PhD is my remedy

Saya mendengar banyak cerita dan membaca publikasi akademis bahwa kuliah S3 atau PhD membuat seseorang rentan terkena gangguan jiwa. Banyak juga kasus mahasiswa PhD yang memilih bunuh diri karena tidak kuat menanggung tekanan beban akademis yang dihadapi. Agak berbeda dengan yang saya baca dan dengar, saya bisa bilang (untuk saat ini) bahwa justru PhD adalah obat yang membuat saya tetap waras. Phd is my remedy. In my circumstance as MS survivor.

Ketika mendengar diagnosis Multiple Sclerosis (MS), saya hampir menyerah dan memutuskan tidak jadi melanjutkan kuliah S3. Waktu itu saya mengkhawatirkan perkembangan penyakit saya. Akankah memburuk dan membuat saya tidak bisa beraktivitas secara normal. Apakah akan mengganggu kemampuan kognitif saya, karena ada lesi (luka) yang bersarang di otak. Ketika didiagnosis MS, saya kehilangan orientasi masa depan. Misalnya muncul pikiran: buat apa sekolah lagi, tidak jelas apakah saya akan kuat untuk menyelesaikan. Kalaupun nanti kuliahnya selesai, tidak jelas apakah akan kuat bekerja atau tidak, dan seterusnya. Beragam justifikasi saya munculkan untuk menyerah, ketakutan pada hal yang belum terjadi.

Untungnya saat itu masih ada satu atau dua percikan semangat menulis di dalam diri. Dasarnya suka curhat nulis, jadi pas liat laptop jadi keluar perasaan iseng-iseng pengen curhat nulis: revisi proposal (riset s3) ah siapa tahu idenya berkembang jadi menarik. Terus pas proposalnya jadi, kepikiran lagi: kirim-kirim proposal ah, siapa tahu ada supervisor yang mau. Pas ada calon supervisor ngajakin Skype meeting ttg proposal tersebut: Belajar dulu ah sebelum meeting, siapa tahu walau ga keterima sama supervisor ini bisa dapet masukan topik atau nama supervisor yang lain. Begitulah milestone PhD saya yang kebanyakan diawali dengan iseng-iseng, tidak berani berharap banyak.

MS membuat saya tidak berani merencanakan sesuatu yang masih jauh-jauh hari. Kalo kata teman, perjalanan hidup jadi ibarat diterangi lampu mobil. Jalannya semeter-semeter, sesuai jangkauan lampu namun akhirnya sampai juga. Alhamdulillah sejauh ini jalan timik-timik PhDnya ada kemajuan. Akhirnya keterima kuliah, dapet supervisor yang ritme kerjanya sesuai dengan ritme saya. Untungnya punya supervisor yang tiap bulan kasih target, harus nulis 2000-3000 kata tentang topik tertentu, deadlinenya tiga minggu, untuk bahan meeting bulan depan. Dengan demikian saya jadi punya tujuan hidup dan passion yang terukur. Tiga minggu menurut saya adalah radius yang masih bisa saya kelola dan bayangkan. Kayanya hidup saya bakalan susah kalo dapet supervisor yang lain. Sebagai contoh, suami saya dapat supervisor yang memberikan keleluasaan besar ke mahasiswanya. Terserah mau nulis apa dan kapan, submit sesukamu kalo kamu merasa hal tersebut oke. Buat suami yang visi misi dan kapabilitasnya memungkinkan untuk berpikir jauh ke depan, supervisor model begini sangat membantu. Tapi kalo buat saya kurang cocok, tidak ada kerangka waktu dan target pencapaian yang jelas.

Tanpa disadari situasi PhD ini jadi obat untuk saya. Saya jadi punya alasan untuk terus berpikir, membuat otak tetap bekerja dan melupakan ketakutan-ketakutan akan MS. Banyak yang bilang stres itu memicu kambuhnya MS. Dan ironisnya seringkali stres yang muncul adalah karena memikirkan MS. Jadi semacam lingkaran setan. Stres mikirin penyakit dan akhirnya jadi sakit beneran. Disibukkan dengan tugas-tugas kuliah membuat saya lupa memikirkan MS.

Membaca adalah kesukaan saya, menulis menjadi terapi saya. Karena dilakukan dalam koridor kuliah dan diberi deadline, membaca dan menulisnya jadi terarah dan menghasilkan hal kongkrit, minimal jadi manuskrip draft tesis.

Kuliah PhD juga menjadi alasan bagi saya untuk tiap hari manjat tangga Ponderosa yang kecuramannya bikin bengek, untuk menuju office di Dainton building. Atau manjat Crookesmoor Road yang kemiringannya hampir 50 derajat untuk mencapai gedung management school. Tanpa disadari aktivitas fisik ini membantu pemulihan badan kiri saya yang sempat paralyses dan mati rasa ketika dahulu diserang MS. Kadang masih suka ada rasa lemah ga bisa gerakin kaki kiri, tapi Alhamdulillah sudah jaaauuuuh membaik dibanding dulu.  Jalan kaki 2-4 km perhari, yang kayanya ga mungkin saya lakukan di Indonesia, jadi makanan hari-hari di sini dan menjadi fisioterapi alami untuk saya. Kesibukan fisik ini juga konon membuat autoimun saya sibuk, sehingga si autoimun ga punya waktu untuk kembali menyerang myelin otak dan spine saya.

Saya tidak bisa mengingkari bahwa ketakutan akan efek MS masih terus hadir, terutama yang berhubungan dengan kemampuan fisik misalnya jadi mudah letih, ga bisa lagi bersih-bersih rumah dengan seksama padahal saya rada OCD. Akhirnya saya cuma bisa ikhlas, mungkin demikian cara Allah memberi saya kesempatan untuk lebih rileks. Udahlah bodo amat ga bisa lagi renang bolak-balik 50 kali kolam ukuran olimpik (kolam ya, bukan kasur springbed). Bodo amat cuma vacuum karpet ruang tamu perlu dibayar dengan tiduran 30 menit. Ga bisa lagi nyuci piring sambil diajak ngobrol, luka di otak membuat berkurangnya kemampuan multitasking. Ya udah kalo emang lagi pusing, beli ayam Shazam aja di tesco tinggal masuk oven trus kenyang, ga usah muluk-muluk harus masak menu Indonesia dengan resep dan prosedur njelimet. Yaudah bodo amat ABCDEFGH, yang penting masih bisa bersyukur, bahagia dan menikmati hidup. Jadi banyak semelehnya hehe. Entahlah kalo orang lain bilangnya kehilangan ambisi, tapi saya menamakannya berdamai dengan hati. Saya masih punya banyak cita-cita dan mimpi yang pengen dicapai, namun perlu direvisi timeline dan cara pencapaiannya karena MS ini.

Sebenernya ada satu terapi lain yang sudah lama tidak saya lakukan, padahal pengen banget: nulis cerpen mellow menye-menye hahaha. Sumpah nulis cerita cinta abal-abal itu harusnya oleh dunia kedokteran dinobatkan sebagai obat depresi 🙂

kalo kamu lagi suntuk atau merasa tak berdaya, apa remedymu?

Best Regards,

Dian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s