0

Ibadah Haji dan Multiple Sclerosis

WhatsApp Image 2018-09-07 at 10.01.04

Bismillah,

Pada kesempatan ini saya hendak berbagi pengalaman saya sebagai penyandang Multiple sclerosis (MS) ketika menunaikan ibadah haji. Sebelumnya saya mohon maaf jika ada yang kurang tepat dalam tulisan ini, atau mungkin yang saya narasikan tidak serupa dengan pengalaman teman-teman penyandang MS yang lain. Tulisan ini dibuat karena saya merasa kekurangan informasi ketika mempersiapkan diri untuk berhaji. Semoga tulisan ini bisa memberi sedikit gambaran mengenai hal-hal yang dapat dipersiapkan rekan-rekan MS survivor jika hendak berhaji.

Kenapa berhaji?

Terus terang keputusan menunaikan ibadah haji adalah loncatan besar dalam hidup saya. Kami mendaftar haji reguler beberapa tahun yang lalu, jauh sebelum saya terdiagnosa MS. Pada saat itu suami dan saya sepakat bahwa kami termasuk kaum yang mampu untuk menunaikan ibadah haji terkait waktu, biaya dan kekuatan fisik.

Namun manusia berencana, Allah yang menentukan: Saya terdiagnosa MS tiga tahun yang lalu dan hingga saat ini masih terimbas efek dan gejala serangannya. Bladder problem, sakit kepala tak berkesudahan, lemah letih lesu, dan tubuh bagian kiri yang koordinasinya terkadang masih kacau.

Saya sempat mempertanyakan (dalam hati): dengan keadaan fisik begini, apakah saya masih wajib menunaikan ibadah haji?

Jawaban pertanyaan saya langsung tunai dan kontan dikasih Allah. Tiba-tiba di TV ada liputan persiapan ibadah haji, yang disorot kamera adalah calon jemaah haji Indonesia yang sudah sepuh. Fisik saya pastinya terlihat lebih kuat dan mumpuni untuk berhaji ketimbang Eyang uti dan Eyang akung calon jemaah haji yang muncul di TV (terlepas dari gelar MS sebagai invisible illness ya).

Maka ketika suami bertanya, jadi berhaji kah kita? Saya jawab: Jadi Insya Allah.

Berhaji dari Inggris

Jika di Indonesia harus menunggu antrian cukup lama untuk berangkat haji, Allah memberi kemudahan untuk berangkat lebih cepat ketimbang jatah haji reguler kami di Indonesia. Saat ini saya dan suami sedang melanjutkan pendidikan di Inggris. Menggunakan visa pelajar yang masih berlaku hingga tahun 2021, kami berhak mendaftar haji menggunakan kuota haji Inggris. Singkatnya, kami bisa berangkat haji dari Inggris.

Tidak banyak muslim di Inggris (dibanding Indonesia), maka kami tidak perlu antri lama untuk bisa masuk sebagai calon jemaah haji. Kami mendaftar haji di salah satu travel haji Inggris pada bulan Februari 2018, bulan Agustus 2018 kami berangkat sebagai Jemaah haji 1439 Hijriah.

Persiapan Haji

Saya tidak dalam kapasitas memiliki keilmuan untuk bercerita mengenai persiapan haji terkait masalah rukun haji, dll. Persiapan mengenai ilmu haji bisa dicari sendiri ya di ustad, google atau youtube yang dapat dipercaya. Saya banyak belajar dari youtube mengenai ritual atau aktivitas haji dan ikut kajian mengenai haji di mesjid kampus (MWHS). Persiapan haji di postingan ini akan lebih membahas persiapan saya pribadi sebagai penyandang MS.

Vaksin meningitis dan MS

Vaksin Meningitis sebagai syarat visa haji adalah hal pertama yang membuat saya galau apakah harus berangkat haji atau tidak. Sebagai penyandang MS, banyak artikel yang menyarankan agar berhati-hati dalam menerima vaksin karena tidak dapat diprediksi bagaimana imun tubuh akan merespon kandungan vaksin tersebut.

Saya bertanya kanan dan kiri, belum ketemu testimoni penyandang MS yang pernah divaksin meningitis. Saya konsultasi dengan MS Nurse apakah vaksin meningitis berbahaya bagi penyandang MS, nurse ga berani kasih jaminan karena dia juga berlum pernah menemukan pasiennya yang divaksin meningitis.

Pencerahan saya dapatkan dari nurse travel health di klinik dekat rumah. Sebagai pemukim di Inggris, saya disarankan untuk divaksin jika hendak berpergian meninggalkan Inggris. Mungkin tujuannya agar ketika kembali ke Inggris tidak membawa penyakit dari luar Inggris. Sebagai warga mukim yang baik, datanglah saya ke klinik, saya cerita ke Nurse kalo akan ke Saudi Arabia untuk haji. Saya tanyakan perlu divaksin apa?

Nurse kemudian membuka website Travel advise pemerintah Inggris. Di website tersebut ada daftar hal-hal yang harus saya lakukan/ hindari selama berada di Saudi (misalnya tidak boleh minum air keran, dll), juga ada list penyakit yang sedang outbreak di sana, dan ada list vaksin yang harus/disarankan jika saya hendak ke Saudi. Saya disarankan vaksin MMR, Meningitis, Tetanus, Polio, Hepatitis A, Hepatitis B, dan rabies. Banyak ya. Iya.

Saya bertanya: “Suster, dari list vaksin ini, yang ada kandungan porcine (babi) nya yang mana? karena saya hendak berhaji, sebisa mungkin saya maunya yang tidak ada kandungan babi.”

Lalu suster mencek, vaksin polio (klo ga salah) ada kandungan porcine. Lalu suster berkata akan dipesankan yang tidak mengandung porcine, saya bisa kembali besok sore untuk disuntik vaksin tanpa porcine.

Saya kemudian bertanya lagi: “suster, saya penyandang MS, apakah semua vaksin ini aman untuk saya?”

Lalu suster memeriksa list vaksin aktif dan inaktif, subjugation dll di Website tipe vaksin ini, dan dia bilang: “For my understanding, MMR vaccine will be challenging for your immune system. The other vaccines are okay because they are not active vaccine. Did you experience relaps or something similar when you had Flu shot (vaksin flu) last winter?”

“Saya baik-baik saja setelah divaksin flu.”

“Then I assume it will be alright for you to have inactivated, subunit and toxoid vaccine. For the MMR, you can decide if you want to give it a try or not.’

Singkat cerita saya menyimpulkan vaksin meningitis akan aman untuk saya (karena bukan vaksin aktif dan berdasarkan pengalaman karena saya baik-baik saja ketika dulu divaksin flu – yang juga bukan vaksin aktif). Saya menerima lima vaksin pada hari itu dan satu vaksin keesokan harinya. Vaksin MMR tidak saya ambil. Suster mengingatkan saya untuk minum paracetamol karena kemungkinan saya akan merasakan efek vaksin yang mirip gejala flu.

Alhamdulillah saya sehat setelah divaksin, tidak ada efek relaps seperti yang saya khawatirkan. Salah satu syarat untuk visa haji bisa terpenuhi.

Udara Panas dan MS

Hal yang juga membuat saya galau untuk berangkat haji adalah udara panas. Di internet dan surat kabar disampaikan bahwa haji 1439 H akan menjadi haji di  puncak musim panas. Suhu diperkirakan akan mencapai 45-50′ celcius di Madinah dan Mekah. Duh galau ya. Musim panas di UK yang cuma 24′ celcius sudah sukses membuat saya sakit kepala, lemas dan keram-keram seharian, gimana 45’celcius cobaak.

Latihan Jalan Berpanas-panas

Saya bersyukur musim panas di UK tahun ini cukup panas sehingga bisa menjadi ajang latihan menghadapi suhu di Saudi (30’celcius di UK udah panas ya hitungannya). Ketika matahari UK bersinar cerah dan sedang panas-panasnya, saya latihan jalan kaki bersama suami. Lumayan, sempat rutin latihan jalan kaki sehari 3-5 km dari rumah ke pusat kota. Setidaknya bisa melatih kaki kiri saya agar lebih kuat untuk dipakai tawaf atau sai.

Botol semprotan air

Selain latihan fisik, saya juga mempersiapkan peralatan perang: Botol semprotan air yang mirip dipakai mbak2 kapster salon. Selain untuk wudhu di dalam mesjid, botol semprotan air saya pakai selama di Saudi untuk menyemprot wajah dan kepala agar rasa panas/kering berkurang. (Oiya wudhu pake spray krn tempat wudhunya jauh/ diluar mesjid. Ketika jam-jam mesjid penuh, ketika kita keluar untuk wudhu, kadang dilarang oleh Askar untuk masuk lagi ke dalam mesjid karena mesjidnya penuh).

Tempat sholat di luar mesjid dan jalur pejalan kaki di lokasi haji dilengkapi spray dan fan besar untuk mengurangi panas. Askar dan petugas haji juga sering menyemprotkan air ke jemaah haji, tapi tetap rasanya lebih afdol kalo bawa spray sendiri.

spray

fan dan spray air di Mesjid Nabawi

Saya selalu sedia handuk kecil basah untuk diletakkan di atas kepala, walaupun cepat sekali kering handuknya tapi lumayan bisa memberi rasa dingin sesaat. Setiap ketemu pancuran air minum, handuknya saya basahi ulang. Ketika ekstrem panasnya dan spray tidak mempan, solusinya adalah guyur badan/kepala pakai air dari botol minum.

Botol minum sifatnya wajib, harus selalu dibawa. Minum sedikit-sedikit tapi sering untuk mencegah dehidrasi. Kenapa sedikit-sedikit? agar tidak mudah kebelet pipis. Toilet di Mekah dan Madinah letaknya jauh di luar mesjid, toilet di Mina ngantrinya bikin kita mengerti arti sabar sesungguhnya (baca: antrian toilet Mina adalah panjang banget). Manajemen pipis (maaf) merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan selama berhaji. Untuk itu supply asupan cairan jadi penting agar tidak mudah kebelet namun juga tidak dehidrasi.

water

Menyiramkan air di kepala jika panasnya sudah tidak ketulungan

Menghabiskan waktu di Mesjid

Selama berada di Masjidil haram dan Medinah, sebenarnya ada solusi jitu untuk menghindari udara panas: Berlama-lama di mesjid. Demi alasan agar ga kena panas, saya biasanya berangkat ke Mesjid ketika masih gelap (jam 3 atau jam 4 dini hari) dan kembali kala gelap (Isya selesai jam 9 malam). Saya berusaha sholat lima waktu di mesjid, tidak keluar dari mesjid kecuali untuk ke toilet, selain mengejar pahala ya juga karena males pulang ke hotel, panas. Apalagi di dalam mesjid Nabawi itu adeeeem banget. Bobo juga boleh di situ.

Seperti bang Toyib, saya ga pulang-pulang. Bekalnya kurma dan buah tin agar tidak lapar, dan banyak minum air zam-zam yang tersedia berlimpah di dalam mesjid. Kadang saya keluar mesjid sebentar untuk makan siang di restoran Indonesia dekat Mesjid, lalu segera kembali lagi sebelum peak season arus masuk orang-orang ke dalam mesjid.

Makan, minum dan istirahat yang cukup

Saya ga muluk-muluk, cita-citanya adalah sehat terus agar bisa menyelesaikan seluruh rukun haji. Salah satu ikhtiar saya agar tetap bugar adalah minum vitamin setiap hari. Vitaminnya multivitamin yang segala aya, ditambah minyak ikan agar buang air besarnya tidak sembelit (mengingat menu makanan selama berhaji kadang kurang serat). Makan dan minum saya usahakan cukup, bisa dibilang banyak hehehe. Banyak yang tidak suka makanan dari travel karena menunya kari.

Alhamdulillah saya suka kari, jadi happy aja dapet menu kari pagi siang malam. Walau kadang karena jarang pulang ke hotel saya jajan di restoran dekat mesjid jadi libur tidak bertemu kari.

Ibadah haji memberi saya kesempatan untuk wisata kuliner. Dua tahun di UK tidak pernah nemu nasi padang, ketemunya di Saudi hehe. Selama di UK tidak pernah makan burger king dan McDonalds karena ga halal, di Saudi bisa makan BK dan MCD tanpa kuatir ini halal atau enggak. Akibatnya berat badan naik tiga kilo selama berhaji. Hehehe.

Kenapa sih harus makan cukup? Saya mah cuma berdasarkan logika, jika badan lemah krn lapar, kuatirnya imun tubuh responnya over-reaktif yang kemudian memicu relaps. Jadi solusinya saya berusaha agar tidak pernah kelaparan. Nyemil terus, agar imun tubuh tidak sempat memberi sinyal negatif.

Saya sering membaca testimoni orang-orang yang mendapat sedekah cemilan dst ketika berada di dalam mesjid atau selama perjalanan. Dalam tahap ekstrim yang kadang menyatakan: Ga usah bawa persiapan apa-apa ga bakal menderita. Untuk saya, saya tidak ambil risiko berharap pada sedekah meskipun banyak dalil yang menyatakan tamu Allah akan dijaga Allah. Saya selalu membawa cemilan dan botol minum kemanapun saya pergi. Ketua rombongan haji saya juga selalu mengingatkan jemaahnya yang memiliki penyakit diabetes untuk sangu cemilan seperti buah kering atau kurma ketika berangkat ke mesjid. Jika tidak bisa menghabiskan cemilan yang kita bawa, bisa kita berbagi dengan jemaah sebelah kiri dan kanan, lebih baik memberi sedekah di rumah Allah kan ya, daripada menerima sedekah.

Istirahat cukup. Terus terang istirahat cukup adalah utopia. Rasanya sayang kok jauh-jauh berhaji cuma untuk tidur. Namun demikian saya usahakan bisa tidur minimal enam jam sehari, di hotel, di mesjid ataupun di bus. Agar badan tidak cranky. Tubuh bugar, hati tenang, Insya Allah imun tubuhnya ga rese.

Bladder problem

Ini momok bagi saya. Perasaan sering kebelet pipis dan tidak bisa ditahan adalah ketakutan nyata saya sebagai penyandang MS. Seperti yang saya sampaikan, solusinya adalah minum sedikit-sedikit tapi sering walau sedang tidak haus, ketimbang minum sekaligus banyak ketika haus.

Cara kedua adalah pipis secara rutin setiap kali selesai menunaikan sholat wajib karena pada saat itu toiletnya tidak penuh.

Saya juga tidak minum kopi (minimal mengurangi) dan teh karena konon sifatnya yang  diuretik, atau sering membuat pipis.

Solusi lain yang dilakukan teman saya adalah menggunakan pampers dan membawa alat (zat) yang bisa membuat cairan (pipis) menjadi gel. Benda kedua (gel) saya tidak sempat melihat teman saya menggunakannya. Benda pertama (pampers) sepertinya solusi jitu untuk masalah kandung kemih bagi teman-teman MS.

Solusi lain adalah menemui tenaga medis sebelum berangkat haji agar bisa diberikan obat terkait permasalahan berkemih.

Ritual haji dan MS

Lempar Jumrah

Sebenarnya ritual haji paling berat menurut saya bukan tawaf dan sai, melainkan melempar jumrah. Saya harus berjalan kaki cukup jauh dari tenda ke lokasi lempar jumrah. Ditambah lagi kondisi perjalanan menuju Jamarat yang ramai, penuh dan jalurnya ada yang berupa terowongan panjang bawah tanah/dalam gunung, membuat saya paranoid (Saya ga terlalu suka berada di tempat sempit).

Ketika lempar Jumrah, saya banyaak berdoanya agar diberi kemudahan. Alhamdulillah walau perjalanan menuju dan dari Jamarat jadi lama karena sering istirahat dan mampir sana-sini (harusnya cuma 1 jam, jadi dua jam), prosesi lempar jumrah selama 4 hari bisa terselesaikan. Kuncinya jangan ngoyo harus cepat selesai. Ketika lelah berhenti dulu, istirahat dulu, jajan dulu. Ada Warung Al-baik, KFC, Indomie, eskrim jus dan teman-temannya di sepanjang jalur menuju Jamarat.

Mengelola emosi dan mood bisa juga kunci untuk tetap happy agar imun tubuh ga mengirim sinyal negatif. Seringkali saya lelah, jadi pengen cemberut dan grumpy. Solusinya, sedia makanan atau cemilan manis. Sugar rush memang ga baik, tapi makanan/minuman manis bisa memperbaiki mood agar semangat lagi.

Mengelola ekspektasi juga penting. Pembimbing haji dan syeikh kami selalu bilang: ini haji, bukan liburan biasa. Jadi ekspektasi diturunkan seminimal mungkin. Ga usah ngarep penginapan, transportasi, makanan, dll ada dalam level prima. Pokoke adanya apa, disyukuri. Saya merasa kondisi saya masih lebih baik ketimbang jemaah haji dari Saudi dan sekitarnya yang berangkat dengan cara Backpacker, tidur dan beribadah di pinggir jalan bukan di tenda berAC.

Kembali ke Jumrah. Jikapun kondisi fisik tidak memungkinkan untuk melakukan lempar jumrah, bisa diwakilkan. Saya sempat hampir menyerah dan meminta suami mewakilkan. Alhamdulillah tidak jadi diwakilkan. Beberapa orang di rombongan saya ada yang diwakilkan jumrah. Ada yang diwakilkan karena sudah sepuh, tidak kuat berjalan jauh. Ada yang karena membawa anak kecil (di rombongan saya ada 4 haji kecil, yang terkecil umur 8 bulan, ada yang diwakilkan karena hamil. Sebagai penyandang MS, jika kelak berhaji dan fisiknya tidak memungkinkan untuk melakukan lempar jumrah, jangan khawatir bisa diwakilkan.

Tawaf dan Sai

Tawaf dan sai saat ini lokasinya cukup bersahabat, bahkan untuk orang dengan kondisi fisik tidak terlalu prima. Ada lantai dua dan tiga untuk tawaf sai yang tidak terlalu penuh jamaah, dan bisa menggunakan kursi roda atau scooter (kursi dengan mesin).

Armina

Alhamdulillah lagi adalah, saya berangkat dari Inggris sehingga makhtab kami di Mina ada di Zona Eropa. Apakah ada perbedaannya dengan makhtab Indonesia? Kalo boleh jujur: Ada.

Tenda Mina dan Arafah di makhtab Indonesia hanya berlapis karpet. Sementara tenda Makhtab Eropa disediakan sofa bed. Saya sangat terbantu dengan sofa bed. Duduk dan tidur menjadi lebih nyaman. Saran saya untuk teman-teman penyandang MS di makhtab Indonesia, mungkin bisa membeli sofa bed kecil di supermarket Bin Dawood dekat jalan masuk Mina. Tujuannya agar istirahatnya lebih nyaman sehingga kebugaran tubuh tetap terjaga.

WhatsApp Image 2018-09-07 at 12.57.47

Tenda Mina/ Arafah di makhtab Indonesia

WhatsApp Image 2018-09-07 at 12.57.48

Tenda Mina di makhtab Eropa. Selain AC juga ada kipas angin, sehingga suhu dalam tenda Eropa lebih dingin ketimbang tenda Indonesia

Apalagi ya?

Sementara baru ini pengalaman yang saya bisa bagikan.

Obat-obatan, saya sangu dan selalu minum paracetamol sebelum makan. Soale kepala pusingnya ga bisa hilang, jadi harus nyemil paracetamol agar tetap khusu’ ibadah. Saya juga membawa rebif (jangan lupa minta surat pengantar dokter krn ketika transit di Frankfurt sempat menunggu lama untuk release rebif, baru bisa keluar setelah mereka baca surat pengantar). Oiya rebifnya cuma sempat terpakai di Madinah dan Masjidil haram. Ketika mulai bermalam di Mina slm 5 hari, rebif saya tinggal di hotel ga saya suntikkan krn di Mina tidak ada kulkas.

Demikianlah Jika ada hal penting yang bisa saya ingat, Insya Allah akan saya update di sini. Semoga MS tidak menjadi penghalang ibadah, malah menjadi penguat motivasi kita untuk terus beribadah dan bersyukur kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Insya Allah ketika berhaji, kita akan dijaga oleh Allah. Amiin YRA.

*foto-foto ttg Askar, spray dan botol minum dari google, foto lain koleksi pribadi.

Advertisements
0

Rebif: Love and Hate relationship

Hi there,

It’s been 2 years since I’ve diagnosed with Multiple sclerosis (MS). It’s been 1 year and 8 months since I’ve self-injected the Rebif, three times a week.

It’s upside-down relationship. Rebif won’t cure my MS. It can only protect me, like a shield. Rebif can reduce inflammation in my brain, and also reduce the production of T-cells asserted as trigger of the inflamation. That’s the ‘ups. The ‘down is, Rebif has side effect. The worst Rebif’s side effect on me are flu-like symptoms, headache and hair loss. Put together the Rebif’s side effect and the MS symptoms, lalalalalaaa my life is so colourful (you may read it as full of ache and pain, but I’ll go with ‘colourful’ to assure myself).

Everytime after I inject the Rebif, I’ll feel dizzy, sorethroat, fever, joint paint, and insomnia. The day when I inject rebif, I’ll feel uncomfortable due to the pain, make me usually fall asleep very late at 3 am (maybe that’s the time when the side effect decreased so that the pain reduced and I can sleep). The next morning I will wake up like a zombie, sleepy, not fully sober, with black-non-prada eye bag.

There were days when I feel really tired with the injection. The exaggerated worry of the needle go into my body, haunt me. If those worries are unbearable, I’ll skip the injection schedule for that day. Until I find the strength to self-inject again. Sometimes my husband help me to inject the Rebif, but it does not really help. I’m more scared when other people (including my husband) do the injection. I’m afraid it will give me more pain (in fact: it’s not. It gives same sensation on my skin whether I inject my self or helped by other people). Coward me 😪.

Last week, I met with the MS nurse. She informed me my MRI result. Thank God, it is good. There are no active lessions in my brain, and there are no new lessions. I’m so happy and feeling blessed.

Some of my friends, the MS survivor cannot do their daily life normally. On that respect, my condition is more more moreeee better than most of MS survivor I’ve known. Most of my MS survivor friends have issue with their body balance. They may easily tripped. Some of them feel permanent numbness, cannot speak clearly, brain fog, cannot move their body parts, and etc (MS affect various abilities, according which part of myelin attacked). Whereas (should say fortunately) me only feel light numbness & pins and needles. There is also everyday headache and extreme fatigue, sometimes light brain fog, but overall I’m still able to deal with my current symptoms. I’m struggling, but I can still go through my daily life. I can walk normally, read and write easily, and think clearly. That’s great.

Everyday I pray to God that those symptoms will be not proggressive, no more attack (we never know what will happens with MS, it can go back and forth and damage many parts of brain and spine. But it can also ‘sleep’ for long time). I know I should do better with injection. I have to put more effort and faith so that I won’t skip the injection. By doing so, maybe the MRI result will always okay like today. I wish my MS to be in the passive state, sleep or disappear and never come back, not relaps, and all those broken myelins will be cured. I wish.

Maybe the best resolutions for me in 2018 are: be discipline to inject the Rebif, eat clean (no dairy and red meat), sleep enough. I hope I can do it. For the better days ahead. Aamiin.

Best regards,

Dian.

0

Love and Hate relationship with Rebif

Rebifsmart

Adalah Rebif 22, obat suntik yang saat ini saya pakai sebagai tameng untuk menjaga tubuh dari imun saya yang (kadang) bertingkah aneh dan terlalu kuat sehingga melukai diri sendiri, alih-alih menjaga dari kuman dan penyakit.

Cara kerja Rebif 22 konon seperti melapisi myelin (selubung saraf) sehingga jika ada sel imun error yang hendak menyerang myelin, mereka tidak dapat menembus myelin tersebut. Kalau kata Nurse MS, Rebif seperti tameng. Tidak mengobati, tapi melindungi.

Saya pakai Rebif pertama kali di bulan Mei 2016. Berarti sudah hampir satu tahun delapan bulan saya menggunakan Rebif. Ketika awal pindah ke Inggris, dosis Rebif saya pernah dinaikkan menjadi 44mcg, karena dosis tersebut merupakan best practice di UK. Ternyata liver saya ga kuat, dosis tersebut terlalu tinggi. Mungkin karena tubuh saya tidak sebongsor orang-orang Inggris, sehingga dosis normal di Inggris menjadi dosis abnormal untuk saya.

Setelah melewati serangkaian tes, mencoba obat lain, akhirnya saya kembali ke dosis 22. Alhamdulillah sudah tiga bulan ini hasil tes darahnya kembali normal, tidak mengkhawatirkan seperti ketika menggunakan Rebif 44.

Tapi ya, namanya manusia kadang lupa bersyukur. Saya contohnya. Ada hari-hari dimana saya merasa sangat tidak termotivasi untuk menyuntik, membayangkan jarum suntik menusuk kulit kok kadang ngilu. Padahal sih lebay, kalau jarumnya sudah masuk ya ga ada rasa sakit. Kadang jika sedang tidak termotivasi, saya pura-pura lupa menyuntik Rebif. Kadang kelupaan tersebut saya bayar di hari berikutnya (karena rebif disuntikkan seminggu 3x, jadi kadang jika lupa satu hari – masih ada spare di hari ke tujuh untuk bayar hutang). Tapi kadang ya lupa banget blas dengan berbagai alasan, ga sempat diganti di hari selanjutnya. Apalagi efek setelah suntik Rebif juga ga nyaman, rasanya pusing, ngilu sendi, lemas, mirip seperti hari pertama atau kedua jika saya menstruasi, ditambah hidung mampet dan tenggorokan sakit. Kalo kata petunjuk di kotak Rebif, namanya efek flu-like symptom. Mirip-mirip flu. Intinya sih, kalo bisa bolos nyuntik Rebif, saya senang banget.

Tapi malam ini saya mikir (soale habis dapat surat dari MS Nurse – mengenai hasil tes MRI saya yang bagus, ga ada lesi/luka baru); Saya harusnya lebih bersyukur, dengan cara menggunakan obat tersebut sebaik-baiknya. Teman-teman penyintas Multiple Sclerosis di Indonesia mungkin banyak yang tidak bisa mengakses Rebif karena harganya yang mahal dan tidak masuk plafon BPJS. Namun saya, Alhamdulillah bisa mendapatkan obat dan perawatan MS dengan gratis di Inggris.

Yasudah, semoga saya istiqamah pakai Rebif ya. Ga males-males, ga lupa-lupa. Agar ketika saya kembali ke Indonesia, sudah tidak ada lesi yang aktif lagi. MSnya tidur ga aktif lagi. Aamiin.

 

Love,

Dian

 

#MultipleSclerosis

 

 

4

Menuju Diagnosa Multiple Sclerosis

 

Saya masih punya hutang untuk bercerita mengenai pertemuan dengan dokter spesialis di Inggris ya. Tapi mumpung masih ingat, saya hendak bercerita mengenai diagnosa MS dulu ya.

Seperti yang pernah saya posting sebelumnya, Multiple Sclerosis (MS) memiliki banyak gejala yang mirip dengan penyakit lain. Pada beberapa orang, membutuhkan jalan yang berliku dan panjang untuk sampai pada diagnosa MS. Pengalaman saya, membutuhkan waktu tiga bulan dan tiga kali MRI untuk sampai pada diagnosa MS (untung ga tiga kali Ramadhan macem Bang Toyib ya,hehe).

Perjalanan saya menuju diagnosa MS dimulai pada Februari 2016. Awal Februari saya merasa keram, kesemutan dan mati rasa pada badan sebelah kiri. Juga sempoyongan jika berjalan dan rasa sakit pada leher sebelah kiri.

Kunjungan pertama saya ke dokter umum. Karena gejalanya mirip orang asam urat atau kolesterol (sakit leher, keram mati rasa) maka dilakukan tes darah untuk mengkonfirmasi mengenai asam urat dan kolesterol. Semuanya normal. Namun dokter menemukan ada parameter yang mengindikasikan terjadi infeksi pada tubuh (kalo ga salah karena kadar sel darah putih yang tinggi). Kemudian entah bagaimana sampailah pada diagnosa Infeksi saluran kencing. Mungkin karena salah satu gejala MS adalah perlemahan pada kandung kemih, sehingga sulit menahan pipis. Mungkin waktu itu saya bercerita ke dokter kalau sering buang air kecil, sehingga dokter menyimpulkan Infeksi saluran kencing. Lalu sakit di leher, keram, kesemutan dan mati rasa? Dokter menyarankan agar saya tidak tidur miring, agar tidak keram kesemutan sebelah.

Seminggu berlalu, leher saya masih sakit dan gejala lain masih terjadi. Saya kembali ke dokter umum. Kali ini dirujuk ke spesialis syaraf. Oleh spesialis syaraf A, diagnosa sementara adalah syaraf terjepit. Namun harus dilakukan MRI terlebih dahulu untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Namun waktu itu dokter spesialis syaraf A harus keluar negeri, sehingga ketika hasil MRI saya keluar, dia tidak ada di Indonesia. Saran beliau waktu itu adalah bisa menunggu dia kembali tiga minggu lagi, atau ke dokter syaraf yang lain jika rasa sakitnya sangat mengganggu.

Karena saya tak sabar menanti, halah. Saya bawalah hasil MRI saya ke dokter syaraf yang lain. Dokter umum saya menyarankan dokter Pinzon. Ketika dokter Pinzon melihat hasil MRI saya, balasan rujukannya adalah suspek Multiple Sclerosis. Masih suspek karena waktu itu saya hanya MRI Spine (tulang belakang/leher) dan hanya ditemukan satu lesi (luka). Dokter Pinzon bilang, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk mendiagnosa seseorang terkena MS, yaitu:

  1. Setidaknya ada dua lesi (luka) berbeda pada syaraf pusat (Otak, tulang belakang, syaraf penglihatan)
  2. Ada bukti bahwa dua luka tersebut terjadi pada saat yang berbeda. Untuk lebih jelasnya bisa merefer pada kriteria MS oleh McDonald. Bahwa harus ada jeda minimal 30 hari antar serangan.
  3. Tiap serangan pada sistem syaraf berlangsung minimal 24 jam.

 

Karena waktu MRI pertama hanya ada satu lesi, maka dokter Pinzon meminta saya melakukan MRI kedua yaitu MRI Spine dengan lokasi yang lebih spesifik di T2 dan MRI otak. Hasilnya keluar seminggu kemudian, lalu patah hati. Di otak ketemu satu luka lagi. Duh.

Dengan adanya dua luka di tempat berbeda itupun, dokter Pinzon masih belum mau mendiagnosa saya terkena MS. Karena waktu itu belum ada pembanding apakah dua luka tersebut terjadi bersamaan atau terjadi dengan selang waktu 30 hari. Ingat, kriteria MS adalah jika jarak serangan satu dan dua minimal 30 hari. Saran dokter Pinzon adalah merujuk saya ke Siloam Jakarta, karena di sana memiliki teknologi MRI yang lebih canggih.

Bulan Mei, saya mengalami serangan kedua yaitu badan sebelah kanan yang keram. Kebetulan saya sedang berada di Jakarta, maka saya sempatkan MRI di Siloam seperti saran dokter Pinzon. Dan hasilnya, di otak ketemu dua luka dan satu luka baru yang terlihat di spine. Jadi ada empat luka. Duh sedih. Tegaklah diagnosa MS di Indonesia.

 

Lalu saya pindah ke Inggris. Sebelum saya berangkat, saya pamitan dulu ke dokter Pinzon. Lalu dokter menyemangati saya agar jangan kuatir, MS adalah penyakit yang sering terjadi di negara subtropis seperti Inggris. Menurut dokter Pinzon, tenaga medis di Inggris akan lebih cekatan menangani MS. Terimakasih dok sudah menyemangati.

Seperti yang tulis terdahulu, saya ke dokter umum di dekat rumah di Inggris, lalu dirujuk ke dokter spesialis syaraf di Hallamshire Hospital. Waktu tunggu dari dokter umum ke dokter spesialis adalah 11 Oktober ke 23 November. Cukup lama yaa, 6 minggu lebih. Saya jadi ingat, waktu di Indonesia pernah sambat karena harus menunggu satu minggu lebih untuk bisa dapat antrian dokter Pinzon (dokter Pinzon sangat terkenal di Jogja, jadi pasiennya banyaaak dan antri. Padahal dalam satu hari dokter Pinzon bisa menerima 60 pasien).

Nah saya belum mau banyak cerita tentang dokter spesialis yaa, postingan berikutnya Insya Allah. Saya cuma hendak bercerita bahwa di Inggris (Kota Sheffield, tepatnya) diagnosa MS oleh dokter Indonesia tidak ditelan mentah-mentah oleh dokter spesialis di Sheffield. Hasil MRI saya masih harus dibicarakan dengan ahli radiologi. Belum tentu MS. Waw saya senang sekali. Masih bisa bukan MS hehehe.

Beberapa hari lalu, saya dapat surat hasil kunjungan seperti ini:

image1

 

Intinya adalah, hasil MRI saya sudah didiskusikan pada pertemuan dengan radiology. Awalnya dokter Price (spesialis syaraf  saya) mempertimbangkan autoimun lain yaitu NMO (Neuromyelitis optica) mengingat letak luka saya yang di leher mirip seperti luka pada penderita NMO. NMO ini spesifik menyerang penglihatan. Namun setelah dirapatkan, ternyata luka tersebut tidak cukup panjang untuk terdiagnosa sebagai NMO. Sehingga tetaplah MS. Yaaaaa 😦

Jadi demikianlah, diagnosa MS saya sudah terkonfirmasi dua kali. Di Indonesia dan di Inggris. Jalan yang cukup panjang. Jalan yang mahal, mungkin bagi teman-teman di Indonesia yang  tidak tercover asuransi. Semoga kelak BPJS segera memasukkan penyakit autoimun ke dalam formularium obat BPJS. Aamiiin. 

 

Tetap semangat dan berdoa yaaa.

 

Cheers,

Dian

 

 

 

 

 

1

Bertemu Dokter Part 1

Taraaaam bertemu lagi dengan Diary MS. Nampaknya ini adalah tulisan pertama saya semenjak pindahan ke Inggris. Bertemu dokternya saya bagi dua postingan ya, soale agak banyak ceritanya. Bagian pertama akan berisi mengenai pertemuan saya dengan dokter umum. Bagian dua akan berisi pertemuan dengan dokter spesialis.

Hampir mirip dengan BPJS di Indonesia, sistem kesehatan di Inggris bernama NHS (National Health Service). Sistem kesehatan ini memfasilitasi penduduk Inggris untuk dapat mengakses jasa-jasa kesehatan di klinik NHS dan rumah sakit NHS secara gratis. Untuk imigran seperti saya, wajib membayar biaya premi kesehatan dengan sebutan IHS (Immigrant Health Surcharge) sebagai syarat pengajuan visa. Dengan membayar IHS maka saya juga bisa menikmati fasilitas NHS gratis seperti penduduk Inggris. Biaya IHS yang harus dibayarkan sebesar £150/tahun yang dibayarkan di awal aplikasi visa. Saya  mengajukan visa untuk kuliah berdurasi 4.5 tahun, maka IHS yang harus saya bayar sebesar £150×4.5=£675. Kira-kira sejumlah Rp 13.500.000.,-

Hampir mirip dengan BPJS, NHS juga menggunakan dasar domisili. Maka walaupun saya sudah tiba di Inggris sejak tanggal 20 September 2016, saya tidak bisa langsung mendaftar di NHS karena pada saat itu saya belum memiliki tempat tinggal tetap.

Pada tanggal 1 Oktober 2016, saya sudah punya surat kontrak rumah. Maka saya mendaftar ke klinik NHS dekat rumah, dengan membawa paspor dan surat kontrak rumah sebagai bukti bahwa saya bermukim di dekat klinik  dan eligible untuk menggunakan fasilitas kesehatan NHS. Klinik NHS semacam puskesmasnya Indonesia. Mereka menyediakan beberapa pelayanan kesehatan dasar seperti GP (general practitioner = dokter umum), nurse (di Inggris, perawat adalah profesi yang sakti. Kedudukannya setara dengan dokter, kapan2 saya cerita tentang nurse ini ya), periksa darah, fisioterapi, konsultasi psikologis, dan lainnya lupa hehe.

Ini penampakan Klinik NHS dekat rumah saya, namanya Upperthorpe Medical Center. Fotonya saya ambil dari Google streetview.

zest

Tampak depan dan halaman klinik

Ini penampakan dalam klinik:

image1

Ruang tunggu dan reception

image2

ada buku juga yang gratis dan yang dijual

Okay, kembali ke Multiple Sclerosis. Untuk bisa bertemu dokter spesialis syaraf, harus punya rujukan dari dokter umum (GP). Maka, saya bikin janjian untuk bertemu GP. Jangan kaget kalau antrian dokter di sini sangat panjang. Saya buat janji pada tanggal 1 Oktober, dapat jatah ketemunya adalah tanggal 11 Oktober. Panjang banget ya waiting listnya hehe. Yang di Indonesia berarti masih harus bersyukur karena bisa dengan mudah ketemu dokter.

Tanggal 11 Oktober 2016 akhirnya saya bertemu dokter umum. Saya ceritakan kalau saya terdiagnosis MS. Juga cerita mengenai asma yang tiba-tiba jadi kambuh banget semenjak pindah rumah. Kemudian dokter bertanya, apakah saya pernah menggunakan obat steroid. Yang saya jawab dengan iya. Methylpredsinolone untuk MS saya ketika kambuh, namun sudah saya tapper off ketika saya sudah mulai settle di rumah baru. (tapper off: dikurangi secara bertahap – pemakaian steroid tidak bisa berhenti tiba-tiba, harus dikurangi bertahap)

Kemudian Dokter (Dokter Atkinson, cewe dan cantik) berkata, mungkin asmanya sudah ada semenjak kamu tiba di Inggris karena perbedaan cuaca, tapi tersembunyikan oleh steroid untuk MS. Ketika berhenti pakai steroid, inflamasimu jadi semakin buruk, termasuk asmanya.

*Oke, jadi asma juga merupakan jenis penyakit autoimun. Jika tubuh mengalami alergi, maka imunitas tubuh membuat saluran nafas saya menebal (bengkak/inflamasi) agar tidak ada kuman yang masuk ke tubuh, efeknya jadi jalan nafasnya menyempit dan sesak nafas hehe. Steroid adalah obat yang fungsinya untuk menyembuhkan inflamasi dalam berbagai hal. Dari dokter Atkinson saya jadi tahu kalau steroid juga adalah obat asma. Obat asma di Inggris umumnya dua, spray biru unruk mengatasi serangan, cara kerjanya cepat. Jadi kalau di film-film lihat orang bengek trus nyemprotin inhaler trus sembuh, itu berarti dia pakai obat asma versi spray biru Inggris. Satu lagi spray coklat. Spray coklat berisi steroid, fungsinya tidak untuk mengatasi kekambuhan secara cepat, melainkan untuk mengobati inflamasi. Jadi spray coklat ini mengobati sumber sakitnya, sementara spray biru adalah pertolongan pertama.

Pertemuan saya dengan dokter Atkinson berakhir dengan dokter memberi resep dua spray tersebut, membuat janjian bertemu sebulan kemudian, membuatkan saya janji dengan nurse asthma, dan membuatkan saya janji dengan spesialis syaraf.

Tentang nurse asthma.

Saya dapat jadwal bertemu nurse asthma lima minggu setelah saya bertemu dokter Atkinson. Waw waiting list nurse asthma ini juga sangat panjang. Saat bertemu nurse asthma, saya diperiksa lebih menyeluruh mengenai gejala2 dan trigger asma. Saya juga diminta untuk meniup tube untuk melihat kekuatan hembusan nafas. Hasilnya, dibawah rata-rata. Hehe.

Nurse Rosalind (nama Nurse asthma) kemudian bertanya: Kamu jujur ya sama saya, sebenarnya kamu pakai ga spray brown-nya? berapa persen kamu memakainya? 50% atau kurang?

Terus saya cengengesan minta maaf. Alasan saya bahwa kalau pagi saya selalu pakai karena spray coklatnya ada di ruang makan, saya gunakan sesudah makan. Sementara jika malam saya jarang makan malam sehingga lupa. Kadang saya ingat ketika hendak tidur tapi terlalu malas untuk turun ke ruang makan dan memakai spray coklatnya.

Lalu suster Ros berkata: Baiklah saya resepkan satu lagi ya. Satu kamu taruh di ruang tidur, satu di ruang makan. tapi kamu jangan marah ya, saya bukannya nagging (cerewet/rewel), saya cuma ingin kamu sembuh.

Saya tertawa geli sembari say sorry karena sudah merepotkan dia. Sumpah saya ga enak banget rasanya tertangkap tangan kaya gitu hahaha.

Suster Ros kemudian berkata, kalau saya ga sendirian. Beberapa pasiennya punya tiga, untuk diletakkan di mobil. Okesip, gue bukan satu-satunya yang bandel.

Pertemuan dengan dokter umum dan nurse asthma, bisa saya katakan berhasil. Asma saya tidak kambuh lagi. Padahal sebelumnya tiap malam selalu kambuh dan tiap jalan menanjak juga. Alhamdulillah ya, ada hasilnya dicerewetin suster hehe.

Segini dulu ya, cerita mengenai bertemu dokternya. Besok Insya Allah saya update yang part 2.

Cheers,

Dian

0

Gejala MS

Hai,

Diary MS di sini. Hope this post find you well 🙂 

Sore tadi saya dapat WA dari Dokter Rocksy. Beliau adalah dokter spesialis syaraf yang menangani saya ketika periksa dan opname di RS Siloam Karawaci. Dokter Rocksy juga yang menegakkan diagnosa bahwa saya terkena Multiple Sclerosis (MS). Dokter Rocksy mengatakan bahwa sedang disusun buku mengenai “MS untuk awam”. Semacam versi lokal dari buku MS for dummies keluaran John Wiley. Saya diminta menjadi salah satu kontributor untuk buku tersebut.

Saya antusias sekali mendengar akan ada buku mengenai MS dalam konteks Indonesia – bukan sekedar terjemahan buku asing. Tantangan dan nature penderita MS di Indonesia pasti berbeda dengan penderita MS di negara lain. Misalnya di negara sub tropis atau di negara maju yang support systemnya sudah mapan. Saya pernah bercerita di post sebelumnya, bahwa saya ingin dan butuh sekali mendengar cerita dari pejuang MS di Indonesia mengenai bagaimana mereka bertahan dan menjalani aktivitas harian mereka. Bagaimana tips dan trik menghadapi udara panas Indonesia yang konon mencetuskan kekambuhan. Bagaimana potensi vaksinasi terhadap kekambuhan. Bagaimana dan apa obat yang dikonsumsi. Dan masih banyak lagi keingintahuan saya mengenai MS yang belum terjawab. Alhamdulillah akhirnya akan ada buku MS versi Indonesia. Semoga segera terbit dan mencerahkan para pejuang MS di tanah air.

Dokter Rocksy meminta saya untuk menulis mengenai gejala MS yang saya rasakan. Dengan senang hati, saya langsung mengiyakan, sambil berpikir bahwa saya tinggal comot edit dari blog ini. Perasaan, saya pernah menulis tentang gejala MS di blog ini. Eh ternyata hanya perasaan saya belaka. Setelah blogwalking di blog sendiri, saya baru sadar kalau belum pernah menulis mengenai gejala yang saya rasakan hingga akhirnya terdiagnosa MS.  Oh well, sebelum jadi bagian dari sebuah buku – saya share di sini dulu ya mengenai gejala MS yang saya alami.

Menurut saya, MS penyakit yang agak tricky. Kalau gejalanya tidak fatal, cenderung kita abaikan. Gejala yang fatal menurut Dokter Pinzon adalah jika pandangan menjadi kabur, atau jika terjadi kelumpuhan. Ih serem. Gejala-gejala MS juga memiliki kemiripan dengan beberapa penyakit lain semisal stroke, rabun jauh, lupus, dll. Tanpa tes yang tepat, mungkin akan sulit terdiagnosa sebagai MS. Dokter Pinzon (dokter spesialis syaraf saya di Jogja) pernah berkata: bisa jadi penderita MS di Indonesia adalah lebih dari 200 orang, tapi tidak terdiagnosa karena dikira penyakit lain. Selain gejalanya yang mirip penyakit lain, gejala yang dialami satu orang, bisa jadi berbeda dengan orang lainnya, tergantung bagian selubung syaraf mana yang diserang. Untuk itu MS juga disebut sebagai penyakit dengan seribu wajah. Serem.

Gejala awal yang saya rasakan dan membuat saya memutuskan untuk periksa ke dokter adalah rasa kebas (mati rasa) dan kesemutan pada satu sisi tubuh, yaitu sisi kiri. Awalnya saya mengira sebagai akibat posisi tidur yang salah. Namun sepanjang hari saya juga merasakan sakit dan rasa kesemutan di kepala. Ketika berjalan, rasanya gliyeng-gliyeng. Bahkan ketika naik tangga, saya harus merangkak karena rasa lemas dan keseimbangan tubuh yang kurang baik akibat gliyeng-gliyeng tersebut. Masih saya mengira hal tersebut tidak penting, saya berfikir mungkin hanya gejala pre menstruasi syndrom. Tapi ada satu lagi yang saya rasakan, yaitu rasa nyeri di leher. Rasa nyeri di leher ini cukup mengganggu yang membuat saya mengunjungi dokter spesialis setelah seminggu rasa sakit di leher tidak hilang.

Awalnya dokter memperkirakan ada syaraf terjepit di leher. Dokter meminta saya untuk melakukan MRI. Setelah hasil MRI keluar, ternyata bukan syaraf terjepit. Dokter meminta saya untuk melakukan MRI lagi di bagian otak. Dari beberapa lesi (luka) yang muncul di hasil MRI, dokter Pinzon mendiagnosa saya sebagai suspek MS. Saya dirujuk ke Siloam untuk melakukan MRI 3 tesla yang resolusinya lebih bagus. Hal ini dilakukan karena ada kondisi dan syarat-syarat yang harus ditemukan untuk mendiagnosa seseorang terkena MS. Salah satunya adalah ditemukan luka di beberapa tempat. Untuk itulah dibutuhkan MRI yang resolusinya bagus.

Demikian gejala MS yang saya rasakan di awal terdiagnosa. Sekarang juga kadang masih merasakn sakit kepala dan nyeri sendi. Tapi rasa sakitnya masih bisa saya tolerir. Jadi teman-teman, kalau ada rasa keram, kesemutan, sakit kepala dan penglihatan yang blurry, jangan dianggap enteng ya. Mungkin bagi wanita, kelihatannya seperti gejala PMS atau kurang darah. Padahal bisa jadi hal tersebut adalah gejala penyakit yang lain. 
Be aware 🙂

Cheers,

-dian

11

Kabar Baik Hari Ini

Haloooo…

Diary MS di sini 🙂

Sudah hampir dua minggu sejak badan saya berasa ga enak. Alhamdulillah, hari ini badan terasa lebih segar. Kepala masih sakit sih, kaki juga masih ga enak untuk jalan, tapi nyeri di badan sudah berkurang dan keseimbangan tubuh sudah membaik. Sudah bisa jalan lurus dong, ga gliyeng-gliyeng lagi. Alhamdulillah.

Hari ini saya ambil hasil MRI. Waw saya sudah empat kali MRI sejak bulan maret 2016 hehe. Kebayang deh yang punya phobia ruang sempit, pasti menderita banget harus MRI berkali-kali. Untungnya saya ga punya phobia itu, jadi kalau harus MRI yang durasinya 1-2 jam di dalam tabung sempit, saya bisa nyambi tidur. Halah hehe.

Kembali ke hasil MRI, Alhamdulillah MRInya bilang tidak ada lesi (luka) baru di otak saya. Bekas luka lama (halah luka lama) masih ada, dan konon luka di otak tidak bisa sembuh (ini luka otak atau luka diputusin mantan deh hehe). Yaudah, diterima dengan ikhlas. Peruntuh dosa-dosa Insya Allah. Jadi kalo sakit kepala, keram kepala, ya dinikmati saja, pertanda masih hidup hehehe. Yang terpenting:

Tidak ada lesi baru!



Kenapa tidak ada lesi baru itu penting? 

Karena, sampai hari ini saya didiagnosa oleh dokter terkena RRMS – relapsing remitting MS: MS yang sifatnya kambuhan. Kalau beruntung maka saya bisa aja ga kambuh-kambuh lagi sampai puluhan tahun ke depan, aamiin. Artinya, selama masa remisi tidak ada lesi baru yang muncul. Tidak ada luka baru.

Nah tapi kemaren karena saya kesakitan, dan histori MRI saya sejak maret lalu selalu menunjukkan fase aktif (relaps), dokter curiga jangan-jangan MS saya naik kelas jadi yang progressif. MS progressif ini gampangannya adalah MS yang dalam periode pendek selalu timbul luka baru, gejala baru dan disabilitas baru. Tidak ada waktu jeda atau remisi. Melihat lesi saya yang selalu aktif tersebut, dokter menyarankan untuk MRI lagi, melihat adakah luka baru.

Yang alhamdulillaaaaah tidak ada. Alhamdulillah. Jadi PR saya sekarang adalah menjaga agar tidak cape dan stress, agar lesi yang aktif bisa segera padam. Jadi ga menimbulkan rasa sakit lagi. Semoga yaa. Aamiiin.

Ini adalah gambar MRI saya. Lihat dua titik putih di sebelah kanan? Nah itu luka di otak. Luka tersebut menurut dokter mengenai bagian konsentrasi dan keseimbangan tubuh. Akibatnya, saya merasa sulit untuk jalan lurus. Bawaannya mencong kiri kalau dalam kasus saya. Ketika saya tes di siloam, saya diminta jalan di tempat dengan mata tertututup selama dua menit. Ketika saya membuka mata ternyata arah saya melenceng lebih dari 30derajat dibanding arah semula hehe. 

Kalo kamu mau mencoba apakah keseimbangan tubuhmu masih bagus, coba tes dari dokter saya tersebut: jalan di  tempat dengan mata tertutup selama dua menit. Lihat hasilnya, jika mata sudah dibuka, arah kamu miring ga dari arah semula? Kalo miring, berapa derajat? Kalo lebih dari 30 derajat? Mmhmmm kayanya ada sedikit masalah dengan keseimbangan kamu hehe.

Cheers

-dian