Gejala MS

Hai,

Diary MS di sini. Hope this post find you well 🙂 

Sore tadi saya dapat WA dari Dokter Rocksy. Beliau adalah dokter spesialis syaraf yang menangani saya ketika periksa dan opname di RS Siloam Karawaci. Dokter Rocksy juga yang menegakkan diagnosa bahwa saya terkena Multiple Sclerosis (MS). Dokter Rocksy mengatakan bahwa sedang disusun buku mengenai “MS untuk awam”. Semacam versi lokal dari buku MS for dummies keluaran John Wiley. Saya diminta menjadi salah satu kontributor untuk buku tersebut.

Saya antusias sekali mendengar akan ada buku mengenai MS dalam konteks Indonesia – bukan sekedar terjemahan buku asing. Tantangan dan nature penderita MS di Indonesia pasti berbeda dengan penderita MS di negara lain. Misalnya di negara sub tropis atau di negara maju yang support systemnya sudah mapan. Saya pernah bercerita di post sebelumnya, bahwa saya ingin dan butuh sekali mendengar cerita dari pejuang MS di Indonesia mengenai bagaimana mereka bertahan dan menjalani aktivitas harian mereka. Bagaimana tips dan trik menghadapi udara panas Indonesia yang konon mencetuskan kekambuhan. Bagaimana potensi vaksinasi terhadap kekambuhan. Bagaimana dan apa obat yang dikonsumsi. Dan masih banyak lagi keingintahuan saya mengenai MS yang belum terjawab. Alhamdulillah akhirnya akan ada buku MS versi Indonesia. Semoga segera terbit dan mencerahkan para pejuang MS di tanah air.

Dokter Rocksy meminta saya untuk menulis mengenai gejala MS yang saya rasakan. Dengan senang hati, saya langsung mengiyakan, sambil berpikir bahwa saya tinggal comot edit dari blog ini. Perasaan, saya pernah menulis tentang gejala MS di blog ini. Eh ternyata hanya perasaan saya belaka. Setelah blogwalking di blog sendiri, saya baru sadar kalau belum pernah menulis mengenai gejala yang saya rasakan hingga akhirnya terdiagnosa MS.  Oh well, sebelum jadi bagian dari sebuah buku – saya share di sini dulu ya mengenai gejala MS yang saya alami.

Menurut saya, MS penyakit yang agak tricky. Kalau gejalanya tidak fatal, cenderung kita abaikan. Gejala yang fatal menurut Dokter Pinzon adalah jika pandangan menjadi kabur, atau jika terjadi kelumpuhan. Ih serem. Gejala-gejala MS juga memiliki kemiripan dengan beberapa penyakit lain semisal stroke, rabun jauh, lupus, dll. Tanpa tes yang tepat, mungkin akan sulit terdiagnosa sebagai MS. Dokter Pinzon (dokter spesialis syaraf saya di Jogja) pernah berkata: bisa jadi penderita MS di Indonesia adalah lebih dari 200 orang, tapi tidak terdiagnosa karena dikira penyakit lain. Selain gejalanya yang mirip penyakit lain, gejala yang dialami satu orang, bisa jadi berbeda dengan orang lainnya, tergantung bagian selubung syaraf mana yang diserang. Untuk itu MS juga disebut sebagai penyakit dengan seribu wajah. Serem.

Gejala awal yang saya rasakan dan membuat saya memutuskan untuk periksa ke dokter adalah rasa kebas (mati rasa) dan kesemutan pada satu sisi tubuh, yaitu sisi kiri. Awalnya saya mengira sebagai akibat posisi tidur yang salah. Namun sepanjang hari saya juga merasakan sakit dan rasa kesemutan di kepala. Ketika berjalan, rasanya gliyeng-gliyeng. Bahkan ketika naik tangga, saya harus merangkak karena rasa lemas dan keseimbangan tubuh yang kurang baik akibat gliyeng-gliyeng tersebut. Masih saya mengira hal tersebut tidak penting, saya berfikir mungkin hanya gejala pre menstruasi syndrom. Tapi ada satu lagi yang saya rasakan, yaitu rasa nyeri di leher. Rasa nyeri di leher ini cukup mengganggu yang membuat saya mengunjungi dokter spesialis setelah seminggu rasa sakit di leher tidak hilang.

Awalnya dokter memperkirakan ada syaraf terjepit di leher. Dokter meminta saya untuk melakukan MRI. Setelah hasil MRI keluar, ternyata bukan syaraf terjepit. Dokter meminta saya untuk melakukan MRI lagi di bagian otak. Dari beberapa lesi (luka) yang muncul di hasil MRI, dokter Pinzon mendiagnosa saya sebagai suspek MS. Saya dirujuk ke Siloam untuk melakukan MRI 3 tesla yang resolusinya lebih bagus. Hal ini dilakukan karena ada kondisi dan syarat-syarat yang harus ditemukan untuk mendiagnosa seseorang terkena MS. Salah satunya adalah ditemukan luka di beberapa tempat. Untuk itulah dibutuhkan MRI yang resolusinya bagus.

Demikian gejala MS yang saya rasakan di awal terdiagnosa. Sekarang juga kadang masih merasakn sakit kepala dan nyeri sendi. Tapi rasa sakitnya masih bisa saya tolerir. Jadi teman-teman, kalau ada rasa keram, kesemutan, sakit kepala dan penglihatan yang blurry, jangan dianggap enteng ya. Mungkin bagi wanita, kelihatannya seperti gejala PMS atau kurang darah. Padahal bisa jadi hal tersebut adalah gejala penyakit yang lain. 
Be aware 🙂

Cheers,

-dian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s