0

Kenapa Cowo Harus Bayarin Saat PDKT

Beberapa waktu lalu, teman saya @kopilovie membuat poll tentang siapa yang harus bayar jika jalan-jalan dengan seseorang yang berbeda jenis kelamin. Hasil vote sementara, wanita mayoritas bilang “patungan biar adil”, sementara mayoritas cowo bilang “cowo yang bayarin.”

Well, votingnya mput memang general sih, tidak menjelaskan untuk keperluan apa jalan-jalan tersebut; PDKT-kah, business meeting-kah, atau sekedar jalan-jalan sebagai teman. Kenapa tujuan jalan-jalan turut menentukan siapa yang harus bayar? Iya dong, menurut saya begini alasannya:

 

Hang out dengan teman

Waktu itu saya vote untuk: “cowo lah yang bayarin” karena dalam benak saya, vote itu untuk PDKT. Iya dong, kan katanya kita feminis, penjunjung hak dan kesetaraan wanita (halah). Jika memang feminis, maka gender mustinya tidak ambil peran mengenai siapa yang bayarin. Kalo jalan-jalan dengan teman, bukan prospek PDKT, mau jalan sama teman cewe atau cowo, ya bayar sendiri-sendiri atau patunganlah, jangan dibiasain minta traktir cem orang susah. Kecuali memang dalam acara traktir mentraktir, atau temannya maksa untuk bayarin. Di luar hal tersebut, ketika minta bill, saya biasanya inisiatif bayar sendiri-sendiri. Itu etika dasar.

Mekanisme umum yang biasa terjadi pada saya dan teman-teman jika kami jalan bareng; salah satu bayarin dulu kemudian yang lain transfer ke rekening teman yang bayarin, atau berikan tunai  jika punya nominal yang mendekati dengan pesanannya. Hal demikian lebih elegan, ketimbang saweran duit tunai di atas meja restoran. Duh, hahaha. Saya kalo ke acara kongko-kongko yang orang-orangnya ga terlalu saya kenal dekat, kemudian selesai makan mulai saweran di atas meja, tanpa bermaksud apa-apa biasanya saya akan langsung bilang: “gue bayarin dulu, ntar transfer atau bayar ke gue setelah gue bayarin.”. Bukan apa-apa, ya ribet aja sih harus bayar di meja makan, nyari kembalian buat si A, B, C. Kadang juga waitressnya nungguin di meja agak lama sampe semua duit kita kumpul, malu ah.

Kalau orang yang baik dan benar, biasanya ngerti etika dasar ini. Teman yang baik akan memotretnya billnya trus itung makanan mereka sendiri, dan berusaha kasih duit tunai dengan jumlah paling mendekati untuk ganti duit gue, atau mereka transfer. Orang yang nyebelin adalah orang yang mendadak bego ga bisa ngitung padahal dia bawa smartphone, dan berusaha jadi free rider, bayar paling sedikit ketimbang pesanan dia, atau mendadak amnesia ngakunya mau transfer tapi ga kunjung transfer. Sebagai orang yang hidup diajari untuk punya pride, orang macem ini biasanya gue tagih sekali. Kalo tetap lupa, yaudah asal tahu aja. Kalau cuma urusan kecil teman tersebut ga bisa menempatkan diri, maka jangan pernah kasih urusan besar ke teman tersebut.

Beda halnya kalo dari awal teman tersebut bilang, “traktir gue ya, belom gajian nih.” Maka dengan senang hati saya akan traktir, karena kadang momen untuk bisa ketemuan ga selalu matching dengan momen gajian. Namun perlu diingat, agar hubungan pertemanan tetap sehat dan seimbang, jangan lupa gantian traktir. Jika semua hutang traktir mentraktir selesai, bisa kembali ke pola bayar masing-masing. Eh gue ga tahu sih klo high class society gimana tata caranya, gue nulis ini sebagai bagian dari kelas menengah agak ke bawah dikit, ngehe – yang kita semua tahu masing-masing dari kita punya pertempurannya sendiri, memeras keringat mencari nafkah. Jadi sebagai teman yang baik jangan membebani orang yang kita anggap teman untuk selalu berharap ditraktir olehnya, kecuali kalo dia memang maksa dan bahagia kalo bisa traktir orang.

Bisa jadi gaji teman lebih besar dari kita tapi dia harus menyokong keluarganya atau lagi nabung untuk nikah, kita ga pernah tahu. Jangan pernah jadi benalu. Bahkan secara akademis ada teori social ties yang dicetuskan oleh grannovetter (1973) mengenai The strength of Weak Ties, aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari; bisa bahwa hubungan yang kuat adalah hubungan dimana yang satu dengan yang lainnya sejajar, ketika salah satu udah jadi liabilities atau beban bagi yang lain, misalnya minta traktir mulu tanpa ada timbal balik yang sejajar, maka hubungannya udah bukan strong ties lagi, menurut gue lebih mirip juragan dan jonggos hehehe. Berlaku untuk hubungan dengan kelamin apapun, ingat feminis dan kesetaraan gender, no offens.

 

Business Meeting

Kamu ketemu teman dalam rangka kerjaan? Terlepas temannya cewe atau cowo, yang punya hajat adalah orang yang harus bayarin pengeluaran hari itu. Ketika saya mulai bekerja di Bank, saya dikursusin khusus oleh kantor selama dua minggu di John Robert Power untuk mempelajari etika dasar dalam hubungan bisnis. Mulai dari outfit, table manner, hingga etika siapa membayari siapa. Jika meeting dengan klien, vendor atau nasabah saya selalu membayari mereka. Ada anggaran dari perusahaan untuk itu. Setiap kepala cabang atau kepala unit di kantor saya biasanya punya corporate card untuk kepentingan pihak ketiga. Bukan gratifikasi ya, lebih ke memang demikianlah etika dalam dunia bisnis, saya yang membayari pengeluaran dalam acara business meeting jika saya sebagai pihak yang membutuhkan jasa mereka, tanpa memandang gender.

 

PDKT

Nah ini yang sering bikin galau, siapa yang harus bayarin saat PDKT. Saya mah saklek orangnya: Cowo yang harus bayar saat kalo jalan-jalan saat PDKT. Yaiyalah, kan lagi berusaha memberi impresi baik? Kalo cowonya ga punya duit? ya gampang, ga usah PDKT. Yakale anak orang cuma mau dikasih makan cinta, jadian aja belom. 

Lahir dan dibesarkan dibawah doktrin orang tua: “Kamu sebagai cewe, nikahlah sama cowo yang sayang sama kamu, jangan nikah sama cowo yang kamu sayang tapi dia ga sayang atau dia sayang kamu lebih sedikit, capek nanti.”

Ya bener sih, sebagai orang yang punya beberapa jenis mantan dan saat ini saya sudah menikah, saya melihat cowo punya kecendrungan take for granted, eh ga tau deh itu manusia atau kecenderungan khusus cowo – perlu studi khusus mengenai hal ini. Wanita-wanita yang dulu para pria perjuangkan cintanya dengan sepenuh hati aja, kadang di tengah jalan mereka sering khilaf dan jadilah poligami. Trus gimana dengan yang cewenya ngejer-ngejer coba? Percaya deh, sebagai wanita ga enak hidup kalo ga dianggap ratu di rumah tangga sendiri. Dan wanita biasanya bisa jadi ratu ketika cowonya benar-benar jatuh hati sehingga memperlakukannya sebagai ratu.

Trus apa hubungannya dengan bayar-bayaran ini? Anggaplah bayar-bayaran sebagai ujian, seserius apa cowo tersebut memposisikan cewe gebetannya. Kalau dia serius, percayalah pasti dia akan bayarin. Sampai akhirnya jadian. Pas udah jadianpun, biasanya cowo yang bayarin. Saya kadang bayarin, kadang partisipasi porsi kecil. Tapi mayoritas cowo saya yang bayarin. Bukan karena saya ga mampu, tapi lebih ke pengen lihat bagaimana cowo itu bertanggungjawab ketika dia berani bawa anak orang keluar dari rumah bapak emaknya. Terjamin ga. Lagipula ya, menurut saya, kalau terbiasa bayarin cowo atau patungan saat hubungan masih PDKT atau pacaran yang ga jelas, cowo akan merasa ada di zona nyaman: Bisa punya pacar, ga usah modal, ngapain nikah, entar-entar aja. Cowo jadi lupa bahwa punya kewajiban menikahi anak orang tersebut. 

Tapi kalo dia udah terbiasa bayarin dan bertanggungjawab, dia akan mikir: “Duh PDKT (dan juga pacaran) tuh mahal dan ngabisin duit, secara gue beneran suka sama dia mending gue nikahin.”

Terus terang “pacaran mahal dan susah” itu termasuk salah satu alasan suami  cepet ngelamar saya: Karena dia males nganter saya pulang ke rumah – jauh. Kata dia: “kalo udah nikah kan pulang nonton bisa langsung pulang ga harus nganter ke Bintaro (kostnya di Setiabudi)”. Dia juga merasa duit buat pacaran bisa buat nabung beli rumah. Jadi dia nanya, “mau nikah sama saya ga? tapi kita harus nabung bla bla bla.” Dan demikianlah ceritanya menjadi saya dan suami saat ini.

Oiya, tentang bayar-bayar saat pacaran jadi tagline saya dan suami kalau makan di luar: selesai kongko-kongko, biasanya salah satu dari kami bertanya: “Pacaran atau suami-istri.”

Kalau saya jawab pacaran – biasanya karena saya menganggap ada hal yang harus dirayakan, suami yang bayar. Karena waktu pacaran selalu dia yang bayar. Atau dia otomatis membayar jika dirasa event makan/jalan-jalan tersebut spesial bukan kegiatan rutin pacaran pasca merried (kami punya jadwal pacaran rutin, pergi berdua tanpa bocah).

Kalau saya jawab suami istri, atau biasanya saya yang langsung ke kasir, makan-makan itu atas anggaran rumah tangga, keluar dari dompet saya karena sebagian besar gaji suami sudah diserahkan untuk saya atur. Eh iya, kalo saya prinsipnya: Uang suami adalah uang saya, uang saya ya tetap uang saya hehehe. Dari sanalah saya merasa punya daya tawar dan kesetaraan dalam pernikahan saya.

Kalo ga punya duit, masa ga boleh pacaran karena ga kuat bayarin? Dude kalo kamu ga punya duit, mending energi dan waktumu difokuskan untuk nyari duit ketimbang pacaran. Bangun karir dan kompetensi. Bangun usahamu hingga omsetnya besar. Percaya deh, jadi cowo tuh gampang kalo mapan. Statistik menunjukkan bahwa banyak cowo jelek tapi tajir yang dapet cewe cantik. Yaudah ga usah muluk2 harus tajir dulu deh, tapi cukup tunjukkan bahwa kamu punya prospek memadai, misalnya punya usaha atau pekerjaan yang bisa menghidupi, penghasilan setara UMR misalnya. Udah gitu aja, pilih cewe yang kira-kira semahzab sama kamu trus ajak nikah. Statistik dan sejarah juga sudah banyak menunjukkan cewe-cewe yang ninggalin pacarnya yang udah bertahun-tahun pacaran, karena ada cowo mapan yang ngelamar cewe itu. Semudah itu.

Terus ntar ada yang bilang: “Eh tapi di luar negeri ga harus nikah, mereka bisa hidup bersama. Pengeluaran rumah tangga dibayar masing-masing atau patungan.”

Gue akan jawab: Pertama, kita membahas ini dalam konteks Indonesia, gue ga peduli sama konteks luar negeri. Silahkan bikin tulisan lainnya dan tag gue kalau elo menjalani samen leven di luar negeri sana, gue juga penasaran pengen tahu gimana sih pembagian tugas dan tanggung jawab ketika hidup serumah tapi tidak menikah.

Kedua; Menikah di luar negeri tidak semudah menikah di Indonesia terkait hukum di negara tersebut. Salah satunya, untuk bisa mendaftarkan pernikahan, kamu harus bisa menunjukkan sudah berapa lama pacaran, apakah orangtua atau keluarga besar mengetahui, dst, dll. Itulah sebabnya mengapa banyak orang hidup bersama terlebih dahulu sebelum mereka memutuskan untuk menikah, karena persyaratannya demikian harus hidup bersama dulu.

Dalam konteks UK, untuk mendaftarkan pernikahan bukanlah hal yang mudah. Prosedur hukumnya berbelit, karena UK mengantisipasi human trafficking dan human abuse. Gue kurang paham gimana maksudnya, tapi kekerasan rumah tangga di UK sering terjadi pada pasangan menikah, yang cewe ga bisa cerai karena proses cerai sulit dan mahal. Sehingga banyak wanita tetap menikah dan mengalami kekerasan, bahkan ketika mereka sudah pisah rumah.

Pernikahan di UK dan negara maju lainnya juga sering dijadikan celah untuk memperoleh kewarganegaraan, padahal pasangan tersebut tidak benar-benar menikah. Oleh karenanya UK mengenal istilah cohabitation, domestic partnership atau unmarried spouse yang kadang sering kita salah artikan sebagai hidup bersama tanpa menikah sewenak udele dewe. Enggak juga, cohabitation (living together) dan domestic partnership itu terdaftar, urusannya adalah partner tersebut yang berhak untuk memberi persetujuan atau diberitahu jika ada tindakan terkait nyawa partner, misalnya persetujuan surgery atau alat bantu kehidupan dan pengaruh ke siapa yang bayar city council tax. Jadi hidup bersama di luar negeri pun jelas bahwa si A partner si B, negara tahu. Kalau ada anak dari hubungan tersebut juga pengadilan bisa dengan cepat memutuskan legal guardian si anak. Bukan ujug-ujug hidup bersama sesukaku, besok kalau bosan bisa tinggal pergi. Enggak gitu sih kalau di UK, setau saya Kanada juga demikian. Dan cohabitation serta domestic partnership ini menjadi syarat untuk pernikahan, karena kamu harus udah pacaran atau cohabitation kurang lebih tiga tahun atau jika punya anak dari hubungan tersebut baru bisa mengajukan pernikahan di UK. Kalo baru kenal trus pengen langsung nikah, biasanya orang UK akan menikah di luar UK, secara agama atau adat, lalu kemudian mereka menyertakan foto-foto pernikahan untuk mengurus pendaftaran pernikahannya diakui di UK.

Jadi, jangan cuma nyontoh si anu cuma hidup bersama kok, mereka patungan, baik-baik saja. Enggak, percayalah, cowo baik-baik pasti akan menanggung wanitanya, kalau orang di negara lain (yang baik-baik) belum registered married, biasanya karena hukum negaranya yang sulit, namun sesungguhnya mereka sudah terdaftar oleh negara sebagai couple,  hanya saja namanya bukan pernikahan.

Menurut saya, hidup ditanggung itu lebih menenangkan dan menyenangkan bagi wanita. Karena society itu kejam loh bagi wanita, mereka memaksa wanita untuk punya dua peran bersamaan: Domestik dan publik (Baca bukunyaWalby, 1997; Bezanson & Luxton, 2006; Nicholson 1990). Jadi dengan tugas yang berat dan peran ganda itu, menurut saya sudah sepantasnya kaum pria memastikan dan menanggung wanitanya terpenuhi semua kebutuhan lahir dan batinnya dengan maksimal, agar wanita yang dia sayangi bisa memenuhi tugasnya di ranah domestik dan publik.

Jadi masih mau patungan sama cowo yang lagi PDKT dengan kamu?

 

 


references:

Granovetter, Mark S.  The Strength of Weak Ties,  American Journal of Sociology, 78, no. 6 (May, 1973): 1360-1380.

Luxton, M., Bezanson, Kate, & Luxton, Margaret. (2006). Social reproduction : Feminist political economy challenges neo-liberalism. Montreal: McGill-Queen’s University Press.

Nicholson, L. (1990). Feminism/postmodernism (Thinking gender). New York ; London: Routledge.

Walby, S. (1997). Gender transformations (International library of sociology). London: Routledge

Advertisements
0

Kenapa (saya) memilih sekolah di Inggris?

Pertanyaan ini disampaikan oleh assesor beasiswa saat tes wawancara. Jawaban akademisnya tentu: “Karena supervisor yang memiliki keahlian penelitian di bidang XYZ ada di negara Inggris, universitas DEF, dengan nama Prof HIJ. Saya sudah melakukan korespondensi dengan beliau, dan beliau tertarik dengan riset saya. Ini bukti korespondensinya. Saya juga melakukan riset mengenai kemungkinan penelitian saya dilakukan di perguruan tinggi di negara lain, terutama Asia, namun bla bla bla..”

——-

Ketika suasana sudah cair antara saya dan assesor, maka alasan non akademis juga saya kemukakan:

1. Inggris relatif aman untuk saya yang akan membawa serta keluarga, karena senjata api tidak dilegalkan di Inggris. 

Sebelumnya suami dan saya sempat berencana kuliah di Amerika, proses aplikasi di beberapa universitas Amerika sudah sempat kami lakukan. Namun beberapa alasan membuat kami tidak sreg dengan US, selain karena perkuliahan PhD di US cukup lama (normalnya 6-7 tahun) yang melebihi masa yang ditanggung beasiswa, juga karena kami mendapati bahwa kecelakaan atau kematian akibat senjata api cukup tinggi di US. 

Saya sampaikan pada assesor bahwa jika ingin kuliah saya lancar, maka saya harus memastikan urusan saya di rumah sudah selesai. Salah satunya adalah memastikan anak-anak saya berada di lingkungan yang aman. Sehingga energi saya dapat difokuskan untuk kuliah, bukan untuk mengkhawatirkan keselamatan keluarga. Dengan demikian, Amerika bukan pilihan saya.


2. Sekolah Dasar di UK gratis, berbahasa pengantar Inggris.

Sekolah gratis itu penting buat saya, hehe. Konon sekolah dasar di Australia tidak semuanya gratis. Maka kami tidak memilih Australia, meskipun sempat kami pertimbangkan. 

Jika bicara aman dan gratis, maka negara skandinavia termasuk yang sangat aman juga gratis. Norway dan Finland harusnya juga menjadi incaran kami mahasiswa PhD yang membawa anak. Namun negara eropa daratan dan skandinavia memiliki bahasanya sendiri sebagai bahasa pengantar sekolah dasar. Norks, deutch, france, dan seterusnya. Hal ini tentunya akan menyusahkan saya sebagai orang tua, karena berarti saya harus belajar bahasa lain untuk bisa membantu anak saya mempelajari pelajaran sekolahnya.

Saya sampaikan hal ini ke assesor beasiswa, bahwa dengan memilih negara yang bahasa utamanya adalah bahasa Inggris, maka saya sudah mengurangi waktu dan energi untuk beradaptasi, baik bagi saya dan bagi anak-anak saya. Sehingga saya dapat fokus di proses perkuliahan dengan cepat.

3. Asuransi kesehatan di UK gratis (sekarang berbayar walau masih terhitung murah).

Ketika suami mengambil kuliah Master di tahun 2014, imigran termasuk mahasiswa dan keluarganya otomatis tercover asuransi kesehatan ketika visanya disetujui. Tidak dikenakan biaya apapun untuk fasilitas kesehatan gratis tersebut. Saya dan anak-anak merasa aman, karena jika sakit bisa langsung ke puskesmas dekat rumah. Bahkan saya dapat fasilitas papsmear dan vaksin gratis untuk mencegah kanker serviks.

Hal tersebut turut mempengaruhi keputusan kami untuk meneruskan S3 kembali ke Inggris ketimbang negara lain. Sebelumnya saya melakukan perbandingan skema kesehatan Australia dan Amerika. Australia mewajibkan asuransi kesehatan, namun beberapa penyakit tidak dicover. 

Untuk saya yang memiliki penyakit autoimun tentunya sangat ribet jika mendadak sakit di Australia. Amerika juga sama, karena asuransinya swasta maka banyak penyakit yang tidak ditanggung. Bahkan asuransi di Amerika ada porsi pengobatan yang harus dibayar sendiri oleh pasien. Duh pokoke mahal deh.

Tahun 2015, Inggris mulai menerapkan IHS atau skema asuransi kesehatan untuk imigran. Kami harus membayar jumlah tertentu, bersamaan dengan membayar biaya visa. Besarannya sekitar 3-4juta/tahun. Menurut saya masih terjangkau. Dan plusnya, skema kesehatan ini dikelola oleh negara. Mirip dengan BPJSnya Indonesia, dengan cover penyakit yang hampir semua jenis ditanggung. Obat autoimun saya, sekali suntik itu sekitar 1.2 juta rupiah, harus saya suntik seminggu 3 kali. Jadi sebulan kira-kira biaya obat saya sebesar 15juta rupiah/bulan. Jadi kebayang ya, biaya 3-4 juta yang saya keluarkan untuk membayar IHS selama setahun jadi terasa tidak ada apa-apanya dibanding fasilitas kesehatan yang saya dapatkan saat ini. 

Jadi demikianlah beberapa alasan kenapa saya memilih UK selain alasan akademis ketersediaan dosen pembimbing. Terus terang untuk saya yang membawa anak, banyak pertimbangan yang sifatnya non akademis. Saya sering teringat pesan bapak Jusuf Kalla pada suatu waktu: “Orang yang sukses itu biasanya urusan dirinya dan rumahnya sudah selesai.” 

Sebagai wanita yang kodratnya terbagi dalam ranah domestik dan publik, saya selalu berusaha agar urusan rumah tangga saya tertata baik. Dengan demikian saya berusaha memiliki sistem yang bisa memudahkan ranah domestik saya. Di Indonesia, saya punya sistem pendukung bernama mbak, mamah, emak, yangti, nyai,  om supir, gojek, dll, hehe.  Di negara lain yang tidak mengenal embak, saya serahkan sistem tersebut kepada negara; sekolah gratis, kesehatan gratis, keamanan yang terjaga, dll. Ketika urusan rumah sudah ditangani sistem yang baik, maka saya percaya bisa melakukan banyak hal lain di ranah publik. 

Jadi apa alasan kamu memilih kuliah di negara tertentu?

0

Sandwich Dingin

Beberapa tahun lalu ketika pertama kali tiba di Inggris, saya sering heran dengan restoran lokal yang di spanduk depannya mencantumkan menu: Cold Sandwich. Sudah pasti cold sandwich ini bukan roti yang diisi es dungdung kesukaan saya waktu kecil, ataupun jajanan eskirim roti khas singapura yang kekinian. Yang dimaksud di restoran di Inggris ini benar-benar cold sandwich, roti yang diisi sayuran dingin, dengan keju dingin dan daging dingin dari kulkas.

Cold sandwich juga bisa ditemui di minimarket, diletakkan di rak dingin bersama dengan sayur mayur, daging, dan minuman dingin. Awalnya saya pikir, jika membeli sandwich dari kulkas supermarket, bisa diangetin seperti kalau beli hotdog di gerai Sevel Indonesia. Eh ternyata mini marketnya ga menyediakan microwave, dan teman-teman saya juga memakan sandwich yang mereka beli dalam keadaan dingin. Eh ya Allah, jadi keingetan gimana kalau emak saya melihat hal ini, secara emak biasanya wanti-wanti agar saya menghangatkan makanan dari kulkas agar tidak sakit perut.

Sandwich dingin merupakan hal baru bagi saya yang datang dari negara pengguna magicom terbanyak hehe. Dan ternyata tidak hanya sandwich dingin, beberapa makanan di Inggris memang disajikan dingin seperti baru keluar dari kulkas. Makanan panas (hot food) bukan mandatory bagi warga Inggris. Malah bisa dibilang luxury yang hanya bisa didapat jika makan malam bersama keluarga di rumah. Jadi makanan sehari-hari orang sini ya sandwich, yang ga harus anget. Bisa dimakan saat sarapan, makan siang dan juga makan malam. Sampai-sampai di brosur layanan masyarakat yang saya baca di puskesmas dekat rumah, mencantumkan anjuran: “Eat hot food at least once a day to maintain your health.”  

Lah yaa, brarti kan hot food atau stew beneran barang mewah yah di Inggris.

Di indonesia, walaupun lauk-pauknya dingin, minimal nasinya anget ngepul dari magicom (lauk-pauk dingin = tidak hangat, bukan keluar dari kulkas seperti cold sandwich). Apalagi makanan macam gudeg, kebayang ya itu gudeg kan konon makin enak kalo udah di-nget berkali-kali hahaha. Coba juga rendang, diangetin berkali-kali biar makin ngeresep bumbunya, dimakan pake nasi anget. Duh, pengen.

Waktu awal-awal tiba di Inggris, saya sering mengernyitkan dahi ketika abang-abang Subway bertanya apakah saya ingin sandwich saya cheesed and toasted?  Saya yang semacam pengen jawab ketus: “Yaiyalah, toasted biar anget dan kejunya leleh, menurut ngana?”

Tapi setelah beberapa saat, akhirnya saya bisa memahami budaya sandwich dingin ini. Terutama di musim panas seperti sekarang, makan masakan anget tuh nampaknya aneh sekali. Semenjak summer tiba, entah mengapa saya jadi lebih suka makan siang wrap (roti untuk kebab kalo di Indonesia) atau flat bread, diisi tuna atau pepperoni yang sudah saya dinginkan di kulkas, dilengkapi lettuce dingin dan timun, minumnya es kopi. Rasanya cocok, ga berlebihan, selesai makan ga bikin pusing karena kegerahan hehehe.Atau pasta yang saya beri udang dingin, herbs, garlic dan olive oil sebagai topping. Ga ada anget2nya acan.

Padahal waktu di Indonesia, saya suka banget makan siang bakso dan soto, minumnya teh anget. Slesai makan, gobyoss kemeringet, bibir jebleh karena kepedasan. Makanya saya jadi sering bertanya-tanya, kenapa ya kalau di Indonesia kita bisa banget makan masakan hangat di siang hari bolong, sementara di Inggris terasa janggal? Bukan hanya karena rasa masakannya yang ga cocok dimakan saat summer, tapi juga karena badan rasanya menolak. Apakah karena udara di sini terlampau kering ya? Sementara di Indonesia udaranya panas tetapi lembab, sehingga kalo makan yang panas-panas di Indonesia, tubuh tetap bisa menyesuaikan dengan cara berkeringat, sementara di UK susah untuk keringatan?

Bisa juga karena di sini tenaga kerja mahal ya? Ga ada asisten rumah tangga, makanan jajan juga mahal. Membuat orang memilih untuk membuat makanan yang gampang-gampang yang tidak perlu melibatkan kompor terlalu mendalam. Sandwich dan pasta dingin pilihannya hingga akhirnya menjadi budaya: makanan sebisa mungkin mudah membuatnya dan tidak harus panas.

 

Mbuhlah. Jadi, makan siang apa kamu hari ini?

0

Feminisme

Saya banyak mendengar dan membaca hal-hal terkait diskursus feminisme. Dalam sekejap, feminisme selalu menimbulkan stereotipe negatif setiap saya mendengar atau membacanya. Padahal jika dibaca definisinya feminisme justru berniat membantu wanita agar dapat terpenuhi hak-haknya berdasarkan kesetaraan gender. 

Lalu salahnya dimana ya, kenapa saya takut terhadap konsep feminisme? Dan kenapa juga konsep ini terasa jauh tak terjangkau, tidak ada aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari? 

Salahnya ada di saya, sepertinya. Saya yang salah membaca. Yang saya baca, kebanyakan konsep feminisme yang sudah dituangkan dalam gerakan politik, kadang tercampur baur dengan agama.  Kalau merujuk wikipedia, “Feminisme adalah sebuah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, ekonomi, budaya, ruang pribadi dan ruang publik.”

Jadi ketika saya berkata saya ingin sekolah, sama seperti teman-teman saya yang cowo sekolah; maka saya adalah feminis. Ketika ayah saya membantu ibu saya memasak di dapur, agar ibu punya waktu luang untuk les komputer; maka ayah saya adalah feminis. Ketika suami saya memberi uang saku kepada anak perempuan saya dengan jumlah yang sama dengan anak lelaki saya, maka suami saya adalah feminis. Karena mereka semua, memperjuangkan kesetaraan.

Dirunut dari diskursus ini, maka menjadi feminis tidak harus selalu perempuan. Kaum lelaki juga bisa menjadi feminis. Bukan dalam artian lantas menjadi justifikasi kaum lelaki untuk ngondek, melainkan bahwa kaum lelaki juga bisa loh membuat wanita mencapai hak-hak mereka.

Lalu blurrynya dimana ya? Blurrynya menurut saya, ketika para feminis menuntut haknya tanpa memperhatikan kewajibannya dan juga melanggar hak orang lain. Dalam kehidupan nyata, sangat mungkin ketika hak kita terpenuhi, membuat hak orang lain tidak terpenuhi. Misalnya seperti saya, ketika saya mengejar hak saya untuk sekolah lagi, terus terang saya mengurangi hak anak saya untuk mendapat waktu bersama saya. Sebelum perkuliahan saya dimulai, saya punya waktu untuk menemani mereka bermain dan belajar sejak mereka pulang sekolah sampai tidur malam. Namun ketika perkuliahan saya sudah dimulai, wogh boro-boro ngajarin mereka belajar, baca buku penghubung mereka saja kadang saya lupa. Sampai gurunya memberi note: “Rayhan, please ask an adult to sign your book.” Duh. ~~~ sampe sini dulu, belom pengen cerita bagaimana cara saya memitigasi keadaan ini agar semua pihak tetap terpenuhi haknya. Itu akan jadi kajian tersendiri kolom PhD Mama 😜.

Hal yang sama dengan konsep my life my body. Yang kadang seterbaca/dengar/lihat-nya saya, sering dipakai sebagai justifikasi wanita untuk menggunakan hal yang mereka suka atau nyaman, misalnya pakaian. Sekali lagi, menurut saya tidak ada yang salah dengan konsep ini. Wanita boleh memakai apapun yang mereka suka dan sesuai dengan kepribadian mereka. Tapi, ada tapinya. Janganlah sampai kita menuntut hak kita, sekaligus di sisi lain merugikan pihak lain.

Yang sering jadi perdebatan dan bikin blurry bagi saya pribadi, ketika ada gerakan wanita muslim tidak wajib memakai jilbab atas dasar feminisme, tidak ingin teropresi oleh agama. Ini sungguh kutak paham. Kalau memang ga mau pake jilbab, ya udah ga usah pake. Tapi ga usahlah cari-cari dalil tipis bahwa jilbab tidak diwajibkan bla bla. Apalagi sampai membuat seolah-seolah wanita berjilbab sebagai wanita yang dalam paksaan pihak lain. Ingat, ada hak dan ada kewajiban. Jika ingin memenuhi hakmu tidak pakai jilbab, monggo. Tapi janganlah sampai mengganggu orang lain yang melihat jilbab sebagai kewajiban. Duh apalagi kalo yang ngomong orang di luar agama tersebut. Rasanya pengen gue pites kepalanya.

Apakah terpaksa? Yaelah apa-apa juga perlu dipaksa hingga titik tertentu. Kalau emak-bapak saya ga maksa saya untuk sekolah, mungkin saya sudah menjadi anak putus sekolah sejak kelas 4 SD. Maka lihatlah juga demikian mengenai orangtua yang melatih anaknya berjilbab. Mereka mendidik, menanamkan prinsip yang diyakini ketika si anak belum tahu mana yang baik/benar/pantas/salah menurut komunitasnya.

Yakale anak kecil pas brojol langsung tau gimana cara makan yang baik dan benar. Enggak kan, harus diajari dulu. Dan bertahap. Pertama tata cara makan yang baik menurut komunitasnya, mungkin saat itu makan yang baik jika pakai tangan kosong. Beranjak besar, si anak melihat dunia yang lebih luas, ada teknologi bernama sendok, garpu, sumpit, pisau steak. Ntar besaran lagi ikut John Robert Power biar paham etika jamuan bisnis. Terus demikian pengetahuannya berkembang, sesuai pertumbuhan kognitif. Hingga si anak tahu mana yang pantas dia adopsi untuk situasi tertentu.

Sama dengan jilbab, Jika kelak si anak sudah memiliki kemampuan pikir komprehensif dan merasa tidak nyaman memakai jilbab, di sanalah letak gerakan feminisme, si anak bisa memilih untuk melepas jilbabnya/tidak. Tentu anak tersebut akan sudah punya pemahaman (nyaris) menyeluruh mengenai konsekuensi tindakannya. Kenapa saya bilang nyaris, ya iyalah karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Kita ga pernah tahu ada variabel lain yang tidak dipertimbangkan oleh akal pikir kita yang IQnya juga kadang lemah tapi belagak pintar perkasa pemilik dunia. Duh, muggle.

Itu tentang jilbab. Lalu apa lagi ya, yang kadang membuat saya blurry dengan konsep feminisme? Kapan-kapan saya tulis lagi ya, kalau sudah ingat.

Regards,

Dian

0

Hidup

Dua hari lalu saya merayakan Idul fitri. Hari raya yang membuat saya banyak tercenung namun juga tumbuh harapan. Tercenung karena biasanya menjelang hari raya, kedekatan dengan keluarga terasa semakin erat. Banyak kabar tentang keluarga yang terkadang membuat kaget: Sepupu saya A meninggal, Keponakan saya B sudah masuk universitas, Uwak saya menikah lagi di usia 60 tahun, dll, dst. Sungguh saya tercenung, betapa manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi padanya satu detik ke depan. Semua bisa terjadi. Siapa yang menyangka sepupu saya akan sakit, salah diagnosa, salah obat, yang kemudian membuatnya meninggalkan dunia ini tiga hari kemudian. Pilu. Atau uwak saya yang digadang-gadang sebagai perawan tua ternyata menemukan jodohnya pada usia 60 tahun. Hanya Allah yang tahu.

Selain kebingungan, harapan juga timbul. Jika yang sehat tiba-tiba sakit, maka sangat mungkin Allah memberi yang sakit tiba-tiba sehat. Semoga saya segera diberi kesehatan kembali. Aamiiin.
Idul fitri kali ini, saya menangis sesegukan di tempat sholat. Entah mengapa. Mungkin karena terlalu bahagia bisa sholat di lapangan dengan suara takbir yang keras (ingat, konteksnya UK dimana muslim adalah minoritas). Mungkin juga karena teringat ayah dan emak. Bisa jadi juga karena capek aja sih, dan PMS, hehe. 

Entahlah, Idul fitri ini rasanya campur aduk. Ingin rasanya duduk diam sejenak, jauh dari hiruk pikuk. Bertanya dalam diri, apa yang sudah terjadi setahun ini. Adakah diri menjadi lebih baik? Adakah diri memenuhi kodrat sebagai rahmat bagi semesta? 
Wallahualam.

Sheffield, 27 Juni 2017.

​​

0

IELTS atau TOEFL?

Beberapa rekan yang hendak meneruskan studinya ke jenjang pascasarjana bertanya; Aku enaknya tes IELTS atau TOEFL ya?

 

Saya biasanya menjawab:

Rencananya mau nerusin kemana? Beasiswanya apa?

 

Tes kemampuan bahasa asing biasanya menjadi syarat untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pascasarjana. Tes kemampuan bahasa asing ini bisa menjadi syarat dari universitas tujuan, dan juga bisa menjadi syarat beasiswa – jika melanjutkan studi pascasarjananya berencana disponsori beasiswa bukan dari orangtua.

Jika memiliki keuangan dan waktu yang berlimpah, tidak akan jadi masalah untuk mencoba semua tes kemampuan bahasa asing yang ada. Namun lebih seringnya sih, kita punya keterbatasan keuangan dan atau waktu. Jadi sebagai langkah pertama, mari pelan-pelan direnungkan hendak melanjutkan sekolah kemana.

 

1. Universitas dalam negeri 

Universitas dalam negeri  biasanya mensyaratkan nilai tes TOEFL ITP (Institutional Testing Program) untuk mendaftar di program pascasarjana. Pelaksanaan tes TOEFL ITP ada di berbagai lembaga pendidikan, semisal universitas  dan tempat les bahasa Inggris seperti EF dan LIA. TOEFL ITP biasanya berlaku lokal, umumnya di Indonesia saja. Jarang bisa digunakan untuk mendaftar di universitas luar negeri. Biaya tes sekitar Rp 350.000,-

Namun ada juga universitas dalam negeri yang menguji sendiri calon mahasiswanya, tidak menggunakan TOEFL ITP. Misalnya UGM yang menggunakan tes AcEPT untuk menilai kemampuan bahasa inggris calon mahasiswa.

Untuk itu cermati baik-baik persyaratan universitas mengenai nilai kemampuan bahasa. Kan sayang tuh kalau sudah bayar dan meluangkan waktu untuk tes TOEFL ITP, ternyata tidak terpakai karena universitasnya punya alat uji sendiri.

 

2. Universitas luar negeri

Tes bahasa untuk syarat kuliah di luar negeri akan sangat beragam, tergantung universitasnya apa dan di negara mana. Sebagai contoh, universitas di Amerika biasanya akan meminta hasil tes TOEFL iBT (Internet Based Test), sementara universitas di Inggris akan meminta hasil tes IELTS. Negara lain semisal Prancis atau Jepang, mungkin tidak akan meminta hasil tes bahasa Inggris melainkan hasil tes bahasa Prancis atau Jepang.

Maka setelah menentukan hendak bersekolah di negara mana, dan mengintip syarat bahasa yang harus dipenuhi di universitas tujuan, langkah kedua menentukan tes bahasa asing yang hendak diambil adalah:

Mengintip syarat visa negara tersebut

Ya, karena bisa jadi untuk mengajukan visa di negara tujuan studi ada syarat bahasa yang harus dipenuhi.

Misalnya, tahun 2014 ketika saya mengajukan visa ke Inggris belum ada syarat kemampuan tes bahasa. Namun kampus tujuan saya mensyaratkan nilai IELTS. Maka pada tahun 2014  saya melakukan tes IELTS di IALF. Pada tahun 2016 saya kembali lagi ke Inggris dan mengajukan visa lagi, ada peraturan baru mengenai syarat kemampuan bahasa: Jika kemampuan bahasa belum diasses (dinilai) oleh universitas, maka aplikan visa UK harus menunjukkan hasil tes IELTS yang diselenggarakan oleh IDP atau British Council. Lalu saya cek ke web kampus tujuan, tidak ada perintah spesifik mengenai penyelenggara tes IELTS yang harus dipilih.

Penyelenggara resmi tes IELTS di Indonesia ada tiga, yaitu British Council, IDP dan IALF. Dulu saya pilih tes di IALF karena gedungnya lebih bagus ketimbang gedung IDP, hehe (cetek sih). Namun dengan keluarnya peraturan baru dari kedutaan Inggris mengenai visa, akhirnya saya memutuskan untuk tes lagi di IDP, walaupun hasil tes saya dari IALF masih berlaku (hasil tes IELTS berlaku untuk dua tahun) dan pihak universitas tidak mensyaratkan penyelenggara tes tertentu. Saya waktu itu hanya berjaga-jaga. Karena peraturan mengenai visa cepat dan sering sekali berubah. Makanya saya main aman saja, ikut aturan terbaru dan yang lebih tinggi (peraturan kedutaan menurut saya lebih tinggi ketimbang peraturan universitas).

Lalu hasil tes IELTS keluaran IALF ga bisa dipakai dong? Bisa, untuk apply sekolah di UK dan utamanya Australia (karena IALF adalah lembaga Indonesia – Australia). Tapi jika nanti diterima di universitas di UK, maka harus tes IELTS lagi dong untuk visa, yang versi IDP atau British council. Males ya, dan biayanya juga cukup besar $205 untuk satu kali tes IELTS. Maka dari itu, kukuhkan hati hendak mendaftar di negara mana, universitas mana, dan pastikan sejalan dengan persyaratan visa negara tersebut.

 

3. Syarat Institusi Pemberi Beasiswa

Syarat beasiswa juga termasuk faktor yang menjadi pertimbangan dalam memilih tes bahasa. Syarat beasiswa DIKTI (Sekarang menjadi BUDI) tentu berbeda dengan syarat beasiswa Australia award, Fulbright, Chevening dan beragam beasiswa lainnya. Maka dari itu, pertimbangkan untuk mengambil tes bahasa yang diterima oleh semua beasiswa (Eh ada ga ya, hehe). Atau setidaknya yang paling sering disyaratkan oleh beasiswa.

Kalau beasiswanya mensyaratkan TOEFL iBT, ya udah sih jangan ngotot tes TOEFL ITP. Sayang waktu dan uangnya. Kecuali kalau niatnya untuk pemanasan sebelum tes TOEFL iBT.

 

4. TIPS yang lebih penting: 

Jangan pernah tergoda untuk curang, mau ditawari oknum untuk mendapat hasil tes yang lebih tinggi dari kemampuan diri sebenarnya. Jangan ya. Percayalah, setiap lembaga pendidikan dan beasiswa biasanya punya akses langsung ke database penyelenggara tes bahasa. Jadi dengan sekedip mata, meskipun blanko nilai tes IELTS atau TOEFLnya asli bisa segera ketahuan jika nilainya palsu atau markup.

 

————-

Demikianlah sedikit berbagi mengenai tes bahasa untuk studi pascasarjana. Semoga berhasil yaa.

 

Hwaiting!

 

-Dian

3

Hak privat VS Komunitas

Dear Widi,

Kemarin pukul 1 dini hari GMT, seperti biasa aku terbangun. Ritualnya seperti biasa: pipis, main candycrush soda, lalu buka twiter untuk dapat highlight mengenai apa yang terjadi di tanah air. Halah, lewat twitter 😀

 

Ada convo yang menarik perhatianku, karena ada Rido di sana. Iya, karena Rido itu satu-satunya cowo gahar di timelineku yang bisa bahas korea sembari maskeran, sekaligus juga membahas gimana caranya membesarkan sesuatu pakai batere. Hehehe. Saat itu aku belum perhatian pada siapa partner convonya. Aku cuma tertarik pada kata-kata “belum masalah bahwa pakaian itu ranah privat.” Kenapa lagi nih Rido, apa ada napinya yang kena sexual harrasment. Kemudian aku tarik ke atas convonya, ternyata membahas foto mengenai pria yang mempermasalahkan celana robek2 seorang pelajar wanita. Pelajar itu menggunakan jilbab.

 

Aku tidak tertarik dengan isu public shamingnya, juga awalnya ga tahu siapa pria tersebut, tapi saat itu aku berasumsi pasti dia pria penting karena fotonya jadi viral. Aku hanya concern ke  “pakaian ranah privat” dan kulihat pelajar tersebut menggunakan jilbab, Rido juga adalah islam, maka aku berani berkomentar. Merasa bahwa ini adalah percakapan hari-hari yang biasa banget bagi aku (dan mungkin muslim lainnya) ngeliat anak kecil bandel pake jilbab ga rapih, ga sesuai yang diajarin. Fenomenanya mirip kaya anak kecil pake rok sekolah kependekan, atau yang cowo pake celana sekolah bolong-bolong, pasti emaknya dan gurunya akan nyap-nyap ngomel. Sesimpel itu awalnya.

 

Aku khilaf, mixed-up mengasumsikan Widi, partner convo Rido adalah muslim, sama seperti Rido. Aku tahu Widi, sebagai dokter karena dulu pernah korespondensi  mengenai tulisan yang berhubungan dengan penyakit teman. Namun aku tidak banyak tahu mengenai hal-hal pribadi Widi seperti agama. Hal ini akan jadi krusial, karena ketika aku berasumsi lawan bicaraku muslim, maka yang aku tweet kuasumsikan akan satu frekuensi, tidak perlu penjelasan panjang karena aku berasumsi basic knowledgenya (mengenai kajian jilbab) sudah sama.

 

Aku juga semaksimal mungkin berusaha ga diskusi tentang agama dengan rekan yang berbeda agama. Kecuali kalau rekan tersebut memang menunjukkan ketertarikannya pada agamaku. Karena ilmuku ga cukup. Takutnya malah cuma debat kusir, sementara agamaku meminta untuk meninggalkan debat.
Tapi aku tulis postingan ini deh, untuk mengklarifikasi.

 

Kemarin aku mereply bahwa pakaian pelajar tersebut kurang tepat. Kalau pakai jilbab pakailah sesuai tuntunannya. Hal ini aku tuliskan dengan asumsi yang aku sebutkan di atas, bahwa kedua orang yang aku mensyen tersebut adalah muslim. Sehingga tidak perlu penjelasan mengapa pakaian tersebut kurang tepat, karena muslim biasanya sudah tahu mengenai batas aurat bagi wanita maupun pria. Kembali lagi ke fenomena awal, sama seperti guru yang gerah kalo anak muridnya pake seragam ga rapih. Atas baju pramuka, bawah seragam abu-abu. Ga mecing. Bisa memicu sanksi push-up dari gurunya.

 

Aku juga menulis tweet ke dua bahwa kalau pelajar tersebut tidak memakai jilbab, maka pakaiannya bisa masuk dalam ranah privat. Namun ketika dia menggunakan jilbab, maka ada tuntunan yang harus dipenuhi. Sama seperti pakai seragam sekolah, pasti ada tatacaranya dong, suka atau enggak suka. Kalo pas ga di sekolah, ga pake seragam sekolah sih, suka-suka aja. Mau pake celana bolong, baju ketek, dan lain-lain. Bisa jadi memicu komplain tapi tidak lagi dari guru melainkan dari orang rumah atau pacar. Sesimpel itu.

 

Tweet ke dua masih dengan asumsi bahwa yang aku mensyen adalah sesama muslim, yang sudah tahu bahwa ada tuntunan tersendiri mengenai cara menutup aurat untuk wanita, bahwa paha termasuk yang harus ditutup bagi wanita. Hal yang tidak perlu diperdebatkan. Sama seperti kenapa anak sma harus pake putih abu-abu, anak smp putih biru. Ya udah emang begitu, common knowledge, suka ya pake, ga suka ya cari sekolah yang ga pake seragam atau warna seragamnya beda.

 

Sekali lagi aku ingin menekankan bahwa dua tweet tersebut bukanlah merujuk pada kajian spesifik mengenai islam dan jilbab. Ilmuku ga cukup untuk bicara ke sana, aku cuma tahu common knowledgenya, hukum-hukum dasarnya.

 

Yang aku ingin highlight, sekali lagi adalah: bahwa jika ada simbol-simbol komunitas tertentu dalam pakaian , maka seseorang kehilangan hak privat atas pakaiannya. Dia harus menanggung kewajiban-kewajiban komunitas yang melekat pada pakaian tersebut. Misalnya tata cara berpakaian yang baik dan benar versi komunitas tersebut. Toh tweet awal Rido dan Widi yang aku scroll ke atas juga ga bicara tentang agama, melainkan bicara tentang public shaming dan hak privat berpakaian.

 

Salahnya adalah asumsi-asumsi bahwa lawan bicaraku memiliki keyakinan agama yang sama denganku. Di sinilah chaos dimulai, hehe.

 

Aku mulai sadar kalau ada yang yang ga pas, ketika Widi menjawab bahwa agama adalah ranah privat. Aku langsung klik, mungkin ada yang missed. Aku kan ga bahas itu. Karena biasanya jawaban sesama rekan muslim tidak akan begitu, biasanya diskusi akan berkembang ke arah misalkan pola asuh, pola budaya, dll, penyebab kenapa pelajar tersebut berpakaian seperti itu. Biasanya kami akan lebih membahas faktor2 di sekeliling situasi pakaian pelajar tersebut.

 

Sekali lagi, saat itulah aku baru klik – bahwa Widi sepertinya bukan muslim. Dan karena niat awalku ngetwit adalah untuk bilang bahwa pakaian itu bukan ranah privat kalau mengandung unsur-unsur atau simbol komunitas tertentu, maka aku mencoba memperbaikinya. Aku membuat tweet yang agak panjang, yang menjauhkan bahasan dari sisi agama. Toh sejak awal bukan sisi agama yang hendak aku bahas, kebetulan aja mbaknya pakai jilbab.

 

Balasanku seperti ini:

 

Aku mengubah kata agama menjadi komunitas. Aku melihat premisku mengenai hak privat vs komunitas, relevan untuk komunitas apapun secara umum, tidak harus agama. Statement awalku dan statement akhirku konsisten tentang ranah privat dan komunitas, bukan spesifik agama. Sekali lagi, kebetulan saja yang difoto itu mbaknya pake jilbab.

 

Kalo mbaknya misalnya pake seragam Bank Mandiri (cuma contoh ya, karena aku tahunya code of conduct seragam Mandiri, sama seperti aku tahunya hukum menutup aurat, biasanya aku berkomentar untuk hal-hal yang aku tahu) maka tweet aku yang awal-awal akan berbunyi:


Kalau pakai seragam Mandiri, pakailah sesuai tuntunannya. 


Kalau dia ga pake seragam/atribut Bank Mandiri, pakaian adalah ranah privat. Kalau sudah ada tuntunannya maka sesuaikan. 


Untuk menjauhkan bahasan ini dari ranah agama, aku juga membuat contoh pakaian jas dokter, karena dokter ketika pakai jas dokter akan sangat mudah dikenali di ruang publik. Ketika seseorang pakai jas putih, pasti persepsi dokter akan langsung muncul. Dan aku pakai  contoh jas dokter juga karena menurutku ini contoh yang paling dekat dengan profesi Widi. Aku juga sengaja mengambil titik paling ekstrem dengan mengatakan akan jadi masalah jika hanya memakai beha dan celana dalam dan jas dokter yang ada logo IDI atau RS (maksudnya untuk menunjukkan bahwa selain jas putihnya adalah simbol komunitas yang kuat sebagai dokter, juga ada logo komunitas lain yaitu RS tempat bekerja).

 

Jika membaca contoh tersebut, harusnya sudah cukup menggambarkan ya. Bahwa dari sisi etis, jika situasi ekstrim tersebut benar terjadi dan ketahuan oleh RS atau sesama rekan dokter, akan timbul guncangan-guncangan. Karena aku yakin banget penggunaan jas dokter juga tidak boleh sembarangan. Ada code of conductnya. Jika tidak melekat pada profesi dokternya, mungkin code of conduct melekat pada institusi yang menaunginya, rumah sakit misalnya.

 

Contoh lain: Dulu kantorku di Bank Mandiri, pegawainya harus pakai seragam. Pakai seragamnya juga ga sembarangan, ada tata caranya. Misalnya hari apa pakai seragam warna apa. Berapa centi tinggi rok dari lutut, dst, dll. Melengkapi ketentuan seragam tersebut juga ada ketentuan mengenai aksesoris, seperti berapa titik bisa ada aksesoris. Juga sepatu harus berapa cm. Itu diatur. Termasuk perilaku yang melekat ketika pegawainya menggunakan seragam tersebut. Waktu awal-awal aku bekerja sempat ada ketentuan bahwa seragam kantor tidak boleh dipakai di transportasi publik, juga makan di emperan jalan (sekarang ketentuannya sudah tidak berlaku). Demikian tempatku dulu bekerja menjaga citranya dengan cara menjaga penggunaan simbol-simbol perusahaan seperti seragam.

 

Juga pernah ada pegawai yang diskors karena fotonya sedang menggunakan seragam bank Mandiri masuk koran lokal sebagai yang ikut tertangkap di penggerebekan narkoba. Pegawai tersebut tidak menggunakan narkoba, dia lepas dari sanksi hukum. Namun dia terkena sanksi dari komunitasnya -tempat dia bekerja. Apes. Bahwa pegawai tersebut masuk koran untuk berita kurang baik, ketika menggunakan pakaian yang mengandung simbol komunitasnya – seragam kantor, itu dianggap sudah menyalahi aturan  code of ethic kantor kami. Disgrace to our corporate image.

 

Demikian maksud aku, sekali lagi untuk menekankan bahwa pakaian bukan lagi ranah privat ketika dia mengandung logo komunitas, apapun komunitasnya. Cara mengunakan pakaiannya, cara bersikapnya ketika menggunakan pakaian tersebut, akan lekat pada hukum formal/non formal yang berlaku di komunitas. Aku ga melihat hal ini sebagai hal yang spesifik agama.
Tapi kemudian bahasannya Widi masih tetap tentang agama, hehe.

 

Widi membahas tentang perdebatan jilbab itu wajib atau tidak, Widi juga membahas seseorang itu memakai jilbab karena paksaan atau tidak, Juga mengenai apakah agama akan guncang karena ada umatnya yang ga taat.

 

Ga Wid, aku ga suka bahas itu. Ilmuku ga cukup. Suatu hari, aku pernah ikut pengajian wanita di Leeds. Aku bertanya tentang suatu hal, yang aku tahu ustadzahku punya kapasitas untuk menjawab karena dia PhD lulusan ilmu alQuran, juga dosen di University of Leeds. Namun karena topiknya sensitif maka dia berkata: akan aku diskusikan dulu dengan Ustad Raam (Imam mesjid Leeds Grand Mosque). Demikian humblenya beliau. Maka apalah aku untuk bisa menanggapi jawaban kamu. Aku memilih dianm dong. Kalau kamu memang membutuhkan jawaban untuk pertanyaan tersebut, mungkin aku bisa ajak kamu janjian dengan temanku untuk main bareng ke Mesjid Al-Azhar, tiap Rabu malam ada kajian di sana. Kamu bisa bertanya pada ahlinya. Bertanya ya, untuk menemukan jawaban. Bukan sekedar berdebat untuk mengklarifikasi bahwa jawabanmu adalah yang paling benar. Atau bisa juga kamu tanyakan pada pemuka agama lain yang kamu kenal. Banyak jalan untuk belajar, tapi debat melalui sosial media sepertinya bukan sarana belajar yang terlalu baik.

 

Awalnya setelah aku reply dengan jawaban yang agak panjang, aku sempat berharap kita akan diskusi apakah dalam dunia yang Widi biasa bersingungan, ada sanksi yang sama jika pakai pakaian (dalam hal ini jas doker) tidak sesuai code of conduct yang ada? Tapi hal tersebut tidak dibahas. Kan jadi sedih hahaha.

 

Aku berharapnya diskusi kita juga akan membahas: kenapa ada negara yang tetap loose pada warga-warganya yang menggunakan simbol komunitasnya. Misalnya kenapa di Inggris kita bisa pake bendera Inggris sebagai alas piknik atau motif bikini, tapi di Indonesia sepertinya ga boleh deh, bisa dituduh subversif.

 

Maka kita bisa diskusi mengenai fenomena tersebut dari sudut pandang Institutional theory tentang hukum formal dan non formal di suatu masyarakat; kita bisa bahas kerangka penelitiannya Hofstede tentang karakteristik negara individual dan kolektif; kita bisa bahas signalling theory tentang bagaimana seseorang berpakaian dan berprilaku agar bisa diidentifikasi sebagai bagian dari komunitas. Dan beberapa hal menarik lainnya. Kita bisa berdiskusi ke arah itu loh, karena twit awalnya Widi kan tentang public shaming dan pakaian sebagai ranah privat. Ga bahas agama. Karena aku sadar, keyakinan kita beda. Susah untuk ketemu.

 

Tapi karena bahasannya jadi agama, maka aku diam. Tidak meneruskan diskusi.

 

Lalu aku dimensyen lagi, ada tautan artikel yang Widi tulis. Tadinya udah semangat, siapa tahu ada bahasan baru. Ternyata masih sama, tentang intepretasi agama, tentang agama menekan hak privat. Duh. Sudahlah.

 

Masing-masing orang memiliki hal yang hendak diperjuangkan. Mungkin Widi saat ini sedang melakukan advokasi bahwa agama itu ga penting, yang penting percaya Tuhan. Demikian yang aku tangkap. Aku cuma bisa bilang, itu hak Widi. Aku cuma ingin memagari satu hal: Jika ingin membela sesuatu, tidak usahlah menjelekkan yang lain. Aku menghargai pendapat Widi bahwa mungkin agama tidak penting. Namun tidak perlu dijelekkan.

 

Bahwa agama sumber perpecahan dan lain-lain, percayalah ilmu kita masih sedikiiit banget untuk bisa menjustifikasi hal tersebut 🙂

 

Cheers,

Dian