Kenapa (saya) memilih sekolah di Inggris?

Pertanyaan ini disampaikan oleh assesor beasiswa saat tes wawancara. Jawaban akademisnya tentu: “Karena supervisor yang memiliki keahlian penelitian di bidang XYZ ada di negara Inggris, universitas DEF, dengan nama Prof HIJ. Saya sudah melakukan korespondensi dengan beliau, dan beliau tertarik dengan riset saya. Ini bukti korespondensinya. Saya juga melakukan riset mengenai kemungkinan penelitian saya dilakukan di perguruan tinggi di negara lain, terutama Asia, namun bla bla bla..”

——-

Ketika suasana sudah cair antara saya dan assesor, maka alasan non akademis juga saya kemukakan:

1. Inggris relatif aman untuk saya yang akan membawa serta keluarga, karena senjata api tidak dilegalkan di Inggris. 

Sebelumnya suami dan saya sempat berencana kuliah di Amerika, proses aplikasi di beberapa universitas Amerika sudah sempat kami lakukan. Namun beberapa alasan membuat kami tidak sreg dengan US, selain karena perkuliahan PhD di US cukup lama (normalnya 6-7 tahun) yang melebihi masa yang ditanggung beasiswa, juga karena kami mendapati bahwa kecelakaan atau kematian akibat senjata api cukup tinggi di US. 

Saya sampaikan pada assesor bahwa jika ingin kuliah saya lancar, maka saya harus memastikan urusan saya di rumah sudah selesai. Salah satunya adalah memastikan anak-anak saya berada di lingkungan yang aman. Sehingga energi saya dapat difokuskan untuk kuliah, bukan untuk mengkhawatirkan keselamatan keluarga. Dengan demikian, Amerika bukan pilihan saya.


2. Sekolah Dasar di UK gratis, berbahasa pengantar Inggris.

Sekolah gratis itu penting buat saya, hehe. Konon sekolah dasar di Australia tidak semuanya gratis. Maka kami tidak memilih Australia, meskipun sempat kami pertimbangkan. 

Jika bicara aman dan gratis, maka negara skandinavia termasuk yang sangat aman juga gratis. Norway dan Finland harusnya juga menjadi incaran kami mahasiswa PhD yang membawa anak. Namun negara eropa daratan dan skandinavia memiliki bahasanya sendiri sebagai bahasa pengantar sekolah dasar. Norks, deutch, france, dan seterusnya. Hal ini tentunya akan menyusahkan saya sebagai orang tua, karena berarti saya harus belajar bahasa lain untuk bisa membantu anak saya mempelajari pelajaran sekolahnya.

Saya sampaikan hal ini ke assesor beasiswa, bahwa dengan memilih negara yang bahasa utamanya adalah bahasa Inggris, maka saya sudah mengurangi waktu dan energi untuk beradaptasi, baik bagi saya dan bagi anak-anak saya. Sehingga saya dapat fokus di proses perkuliahan dengan cepat.

3. Asuransi kesehatan di UK gratis (sekarang berbayar walau masih terhitung murah).

Ketika suami mengambil kuliah Master di tahun 2014, imigran termasuk mahasiswa dan keluarganya otomatis tercover asuransi kesehatan ketika visanya disetujui. Tidak dikenakan biaya apapun untuk fasilitas kesehatan gratis tersebut. Saya dan anak-anak merasa aman, karena jika sakit bisa langsung ke puskesmas dekat rumah. Bahkan saya dapat fasilitas papsmear dan vaksin gratis untuk mencegah kanker serviks.

Hal tersebut turut mempengaruhi keputusan kami untuk meneruskan S3 kembali ke Inggris ketimbang negara lain. Sebelumnya saya melakukan perbandingan skema kesehatan Australia dan Amerika. Australia mewajibkan asuransi kesehatan, namun beberapa penyakit tidak dicover. 

Untuk saya yang memiliki penyakit autoimun tentunya sangat ribet jika mendadak sakit di Australia. Amerika juga sama, karena asuransinya swasta maka banyak penyakit yang tidak ditanggung. Bahkan asuransi di Amerika ada porsi pengobatan yang harus dibayar sendiri oleh pasien. Duh pokoke mahal deh.

Tahun 2015, Inggris mulai menerapkan IHS atau skema asuransi kesehatan untuk imigran. Kami harus membayar jumlah tertentu, bersamaan dengan membayar biaya visa. Besarannya sekitar 3-4juta/tahun. Menurut saya masih terjangkau. Dan plusnya, skema kesehatan ini dikelola oleh negara. Mirip dengan BPJSnya Indonesia, dengan cover penyakit yang hampir semua jenis ditanggung. Obat autoimun saya, sekali suntik itu sekitar 1.2 juta rupiah, harus saya suntik seminggu 3 kali. Jadi sebulan kira-kira biaya obat saya sebesar 15juta rupiah/bulan. Jadi kebayang ya, biaya 3-4 juta yang saya keluarkan untuk membayar IHS selama setahun jadi terasa tidak ada apa-apanya dibanding fasilitas kesehatan yang saya dapatkan saat ini. 

Jadi demikianlah beberapa alasan kenapa saya memilih UK selain alasan akademis ketersediaan dosen pembimbing. Terus terang untuk saya yang membawa anak, banyak pertimbangan yang sifatnya non akademis. Saya sering teringat pesan bapak Jusuf Kalla pada suatu waktu: “Orang yang sukses itu biasanya urusan dirinya dan rumahnya sudah selesai.” 

Sebagai wanita yang kodratnya terbagi dalam ranah domestik dan publik, saya selalu berusaha agar urusan rumah tangga saya tertata baik. Dengan demikian saya berusaha memiliki sistem yang bisa memudahkan ranah domestik saya. Di Indonesia, saya punya sistem pendukung bernama mbak, mamah, emak, yangti, nyai,  om supir, gojek, dll, hehe.  Di negara lain yang tidak mengenal embak, saya serahkan sistem tersebut kepada negara; sekolah gratis, kesehatan gratis, keamanan yang terjaga, dll. Ketika urusan rumah sudah ditangani sistem yang baik, maka saya percaya bisa melakukan banyak hal lain di ranah publik. 

Jadi apa alasan kamu memilih kuliah di negara tertentu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s