Million Years Ago

I know I’m not the only one

Who regrets the things they’ve done

Sometimes I just feel it’s only me

Who can’t stand the reflection that they see


Angin malam berhembus kencang. Menimbulkan desir pada daun-daun bambu di sekelilingku. Jalanan desa ini masih sama seperti dua belas tahun lalu, tidak beraspal dan gelap. Dari kejauhan kulihat Pak Dukuh masih terjaga, duduk termenung di teras rumahnya. Ketika dekat, kulambaikan tanganku kepadanya. Namun beliau tidak membalas lambaianku. Mungkin dia terlalu larut dalam renungannya, sehingga tidak melihat aku lewat.

 

I feel like my life is flashing by

And all I can do is watch and cry

I miss the air, I miss my friends

I miss my mother…

Potongan lagu Adele berjudul Million years ago, bergema di kepalaku. Aku rindu Ibu. Rindu ketika hidup masih begitu mudah dan sederhana di desa ini. Itulah mengapa aku pulang, setelah hampir dua belas tahun tidak pernah kuinjakkan kaki di sini.

Aku melewati pos ronda. Pak Taruf dan Mas Yudhi sedang kebagian jaga. Mereka duduk berhadapan menekuni papan catur dan bidak-bidaknya. Dari seberang jalan kusapa mereka dengan selamat malam. Mereka sebentar mengangkat kepala dan melihat ke arahku, lalu kembali larut dalam permainan caturnya. Aku diabaikan. Mungkin suaraku kurang kencang sehingga tidak terdengar oleh mereka.

 

 When I walk around all of the streets

Where I grew up and found my feet

They can’t look me in the eye

It’s like they’re scared of me..

Beberapa langkah dari pos ronda, kulihat sekumpulan anak muda melantunkan lagu-lagu diiringi petikan gitar. Aku tidak mengenal mereka. Generasi yang lahir setelah aku meninggalkan desa ini untuk kuliah dan kemudian bekerja di perusahaan bonafid negeri ini. Aku rindu ketika hidup seindah petikan gitar yang mereka mainkan, walau hanya lagu sederhana dengan chord C Am Dm G. Lagu sendu yang dimainkan dalam malam yang larut, menghadirkan rasa damai. Membuatku lupa akan persaingan politik kantor, tekanan target, meeting-meeting panjang hingga larut malam. Mereka bilang, demikianlah langkah yang harus ditempuh jika ingin dilabeli sukses; kerja keras.

Hingga mati.

 

 To earn my stripes I’d have to pay
And bare my soul

Aku mendekati anak-anak muda itu. Ingin kunyanyikan sebuah lagu bersama mereka. Utamanya lagu yang belakangan ini sangat kusuka, Million years ago – Adele. Kusenandungkan laguku pelan-pelan ketika mereka sedang rehat memetik gitar. Mereka melihat ke arahku, lalu saling berpandangan dan membeku. Aku semakin semangat bernyanyi, mereka kelihatan tertarik pada nyanyianku.

 

Suaraku semakin keras dan terdengar menyayat hati. Anak-anak muda itu berlari menjauh. Berteriak. “Setaaaaaan… Kuntilanak….”

Tunggang langgang. Aku ditinggalkan oleh mereka. Sendirian.

 

 They can’t look me in the eye

It’s like they’re scared of me..

 

 

Aku kembali berjalan. Menuju rumah Ibu. Berharap Ibu bisa menatapku. Melihatku apa adanya, tanpa takut, meski aku sudah tak fana lagi. Dengan demikian akan hilang semua sesalku meninggalkan dunia ini mendahului ibu.

 

I wish I could live a little more

Look up to the sky not just the floor




– Sheffield, October 19 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s