Feminisme

Saya banyak mendengar dan membaca hal-hal terkait diskursus feminisme. Dalam sekejap, feminisme selalu menimbulkan stereotipe negatif setiap saya mendengar atau membacanya. Padahal jika dibaca definisinya feminisme justru berniat membantu wanita agar dapat terpenuhi hak-haknya berdasarkan kesetaraan gender. 

Lalu salahnya dimana ya, kenapa saya takut terhadap konsep feminisme? Dan kenapa juga konsep ini terasa jauh tak terjangkau, tidak ada aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari? 

Salahnya ada di saya, sepertinya. Saya yang salah membaca. Yang saya baca, kebanyakan konsep feminisme yang sudah dituangkan dalam gerakan politik, kadang tercampur baur dengan agama.  Kalau merujuk wikipedia, “Feminisme adalah sebuah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, ekonomi, budaya, ruang pribadi dan ruang publik.”

Jadi ketika saya berkata saya ingin sekolah, sama seperti teman-teman saya yang cowo sekolah; maka saya adalah feminis. Ketika ayah saya membantu ibu saya memasak di dapur, agar ibu punya waktu luang untuk les komputer; maka ayah saya adalah feminis. Ketika suami saya memberi uang saku kepada anak perempuan saya dengan jumlah yang sama dengan anak lelaki saya, maka suami saya adalah feminis. Karena mereka semua, memperjuangkan kesetaraan.

Dirunut dari diskursus ini, maka menjadi feminis tidak harus selalu perempuan. Kaum lelaki juga bisa menjadi feminis. Bukan dalam artian lantas menjadi justifikasi kaum lelaki untuk ngondek, melainkan bahwa kaum lelaki juga bisa loh membuat wanita mencapai hak-hak mereka.

Lalu blurrynya dimana ya? Blurrynya menurut saya, ketika para feminis menuntut haknya tanpa memperhatikan kewajibannya dan juga melanggar hak orang lain. Dalam kehidupan nyata, sangat mungkin ketika hak kita terpenuhi, membuat hak orang lain tidak terpenuhi. Misalnya seperti saya, ketika saya mengejar hak saya untuk sekolah lagi, terus terang saya mengurangi hak anak saya untuk mendapat waktu bersama saya. Sebelum perkuliahan saya dimulai, saya punya waktu untuk menemani mereka bermain dan belajar sejak mereka pulang sekolah sampai tidur malam. Namun ketika perkuliahan saya sudah dimulai, wogh boro-boro ngajarin mereka belajar, baca buku penghubung mereka saja kadang saya lupa. Sampai gurunya memberi note: “Rayhan, please ask an adult to sign your book.” Duh. ~~~ sampe sini dulu, belom pengen cerita bagaimana cara saya memitigasi keadaan ini agar semua pihak tetap terpenuhi haknya. Itu akan jadi kajian tersendiri kolom PhD Mama 😜.

Hal yang sama dengan konsep my life my body. Yang kadang seterbaca/dengar/lihat-nya saya, sering dipakai sebagai justifikasi wanita untuk menggunakan hal yang mereka suka atau nyaman, misalnya pakaian. Sekali lagi, menurut saya tidak ada yang salah dengan konsep ini. Wanita boleh memakai apapun yang mereka suka dan sesuai dengan kepribadian mereka. Tapi, ada tapinya. Janganlah sampai kita menuntut hak kita, sekaligus di sisi lain merugikan pihak lain.

Yang sering jadi perdebatan dan bikin blurry bagi saya pribadi, ketika ada gerakan wanita muslim tidak wajib memakai jilbab atas dasar feminisme, tidak ingin teropresi oleh agama. Ini sungguh kutak paham. Kalau memang ga mau pake jilbab, ya udah ga usah pake. Tapi ga usahlah cari-cari dalil tipis bahwa jilbab tidak diwajibkan bla bla. Apalagi sampai membuat seolah-seolah wanita berjilbab sebagai wanita yang dalam paksaan pihak lain. Ingat, ada hak dan ada kewajiban. Jika ingin memenuhi hakmu tidak pakai jilbab, monggo. Tapi janganlah sampai mengganggu orang lain yang melihat jilbab sebagai kewajiban. Duh apalagi kalo yang ngomong orang di luar agama tersebut. Rasanya pengen gue pites kepalanya.

Apakah terpaksa? Yaelah apa-apa juga perlu dipaksa hingga titik tertentu. Kalau emak-bapak saya ga maksa saya untuk sekolah, mungkin saya sudah menjadi anak putus sekolah sejak kelas 4 SD. Maka lihatlah juga demikian mengenai orangtua yang melatih anaknya berjilbab. Mereka mendidik, menanamkan prinsip yang diyakini ketika si anak belum tahu mana yang baik/benar/pantas/salah menurut komunitasnya.

Yakale anak kecil pas brojol langsung tau gimana cara makan yang baik dan benar. Enggak kan, harus diajari dulu. Dan bertahap. Pertama tata cara makan yang baik menurut komunitasnya, mungkin saat itu makan yang baik jika pakai tangan kosong. Beranjak besar, si anak melihat dunia yang lebih luas, ada teknologi bernama sendok, garpu, sumpit, pisau steak. Ntar besaran lagi ikut John Robert Power biar paham etika jamuan bisnis. Terus demikian pengetahuannya berkembang, sesuai pertumbuhan kognitif. Hingga si anak tahu mana yang pantas dia adopsi untuk situasi tertentu.

Sama dengan jilbab, Jika kelak si anak sudah memiliki kemampuan pikir komprehensif dan merasa tidak nyaman memakai jilbab, di sanalah letak gerakan feminisme, si anak bisa memilih untuk melepas jilbabnya/tidak. Tentu anak tersebut akan sudah punya pemahaman (nyaris) menyeluruh mengenai konsekuensi tindakannya. Kenapa saya bilang nyaris, ya iyalah karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Kita ga pernah tahu ada variabel lain yang tidak dipertimbangkan oleh akal pikir kita yang IQnya juga kadang lemah tapi belagak pintar perkasa pemilik dunia. Duh, muggle.

Itu tentang jilbab. Lalu apa lagi ya, yang kadang membuat saya blurry dengan konsep feminisme? Kapan-kapan saya tulis lagi ya, kalau sudah ingat.

Regards,

Dian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s