Hak privat VS Komunitas

Dear Widi,

Kemarin pukul 1 dini hari GMT, seperti biasa aku terbangun. Ritualnya seperti biasa: pipis, main candycrush soda, lalu buka twiter untuk dapat highlight mengenai apa yang terjadi di tanah air. Halah, lewat twitter 😀

 

Ada convo yang menarik perhatianku, karena ada Rido di sana. Iya, karena Rido itu satu-satunya cowo gahar di timelineku yang bisa bahas korea sembari maskeran, sekaligus juga membahas gimana caranya membesarkan sesuatu pakai batere. Hehehe. Saat itu aku belum perhatian pada siapa partner convonya. Aku cuma tertarik pada kata-kata “belum masalah bahwa pakaian itu ranah privat.” Kenapa lagi nih Rido, apa ada napinya yang kena sexual harrasment. Kemudian aku tarik ke atas convonya, ternyata membahas foto mengenai pria yang mempermasalahkan celana robek2 seorang pelajar wanita. Pelajar itu menggunakan jilbab.

 

Aku tidak tertarik dengan isu public shamingnya, juga awalnya ga tahu siapa pria tersebut, tapi saat itu aku berasumsi pasti dia pria penting karena fotonya jadi viral. Aku hanya concern ke  “pakaian ranah privat” dan kulihat pelajar tersebut menggunakan jilbab, Rido juga adalah islam, maka aku berani berkomentar. Merasa bahwa ini adalah percakapan hari-hari yang biasa banget bagi aku (dan mungkin muslim lainnya) ngeliat anak kecil bandel pake jilbab ga rapih, ga sesuai yang diajarin. Fenomenanya mirip kaya anak kecil pake rok sekolah kependekan, atau yang cowo pake celana sekolah bolong-bolong, pasti emaknya dan gurunya akan nyap-nyap ngomel. Sesimpel itu awalnya.

 

Aku khilaf, mixed-up mengasumsikan Widi, partner convo Rido adalah muslim, sama seperti Rido. Aku tahu Widi, sebagai dokter karena dulu pernah korespondensi  mengenai tulisan yang berhubungan dengan penyakit teman. Namun aku tidak banyak tahu mengenai hal-hal pribadi Widi seperti agama. Hal ini akan jadi krusial, karena ketika aku berasumsi lawan bicaraku muslim, maka yang aku tweet kuasumsikan akan satu frekuensi, tidak perlu penjelasan panjang karena aku berasumsi basic knowledgenya (mengenai kajian jilbab) sudah sama.

 

Aku juga semaksimal mungkin berusaha ga diskusi tentang agama dengan rekan yang berbeda agama. Kecuali kalau rekan tersebut memang menunjukkan ketertarikannya pada agamaku. Karena ilmuku ga cukup. Takutnya malah cuma debat kusir, sementara agamaku meminta untuk meninggalkan debat.
Tapi aku tulis postingan ini deh, untuk mengklarifikasi.

 

Kemarin aku mereply bahwa pakaian pelajar tersebut kurang tepat. Kalau pakai jilbab pakailah sesuai tuntunannya. Hal ini aku tuliskan dengan asumsi yang aku sebutkan di atas, bahwa kedua orang yang aku mensyen tersebut adalah muslim. Sehingga tidak perlu penjelasan mengapa pakaian tersebut kurang tepat, karena muslim biasanya sudah tahu mengenai batas aurat bagi wanita maupun pria. Kembali lagi ke fenomena awal, sama seperti guru yang gerah kalo anak muridnya pake seragam ga rapih. Atas baju pramuka, bawah seragam abu-abu. Ga mecing. Bisa memicu sanksi push-up dari gurunya.

 

Aku juga menulis tweet ke dua bahwa kalau pelajar tersebut tidak memakai jilbab, maka pakaiannya bisa masuk dalam ranah privat. Namun ketika dia menggunakan jilbab, maka ada tuntunan yang harus dipenuhi. Sama seperti pakai seragam sekolah, pasti ada tatacaranya dong, suka atau enggak suka. Kalo pas ga di sekolah, ga pake seragam sekolah sih, suka-suka aja. Mau pake celana bolong, baju ketek, dan lain-lain. Bisa jadi memicu komplain tapi tidak lagi dari guru melainkan dari orang rumah atau pacar. Sesimpel itu.

 

Tweet ke dua masih dengan asumsi bahwa yang aku mensyen adalah sesama muslim, yang sudah tahu bahwa ada tuntunan tersendiri mengenai cara menutup aurat untuk wanita, bahwa paha termasuk yang harus ditutup bagi wanita. Hal yang tidak perlu diperdebatkan. Sama seperti kenapa anak sma harus pake putih abu-abu, anak smp putih biru. Ya udah emang begitu, common knowledge, suka ya pake, ga suka ya cari sekolah yang ga pake seragam atau warna seragamnya beda.

 

Sekali lagi aku ingin menekankan bahwa dua tweet tersebut bukanlah merujuk pada kajian spesifik mengenai islam dan jilbab. Ilmuku ga cukup untuk bicara ke sana, aku cuma tahu common knowledgenya, hukum-hukum dasarnya.

 

Yang aku ingin highlight, sekali lagi adalah: bahwa jika ada simbol-simbol komunitas tertentu dalam pakaian , maka seseorang kehilangan hak privat atas pakaiannya. Dia harus menanggung kewajiban-kewajiban komunitas yang melekat pada pakaian tersebut. Misalnya tata cara berpakaian yang baik dan benar versi komunitas tersebut. Toh tweet awal Rido dan Widi yang aku scroll ke atas juga ga bicara tentang agama, melainkan bicara tentang public shaming dan hak privat berpakaian.

 

Salahnya adalah asumsi-asumsi bahwa lawan bicaraku memiliki keyakinan agama yang sama denganku. Di sinilah chaos dimulai, hehe.

 

Aku mulai sadar kalau ada yang yang ga pas, ketika Widi menjawab bahwa agama adalah ranah privat. Aku langsung klik, mungkin ada yang missed. Aku kan ga bahas itu. Karena biasanya jawaban sesama rekan muslim tidak akan begitu, biasanya diskusi akan berkembang ke arah misalkan pola asuh, pola budaya, dll, penyebab kenapa pelajar tersebut berpakaian seperti itu. Biasanya kami akan lebih membahas faktor2 di sekeliling situasi pakaian pelajar tersebut.

 

Sekali lagi, saat itulah aku baru klik – bahwa Widi sepertinya bukan muslim. Dan karena niat awalku ngetwit adalah untuk bilang bahwa pakaian itu bukan ranah privat kalau mengandung unsur-unsur atau simbol komunitas tertentu, maka aku mencoba memperbaikinya. Aku membuat tweet yang agak panjang, yang menjauhkan bahasan dari sisi agama. Toh sejak awal bukan sisi agama yang hendak aku bahas, kebetulan aja mbaknya pakai jilbab.

 

Balasanku seperti ini:

 

Aku mengubah kata agama menjadi komunitas. Aku melihat premisku mengenai hak privat vs komunitas, relevan untuk komunitas apapun secara umum, tidak harus agama. Statement awalku dan statement akhirku konsisten tentang ranah privat dan komunitas, bukan spesifik agama. Sekali lagi, kebetulan saja yang difoto itu mbaknya pake jilbab.

 

Kalo mbaknya misalnya pake seragam Bank Mandiri (cuma contoh ya, karena aku tahunya code of conduct seragam Mandiri, sama seperti aku tahunya hukum menutup aurat, biasanya aku berkomentar untuk hal-hal yang aku tahu) maka tweet aku yang awal-awal akan berbunyi:


Kalau pakai seragam Mandiri, pakailah sesuai tuntunannya. 


Kalau dia ga pake seragam/atribut Bank Mandiri, pakaian adalah ranah privat. Kalau sudah ada tuntunannya maka sesuaikan. 


Untuk menjauhkan bahasan ini dari ranah agama, aku juga membuat contoh pakaian jas dokter, karena dokter ketika pakai jas dokter akan sangat mudah dikenali di ruang publik. Ketika seseorang pakai jas putih, pasti persepsi dokter akan langsung muncul. Dan aku pakai  contoh jas dokter juga karena menurutku ini contoh yang paling dekat dengan profesi Widi. Aku juga sengaja mengambil titik paling ekstrem dengan mengatakan akan jadi masalah jika hanya memakai beha dan celana dalam dan jas dokter yang ada logo IDI atau RS (maksudnya untuk menunjukkan bahwa selain jas putihnya adalah simbol komunitas yang kuat sebagai dokter, juga ada logo komunitas lain yaitu RS tempat bekerja).

 

Jika membaca contoh tersebut, harusnya sudah cukup menggambarkan ya. Bahwa dari sisi etis, jika situasi ekstrim tersebut benar terjadi dan ketahuan oleh RS atau sesama rekan dokter, akan timbul guncangan-guncangan. Karena aku yakin banget penggunaan jas dokter juga tidak boleh sembarangan. Ada code of conductnya. Jika tidak melekat pada profesi dokternya, mungkin code of conduct melekat pada institusi yang menaunginya, rumah sakit misalnya.

 

Contoh lain: Dulu kantorku di Bank Mandiri, pegawainya harus pakai seragam. Pakai seragamnya juga ga sembarangan, ada tata caranya. Misalnya hari apa pakai seragam warna apa. Berapa centi tinggi rok dari lutut, dst, dll. Melengkapi ketentuan seragam tersebut juga ada ketentuan mengenai aksesoris, seperti berapa titik bisa ada aksesoris. Juga sepatu harus berapa cm. Itu diatur. Termasuk perilaku yang melekat ketika pegawainya menggunakan seragam tersebut. Waktu awal-awal aku bekerja sempat ada ketentuan bahwa seragam kantor tidak boleh dipakai di transportasi publik, juga makan di emperan jalan (sekarang ketentuannya sudah tidak berlaku). Demikian tempatku dulu bekerja menjaga citranya dengan cara menjaga penggunaan simbol-simbol perusahaan seperti seragam.

 

Juga pernah ada pegawai yang diskors karena fotonya sedang menggunakan seragam bank Mandiri masuk koran lokal sebagai yang ikut tertangkap di penggerebekan narkoba. Pegawai tersebut tidak menggunakan narkoba, dia lepas dari sanksi hukum. Namun dia terkena sanksi dari komunitasnya -tempat dia bekerja. Apes. Bahwa pegawai tersebut masuk koran untuk berita kurang baik, ketika menggunakan pakaian yang mengandung simbol komunitasnya – seragam kantor, itu dianggap sudah menyalahi aturan  code of ethic kantor kami. Disgrace to our corporate image.

 

Demikian maksud aku, sekali lagi untuk menekankan bahwa pakaian bukan lagi ranah privat ketika dia mengandung logo komunitas, apapun komunitasnya. Cara mengunakan pakaiannya, cara bersikapnya ketika menggunakan pakaian tersebut, akan lekat pada hukum formal/non formal yang berlaku di komunitas. Aku ga melihat hal ini sebagai hal yang spesifik agama.
Tapi kemudian bahasannya Widi masih tetap tentang agama, hehe.

 

Widi membahas tentang perdebatan jilbab itu wajib atau tidak, Widi juga membahas seseorang itu memakai jilbab karena paksaan atau tidak, Juga mengenai apakah agama akan guncang karena ada umatnya yang ga taat.

 

Ga Wid, aku ga suka bahas itu. Ilmuku ga cukup. Suatu hari, aku pernah ikut pengajian wanita di Leeds. Aku bertanya tentang suatu hal, yang aku tahu ustadzahku punya kapasitas untuk menjawab karena dia PhD lulusan ilmu alQuran, juga dosen di University of Leeds. Namun karena topiknya sensitif maka dia berkata: akan aku diskusikan dulu dengan Ustad Raam (Imam mesjid Leeds Grand Mosque). Demikian humblenya beliau. Maka apalah aku untuk bisa menanggapi jawaban kamu. Aku memilih dianm dong. Kalau kamu memang membutuhkan jawaban untuk pertanyaan tersebut, mungkin aku bisa ajak kamu janjian dengan temanku untuk main bareng ke Mesjid Al-Azhar, tiap Rabu malam ada kajian di sana. Kamu bisa bertanya pada ahlinya. Bertanya ya, untuk menemukan jawaban. Bukan sekedar berdebat untuk mengklarifikasi bahwa jawabanmu adalah yang paling benar. Atau bisa juga kamu tanyakan pada pemuka agama lain yang kamu kenal. Banyak jalan untuk belajar, tapi debat melalui sosial media sepertinya bukan sarana belajar yang terlalu baik.

 

Awalnya setelah aku reply dengan jawaban yang agak panjang, aku sempat berharap kita akan diskusi apakah dalam dunia yang Widi biasa bersingungan, ada sanksi yang sama jika pakai pakaian (dalam hal ini jas doker) tidak sesuai code of conduct yang ada? Tapi hal tersebut tidak dibahas. Kan jadi sedih hahaha.

 

Aku berharapnya diskusi kita juga akan membahas: kenapa ada negara yang tetap loose pada warga-warganya yang menggunakan simbol komunitasnya. Misalnya kenapa di Inggris kita bisa pake bendera Inggris sebagai alas piknik atau motif bikini, tapi di Indonesia sepertinya ga boleh deh, bisa dituduh subversif.

 

Maka kita bisa diskusi mengenai fenomena tersebut dari sudut pandang Institutional theory tentang hukum formal dan non formal di suatu masyarakat; kita bisa bahas kerangka penelitiannya Hofstede tentang karakteristik negara individual dan kolektif; kita bisa bahas signalling theory tentang bagaimana seseorang berpakaian dan berprilaku agar bisa diidentifikasi sebagai bagian dari komunitas. Dan beberapa hal menarik lainnya. Kita bisa berdiskusi ke arah itu loh, karena twit awalnya Widi kan tentang public shaming dan pakaian sebagai ranah privat. Ga bahas agama. Karena aku sadar, keyakinan kita beda. Susah untuk ketemu.

 

Tapi karena bahasannya jadi agama, maka aku diam. Tidak meneruskan diskusi.

 

Lalu aku dimensyen lagi, ada tautan artikel yang Widi tulis. Tadinya udah semangat, siapa tahu ada bahasan baru. Ternyata masih sama, tentang intepretasi agama, tentang agama menekan hak privat. Duh. Sudahlah.

 

Masing-masing orang memiliki hal yang hendak diperjuangkan. Mungkin Widi saat ini sedang melakukan advokasi bahwa agama itu ga penting, yang penting percaya Tuhan. Demikian yang aku tangkap. Aku cuma bisa bilang, itu hak Widi. Aku cuma ingin memagari satu hal: Jika ingin membela sesuatu, tidak usahlah menjelekkan yang lain. Aku menghargai pendapat Widi bahwa mungkin agama tidak penting. Namun tidak perlu dijelekkan.

 

Bahwa agama sumber perpecahan dan lain-lain, percayalah ilmu kita masih sedikiiit banget untuk bisa menjustifikasi hal tersebut 🙂

 

Cheers,

Dian

Advertisements

3 thoughts on “Hak privat VS Komunitas

  1. Huhah..
    Ulasannya dalem dan menarik nih, Kak.
    Untuk menanggapi hal yang kita tidak tahu memang sebaiknya adalah diam.
    Dari pada jatuhnya sok tahu, dan ujungnya hanya untuk menjustifikasi.

  2. Thats why i no nanggepin ginian in twitter. #RIPEnglish

    Yang kayak gini banyak sih di twitter. Tapi lebih ke apa ya namanya… Preferensi yang beda. Halah.

    Tapi soal jilbab ini menarik, apakah Jilbab hanya simbol komunitas muslim saja, atau jangan-jangan ada komunitas yang membolehkan berjilbab dan celana robek-robek? Mungkin mereka bukan muslim tapi ajaran agama baru yang banyak orang belum tahu. Termasuk saya. (Emang ada ya?) 😀

    Haha abaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s