Bertemu Dokter Part 1

Taraaaam bertemu lagi dengan Diary MS. Nampaknya ini adalah tulisan pertama saya semenjak pindahan ke Inggris. Bertemu dokternya saya bagi dua postingan ya, soale agak banyak ceritanya. Bagian pertama akan berisi mengenai pertemuan saya dengan dokter umum. Bagian dua akan berisi pertemuan dengan dokter spesialis.

Hampir mirip dengan BPJS di Indonesia, sistem kesehatan di Inggris bernama NHS (National Health Service). Sistem kesehatan ini memfasilitasi penduduk Inggris untuk dapat mengakses jasa-jasa kesehatan di klinik NHS dan rumah sakit NHS secara gratis. Untuk imigran seperti saya, wajib membayar biaya premi kesehatan dengan sebutan IHS (Immigrant Health Surcharge) sebagai syarat pengajuan visa. Dengan membayar IHS maka saya juga bisa menikmati fasilitas NHS gratis seperti penduduk Inggris. Biaya IHS yang harus dibayarkan sebesar £150/tahun yang dibayarkan di awal aplikasi visa. Saya  mengajukan visa untuk kuliah berdurasi 4.5 tahun, maka IHS yang harus saya bayar sebesar £150×4.5=£675. Kira-kira sejumlah Rp 13.500.000.,-

Hampir mirip dengan BPJS, NHS juga menggunakan dasar domisili. Maka walaupun saya sudah tiba di Inggris sejak tanggal 20 September 2016, saya tidak bisa langsung mendaftar di NHS karena pada saat itu saya belum memiliki tempat tinggal tetap.

Pada tanggal 1 Oktober 2016, saya sudah punya surat kontrak rumah. Maka saya mendaftar ke klinik NHS dekat rumah, dengan membawa paspor dan surat kontrak rumah sebagai bukti bahwa saya bermukim di dekat klinik  dan eligible untuk menggunakan fasilitas kesehatan NHS. Klinik NHS semacam puskesmasnya Indonesia. Mereka menyediakan beberapa pelayanan kesehatan dasar seperti GP (general practitioner = dokter umum), nurse (di Inggris, perawat adalah profesi yang sakti. Kedudukannya setara dengan dokter, kapan2 saya cerita tentang nurse ini ya), periksa darah, fisioterapi, konsultasi psikologis, dan lainnya lupa hehe.

Ini penampakan Klinik NHS dekat rumah saya, namanya Upperthorpe Medical Center. Fotonya saya ambil dari Google streetview.

zest

Tampak depan dan halaman klinik

Ini penampakan dalam klinik:

image1

Ruang tunggu dan reception

image2

ada buku juga yang gratis dan yang dijual

Okay, kembali ke Multiple Sclerosis. Untuk bisa bertemu dokter spesialis syaraf, harus punya rujukan dari dokter umum (GP). Maka, saya bikin janjian untuk bertemu GP. Jangan kaget kalau antrian dokter di sini sangat panjang. Saya buat janji pada tanggal 1 Oktober, dapat jatah ketemunya adalah tanggal 11 Oktober. Panjang banget ya waiting listnya hehe. Yang di Indonesia berarti masih harus bersyukur karena bisa dengan mudah ketemu dokter.

Tanggal 11 Oktober 2016 akhirnya saya bertemu dokter umum. Saya ceritakan kalau saya terdiagnosis MS. Juga cerita mengenai asma yang tiba-tiba jadi kambuh banget semenjak pindah rumah. Kemudian dokter bertanya, apakah saya pernah menggunakan obat steroid. Yang saya jawab dengan iya. Methylpredsinolone untuk MS saya ketika kambuh, namun sudah saya tapper off ketika saya sudah mulai settle di rumah baru. (tapper off: dikurangi secara bertahap – pemakaian steroid tidak bisa berhenti tiba-tiba, harus dikurangi bertahap)

Kemudian Dokter (Dokter Atkinson, cewe dan cantik) berkata, mungkin asmanya sudah ada semenjak kamu tiba di Inggris karena perbedaan cuaca, tapi tersembunyikan oleh steroid untuk MS. Ketika berhenti pakai steroid, inflamasimu jadi semakin buruk, termasuk asmanya.

*Oke, jadi asma juga merupakan jenis penyakit autoimun. Jika tubuh mengalami alergi, maka imunitas tubuh membuat saluran nafas saya menebal (bengkak/inflamasi) agar tidak ada kuman yang masuk ke tubuh, efeknya jadi jalan nafasnya menyempit dan sesak nafas hehe. Steroid adalah obat yang fungsinya untuk menyembuhkan inflamasi dalam berbagai hal. Dari dokter Atkinson saya jadi tahu kalau steroid juga adalah obat asma. Obat asma di Inggris umumnya dua, spray biru unruk mengatasi serangan, cara kerjanya cepat. Jadi kalau di film-film lihat orang bengek trus nyemprotin inhaler trus sembuh, itu berarti dia pakai obat asma versi spray biru Inggris. Satu lagi spray coklat. Spray coklat berisi steroid, fungsinya tidak untuk mengatasi kekambuhan secara cepat, melainkan untuk mengobati inflamasi. Jadi spray coklat ini mengobati sumber sakitnya, sementara spray biru adalah pertolongan pertama.

Pertemuan saya dengan dokter Atkinson berakhir dengan dokter memberi resep dua spray tersebut, membuat janjian bertemu sebulan kemudian, membuatkan saya janji dengan nurse asthma, dan membuatkan saya janji dengan spesialis syaraf.

Tentang nurse asthma.

Saya dapat jadwal bertemu nurse asthma lima minggu setelah saya bertemu dokter Atkinson. Waw waiting list nurse asthma ini juga sangat panjang. Saat bertemu nurse asthma, saya diperiksa lebih menyeluruh mengenai gejala2 dan trigger asma. Saya juga diminta untuk meniup tube untuk melihat kekuatan hembusan nafas. Hasilnya, dibawah rata-rata. Hehe.

Nurse Rosalind (nama Nurse asthma) kemudian bertanya: Kamu jujur ya sama saya, sebenarnya kamu pakai ga spray brown-nya? berapa persen kamu memakainya? 50% atau kurang?

Terus saya cengengesan minta maaf. Alasan saya bahwa kalau pagi saya selalu pakai karena spray coklatnya ada di ruang makan, saya gunakan sesudah makan. Sementara jika malam saya jarang makan malam sehingga lupa. Kadang saya ingat ketika hendak tidur tapi terlalu malas untuk turun ke ruang makan dan memakai spray coklatnya.

Lalu suster Ros berkata: Baiklah saya resepkan satu lagi ya. Satu kamu taruh di ruang tidur, satu di ruang makan. tapi kamu jangan marah ya, saya bukannya nagging (cerewet/rewel), saya cuma ingin kamu sembuh.

Saya tertawa geli sembari say sorry karena sudah merepotkan dia. Sumpah saya ga enak banget rasanya tertangkap tangan kaya gitu hahaha.

Suster Ros kemudian berkata, kalau saya ga sendirian. Beberapa pasiennya punya tiga, untuk diletakkan di mobil. Okesip, gue bukan satu-satunya yang bandel.

Pertemuan dengan dokter umum dan nurse asthma, bisa saya katakan berhasil. Asma saya tidak kambuh lagi. Padahal sebelumnya tiap malam selalu kambuh dan tiap jalan menanjak juga. Alhamdulillah ya, ada hasilnya dicerewetin suster hehe.

Segini dulu ya, cerita mengenai bertemu dokternya. Besok Insya Allah saya update yang part 2.

Cheers,

Dian

Advertisements

One thought on “Bertemu Dokter Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s