The Headrow: Pusat Kota Leeds

banner 30HKB

Leeds, nama kota di Inggris yang saya tinggali selama satu tahun terakhir. Memiliki penduduk yang kata mbah wiki mencapai 760.000 jiwa, Leeds menjadi kota terbesar ketiga di Inggris setelah London dan Birmingham. Bagi saya yang beragama Islam dan menggunakan jilbab, Leeds merupakan kota yang cukup bersahabat karena jumlah penduduk muslimnya cukup banyak, didominasi oleh ras British Asia seperti India dan Pakistan, serta negara muslim lain seperti Iran, Irak, Syria dan Eritria. Inggris memang nampaknya membuka pintu bagi para pendatang dari negara-negara perang. Mereka bisa tinggal (sementara) di Inggris dengan cara mengajukan visa asylum seeker. Dampak dari banyaknya penduduk muslim di Leeds adalah saya tidak kesulitan mencari makanan dan butcher halal.

Jika Jakarta memiliki luas sekitar 500kmsq, maka Leeds memiliki luas sekitar 600kmsq. Mirip – mirip lah yah. Jumlah penduduknya saja yang berbeda. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, jika Leeds berpenduduk sekitar 700ribu-an jiwa, maka Jakarta berpenduduk 11 juta jiwa. Mhmmmm….

Bagi saya Leeds adalah surga belanja. Harga-harga di Leeds tidak semahal di Manchester, Birmingham, apalagi London, karena kebanyakan penduduknya adalah pelajar/mahasiswa jadi para pedagangnya semacam menyesuaikan harga dengan daya beli mahasiswa hehe. Semacam kota Yogyakarta deh kalau di Indonesia, banyak pelajar dan serba murah. Selain harga-harga di Leeds relatif murah, disini segala barang dan merk adaaaa, sangat lengkap. Leeds punya pasar tradisional bernama Kirkgate market yang gedungnya sangat cantik. Buah-buahan, sayur mayur, daging semua ada di pasar ini. Selain itu Leeds juga punya the Headrow dan Trinity, pusat belanja dengan beragam merek terkenal bertebaran. Dan pppssstttnya lagi, disini kalau End season tuh harganya bener-bener bikin rakus apa-apa pengen dibeli. Mango, Zara, M&S, dll yang kalau harga biasa sehelai atasannya 20 pound (sekitar 400 ribu rupiah), kalau end season tiba sehelai celana jeans Mango atau Zara bisa seharga hanya 4 pound (80rb perak) sahaja, kadang malah 2 pound, bapak – bapak, ibu – ibu, kakak – adik!

Kirkgate Market - Pasar Tradisional Leeds

Kirkgate Market – Pasar Tradisional Leeds

Tentang pusat kota Leeds. Banyak yang bilang pusat kota Leeds ada di city square, sebuah taman di depan stasiun kereta api Leeds. Namun  saya lebih senang menyebut The Headrow sebagai pusat kota Leeds. The Headrow adalah nama sebuah jalan. Jalanan ini terbatas hanya untuk kendaraan umum dan pejalan kaki. Sehingga walau berada di tengah kota, The Headrow tidak pernah macet dan sangat pedestrian friendly. Disebelah kanan dan kiri The Headrow terdapat City Hall, Library & Art Gallery, toko – toko, cafe dan restoran lucu. Sangat hidup suasananya.  Jika waktu makan siang tiba, kita akan mudah menemukan pria-pria tampan berjas dan berdasi lengkap  menikamati lunch mereka (biasanya sandwich) di taman depan Leeds art gallery. Pada umumnya mas-mas ini berkantor di sekitar The Headrow dan Infimary street yang terkenal sebagai Legal center dan financial districtnya Leeds, semacam Wall street deh kalo di US.

Pelataran Leeds Library & Art Gallery. Jika waktu makan siang tiba dan cuaca cerah maka tangga dan rerumputan di depan gedung ini akan banyak terisi mas dan mbak kantoran yang makan siang piknik dengan koleganya

Pelataran Leeds Library & Art Gallery. Jika waktu makan siang tiba dan cuaca cerah maka tangga dan rerumputan di depan gedung ini akan banyak terisi mas dan mbak kantoran yang makan siang piknik dengan koleganya

Leeds City Hall

Leeds City Hall; Icon kota Leeds yang terletak di The Headrow

Belakangan saya sempat membaca di surat kabar kalau beberapa tahun ke depan, The Headrow akan ditinggalkan karena pembangunan mal di Leeds berjalan ke arah stasiun kereta. Beberapa pengamat tata kota menilai dalam waktu lima tahun ke depan The Headrow akan sepi. Saya sepertinya setuju sih, dengan adanya Mal Trinity, beberapa toko di The Headrow tutup dan pindah ke ke Trinity, hingga saat ini bangunan bekas toko-toko tersebut masih kosong. Nah tahun 2016 ini katanya akan segera dibuka satu mal besar lagi di dekat Trinity, namanya Victoria Quarter. Kebayang ya kalau semua toko pindah ke mol, jalanan The Headrow bisa beneran sepi gulana.

Hari Sabtu pukul 11 pagi, jalanan masih sepi nget-nget. Mungkin warganya belum sober dari dugem semalam

Parklane menuju The Headrow. Hari Sabtu pukul 11 pagi, jalanan masih sepi nget-nget. Mungkin warganya belum sober dari dugem semalam

Bagi saya yang pernah tinggal di beberapa kota di Indonesia dan sangat menikmati layanan belanja maupun wisata di Indonesia, terus terang saya agak gegar budaya ketika pindah di Leeds. Saat akhir pekan yang biasanya saya pakai untuk ke emol atau ke tempat wisata seperti dufan, JUSTRU SAAT AKHIR PEKAN MEREKA TUTUP CEPAT, sodara -sodara. Hiks.

Ketika di Indonesia, akhir pekan biasa saya gunakan untuk berbelanja atau berjalan-jalan. Mal di kota-kota besar di Indonesia yang saya tahu (saya pernah tinggal di Jakarta, Tangerang, Bandung, Jogja dan Semarang) akan buka lebih malam jika akhir pekan. Tak jarang ada midnight sale segala. Kalau di Leeds boro – boro ya. Hari sabtu atau minggu, jam 11 pagi biasanya saya sudah harus tawaf 3 kali cari parkir di Pondok Indah Mal karena parkirannya sudah penuh, nah kalau di Leeds jam 2 siang pun jalanannya masih sepi nget – nget -nget. Saya berasumsi karena warganya kebanyakan berubah jadi mahluk nokturnal pada saat weekend, pindah dari satu klub/pub ke klub/pub lainnya, lalu bangun siang (atau malah sore) banget di hari sabtu dan minggu. Mol di Leeds juga buka hanya hingga pukul 5 sore saat akhir pekan. Syedih banget kan.

Hari sabtu ada beberapa tenant yang buka hingga jam 8 malam, biasanya berupa supermarket seperti Aldi, Tesco, Sainsburry. Namun tenant yang bukan supermarket, fix jam 5 kurang seperempat udah ngusir2 pengunjungnya. Theme park, kebun binatang,maupun museum juga tutup lebih cepat saat akhir pekan. Demikian juga dengan kendaraan umum, kalau hari biasa jarak antar bis atau kereta sekitar tiap 10 menit atau kurang. Kalau akhir pekan, bisa satu jam sekali, kadang dua jam sekali. Jadi untuk mahluk yang ga ikutan dugem kaya saya (halah), akhir pekan adalah hari yang panjang yang setelah pukul  5 sore jadwalnya adalah nonton drama korea saja di rumah. Sebenarnya ada alternatif akhir pekan lain yang tidak terpengaruh percepatan jadwal buka tutup, tapi di postingan berikutnya ya.

The Headrow

The Headrow, pukul 11 pagi di hari Sabtu. Sepi gulana.

The Headrow dengan bangunan klasik di kiri - kanannya yang berfungsi sebagai pertokoan dan tempat makan

The Headrow dengan bangunan klasik di kiri – kanannya yang berfungsi sebagai pertokoan dan tempat makan. Siang pukul 1, tidak ada kemacetan sama sekali di ruas jalan ini.

Suatu pojokan di Leeds yang disebut sebagai pusat kota.

Suatu pojokan di Leeds yang disebut sebagai pusat kota – Leeds City Square.

Demikian sekilas tentang pusat Kota Leeds. Sampai bertemu di Postingan lain tentang Leeds.

Cheers,

Dian

Advertisements

8 thoughts on “The Headrow: Pusat Kota Leeds

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s