Hidup

Dua hari lalu saya merayakan Idul fitri. Hari raya yang membuat saya banyak tercenung namun juga tumbuh harapan. Tercenung karena biasanya menjelang hari raya, kedekatan dengan keluarga terasa semakin erat. Banyak kabar tentang keluarga yang terkadang membuat kaget: Sepupu saya A meninggal, Keponakan saya B sudah masuk universitas, Uwak saya menikah lagi di usia 60 tahun, dll, dst. Sungguh saya tercenung, betapa manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi padanya satu detik ke depan. Semua bisa terjadi. Siapa yang menyangka sepupu saya akan sakit, salah diagnosa, salah obat, yang kemudian membuatnya meninggalkan dunia ini tiga hari kemudian. Pilu. Atau uwak saya yang digadang-gadang sebagai perawan tua ternyata menemukan jodohnya pada usia 60 tahun. Hanya Allah yang tahu.

Selain kebingungan, harapan juga timbul. Jika yang sehat tiba-tiba sakit, maka sangat mungkin Allah memberi yang sakit tiba-tiba sehat. Semoga saya segera diberi kesehatan kembali. Aamiiin.
Idul fitri kali ini, saya menangis sesegukan di tempat sholat. Entah mengapa. Mungkin karena terlalu bahagia bisa sholat di lapangan dengan suara takbir yang keras (ingat, konteksnya UK dimana muslim adalah minoritas). Mungkin juga karena teringat ayah dan emak. Bisa jadi juga karena capek aja sih, dan PMS, hehe. 

Entahlah, Idul fitri ini rasanya campur aduk. Ingin rasanya duduk diam sejenak, jauh dari hiruk pikuk. Bertanya dalam diri, apa yang sudah terjadi setahun ini. Adakah diri menjadi lebih baik? Adakah diri memenuhi kodrat sebagai rahmat bagi semesta? 
Wallahualam.

Sheffield, 27 Juni 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s