On The Way To The Airport – Dilema Stereotipe dan Budaya Patriarkal

Disetani oleh Mbak Indah untuk nonton drama ini. Awalnya sempat agak perjuangan sih, soale alurnya lambaaaat banget padahal saya nunggak 8 episode. Kalo mau ditonton semua dalam 1 malam begadang kan jadi berasa ga seru. Tapi karena kata Mbak Indah bagus, akhirnya aku istiqamah nonton, sekarang sudah di episode 10. Plotnya sejauh ini bagus, detail dalam jalan cerita cukup logis. Namun bukan plotnya yang hendak saya tulis di sini. Untuk plot, casting, dll bisa dilihat di sini ya -> On The Way To The Airport

Yang membuat drama ini menarik bagi saya adalah penggambaran dilema wanita-wanita bekerja, khususnya di wilayah dengan budaya patriarkal dan collectivist, beserta stereotipe yang menerpanya. Utamanya lagi di negara-negara yang tidak punya support system untuk ibu bekerja. Misalnya ga ada pembantu, daycare, atau supir dan cukup dana untuk pesen go-food.

Ada satu percakapan di Episode 9 yang membuat saya cukup tertohok. Ketika Choi soo ah resign, Lee hyun ju (teman soo ah, mantan pramugari di maskapai yang sama) berkata:

“Aku juga tidak habis pikir mengapa kita menjalani kehidupan seperti orang gila. Aku pernah pulang dari penerbangan panjang, menemui rumah dalam keadaan berantakan dan kulkas kosong. Aku ingin menangis.”

Quote ini ga berlinang air mata, tapi saya dengernya sedih. Lebih sedih lagi karena dilema ini nyata dan relevan banget untuk kebanyakan wanita di Indonesia. Situasi pelik yang sering tidak dapat dihindari dan dianggap normal di Indonesia: Ketika wanita memiliki tanggungjawab di luar rumah, namun juga harus mengerjakan pekerjaan di dalam rumah secara penuh tanpa bantuan partnernya. Dilema dari institusionalisasi norma-norma patriarkal-kapitalis dalam kehidupan kita, (gue kali ya).

Kadang diperburuk dengan budaya kolektivist Indonesia dimana keluarga besar ikut campur, pas liat cowo nyuci piring atau bantuin istrinya beberes jadi kaya aib banget, menganggap wanitanya sebagai istri yang ga kompeten, padahal itu adalah contoh suami yang baik dan pengertian.

Patriarki oleh Walby (1990) didefinisikan sebagai sistem dan praktik dalam struktur sosial dimana pria mendominasi, mengeksploitasi dan menindas wanita. Oiya perlu diingat, Walby menyebutnya sebagai “struktur sosial”, sehingga dapat saya sampaikan bahwa dalam kenyataannya tidak semua lelaki di budaya patriarkal adalah dominan, dan tidak semua wanita di posisi lebih rendah.

Ada satu mahzab dalam patriarki yang dikenal sebagai capitalist-patriarki. Hartman (1979) menyebutkan mahzab ini yang mempopulerkan segregasi antara private dan public sphere dalam konsep division of labour. Private sphere adalah peran seseorang di ranah domestik dan reproduksi, tidak dibayar. Misalnya melahirkan, mengurus anak, memasak untuk keluarga. Sementara public sphere adalah peran di ranah publik, di luar rumah tangga dan biasanya dibayar. Nah capitalist-patriarki yang muncul pada era industrialisasi Eropa ini mensyaratkan pemisahan antara private dan public sphere. Dulu banyak pekerjaan industri yang bisa dilakukan di rumah oleh wanita. Seiring munculnya industrialisasi, berbekal alasan efisiensi pekerjaan tersebut di pool di pabrik, tidak bisa lagi dikerjakan dari rumah. Membuat wanita yang memiliki kewajiban natural seperti melahirkan dan menyusui tidak bisa lagi bekerja. Jikapun mereka bekerja, sistem kapitalis akan membayar wanita lebih rendah dengan alasan fungsionalisasi dan keberlanjutan tenaga kerja: wanita bekerja cuma sementara karena cepat atau lambat akan melahirkan dan memiliki anak.

Karena seringnya dibayar rendah, dianggap pekerja kelas dua akibat sifat naturalnya, segregasi upah dan hirarki ketenagaan-kerjaan semakin tajam antara pria dan wanita, mengakibatkan wanita akhirnya menyerah (karena dapatnya ga banyak dan ga akan membuat mereka jadi leader) dan memutuskan “wifery as their career”.

Kesempatan ini kemudian dilanggengkan para lelaki (ini yang ngomong Hartman, cowo loh ya) untuk memelihara dominasi kaum pria. Lama-kelamaan terinstitusionalisasi-lah stereotipe bahwa wanita lapaknya di ranah privat dan pria lapaknya di ranah publik. Ketika wanita berada di ranah privatdan tidak memiliki penghasilan, wanita menurut Walby dan Hartman, tidak memiliki kekuatan ekonomi dan rentan menjadi obyek opresi. Ketika wanita turut mengambil peran di ranah publik, pria (dan masyarakat) melihat peran publik tersebut hanya sebagai pelengkap (meskipun wanita tsb menghasilkan pendapatan sama besar dengan pria, atau menghabiskan jam kerja yang sama dengan pria). Stereotipe ini, menurut Hartman diciptakan untuk melanggengkan dominasi pria.

Sekian abad berlalu sejak masa industrialisasi Eropa, norma segregasi privat dan publik ternyata masih berlaku. Sekarang sudah banyak wanita yang bisa bekerja dan menempuh pendidikan tinggi, tapi ketika sampai di rumah mereka juga dituntut untuk berperan sepenuhnya di ranah domestik. Seperti kata Lee Hyun Juu tadi, pulang ke rumah capek-capek, ternyata kulkas kosong dan rumah berantakan. Suaminya kemana? Suaminya nonton bola sambil minum bir. Ketika Hyun Juu dan Soo Ah minta resign, suami mereka menolak dengan alasan gaji istrinya masih dibutuhkan untuk menopang rumah tangga. Ih kesal kan.

Laki-laki dengan norma patriarki yang berlaku seakan udah “take for granted” sebagai breadwinner (Coba baca Gupta et al 2014 dan Bourne & Calas 2013), sehingga ketika wanita melakukan juga pekerjaan yang menopang keuangan rumah tangga (yang kadang terang-terangan diminta oleh partnernya), tetap dipersepsikan sebagai pelengkap saja, dan tetap disyaratkan sepenuhnya melakukan tugas domestik.

Ga adil ya. Menurut saya sih ga adil.

Terus nanti ada yang protes bawa-bawa agama nih: Makanya cewe itu jangan kerja, di rumah aja.

Guys, FYI Siti Khadijah istri Rasul adalah pedagang masyhur pada masanya, dan setelah beliau menikah, beberapa literatur mencatatkan Siti Khadijah masih turut dalam pengambilan keputusan strategis.

Dan literatur juga menuliskan bahwa Rasul kerap membantu pekerjaan rumah istrinya.

Dan jika diterapkan dalam kondisi keislaman, wanita pada jaman Rasulullah tidak dituntut untuk mencari nafkah sejak mereka lahir hingga mati. Jika di tengah jalan mereka bercerai atau ditinggal mati oleh suami, maka kewajiban memberi nafkah wanita tersebut akan kembali ke ayahnya seperti dulu ketika dia belum menikah, atau ke saudara laki-lakinya. Jika dia yatim piatu, maka akan diurusi oleh sahabat-sahabat Rasul, salah satu cara dengan dinikahi.

Nah sekarang kalo konteksnya Indonesia, coba dipikirin. Kalau ada wanita ditinggal mati atau bercerai:

  1. Belum tentu orang-tua mau menerima dia kembali karena bisa jadi dianggap aib (wanita bercerai oleh sebagian besar masyarakat masih dianggap aib). Atau dari dulu juga wanita tersebut jadi tulang punggung keluarga yang juga menyokong orang tua.
  2. Saudara laki-laki belum tentu mau menafkahinya (apalagi jika sodara laki-laki itu sudah menikah, kebayang ya ada aja istri yang kadang rewel klo suami ngasih duit ke ibunya atau saudara kandung perempuan)
  3. Masyarakat kadang insecure dan melabelinya dengan janda gatel jika wanita tsb masih muda/cantik sehingga akan sulit dinikahi oleh lelaki lain dengan alasan membantu finansial
  4. Atau tidak akan ada lelaki yang mau menikahinya jika wanita tersebut sudah tua (padahal jaman rasul, janda yang dinikahi yah yang sudah tua).

Jadi untuk konteks Indonesia, ketika seorang wanita tidak memiliki kemampuan untuk kuat dan mandiri secara ekonomi, jangan berharap hidup layak. Karena di akhir masa tetap wanita akan berjuang sendiri. Masyarakat kita ga punya jaring pengaman untuk menopang kala wanita jatuh.

Intinya apa?

Intinya, saya ga pengen menghimbau wanita untuk berdikari. Males, kenapa kalo ada kekurangan selalu wanita yang disuruh memperbaiki diri, Kenapa bukan struktur sosialnya yang diperbaiki. Saya dalam tulisan ini cuma pengen menghimbau, lelaki tolong dong jangan arogan melimpahkan semua tugas rumah tangga hanya pada wanita, karena ada porsimu juga untuk chores. Hehehe.

Best regards,

Dian

  • Draft yang lamaaa banget ga sempet-sempet diselesaikan hehehe. Pertama nulis 24 Oktober 2016.
  • Hartmann, H. (1979). The Unhappy Marriage of Marxism and Feminism: Towards a More Progressive Union (H. Hartmann, Ed.). Capital and Class, 8, 1–33.
  • Gupta, V. K., Goktan, A. B. & Gunay, G. (2014). Gender Differences in Evaluation of New Business Opportunity: A Stereotype Threat Perspective. Journal of Business Venturing, 29(2), 273–288.
  • Walby, S. (1990). Theorizing Patriarchy. Oxford: Oxford B. Blackwell, 1990.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s