 6-7 tahun) yang melebihi masa yang ditanggung beasiswa, juga karena kami mendapati bahwa kecelakaan atau kematian akibat senjata api cukup tinggi di US. 

Saya sampaikan pada assesor bahwa jika ingin kuliah saya lancar, maka saya harus memastikan urusan saya di rumah sudah selesai. Salah satunya adalah memastikan anak-anak saya berada di lingkungan yang aman. Sehingga energi saya dapat difokuskan untuk kuliah, bukan untuk mengkhawatirkan keselamatan keluarga. Dengan demikian, Amerika bukan pilihan saya.


2. Sekolah Dasar di UK gratis, berbahasa pengantar Inggris.

Sekolah gratis itu penting buat saya, hehe. Konon sekolah dasar di Australia tidak semuanya gratis. Maka kami tidak memilih Australia, meskipun sempat kami pertimbangkan. 

Jika bicara aman dan gratis, maka negara skandinavia termasuk yang sangat aman juga gratis. Norway dan Finland harusnya juga menjadi incaran kami mahasiswa PhD yang membawa anak. Namun negara eropa daratan dan skandinavia memiliki bahasanya sendiri sebagai bahasa pengantar sekolah dasar. Norks, deutch, france, dan seterusnya. Hal ini tentunya akan menyusahkan saya sebagai orang tua, karena berarti saya harus belajar bahasa lain untuk bisa membantu anak saya mempelajari pelajaran sekolahnya.

Saya sampaikan hal ini ke assesor beasiswa, bahwa dengan memilih negara yang bahasa utamanya adalah bahasa Inggris, maka saya sudah mengurangi waktu dan energi untuk beradaptasi, baik bagi saya dan bagi anak-anak saya. Sehingga saya dapat fokus di proses perkuliahan dengan cepat.

3. Asuransi kesehatan di UK gratis (sekarang berbayar walau masih terhitung murah).

Ketika suami mengambil kuliah Master di tahun 2014, imigran termasuk mahasiswa dan keluarganya otomatis tercover asuransi kesehatan ketika visanya disetujui. Tidak dikenakan biaya apapun untuk fasilitas kesehatan gratis tersebut. Saya dan anak-anak merasa aman, karena jika sakit bisa langsung ke puskesmas dekat rumah. Bahkan saya dapat fasilitas papsmear dan vaksin gratis untuk mencegah kanker serviks.

Hal tersebut turut mempengaruhi keputusan kami untuk meneruskan S3 kembali ke Inggris ketimbang negara lain. Sebelumnya saya melakukan perbandingan skema kesehatan Australia dan Amerika. Australia mewajibkan asuransi kesehatan, namun beberapa penyakit tidak dicover. 

Untuk saya yang memiliki penyakit autoimun tentunya sangat ribet jika mendadak sakit di Australia. Amerika juga sama, karena asuransinya swasta maka banyak penyakit yang tidak ditanggung. Bahkan asuransi di Amerika ada porsi pengobatan yang harus dibayar sendiri oleh pasien. Duh pokoke mahal deh.

Tahun 2015, Inggris mulai menerapkan IHS atau skema asuransi kesehatan untuk imigran. Kami harus membayar jumlah tertentu, bersamaan dengan membayar biaya visa. Besarannya sekitar 3-4juta/tahun. Menurut saya masih terjangkau. Dan plusnya, skema kesehatan ini dikelola oleh negara. Mirip dengan BPJSnya Indonesia, dengan cover penyakit yang hampir semua jenis ditanggung. Obat autoimun saya, sekali suntik itu sekitar 1.2 juta rupiah, harus saya suntik seminggu 3 kali. Jadi sebulan kira-kira biaya obat saya sebesar 15juta rupiah/bulan. Jadi kebayang ya, biaya 3-4 juta yang saya keluarkan untuk membayar IHS selama setahun jadi terasa tidak ada apa-apanya dibanding fasilitas kesehatan yang saya dapatkan saat ini. 

Jadi demikianlah beberapa alasan kenapa saya memilih UK selain alasan akademis ketersediaan dosen pembimbing. Terus terang untuk saya yang membawa anak, banyak pertimbangan yang sifatnya non akademis. Saya sering teringat pesan bapak Jusuf Kalla pada suatu waktu: “Orang yang sukses itu biasanya urusan dirinya dan rumahnya sudah selesai.” 

Sebagai wanita yang kodratnya terbagi dalam ranah domestik dan publik, saya selalu berusaha agar urusan rumah tangga saya tertata baik. Dengan demikian saya berusaha memiliki sistem yang bisa memudahkan ranah domestik saya. Di Indonesia, saya punya sistem pendukung bernama mbak, mamah, emak, yangti, nyai,  om supir, gojek, dll, hehe.  Di negara lain yang tidak mengenal embak, saya serahkan sistem tersebut kepada negara; sekolah gratis, kesehatan gratis, keamanan yang terjaga, dll. Ketika urusan rumah sudah ditangani sistem yang baik, maka saya percaya bisa melakukan banyak hal lain di ranah publik. 

Jadi apa alasan kamu memilih kuliah di negara tertentu?

0

Sandwich Dingin

Beberapa tahun lalu ketika pertama kali tiba di Inggris, saya sering heran dengan restoran lokal yang di spanduk depannya mencantumkan menu: Cold Sandwich. Sudah pasti cold sandwich ini bukan roti yang diisi es dungdung kesukaan saya waktu kecil, ataupun jajanan eskirim roti khas singapura yang kekinian. Yang dimaksud di restoran di Inggris ini benar-benar cold sandwich, roti yang diisi sayuran dingin, dengan keju dingin dan daging dingin dari kulkas.

Cold sandwich juga bisa ditemui di minimarket, diletakkan di rak dingin bersama dengan sayur mayur, daging, dan minuman dingin. Awalnya saya pikir, jika membeli sandwich dari kulkas supermarket, bisa diangetin seperti kalau beli hotdog di gerai Sevel Indonesia. Eh ternyata mini marketnya ga menyediakan microwave, dan teman-teman saya juga memakan sandwich yang mereka beli dalam keadaan dingin. Eh ya Allah, jadi keingetan gimana kalau emak saya melihat hal ini, secara emak biasanya wanti-wanti agar saya menghangatkan makanan dari kulkas agar tidak sakit perut.

Sandwich dingin merupakan hal baru bagi saya yang datang dari negara pengguna magicom terbanyak hehe. Dan ternyata tidak hanya sandwich dingin, beberapa makanan di Inggris memang disajikan dingin seperti baru keluar dari kulkas. Makanan panas (hot food) bukan mandatory bagi warga Inggris. Malah bisa dibilang luxury yang hanya bisa didapat jika makan malam bersama keluarga di rumah. Jadi makanan sehari-hari orang sini ya sandwich, yang ga harus anget. Bisa dimakan saat sarapan, makan siang dan juga makan malam. Sampai-sampai di brosur layanan masyarakat yang saya baca di puskesmas dekat rumah, mencantumkan anjuran: “Eat hot food at least once a day to maintain your health.”  

Lah yaa, brarti kan hot food atau stew beneran barang mewah yah di Inggris.

Di indonesia, walaupun lauk-pauknya dingin, minimal nasinya anget ngepul dari magicom (lauk-pauk dingin = tidak hangat, bukan keluar dari kulkas seperti cold sandwich). Apalagi makanan macam gudeg, kebayang ya itu gudeg kan konon makin enak kalo udah di-nget berkali-kali hahaha. Coba juga rendang, diangetin berkali-kali biar makin ngeresep bumbunya, dimakan pake nasi anget. Duh, pengen.

Waktu awal-awal tiba di Inggris, saya sering mengernyitkan dahi ketika abang-abang Subway bertanya apakah saya ingin sandwich saya cheesed and toasted?  Saya yang semacam pengen jawab ketus: “Yaiyalah, toasted biar anget dan kejunya leleh, menurut ngana?”

Tapi setelah beberapa saat, akhirnya saya bisa memahami budaya sandwich dingin ini. Terutama di musim panas seperti sekarang, makan masakan anget tuh nampaknya aneh sekali. Semenjak summer tiba, entah mengapa saya jadi lebih suka makan siang wrap (roti untuk kebab kalo di Indonesia) atau flat bread, diisi tuna atau pepperoni yang sudah saya dinginkan di kulkas, dilengkapi lettuce dingin dan timun, minumnya es kopi. Rasanya cocok, ga berlebihan, selesai makan ga bikin pusing karena kegerahan hehehe.Atau pasta yang saya beri udang dingin, herbs, garlic dan olive oil sebagai topping. Ga ada anget2nya acan.

Padahal waktu di Indonesia, saya suka banget makan siang bakso dan soto, minumnya teh anget. Slesai makan, gobyoss kemeringet, bibir jebleh karena kepedasan. Makanya saya jadi sering bertanya-tanya, kenapa ya kalau di Indonesia kita bisa banget makan masakan hangat di siang hari bolong, sementara di Inggris terasa janggal? Bukan hanya karena rasa masakannya yang ga cocok dimakan saat summer, tapi juga karena badan rasanya menolak. Apakah karena udara di sini terlampau kering ya? Sementara di Indonesia udaranya panas tetapi lembab, sehingga kalo makan yang panas-panas di Indonesia, tubuh tetap bisa menyesuaikan dengan cara berkeringat, sementara di UK susah untuk keringatan?

Bisa juga karena di sini tenaga kerja mahal ya? Ga ada asisten rumah tangga, makanan jajan juga mahal. Membuat orang memilih untuk membuat makanan yang gampang-gampang yang tidak perlu melibatkan kompor terlalu mendalam. Sandwich dan pasta dingin pilihannya hingga akhirnya menjadi budaya: makanan sebisa mungkin mudah membuatnya dan tidak harus panas.

 

Mbuhlah. Jadi, makan siang apa kamu hari ini?

0

Feminisme

Saya banyak mendengar dan membaca hal-hal terkait diskursus feminisme. Dalam sekejap, feminisme selalu menimbulkan stereotipe negatif setiap saya mendengar atau membacanya. Padahal jika dibaca definisinya feminisme justru berniat membantu wanita agar dapat terpenuhi hak-haknya berdasarkan kesetaraan gender. 

Lalu salahnya dimana ya, kenapa saya takut terhadap konsep feminisme? Dan kenapa juga konsep ini terasa jauh tak terjangkau, tidak ada aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari? 

Salahnya ada di saya, sepertinya. Saya yang salah membaca. Yang saya baca, kebanyakan konsep feminisme yang sudah dituangkan dalam gerakan politik, kadang tercampur baur dengan agama.  Kalau merujuk wikipedia, “Feminisme adalah sebuah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, ekonomi, budaya, ruang pribadi dan ruang publik.”

Jadi ketika saya berkata saya ingin sekolah, sama seperti teman-teman saya yang cowo sekolah; maka saya adalah feminis. Ketika ayah saya membantu ibu saya memasak di dapur, agar ibu punya waktu luang untuk les komputer; maka ayah saya adalah feminis. Ketika suami saya memberi uang saku kepada anak perempuan saya dengan jumlah yang sama dengan anak lelaki saya, maka suami saya adalah feminis. Karena mereka semua, memperjuangkan kesetaraan.

Dirunut dari diskursus ini, maka menjadi feminis tidak harus selalu perempuan. Kaum lelaki juga bisa menjadi feminis. Bukan dalam artian lantas menjadi justifikasi kaum lelaki untuk ngondek, melainkan bahwa kaum lelaki juga bisa loh membuat wanita mencapai hak-hak mereka.

Lalu blurrynya dimana ya? Blurrynya menurut saya, ketika para feminis menuntut haknya tanpa memperhatikan kewajibannya dan juga melanggar hak orang lain. Dalam kehidupan nyata, sangat mungkin ketika hak kita terpenuhi, membuat hak orang lain tidak terpenuhi. Misalnya seperti saya, ketika saya mengejar hak saya untuk sekolah lagi, terus terang saya mengurangi hak anak saya untuk mendapat waktu bersama saya. Sebelum perkuliahan saya dimulai, saya punya waktu untuk menemani mereka bermain dan belajar sejak mereka pulang sekolah sampai tidur malam. Namun ketika perkuliahan saya sudah dimulai, wogh boro-boro ngajarin mereka belajar, baca buku penghubung mereka saja kadang saya lupa. Sampai gurunya memberi note: “Rayhan, please ask an adult to sign your book.” Duh. ~~~ sampe sini dulu, belom pengen cerita bagaimana cara saya memitigasi keadaan ini agar semua pihak tetap terpenuhi haknya. Itu akan jadi kajian tersendiri kolom PhD Mama 😜.

Hal yang sama dengan konsep my life my body. Yang kadang seterbaca/dengar/lihat-nya saya, sering dipakai sebagai justifikasi wanita untuk menggunakan hal yang mereka suka atau nyaman, misalnya pakaian. Sekali lagi, menurut saya tidak ada yang salah dengan konsep ini. Wanita boleh memakai apapun yang mereka suka dan sesuai dengan kepribadian mereka. Tapi, ada tapinya. Janganlah sampai kita menuntut hak kita, sekaligus di sisi lain merugikan pihak lain.

Yang sering jadi perdebatan dan bikin blurry bagi saya pribadi, ketika ada gerakan wanita muslim tidak wajib memakai jilbab atas dasar feminisme, tidak ingin teropresi oleh agama. Ini sungguh kutak paham. Kalau memang ga mau pake jilbab, ya udah ga usah pake. Tapi ga usahlah cari-cari dalil tipis bahwa jilbab tidak diwajibkan bla bla. Apalagi sampai membuat seolah-seolah wanita berjilbab sebagai wanita yang dalam paksaan pihak lain. Ingat, ada hak dan ada kewajiban. Jika ingin memenuhi hakmu tidak pakai jilbab, monggo. Tapi janganlah sampai mengganggu orang lain yang melihat jilbab sebagai kewajiban. Duh apalagi kalo yang ngomong orang di luar agama tersebut. Rasanya pengen gue pites kepalanya.

Apakah terpaksa? Yaelah apa-apa juga perlu dipaksa hingga titik tertentu. Kalau emak-bapak saya ga maksa saya untuk sekolah, mungkin saya sudah menjadi anak putus sekolah sejak kelas 4 SD. Maka lihatlah juga demikian mengenai orangtua yang melatih anaknya berjilbab. Mereka mendidik, menanamkan prinsip yang diyakini ketika si anak belum tahu mana yang baik/benar/pantas/salah menurut komunitasnya.

Yakale anak kecil pas brojol langsung tau gimana cara makan yang baik dan benar. Enggak kan, harus diajari dulu. Dan bertahap. Pertama tata cara makan yang baik menurut komunitasnya, mungkin saat itu makan yang baik jika pakai tangan kosong. Beranjak besar, si anak melihat dunia yang lebih luas, ada teknologi bernama sendok, garpu, sumpit, pisau steak. Ntar besaran lagi ikut John Robert Power biar paham etika jamuan bisnis. Terus demikian pengetahuannya berkembang, sesuai pertumbuhan kognitif. Hingga si anak tahu mana yang pantas dia adopsi untuk situasi tertentu.

Sama dengan jilbab, Jika kelak si anak sudah memiliki kemampuan pikir komprehensif dan merasa tidak nyaman memakai jilbab, di sanalah letak gerakan feminisme, si anak bisa memilih untuk melepas jilbabnya/tidak. Tentu anak tersebut akan sudah punya pemahaman (nyaris) menyeluruh mengenai konsekuensi tindakannya. Kenapa saya bilang nyaris, ya iyalah karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Kita ga pernah tahu ada variabel lain yang tidak dipertimbangkan oleh akal pikir kita yang IQnya juga kadang lemah tapi belagak pintar perkasa pemilik dunia. Duh, muggle.

Itu tentang jilbab. Lalu apa lagi ya, yang kadang membuat saya blurry dengan konsep feminisme? Kapan-kapan saya tulis lagi ya, kalau sudah ingat.

Regards,

Dian