IELTS atau TOEFL?

Beberapa rekan yang hendak meneruskan studinya ke jenjang pascasarjana bertanya; Aku enaknya tes IELTS atau TOEFL ya?

 

Saya biasanya menjawab:

Rencananya mau nerusin kemana? Beasiswanya apa?

 

Tes kemampuan bahasa asing biasanya menjadi syarat untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pascasarjana. Tes kemampuan bahasa asing ini bisa menjadi syarat dari universitas tujuan, dan juga bisa menjadi syarat beasiswa – jika melanjutkan studi pascasarjananya berencana disponsori beasiswa bukan dari orangtua.

Jika memiliki keuangan dan waktu yang berlimpah, tidak akan jadi masalah untuk mencoba semua tes kemampuan bahasa asing yang ada. Namun lebih seringnya sih, kita punya keterbatasan keuangan dan atau waktu. Jadi sebagai langkah pertama, mari pelan-pelan direnungkan hendak melanjutkan sekolah kemana.

 

1. Universitas dalam negeri 

Universitas dalam negeri  biasanya mensyaratkan nilai tes TOEFL ITP (Institutional Testing Program) untuk mendaftar di program pascasarjana. Pelaksanaan tes TOEFL ITP ada di berbagai lembaga pendidikan, semisal universitas  dan tempat les bahasa Inggris seperti EF dan LIA. TOEFL ITP biasanya berlaku lokal, umumnya di Indonesia saja. Jarang bisa digunakan untuk mendaftar di universitas luar negeri. Biaya tes sekitar Rp 350.000,-

Namun ada juga universitas dalam negeri yang menguji sendiri calon mahasiswanya, tidak menggunakan TOEFL ITP. Misalnya UGM yang menggunakan tes AcEPT untuk menilai kemampuan bahasa inggris calon mahasiswa.

Untuk itu cermati baik-baik persyaratan universitas mengenai nilai kemampuan bahasa. Kan sayang tuh kalau sudah bayar dan meluangkan waktu untuk tes TOEFL ITP, ternyata tidak terpakai karena universitasnya punya alat uji sendiri.

 

2. Universitas luar negeri

Tes bahasa untuk syarat kuliah di luar negeri akan sangat beragam, tergantung universitasnya apa dan di negara mana. Sebagai contoh, universitas di Amerika biasanya akan meminta hasil tes TOEFL iBT (Internet Based Test), sementara universitas di Inggris akan meminta hasil tes IELTS. Negara lain semisal Prancis atau Jepang, mungkin tidak akan meminta hasil tes bahasa Inggris melainkan hasil tes bahasa Prancis atau Jepang.

Maka setelah menentukan hendak bersekolah di negara mana, dan mengintip syarat bahasa yang harus dipenuhi di universitas tujuan, langkah kedua menentukan tes bahasa asing yang hendak diambil adalah:

Mengintip syarat visa negara tersebut

Ya, karena bisa jadi untuk mengajukan visa di negara tujuan studi ada syarat bahasa yang harus dipenuhi.

Misalnya, tahun 2014 ketika saya mengajukan visa ke Inggris belum ada syarat kemampuan tes bahasa. Namun kampus tujuan saya mensyaratkan nilai IELTS. Maka pada tahun 2014  saya melakukan tes IELTS di IALF. Pada tahun 2016 saya kembali lagi ke Inggris dan mengajukan visa lagi, ada peraturan baru mengenai syarat kemampuan bahasa: Jika kemampuan bahasa belum diasses (dinilai) oleh universitas, maka aplikan visa UK harus menunjukkan hasil tes IELTS yang diselenggarakan oleh IDP atau British Council. Lalu saya cek ke web kampus tujuan, tidak ada perintah spesifik mengenai penyelenggara tes IELTS yang harus dipilih.

Penyelenggara resmi tes IELTS di Indonesia ada tiga, yaitu British Council, IDP dan IALF. Dulu saya pilih tes di IALF karena gedungnya lebih bagus ketimbang gedung IDP, hehe (cetek sih). Namun dengan keluarnya peraturan baru dari kedutaan Inggris mengenai visa, akhirnya saya memutuskan untuk tes lagi di IDP, walaupun hasil tes saya dari IALF masih berlaku (hasil tes IELTS berlaku untuk dua tahun) dan pihak universitas tidak mensyaratkan penyelenggara tes tertentu. Saya waktu itu hanya berjaga-jaga. Karena peraturan mengenai visa cepat dan sering sekali berubah. Makanya saya main aman saja, ikut aturan terbaru dan yang lebih tinggi (peraturan kedutaan menurut saya lebih tinggi ketimbang peraturan universitas).

Lalu hasil tes IELTS keluaran IALF ga bisa dipakai dong? Bisa, untuk apply sekolah di UK dan utamanya Australia (karena IALF adalah lembaga Indonesia – Australia). Tapi jika nanti diterima di universitas di UK, maka harus tes IELTS lagi dong untuk visa, yang versi IDP atau British council. Males ya, dan biayanya juga cukup besar $205 untuk satu kali tes IELTS. Maka dari itu, kukuhkan hati hendak mendaftar di negara mana, universitas mana, dan pastikan sejalan dengan persyaratan visa negara tersebut.

 

3. Syarat Institusi Pemberi Beasiswa

Syarat beasiswa juga termasuk faktor yang menjadi pertimbangan dalam memilih tes bahasa. Syarat beasiswa DIKTI (Sekarang menjadi BUDI) tentu berbeda dengan syarat beasiswa Australia award, Fulbright, Chevening dan beragam beasiswa lainnya. Maka dari itu, pertimbangkan untuk mengambil tes bahasa yang diterima oleh semua beasiswa (Eh ada ga ya, hehe). Atau setidaknya yang paling sering disyaratkan oleh beasiswa.

Kalau beasiswanya mensyaratkan TOEFL iBT, ya udah sih jangan ngotot tes TOEFL ITP. Sayang waktu dan uangnya. Kecuali kalau niatnya untuk pemanasan sebelum tes TOEFL iBT.

 

4. TIPS yang lebih penting: 

Jangan pernah tergoda untuk curang, mau ditawari oknum untuk mendapat hasil tes yang lebih tinggi dari kemampuan diri sebenarnya. Jangan ya. Percayalah, setiap lembaga pendidikan dan beasiswa biasanya punya akses langsung ke database penyelenggara tes bahasa. Jadi dengan sekedip mata, meskipun blanko nilai tes IELTS atau TOEFLnya asli bisa segera ketahuan jika nilainya palsu atau markup.

 

————-

Demikianlah sedikit berbagi mengenai tes bahasa untuk studi pascasarjana. Semoga berhasil yaa.

 

Hwaiting!

 

-Dian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s