Kenapa Cowo Harus Bayarin Saat PDKT

Beberapa waktu lalu, teman saya @kopilovie membuat poll tentang siapa yang harus bayar jika jalan-jalan dengan seseorang yang berbeda jenis kelamin. Hasil vote sementara, wanita mayoritas bilang “patungan biar adil”, sementara mayoritas cowo bilang “cowo yang bayarin.”

Well, votingnya mput memang general sih, tidak menjelaskan untuk keperluan apa jalan-jalan tersebut; PDKT-kah, business meeting-kah, atau sekedar jalan-jalan sebagai teman. Kenapa tujuan jalan-jalan turut menentukan siapa yang harus bayar? Iya dong, menurut saya begini alasannya:

 

Hang out dengan teman

Waktu itu saya vote untuk: “cowo lah yang bayarin” karena dalam benak saya, vote itu untuk PDKT. Iya dong, kan katanya kita feminis, penjunjung hak dan kesetaraan wanita (halah). Jika memang feminis, maka gender mustinya tidak ambil peran mengenai siapa yang bayarin. Kalo jalan-jalan dengan teman, bukan prospek PDKT, mau jalan sama teman cewe atau cowo, ya bayar sendiri-sendiri atau patunganlah, jangan dibiasain minta traktir cem orang susah. Kecuali memang dalam acara traktir mentraktir, atau temannya maksa untuk bayarin. Di luar hal tersebut, ketika minta bill, saya biasanya inisiatif bayar sendiri-sendiri. Itu etika dasar.

Mekanisme umum yang biasa terjadi pada saya dan teman-teman jika kami jalan bareng; salah satu bayarin dulu kemudian yang lain transfer ke rekening teman yang bayarin, atau berikan tunai  jika punya nominal yang mendekati dengan pesanannya. Hal demikian lebih elegan, ketimbang saweran duit tunai di atas meja restoran. Duh, hahaha. Saya kalo ke acara kongko-kongko yang orang-orangnya ga terlalu saya kenal dekat, kemudian selesai makan mulai saweran di atas meja, tanpa bermaksud apa-apa biasanya saya akan langsung bilang: “gue bayarin dulu, ntar transfer atau bayar ke gue setelah gue bayarin.”. Bukan apa-apa, ya ribet aja sih harus bayar di meja makan, nyari kembalian buat si A, B, C. Kadang juga waitressnya nungguin di meja agak lama sampe semua duit kita kumpul, malu ah.

Kalau orang yang baik dan benar, biasanya ngerti etika dasar ini. Teman yang baik akan memotretnya billnya trus itung makanan mereka sendiri, dan berusaha kasih duit tunai dengan jumlah paling mendekati untuk ganti duit gue, atau mereka transfer. Orang yang nyebelin adalah orang yang mendadak bego ga bisa ngitung padahal dia bawa smartphone, dan berusaha jadi free rider, bayar paling sedikit ketimbang pesanan dia, atau mendadak amnesia ngakunya mau transfer tapi ga kunjung transfer. Sebagai orang yang hidup diajari untuk punya pride, orang macem ini biasanya gue tagih sekali. Kalo tetap lupa, yaudah asal tahu aja. Kalau cuma urusan kecil teman tersebut ga bisa menempatkan diri, maka jangan pernah kasih urusan besar ke teman tersebut.

Beda halnya kalo dari awal teman tersebut bilang, “traktir gue ya, belom gajian nih.” Maka dengan senang hati saya akan traktir, karena kadang momen untuk bisa ketemuan ga selalu matching dengan momen gajian. Namun perlu diingat, agar hubungan pertemanan tetap sehat dan seimbang, jangan lupa gantian traktir. Jika semua hutang traktir mentraktir selesai, bisa kembali ke pola bayar masing-masing. Eh gue ga tahu sih klo high class society gimana tata caranya, gue nulis ini sebagai bagian dari kelas menengah agak ke bawah dikit, ngehe – yang kita semua tahu masing-masing dari kita punya pertempurannya sendiri, memeras keringat mencari nafkah. Jadi sebagai teman yang baik jangan membebani orang yang kita anggap teman untuk selalu berharap ditraktir olehnya, kecuali kalo dia memang maksa dan bahagia kalo bisa traktir orang.

Bisa jadi gaji teman lebih besar dari kita tapi dia harus menyokong keluarganya atau lagi nabung untuk nikah, kita ga pernah tahu. Jangan pernah jadi benalu. Bahkan secara akademis ada teori social ties yang dicetuskan oleh grannovetter (1973) mengenai The strength of Weak Ties, aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari; bisa bahwa hubungan yang kuat adalah hubungan dimana yang satu dengan yang lainnya sejajar, ketika salah satu udah jadi liabilities atau beban bagi yang lain, misalnya minta traktir mulu tanpa ada timbal balik yang sejajar, maka hubungannya udah bukan strong ties lagi, menurut gue lebih mirip juragan dan jonggos hehehe. Berlaku untuk hubungan dengan kelamin apapun, ingat feminis dan kesetaraan gender, no offens.

 

Business Meeting

Kamu ketemu teman dalam rangka kerjaan? Terlepas temannya cewe atau cowo, yang punya hajat adalah orang yang harus bayarin pengeluaran hari itu. Ketika saya mulai bekerja di Bank, saya dikursusin khusus oleh kantor selama dua minggu di John Robert Power untuk mempelajari etika dasar dalam hubungan bisnis. Mulai dari outfit, table manner, hingga etika siapa membayari siapa. Jika meeting dengan klien, vendor atau nasabah saya selalu membayari mereka. Ada anggaran dari perusahaan untuk itu. Setiap kepala cabang atau kepala unit di kantor saya biasanya punya corporate card untuk kepentingan pihak ketiga. Bukan gratifikasi ya, lebih ke memang demikianlah etika dalam dunia bisnis, saya yang membayari pengeluaran dalam acara business meeting jika saya sebagai pihak yang membutuhkan jasa mereka, tanpa memandang gender.

 

PDKT

Nah ini yang sering bikin galau, siapa yang harus bayarin saat PDKT. Saya mah saklek orangnya: Cowo yang harus bayar saat kalo jalan-jalan saat PDKT. Yaiyalah, kan lagi berusaha memberi impresi baik? Kalo cowonya ga punya duit? ya gampang, ga usah PDKT. Yakale anak orang cuma mau dikasih makan cinta, jadian aja belom. 

Lahir dan dibesarkan dibawah doktrin orang tua: “Kamu sebagai cewe, nikahlah sama cowo yang sayang sama kamu, jangan nikah sama cowo yang kamu sayang tapi dia ga sayang atau dia sayang kamu lebih sedikit, capek nanti.”

Ya bener sih, sebagai orang yang punya beberapa jenis mantan dan saat ini saya sudah menikah, saya melihat cowo punya kecendrungan take for granted, eh ga tau deh itu manusia atau kecenderungan khusus cowo – perlu studi khusus mengenai hal ini. Wanita-wanita yang dulu para pria perjuangkan cintanya dengan sepenuh hati aja, kadang di tengah jalan mereka sering khilaf dan jadilah poligami. Trus gimana dengan yang cewenya ngejer-ngejer coba? Percaya deh, sebagai wanita ga enak hidup kalo ga dianggap ratu di rumah tangga sendiri. Dan wanita biasanya bisa jadi ratu ketika cowonya benar-benar jatuh hati sehingga memperlakukannya sebagai ratu.

Trus apa hubungannya dengan bayar-bayaran ini? Anggaplah bayar-bayaran sebagai ujian, seserius apa cowo tersebut memposisikan cewe gebetannya. Kalau dia serius, percayalah pasti dia akan bayarin. Sampai akhirnya jadian. Pas udah jadianpun, biasanya cowo yang bayarin. Saya kadang bayarin, kadang partisipasi porsi kecil. Tapi mayoritas cowo saya yang bayarin. Bukan karena saya ga mampu, tapi lebih ke pengen lihat bagaimana cowo itu bertanggungjawab ketika dia berani bawa anak orang keluar dari rumah bapak emaknya. Terjamin ga. Lagipula ya, menurut saya, kalau terbiasa bayarin cowo atau patungan saat hubungan masih PDKT atau pacaran yang ga jelas, cowo akan merasa ada di zona nyaman: Bisa punya pacar, ga usah modal, ngapain nikah, entar-entar aja. Cowo jadi lupa bahwa punya kewajiban menikahi anak orang tersebut. 

Tapi kalo dia udah terbiasa bayarin dan bertanggungjawab, dia akan mikir: “Duh PDKT (dan juga pacaran) tuh mahal dan ngabisin duit, secara gue beneran suka sama dia mending gue nikahin.”

Terus terang “pacaran mahal dan susah” itu termasuk salah satu alasan suami  cepet ngelamar saya: Karena dia males nganter saya pulang ke rumah – jauh. Kata dia: “kalo udah nikah kan pulang nonton bisa langsung pulang ga harus nganter ke Bintaro (kostnya di Setiabudi)”. Dia juga merasa duit buat pacaran bisa buat nabung beli rumah. Jadi dia nanya, “mau nikah sama saya ga? tapi kita harus nabung bla bla bla.” Dan demikianlah ceritanya menjadi saya dan suami saat ini.

Oiya, tentang bayar-bayar saat pacaran jadi tagline saya dan suami kalau makan di luar: selesai kongko-kongko, biasanya salah satu dari kami bertanya: “Pacaran atau suami-istri.”

Kalau saya jawab pacaran – biasanya karena saya menganggap ada hal yang harus dirayakan, suami yang bayar. Karena waktu pacaran selalu dia yang bayar. Atau dia otomatis membayar jika dirasa event makan/jalan-jalan tersebut spesial bukan kegiatan rutin pacaran pasca merried (kami punya jadwal pacaran rutin, pergi berdua tanpa bocah).

Kalau saya jawab suami istri, atau biasanya saya yang langsung ke kasir, makan-makan itu atas anggaran rumah tangga, keluar dari dompet saya karena sebagian besar gaji suami sudah diserahkan untuk saya atur. Eh iya, kalo saya prinsipnya: Uang suami adalah uang saya, uang saya ya tetap uang saya hehehe. Dari sanalah saya merasa punya daya tawar dan kesetaraan dalam pernikahan saya.

Kalo ga punya duit, masa ga boleh pacaran karena ga kuat bayarin? Dude kalo kamu ga punya duit, mending energi dan waktumu difokuskan untuk nyari duit ketimbang pacaran. Bangun karir dan kompetensi. Bangun usahamu hingga omsetnya besar. Percaya deh, jadi cowo tuh gampang kalo mapan. Statistik menunjukkan bahwa banyak cowo jelek tapi tajir yang dapet cewe cantik. Yaudah ga usah muluk2 harus tajir dulu deh, tapi cukup tunjukkan bahwa kamu punya prospek memadai, misalnya punya usaha atau pekerjaan yang bisa menghidupi, penghasilan setara UMR misalnya. Udah gitu aja, pilih cewe yang kira-kira semahzab sama kamu trus ajak nikah. Statistik dan sejarah juga sudah banyak menunjukkan cewe-cewe yang ninggalin pacarnya yang udah bertahun-tahun pacaran, karena ada cowo mapan yang ngelamar cewe itu. Semudah itu.

Terus ntar ada yang bilang: “Eh tapi di luar negeri ga harus nikah, mereka bisa hidup bersama. Pengeluaran rumah tangga dibayar masing-masing atau patungan.”

Gue akan jawab: Pertama, kita membahas ini dalam konteks Indonesia, gue ga peduli sama konteks luar negeri. Silahkan bikin tulisan lainnya dan tag gue kalau elo menjalani samen leven di luar negeri sana, gue juga penasaran pengen tahu gimana sih pembagian tugas dan tanggung jawab ketika hidup serumah tapi tidak menikah.

Kedua; Menikah di luar negeri tidak semudah menikah di Indonesia terkait hukum di negara tersebut. Salah satunya, untuk bisa mendaftarkan pernikahan, kamu harus bisa menunjukkan sudah berapa lama pacaran, apakah orangtua atau keluarga besar mengetahui, dst, dll. Itulah sebabnya mengapa banyak orang hidup bersama terlebih dahulu sebelum mereka memutuskan untuk menikah, karena persyaratannya demikian harus hidup bersama dulu.

Dalam konteks UK, untuk mendaftarkan pernikahan bukanlah hal yang mudah. Prosedur hukumnya berbelit, karena UK mengantisipasi human trafficking dan human abuse. Gue kurang paham gimana maksudnya, tapi kekerasan rumah tangga di UK sering terjadi pada pasangan menikah, yang cewe ga bisa cerai karena proses cerai sulit dan mahal. Sehingga banyak wanita tetap menikah dan mengalami kekerasan, bahkan ketika mereka sudah pisah rumah.

Pernikahan di UK dan negara maju lainnya juga sering dijadikan celah untuk memperoleh kewarganegaraan, padahal pasangan tersebut tidak benar-benar menikah. Oleh karenanya UK mengenal istilah cohabitation, domestic partnership atau unmarried spouse yang kadang sering kita salah artikan sebagai hidup bersama tanpa menikah sewenak udele dewe. Enggak juga, cohabitation (living together) dan domestic partnership itu terdaftar, urusannya adalah partner tersebut yang berhak untuk memberi persetujuan atau diberitahu jika ada tindakan terkait nyawa partner, misalnya persetujuan surgery atau alat bantu kehidupan dan pengaruh ke siapa yang bayar city council tax. Jadi hidup bersama di luar negeri pun jelas bahwa si A partner si B, negara tahu. Kalau ada anak dari hubungan tersebut juga pengadilan bisa dengan cepat memutuskan legal guardian si anak. Bukan ujug-ujug hidup bersama sesukaku, besok kalau bosan bisa tinggal pergi. Enggak gitu sih kalau di UK, setau saya Kanada juga demikian. Dan cohabitation serta domestic partnership ini menjadi syarat untuk pernikahan, karena kamu harus udah pacaran atau cohabitation kurang lebih tiga tahun atau jika punya anak dari hubungan tersebut baru bisa mengajukan pernikahan di UK. Kalo baru kenal trus pengen langsung nikah, biasanya orang UK akan menikah di luar UK, secara agama atau adat, lalu kemudian mereka menyertakan foto-foto pernikahan untuk mengurus pendaftaran pernikahannya diakui di UK.

Jadi, jangan cuma nyontoh si anu cuma hidup bersama kok, mereka patungan, baik-baik saja. Enggak, percayalah, cowo baik-baik pasti akan menanggung wanitanya, kalau orang di negara lain (yang baik-baik) belum registered married, biasanya karena hukum negaranya yang sulit, namun sesungguhnya mereka sudah terdaftar oleh negara sebagai couple,  hanya saja namanya bukan pernikahan.

Menurut saya, hidup ditanggung itu lebih menenangkan dan menyenangkan bagi wanita. Karena society itu kejam loh bagi wanita, mereka memaksa wanita untuk punya dua peran bersamaan: Domestik dan publik (Baca bukunyaWalby, 1997; Bezanson & Luxton, 2006; Nicholson 1990). Jadi dengan tugas yang berat dan peran ganda itu, menurut saya sudah sepantasnya kaum pria memastikan dan menanggung wanitanya terpenuhi semua kebutuhan lahir dan batinnya dengan maksimal, agar wanita yang dia sayangi bisa memenuhi tugasnya di ranah domestik dan publik.

Jadi masih mau patungan sama cowo yang lagi PDKT dengan kamu?

 

 


references:

Granovetter, Mark S.  The Strength of Weak Ties,  American Journal of Sociology, 78, no. 6 (May, 1973): 1360-1380.

Luxton, M., Bezanson, Kate, & Luxton, Margaret. (2006). Social reproduction : Feminist political economy challenges neo-liberalism. Montreal: McGill-Queen’s University Press.

Nicholson, L. (1990). Feminism/postmodernism (Thinking gender). New York ; London: Routledge.

Walby, S. (1997). Gender transformations (International library of sociology). London: Routledge

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s