0

Sibling convo and their contextual joke

Sibling convo and their contextual joke (baca: Joke lokal).

.

Pernah ga sih sebagai orang tua merasa jadi outcast ketika bocah ngelucu? Gue dan mas surya sering ngerasa gitu. Banyak kala pas kita lagi ngobrol berempat, trus cyla sama rehan nimpalin, trus mereka berdua ketawa ngakak-ngakak, trus saya dan mas surya liat-liatan: Ini lucunya di mana sih sampe mereka ngakak gitu 😅.

.

Trus lama-lama kita mikir, ya mungkin kaya kita lagi nonton srimulat atau tetangga masa gitu, trus kita ngakak-ngakak, trus cyla sama rehan cuma liat-liatan sambil bilang: What is it? Tell me. Trus saya sama mas surya jelasin ke mereka kenapa lucu, trus mereka dengan muka bingung: I don’t get it, that’s not funny 😪.

.

#Yanaseb

Advertisements
0

Disparitas sekolah di UK ~ faktor lokasi dan endowment orang tua

Jadi ceritanya mulai bulan depan saya harus daftar secondary school (high school) untuk cilawati. Setingkat SMP deh kalo di Indonesia. Haaaa tau-tau udah daftar SMP.

Tenang, bukan kelas akselerasi. Kebijakan di sini harus daftar secondary school (SMP) 1.5 tahun sebelumnya. Agar ketika anak mulai masuk year 6, dia sudah tahu diterima di SMP mana. Biasanya 4 bulan sblm masuk SMP si anak year 6 udah mulai ‘magang’ sekolah di calon SMPnya. Misalnya selama tiga minggu si Anak menghabiskan separo harinya di SMP, separo hari di SD. Tujuannya agar anak ga shock, mulai berteman, dan langsung bisa fokus ketika sudah resmi masuk SMP.

Sama seperti sistem zonasi di Indonesia, sekolah di Inggris juga menggunakan zonasi, disebut dengan catchment area. Yang bisa mendaftar di sekolah A, adalah residen yang bermukim di radius 3 mil dari sekolah. Untuk UK, zonasi atau catchment areanya jelas, karena alamat rumah di sini terdaftar dengan jelas dengan kodepos. Alhamdulillahnya, karena rumah saya di lingkungan kampus, catchment areanya ndilalah sekolah-sekolah terbaik di Sheffield yaitu Tapton school dan King Edward VII dengan predikat outstanding.

Sebelumnya saya browsing mengenai sekolah-sekolah dalam catchment area rumah saya, dan menemukan ternyata banyak warga yang merasa keberatan dengan sistem ini. Salah satunya: “ga adil, kenapa kami yang warga negara UK tidak bisa mengakses sekolah bagus, sementara imigran bisa karena mereka tinggal di lingkungan sekolah tersebut..”

Oh wow. Keras ya alasan penolakannya.

Terus saya telusuri lagi komentar-komentar di bawahnya, juga berdiskusi dengan teman saya yang sudah lama tinggal di Inggris mengenai ketimpangan ini dan mengajukan pertanyaan:

Sekolah di Inggris kan hampir semua sekolah negeri, dibiayai sama oleh negara, tapi tetap ada disparitas. Kenapa?

1. Bisa jadi karena faktor manajemen, semisal staff pengajar dan trustee (academy) yang mengelola sekolah tersebut.

2. Atau faktor lokasi. Salah satu komentar yang menurut saya masuk akal adalah: karena sekolah-sekolah bagus tersebut dekat dengan rumah sakit dan kampus..

3. Lah terus kenapa? Terus adalah.. faktor endowment dari orang tua.

Setelah saya membaca komentar dan merenung hasil diskusi: Ketika sekolah berada di dekat kampus atau rumah sakit, banyak penduduk dalam catchment areanya adalah dokter, perawat dan mahasiswa. Tiga profesi tersebut sudah jelas membutuhkan pendidikan formal berupa universitas. Ketika orang tuanya kuliah di kedokteran atau health science atau mungkin mahasiswa PhD, maka anak-anaknya secara tidak langsung seperti sudah ada bayangan, contoh dan motivasi bahwa setidaknya mereka akan menapaki jalan seperti orangtuanya: kuliah. Itulah sebabnya nilai GCSE di sekolah favorit sangat tinggi, karena nilai tersebut dipakai untuk mendaftar universitas.

Faktor endowment lainnya adalah imigran. Saya menyebutnya sebagai endowment hehe. Ketika orangtua murid adalah imigran, kerah biru maupun kerah putih, mereka umumnya memiliki daya juang yang lebih tinggi untuk merubah nasib, termasuk mendorong anak-anak mereka untuk kuliah agar bisa sukses di negara yang mereka datangi. Suka tidak suka, sadar tidak sadar, tetap ada glass ceiling bahwa jabatan tertentu atau sektor tertentu hanya bisa diduduki warga negara Inggris (WNI). Agar imigran bisa sejajar, menduduki posisi elit seperti WNI membutuhkan usaha yang lebih besar. Itulah mengapa dari segi usaha dalam mengikuti pelajaran, anak-anak imigran umumnya lebih keras usahanya ketimbang yang bukan imigran.

Faktor lain masih terkait endowment orang tua adalah: kekayaan orangtua 😂. Dokter dan perawat termasuk profesi yang menjanjikan deh ya di Inggris. Lalu imigran, biasanya karena tidak bisa menembus glass ceiling pekerjaan kantor, para imigran menjadi pengusaha yang umumnya sukses atau jadi landlord (tuan tanah). Mahasiswa? Yah gitu deh hahaha, klo biaya sendiri udah dipastikan biasanya orang berada ya. Kalo mahasiswa beasiswaan dari Jazirah arab, tajir juga, jangan ditanya beasiswa mereka sebesar apa, buat halan-halan tur yurop lebih dari cukup dan ga pake dinyinyirin netyjen kek Indonesia.

Trus kalo orangtuanya kaya kenapa? Yah brarti bisa nambah2 sumbangan untuk fasilitas sekolah. Selain itu kalau orangtuanya kaya, biasanya punya anggaran untuk kasih anaknya les ini itu, jadi ketika ada lomba antar sekolah, si anak udah jago. Akibatnya, sekolahnya tambah harum namanya padahal si sekolah cuma nebeng hasil les2an dari ortu.

Perkara ini saya rasakan waktu nganter anak saya Porseni. Salah satu sekolah bisa banget kok liotard (kostum gymnastic)nya seragam. Ternyata liotard tersebut seragam klub di luar sekolah yang dipake untuk lomba sekolah supaya kembaran satu tim. Brarti kan tanpa harus sewa pelatih, sekolahnya sudah diuntungkan karena muridnya sudah punya ketrampilan yang didapat dari luar sekolah. Begitu juga dengan music, dance, football dll. Untuk mata pelajaran GCSE, banyak siswa dari keluarga berada yang punya tutor privat. Jadi kebayang dong, gurunya ga perlu cape2 ngajar di sekolah, toh nanti di luar jam sekolah muridnya akan pendalaman materi sendiri, hehe.

– – – –

Nah itu kan yang yang kisah sekolah sukses ya. Kalo kisah ga suksesnya gimana, masih ada hubungan dengan endowment dan lokasi? Masih..

Sebelumnya saya sempat galau, kuatir kalau sekolah secondarynya Cyla akan didasarkan pada feeder school. Feeder school itu kaya rayon kali ya klo di Indonesia? Klo kamu sekolah di SD A, maka kamu bisa daftar di SMP X, Y, Z yang masuk rayon SD A. Saya kuatir, karena kalau aturannya feeder school, maka Cyla akan melanjutkan sekolah di secondary school dengan predikat Need improvement. Hiks.

Tapi untungnya setelah dapat surat cara mendaftar, ada penjelasan kriteria prioritas penerimaan murid baru sebagai berikut:

1. People with special education needs

2. Catchment area with sibling

3. Catchment area

4. Sibling

5. Feeder school

6. Other (medical or social reason).

Dari prioritas ini, feeder school kalah oleh catchment area.

Sebenernya sejelek apapun sekolah di UK tetap fasilitasnya jauuuuuh lebih bagus dari sekolah negeri terbaik di Indonesia. Feeder schoolnya Cyla yang rangkingnya cuma “needs improvement” itu, fasilitasnya secanggih sekolah Binus, Sekolah Pelita Harapan, atau Global school, kalo kamu pernah masuk sana dan liat-liat sebagai pembanding. Ini beberapa foto dalam gedungnya sekolah feedernya Cyla yang dinilai kurang baik. Kurang baik aja begini hellowww. Sekolah kurang baik ini punya gym, dua lapangan bola outdoor, lapangan go cart, velodrum, lapangan basket indoor, laboratorium teknologi pangan, dll, dst. Keren b a n g e t s!

Terus kenapa mereka sampe bisa dibilang sekolah yang kurang baik?

Biasanya karena faktor absensi dan nilai GCSE. Ada hubungannya dengan lokasi dan endowment? Ada..

1. Saya perhatikan, sekolah jelek biasanya ada di devriped area. Kenapa bisa disebut devriped? Karena biasanya perumahan bantuan pemerintah dibangun di sini. City council house atau tower, fasilitas perumahan untuk orang-orang kurang mampu di UK dengan biaya sewa yang sangat murah karena disubsidi pemerintah.

Kalo kata temen saya, warga lokal (british citizen orang kulit putih) miskin itu lebih berbahaya ketimbang imigran miskin.

Sementara imigran berusaha keras untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik, Warga negara (i. e british citizen) tidak perlu berusaha (baca: ga perlu kerja) karena mereka ditunjang oleh skema benefit pemerintah. Warga negara yang tidak bekerja bisa mendapat tunjangan cukup untuk hidup layak. Enak toh. Maka konon mindsetnya: untuk apa susah-susah bekerja dan belajar jika bisa hidup dari benefit, toh mama papa dan kakek nenek saya bisa hidup dari benefit.

Nah kebetulan feeder schoolnya Cyla berlokasi di daerah yang dihuni warga negara miskin (non imigran), yang mereka sudah tiga generasi menerima benefit, sehingga tidak ada ambisi untuk sekolah tinggi. Melanjutkan secondary school adalah lebih karena wajib belajar dari pemerintah. Akibatnya tingkat absensi tinggi dan kemajuan akademik di sekolahpun mandek. Akibatnya, rangking sekolah jadi jelek.

Kareba hidup dari benefit, mereka juga ga memiliki dana lebih untuk anak les ini itu. Jadi sekolah ini klo ada olimpiade mata pelajaran, seni atau olahraga, biasanya ga terlalu berprestasi.

Demikianlah seterusnya..

Sehingga wajar banget sekolah favorit akan tetap favorit, dan sekolah jelek ketika tidak ada terobosan, akan tetap jelek.

Oiya tadi saya bilang harus daftar sekolah adalah: Klo sampe batas waktunya (anak saya, 15 Oktober 2018) ga daftar secondary school, orang tua akan dikirimi surat dan ditelpon terus menerus oleh city council. Bagian terburuk, si anak diambil oleh negara karena ortu dianggap lalai memperhatikan pendidikan anak.

Yang menghuni rumah saya sebelumnya (sebut saja keluarga F) kembali ke negara asal tanpa sempat kasih tau ke city council kalo mereka back for good, padahal si anak harusnya September tahun lalu daftar secondary school. Sebagai penghuni berikutnya saya senantiasa menerima surat dari city council utk keluarga F. Karena kenal, ketika ada surat untuk keluarga F, kami masih bisa memberi tahu dan biasanya mereka minta tolong difotokan isinya. Demikianlah saya jadi tahu isi surat peringatan untuk ortu yang lalai mendaftarkan anaknya sekolah.

Okeee trus apa dong kesimpulan tulisan ini? Kesimpulannya: bener banget strateginya si Shancai meteor garden disekolahin di sekolah mahal pake beasiswa. Soale jadi nebeng fasilitas orang kaya hehehe. Nebeng endowment orangtua kaum berpunya.

0

Ibadah Haji dan Multiple Sclerosis

WhatsApp Image 2018-09-07 at 10.01.04

Bismillah,

Pada kesempatan ini saya hendak berbagi pengalaman saya sebagai penyandang Multiple sclerosis (MS) ketika menunaikan ibadah haji. Sebelumnya saya mohon maaf jika ada yang kurang tepat dalam tulisan ini, atau mungkin yang saya narasikan tidak serupa dengan pengalaman teman-teman penyandang MS yang lain. Tulisan ini dibuat karena saya merasa kekurangan informasi ketika mempersiapkan diri untuk berhaji. Semoga tulisan ini bisa memberi sedikit gambaran mengenai hal-hal yang dapat dipersiapkan rekan-rekan MS survivor jika hendak berhaji.

Kenapa berhaji?

Terus terang keputusan menunaikan ibadah haji adalah loncatan besar dalam hidup saya. Kami mendaftar haji reguler beberapa tahun yang lalu, jauh sebelum saya terdiagnosa MS. Pada saat itu suami dan saya sepakat bahwa kami termasuk kaum yang mampu untuk menunaikan ibadah haji terkait waktu, biaya dan kekuatan fisik.

Namun manusia berencana, Allah yang menentukan: Saya terdiagnosa MS tiga tahun yang lalu dan hingga saat ini masih terimbas efek dan gejala serangannya. Bladder problem, sakit kepala tak berkesudahan, lemah letih lesu, dan tubuh bagian kiri yang koordinasinya terkadang masih kacau.

Saya sempat mempertanyakan (dalam hati): dengan keadaan fisik begini, apakah saya masih wajib menunaikan ibadah haji?

Jawaban pertanyaan saya langsung tunai dan kontan dikasih Allah. Tiba-tiba di TV ada liputan persiapan ibadah haji, yang disorot kamera adalah calon jemaah haji Indonesia yang sudah sepuh. Fisik saya pastinya terlihat lebih kuat dan mumpuni untuk berhaji ketimbang Eyang uti dan Eyang akung calon jemaah haji yang muncul di TV (terlepas dari gelar MS sebagai invisible illness ya).

Maka ketika suami bertanya, jadi berhaji kah kita? Saya jawab: Jadi Insya Allah.

Berhaji dari Inggris

Jika di Indonesia harus menunggu antrian cukup lama untuk berangkat haji, Allah memberi kemudahan untuk berangkat lebih cepat ketimbang jatah haji reguler kami di Indonesia. Saat ini saya dan suami sedang melanjutkan pendidikan di Inggris. Menggunakan visa pelajar yang masih berlaku hingga tahun 2021, kami berhak mendaftar haji menggunakan kuota haji Inggris. Singkatnya, kami bisa berangkat haji dari Inggris.

Tidak banyak muslim di Inggris (dibanding Indonesia), maka kami tidak perlu antri lama untuk bisa masuk sebagai calon jemaah haji. Kami mendaftar haji di salah satu travel haji Inggris pada bulan Februari 2018, bulan Agustus 2018 kami berangkat sebagai Jemaah haji 1439 Hijriah.

Persiapan Haji

Saya tidak dalam kapasitas memiliki keilmuan untuk bercerita mengenai persiapan haji terkait masalah rukun haji, dll. Persiapan mengenai ilmu haji bisa dicari sendiri ya di ustad, google atau youtube yang dapat dipercaya. Saya banyak belajar dari youtube mengenai ritual atau aktivitas haji dan ikut kajian mengenai haji di mesjid kampus (MWHS). Persiapan haji di postingan ini akan lebih membahas persiapan saya pribadi sebagai penyandang MS.

Vaksin meningitis dan MS

Vaksin Meningitis sebagai syarat visa haji adalah hal pertama yang membuat saya galau apakah harus berangkat haji atau tidak. Sebagai penyandang MS, banyak artikel yang menyarankan agar berhati-hati dalam menerima vaksin karena tidak dapat diprediksi bagaimana imun tubuh akan merespon kandungan vaksin tersebut.

Saya bertanya kanan dan kiri, belum ketemu testimoni penyandang MS yang pernah divaksin meningitis. Saya konsultasi dengan MS Nurse apakah vaksin meningitis berbahaya bagi penyandang MS, nurse ga berani kasih jaminan karena dia juga berlum pernah menemukan pasiennya yang divaksin meningitis.

Pencerahan saya dapatkan dari nurse travel health di klinik dekat rumah. Sebagai pemukim di Inggris, saya disarankan untuk divaksin jika hendak berpergian meninggalkan Inggris. Mungkin tujuannya agar ketika kembali ke Inggris tidak membawa penyakit dari luar Inggris. Sebagai warga mukim yang baik, datanglah saya ke klinik, saya cerita ke Nurse kalo akan ke Saudi Arabia untuk haji. Saya tanyakan perlu divaksin apa?

Nurse kemudian membuka website Travel advise pemerintah Inggris. Di website tersebut ada daftar hal-hal yang harus saya lakukan/ hindari selama berada di Saudi (misalnya tidak boleh minum air keran, dll), juga ada list penyakit yang sedang outbreak di sana, dan ada list vaksin yang harus/disarankan jika saya hendak ke Saudi. Saya disarankan vaksin MMR, Meningitis, Tetanus, Polio, Hepatitis A, Hepatitis B, dan rabies. Banyak ya. Iya.

Saya bertanya: “Suster, dari list vaksin ini, yang ada kandungan porcine (babi) nya yang mana? karena saya hendak berhaji, sebisa mungkin saya maunya yang tidak ada kandungan babi.”

Lalu suster mencek, vaksin polio (klo ga salah) ada kandungan porcine. Lalu suster berkata akan dipesankan yang tidak mengandung porcine, saya bisa kembali besok sore untuk disuntik vaksin tanpa porcine.

Saya kemudian bertanya lagi: “suster, saya penyandang MS, apakah semua vaksin ini aman untuk saya?”

Lalu suster memeriksa list vaksin aktif dan inaktif, subjugation dll di Website tipe vaksin ini, dan dia bilang: “For my understanding, MMR vaccine will be challenging for your immune system. The other vaccines are okay because they are not active vaccine. Did you experience relaps or something similar when you had Flu shot (vaksin flu) last winter?”

“Saya baik-baik saja setelah divaksin flu.”

“Then I assume it will be alright for you to have inactivated, subunit and toxoid vaccine. For the MMR, you can decide if you want to give it a try or not.’

Singkat cerita saya menyimpulkan vaksin meningitis akan aman untuk saya (karena bukan vaksin aktif dan berdasarkan pengalaman karena saya baik-baik saja ketika dulu divaksin flu – yang juga bukan vaksin aktif). Saya menerima lima vaksin pada hari itu dan satu vaksin keesokan harinya. Vaksin MMR tidak saya ambil. Suster mengingatkan saya untuk minum paracetamol karena kemungkinan saya akan merasakan efek vaksin yang mirip gejala flu.

Alhamdulillah saya sehat setelah divaksin, tidak ada efek relaps seperti yang saya khawatirkan. Salah satu syarat untuk visa haji bisa terpenuhi.

Udara Panas dan MS

Hal yang juga membuat saya galau untuk berangkat haji adalah udara panas. Di internet dan surat kabar disampaikan bahwa haji 1439 H akan menjadi haji di  puncak musim panas. Suhu diperkirakan akan mencapai 45-50′ celcius di Madinah dan Mekah. Duh galau ya. Musim panas di UK yang cuma 24′ celcius sudah sukses membuat saya sakit kepala, lemas dan keram-keram seharian, gimana 45’celcius cobaak.

Latihan Jalan Berpanas-panas

Saya bersyukur musim panas di UK tahun ini cukup panas sehingga bisa menjadi ajang latihan menghadapi suhu di Saudi (30’celcius di UK udah panas ya hitungannya). Ketika matahari UK bersinar cerah dan sedang panas-panasnya, saya latihan jalan kaki bersama suami. Lumayan, sempat rutin latihan jalan kaki sehari 3-5 km dari rumah ke pusat kota. Setidaknya bisa melatih kaki kiri saya agar lebih kuat untuk dipakai tawaf atau sai.

Botol semprotan air

Selain latihan fisik, saya juga mempersiapkan peralatan perang: Botol semprotan air yang mirip dipakai mbak2 kapster salon. Selain untuk wudhu di dalam mesjid, botol semprotan air saya pakai selama di Saudi untuk menyemprot wajah dan kepala agar rasa panas/kering berkurang. (Oiya wudhu pake spray krn tempat wudhunya jauh/ diluar mesjid. Ketika jam-jam mesjid penuh, ketika kita keluar untuk wudhu, kadang dilarang oleh Askar untuk masuk lagi ke dalam mesjid karena mesjidnya penuh).

Tempat sholat di luar mesjid dan jalur pejalan kaki di lokasi haji dilengkapi spray dan fan besar untuk mengurangi panas. Askar dan petugas haji juga sering menyemprotkan air ke jemaah haji, tapi tetap rasanya lebih afdol kalo bawa spray sendiri.

spray

fan dan spray air di Mesjid Nabawi

Saya selalu sedia handuk kecil basah untuk diletakkan di atas kepala, walaupun cepat sekali kering handuknya tapi lumayan bisa memberi rasa dingin sesaat. Setiap ketemu pancuran air minum, handuknya saya basahi ulang. Ketika ekstrem panasnya dan spray tidak mempan, solusinya adalah guyur badan/kepala pakai air dari botol minum.

Botol minum sifatnya wajib, harus selalu dibawa. Minum sedikit-sedikit tapi sering untuk mencegah dehidrasi. Kenapa sedikit-sedikit? agar tidak mudah kebelet pipis. Toilet di Mekah dan Madinah letaknya jauh di luar mesjid, toilet di Mina ngantrinya bikin kita mengerti arti sabar sesungguhnya (baca: antrian toilet Mina adalah panjang banget). Manajemen pipis (maaf) merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan selama berhaji. Untuk itu supply asupan cairan jadi penting agar tidak mudah kebelet namun juga tidak dehidrasi.

water

Menyiramkan air di kepala jika panasnya sudah tidak ketulungan

Menghabiskan waktu di Mesjid

Selama berada di Masjidil haram dan Medinah, sebenarnya ada solusi jitu untuk menghindari udara panas: Berlama-lama di mesjid. Demi alasan agar ga kena panas, saya biasanya berangkat ke Mesjid ketika masih gelap (jam 3 atau jam 4 dini hari) dan kembali kala gelap (Isya selesai jam 9 malam). Saya berusaha sholat lima waktu di mesjid, tidak keluar dari mesjid kecuali untuk ke toilet, selain mengejar pahala ya juga karena males pulang ke hotel, panas. Apalagi di dalam mesjid Nabawi itu adeeeem banget. Bobo juga boleh di situ.

Seperti bang Toyib, saya ga pulang-pulang. Bekalnya kurma dan buah tin agar tidak lapar, dan banyak minum air zam-zam yang tersedia berlimpah di dalam mesjid. Kadang saya keluar mesjid sebentar untuk makan siang di restoran Indonesia dekat Mesjid, lalu segera kembali lagi sebelum peak season arus masuk orang-orang ke dalam mesjid.

Makan, minum dan istirahat yang cukup

Saya ga muluk-muluk, cita-citanya adalah sehat terus agar bisa menyelesaikan seluruh rukun haji. Salah satu ikhtiar saya agar tetap bugar adalah minum vitamin setiap hari. Vitaminnya multivitamin yang segala aya, ditambah minyak ikan agar buang air besarnya tidak sembelit (mengingat menu makanan selama berhaji kadang kurang serat). Makan dan minum saya usahakan cukup, bisa dibilang banyak hehehe. Banyak yang tidak suka makanan dari travel karena menunya kari.

Alhamdulillah saya suka kari, jadi happy aja dapet menu kari pagi siang malam. Walau kadang karena jarang pulang ke hotel saya jajan di restoran dekat mesjid jadi libur tidak bertemu kari.

Ibadah haji memberi saya kesempatan untuk wisata kuliner. Dua tahun di UK tidak pernah nemu nasi padang, ketemunya di Saudi hehe. Selama di UK tidak pernah makan burger king dan McDonalds karena ga halal, di Saudi bisa makan BK dan MCD tanpa kuatir ini halal atau enggak. Akibatnya berat badan naik tiga kilo selama berhaji. Hehehe.

Kenapa sih harus makan cukup? Saya mah cuma berdasarkan logika, jika badan lemah krn lapar, kuatirnya imun tubuh responnya over-reaktif yang kemudian memicu relaps. Jadi solusinya saya berusaha agar tidak pernah kelaparan. Nyemil terus, agar imun tubuh tidak sempat memberi sinyal negatif.

Saya sering membaca testimoni orang-orang yang mendapat sedekah cemilan dst ketika berada di dalam mesjid atau selama perjalanan. Dalam tahap ekstrim yang kadang menyatakan: Ga usah bawa persiapan apa-apa ga bakal menderita. Untuk saya, saya tidak ambil risiko berharap pada sedekah meskipun banyak dalil yang menyatakan tamu Allah akan dijaga Allah. Saya selalu membawa cemilan dan botol minum kemanapun saya pergi. Ketua rombongan haji saya juga selalu mengingatkan jemaahnya yang memiliki penyakit diabetes untuk sangu cemilan seperti buah kering atau kurma ketika berangkat ke mesjid. Jika tidak bisa menghabiskan cemilan yang kita bawa, bisa kita berbagi dengan jemaah sebelah kiri dan kanan, lebih baik memberi sedekah di rumah Allah kan ya, daripada menerima sedekah.

Istirahat cukup. Terus terang istirahat cukup adalah utopia. Rasanya sayang kok jauh-jauh berhaji cuma untuk tidur. Namun demikian saya usahakan bisa tidur minimal enam jam sehari, di hotel, di mesjid ataupun di bus. Agar badan tidak cranky. Tubuh bugar, hati tenang, Insya Allah imun tubuhnya ga rese.

Bladder problem

Ini momok bagi saya. Perasaan sering kebelet pipis dan tidak bisa ditahan adalah ketakutan nyata saya sebagai penyandang MS. Seperti yang saya sampaikan, solusinya adalah minum sedikit-sedikit tapi sering walau sedang tidak haus, ketimbang minum sekaligus banyak ketika haus.

Cara kedua adalah pipis secara rutin setiap kali selesai menunaikan sholat wajib karena pada saat itu toiletnya tidak penuh.

Saya juga tidak minum kopi (minimal mengurangi) dan teh karena konon sifatnya yang  diuretik, atau sering membuat pipis.

Solusi lain yang dilakukan teman saya adalah menggunakan pampers dan membawa alat (zat) yang bisa membuat cairan (pipis) menjadi gel. Benda kedua (gel) saya tidak sempat melihat teman saya menggunakannya. Benda pertama (pampers) sepertinya solusi jitu untuk masalah kandung kemih bagi teman-teman MS.

Solusi lain adalah menemui tenaga medis sebelum berangkat haji agar bisa diberikan obat terkait permasalahan berkemih.

Ritual haji dan MS

Lempar Jumrah

Sebenarnya ritual haji paling berat menurut saya bukan tawaf dan sai, melainkan melempar jumrah. Saya harus berjalan kaki cukup jauh dari tenda ke lokasi lempar jumrah. Ditambah lagi kondisi perjalanan menuju Jamarat yang ramai, penuh dan jalurnya ada yang berupa terowongan panjang bawah tanah/dalam gunung, membuat saya paranoid (Saya ga terlalu suka berada di tempat sempit).

Ketika lempar Jumrah, saya banyaak berdoanya agar diberi kemudahan. Alhamdulillah walau perjalanan menuju dan dari Jamarat jadi lama karena sering istirahat dan mampir sana-sini (harusnya cuma 1 jam, jadi dua jam), prosesi lempar jumrah selama 4 hari bisa terselesaikan. Kuncinya jangan ngoyo harus cepat selesai. Ketika lelah berhenti dulu, istirahat dulu, jajan dulu. Ada Warung Al-baik, KFC, Indomie, eskrim jus dan teman-temannya di sepanjang jalur menuju Jamarat.

Mengelola emosi dan mood bisa juga kunci untuk tetap happy agar imun tubuh ga mengirim sinyal negatif. Seringkali saya lelah, jadi pengen cemberut dan grumpy. Solusinya, sedia makanan atau cemilan manis. Sugar rush memang ga baik, tapi makanan/minuman manis bisa memperbaiki mood agar semangat lagi.

Mengelola ekspektasi juga penting. Pembimbing haji dan syeikh kami selalu bilang: ini haji, bukan liburan biasa. Jadi ekspektasi diturunkan seminimal mungkin. Ga usah ngarep penginapan, transportasi, makanan, dll ada dalam level prima. Pokoke adanya apa, disyukuri. Saya merasa kondisi saya masih lebih baik ketimbang jemaah haji dari Saudi dan sekitarnya yang berangkat dengan cara Backpacker, tidur dan beribadah di pinggir jalan bukan di tenda berAC.

Kembali ke Jumrah. Jikapun kondisi fisik tidak memungkinkan untuk melakukan lempar jumrah, bisa diwakilkan. Saya sempat hampir menyerah dan meminta suami mewakilkan. Alhamdulillah tidak jadi diwakilkan. Beberapa orang di rombongan saya ada yang diwakilkan jumrah. Ada yang diwakilkan karena sudah sepuh, tidak kuat berjalan jauh. Ada yang karena membawa anak kecil (di rombongan saya ada 4 haji kecil, yang terkecil umur 8 bulan, ada yang diwakilkan karena hamil. Sebagai penyandang MS, jika kelak berhaji dan fisiknya tidak memungkinkan untuk melakukan lempar jumrah, jangan khawatir bisa diwakilkan.

Tawaf dan Sai

Tawaf dan sai saat ini lokasinya cukup bersahabat, bahkan untuk orang dengan kondisi fisik tidak terlalu prima. Ada lantai dua dan tiga untuk tawaf sai yang tidak terlalu penuh jamaah, dan bisa menggunakan kursi roda atau scooter (kursi dengan mesin).

Armina

Alhamdulillah lagi adalah, saya berangkat dari Inggris sehingga makhtab kami di Mina ada di Zona Eropa. Apakah ada perbedaannya dengan makhtab Indonesia? Kalo boleh jujur: Ada.

Tenda Mina dan Arafah di makhtab Indonesia hanya berlapis karpet. Sementara tenda Makhtab Eropa disediakan sofa bed. Saya sangat terbantu dengan sofa bed. Duduk dan tidur menjadi lebih nyaman. Saran saya untuk teman-teman penyandang MS di makhtab Indonesia, mungkin bisa membeli sofa bed kecil di supermarket Bin Dawood dekat jalan masuk Mina. Tujuannya agar istirahatnya lebih nyaman sehingga kebugaran tubuh tetap terjaga.

WhatsApp Image 2018-09-07 at 12.57.47

Tenda Mina/ Arafah di makhtab Indonesia

WhatsApp Image 2018-09-07 at 12.57.48

Tenda Mina di makhtab Eropa. Selain AC juga ada kipas angin, sehingga suhu dalam tenda Eropa lebih dingin ketimbang tenda Indonesia

Apalagi ya?

Sementara baru ini pengalaman yang saya bisa bagikan.

Obat-obatan, saya sangu dan selalu minum paracetamol sebelum makan. Soale kepala pusingnya ga bisa hilang, jadi harus nyemil paracetamol agar tetap khusu’ ibadah. Saya juga membawa rebif (jangan lupa minta surat pengantar dokter krn ketika transit di Frankfurt sempat menunggu lama untuk release rebif, baru bisa keluar setelah mereka baca surat pengantar). Oiya rebifnya cuma sempat terpakai di Madinah dan Masjidil haram. Ketika mulai bermalam di Mina slm 5 hari, rebif saya tinggal di hotel ga saya suntikkan krn di Mina tidak ada kulkas.

Demikianlah Jika ada hal penting yang bisa saya ingat, Insya Allah akan saya update di sini. Semoga MS tidak menjadi penghalang ibadah, malah menjadi penguat motivasi kita untuk terus beribadah dan bersyukur kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Insya Allah ketika berhaji, kita akan dijaga oleh Allah. Amiin YRA.

*foto-foto ttg Askar, spray dan botol minum dari google, foto lain koleksi pribadi.

0

First Ramadan without you

This title is sooo gloomy. Yes, just like my heart right now. I prayed Tarawih and cry out loud in the sujuud. Gosh, I won’t have my dad anymore in the Idul Fitri. Dad, I hope you are doing alright in there. I pray for you a lot. Miss you dad, miss you much.

I hope this Ramadan could heal me. I thought I will be okay that time will heal me. But I’m not okay dad. Time is passing by but I’m still wounded in here, a blank big hole spot in my heart because you’ve left me. I cry like everysingle time I miss you. The loss, grieving, the feeling that I cannot speak to you anymore. It’s hard.

I hope Ramadan will give me strength and faith. Will heal my wound. Insya Allah.

Aamiin.

0

Gender Inclusion – Women Entrepreneurship

Last week I attended a seminar at University of Kent, Canterbury. It’s a part of series seminars about gendered inclusion in contemporary organisation, discusses women’s role in particular organisation context and interdisciplinary perspective. One that I attended was the 5th seminar, it discussed gendered inclusion in the field of entrepreneurship.

My examiner (Dr. Huiping) informed me about the seminar, she thought it could be relevant with my research. Yes, it is. I was very excited when I read the seminar’s title. It’s quite relevant with my research about women’s entrepreneurship. And I was more mesmerized on the D-Day when read the seminars schedule: Gosh, the panels are people whom I cited most on my literature review.

Susan Marlow and Helene Ahl. Omaygat, omaygaaaat. They wrote seminal articles about women entrepreneurs. Their work is classic, must read for those do the research on women’s entrepreneurship.

As I expected, this seminar have given me broader perspective on women entrepreneurs. I had a little discussion with Susan about my research. She suggested me to consider gender perspective for my research, instead of institutional theory. Well yeah, to be honest I still have a blind spot for my research. I know that institution might affect the people’s behavior, but I still need to inquiry futher why those rules of game are different for men and women. Susan suggested me (in-line with Dr. Huiping’s suggestion) to unpack the gender role thingy from the gender perspective.

Still need a lot more reading 😅

0

Women and different battlefield

Last week I talked about Multiple sclerosis (MS) for Mutiara Umat (MU) circle via SKYPE. Mutiara Umat is an Indonesian Muslimah society based in Sweden. It has approximately 100 active members. At first, I told the organiser that I might be not eligible to speak about MS since I do not have medical training background. I recommended them another name that I believe has the expertise to talk about MS. However, the organiser convinced me that rather than a comprehensive medical explanation about MS, they want me to speak about MS from the survivor’s perspectives, such as how I manage to do my daily life and its impact toward my family, and soon. Okay then.

They gave me 1.5 hours to speak and discuss MS. I spoke a glimpse about MS from a medical perspective, such as what is MS, what could cause MS, the symptoms, and the treatment or medication. I also linked it to several common types of autoimmune disease. Moreover, as requested I also discussed how I manage my daily life, especially managing fear and motivation when being challenged by autoimmune disease or disability verdict. I hope the talk can help people to identify or coupe when they or their family members have something suspected/diagnosed with MS, or autoimmune disease in general.

For me, the most interesting part is the Q&A session. The questions indeed ask about how I deal with MS, but I can summarise that the omnibus of the questions is how I manage to do my PhD aside from my roles as mum and wife. The other theme that I can sense from those questions is about women’s guilty or useless feeling because they “just stay at home and do nothing but take care the family” [italic = the exact statement was delivered the same in Bahasa Indonesia].

It makes me uncomfortable to hear women’s struggle to raise legitimacy that they are worth and contribute to the family.

Women, you are worth even when you are a stay at home mum, or whatever you do. It is only a different battlefield for a different woman.

I can do the calculation about how much a household has to spend for childcare or nanny if mummy cannot or doesn’t want to take care their children. There is also economic calculation when a mum breastfeeds the baby, instead of using formula milk. We can also count the cost we spend to eat at restaurant or cafe if mum does not cook. Those are several financial gains can be listed if somebody asks about mum’s contribution toward the family. I believe there are more can be listed.

I mentioned in the talk that people might be facing different battlefield. For me it might be MS and PhD. For other people, the battlefield might be their kids or parents, or works, or spouse, or anything. Whether you are women or men, working women or stay at home, with doctoral degree or not, prestigious school or not, affluent or not, have kids or not: it does not matter. It does not matter what women’s status or label in the society is.

For me, one battlefield is never more important or less important than the other battlefield. I believe it is all the same. In my religion, everything we do is to serve God or if you are not a Muslim, what matters is whether you intend to make society better or not. Just like Jewel mentions in her song: “In the end only kindness matter”.

Some people think my PhD student title looks fancy, not every woman can afford that title. Yes, I agree, I count it as my accomplishment. However, on the other hand, this title makes me put aside other things; such as my time with kids or my ability to cleaning the house. I sometimes envy other mum who can cook fancy food for their kids, or keeps the house always clean and tidy, or can teach their children memorising Al-Quran in very early age.

Everyone has their unique ability. It is true when a woman has a role in the public sphere (i.e. work outside the house, study, be a volunteer, etc) more people can recognise or acknowledge her work or contribution. It is natural because there are more people live outside our household than, let say, five or six family member live inside our house. There is also a tendency for a human to take for granted everything that is free. My mum never charges me for food she makes, I just enjoyed the food and forgot to say ‘thanks’ to my mum, or praise her delicious food. I just realise now that when my kids/husband say thanks or praise my food, I usually am very happy, so does my mum, maybe. What I can do when the useless or exhausted feeling come to me, I repeat it myself: “If there is nobody appreciate my roles or ability, I will make sure that I appreciate myself.”

I believe that everything we do will come back to us. You will harvest apple when you grow an apple. Maybe we can not see the result immediately. It probably comes in the future. The yield can be nice and reliable children that take care of you when you are old. Or succesful kids that make you very proud. Or people who cherish your children when they are away from you in the future. Or the better society for your children to live in. Any good deeds come to you maybe because you did something good in past.

  • – – – –

There is a story about evil ghost’s conversation with his subordinate (Apologies I do not know the source, I found it on some social media):

“If you want to ruin a family, ruin its mother first.

Firstly, make her continuously feels exhausted so that she feels weak, fatigue and powerless.

When she already feels exhausted, take away her gratefulness. Let her feels that she spends her entire life just to take care the family that gives her nothing than tired.

When she already lost her gratefulness, take away her self-confidence. Let her sees only people’s happiness thus forget that she is also happy and worth.  Make her feels the inferiority and useless feeling.

If that has happened, then take away her patience.

Moreover, you will find that house is ruined, started from the door called mother.

Because mother’s happiness leads to family’s endurance.”

  • – – – –

So, women… let’s cheer up and be proud of whatever our role and title are.

#selfreminder

0

Mum, dad and coffee.

This photo was taken 5 days before my dad passed away. That day, they just landed at Jakarta from Medan (a city where my dad has an ongoing airport development project). My sister picked them up from the airport and stopped by a cafe near my parent’s house. My sister took this photo.

I never imagine this could be the last time my mum and dad have a photo as couple. My dad is looked very fine in this photo. When my sister sent this photo to our family whatsapp group, I teased my parent by saying “ciyeeee…” (word usually used to tease couple that looked good together). Then I moaned to my dad that It’s been a long time since he bought me coffee, and I asked him to buy me a lot of coffee when I come back to Indonesia in the next couple months. He okayed me, and joked “Iya nanti beli pabriknya sekalian.” (“Yes, we’ll buy the (coffee) factory as well” – his tricky words that usually used to soothe me and my siblings when we throw tantrum ask him to buy something).

But he would never buy me coffee, anymore.

Oh life we never know what is ahead.

Dad, Miss you.

Mum, be strong.