Ramadhan di Leeds

Hai, hallooo…..

*bersihin debu di tumpukan blog yang lama tak tersentuh 🙂

Ramadhan tiba, bulan suci bagi umat Islam di seluruh dunia. Tidak terkecuali di Leeds, kota ketiga terbesar di Inggris (setelah London dan Birmingham, kali ya? mbuh..), dengan penduduk muslim sebesar 3% dari total populasi penduduk Leeds.

Jika di Indonesia masih terjadi perdebatan tentang perlu tidaknya penutupan warung makan selama Ramadhan, maka kami di sini rasanya ingin mengundang kalian datang ke Leeds menggunakan pintu kemana saja, karena disini jangankan cuma warung makan, masuk supermarketpun kami biasanya langsung disambut tumpukan diskon bir dan sampagne, hehehe. Apakah hal tersebut menyurutkan puasa kami? Insya Allah tidak. Aamiin…

Okey lanjut…

Leeds terkenal dengan jumlah penduduk migrannya yang cukup besar (butuh citasi disini, tapi coba buka wikipedia aja deh, disana ada data statistiknya). Sebagian besar adalah Pakistan dan keturunannya, India, Khasmir, Iraq, Iran, dan Arab Saudi. Mereka datang sebagai mahasiswa, sebagian sebagai karyawan dengan working permit waktu terbatas, dan sebagian lagi adalah refugee dan asylum seeker (untuk negara- negara yang sedang perang seperti Iraq dan Syiria), sehingga sepertinya para imigran waktu tertentu ini tidak ikut terkena survey penduduk. Jika mereka juga terkena survey, saya rasa jumlah penduduk muslim di Leeds bisa mencapai 10% kali ya. Jumlah yang menurut saya cukup besar, mengingat porsi jumlah penduduk yang menyatakan ‘no religion’ sebesar 18%.

Impak dari banyaknya pendatang di Leeds adalah, Leeds tidak terlalu terasa seperti di Inggris. Saya bilang sih lebih seperti di timur tengah, apalagi karena saya tinggal di wilayah pemukiman muslim. Saya lebih sering mendengar orang – orang di sekeliling saya bicara bahasa Urdu atau Arab (sok tau deh gue, kaya bisa bedain aja Urdu dan Arab) ketimbang bahasa Inggris. Restoran di sekeliling saya banyak menjual makanan timur tengah seperti kebab, samosa, fried chicken, curry, dan semuanya dilabeli halal. Bahkan pizza di sini pun pasti ada varian kebab dan lamb. Kemudian sayur mayur dan rempah – rempah, kalau kamu rindu masakan Indonesia sangat mungkin untuk memasaknya di sini, karena sereh, daun pisang, tempe, tahu, lengkoas, cabe rawit, semua ada di Leeds. Kecuali kencur, saya belom pernah ketemu. Kalaupun ga suka ribet, tinggal ke toko Cina atau Thailand, di sana segala macam bumbu untuk rendang, opor, tomyam, sambel terasi, ada. Tinggal tuang, dan langsung berasa seperti menu lebaran. Daging halal juga hal yang mudah ditemui disini. Karena banyak sekali butcher halal yang pedagangnya dari pakistan atau kashmir. Alhamdulillah. Dan juga ya, para butcher halal ini pengertian sekali dengan selera jorok orang Indonesia yang senangnya terpapar kolesterol. Kalau tidak ada para butcher halal ini, yang namanya buntut, lidah sapi dan jeroan pasti hanya khayalan belaka karena bagian-bagian tersebut jarang dijual di supermarket atau butcher non halal. Tapi Alhamdulillah butcher halal ini menyediakan pilihan lengkap bagian daging sapi, dari kepala hingga kaki. Gule kikil? Sop buntut? Ceker ayam? Hayuk ajalah, ada.

Eh bentar, ini kan cerita tentang Ramadhan ya. Kenapa jadi banyakan cerita tentang makanan deh. Ugh.

Kembali ke Ramadhan.

Bagi saya, meskipun umat muslim di sini jumlahnya tidak mayoritas, Ramadhan di Leeds sama khusu’nya dengan Ramadhan di Indonesia. Di dekat rumah saya ada dua masjid besar, yaitu Leeds Grand Mosque (LGM) dan Leeds Makah Mosque (LMM). Di wilayah lain juga ada beberapa masjid lagi, juga islamic center. Insya Allah Ramadhan di Leeds masih terasa aura islaminya. Ramadhan tahun ini di Leeds, juga berarti Ramadhan dengan puasa selama 18 jam lamanya. Cukup panjang waktu berpuasanya, dibanding dengan lamanya berpuasa di Indonesia yang kurang lebih 12 jam. Puasa 18 jam di Leeds, dimulai sekitar pukul 3.25 – lalu berbuka puasa saat magrib tiba, yaitu sekitar pukul 21.40.  Sholat tarawih di LGM dimulai pukul 23. Kebanyakan orang (termasuk saya dan suami), memilih tidak tidur setelah tarawih karena jarak antara selesai tarawih dan waktu sahur sangat dekat. Kami khawatir kebablasan tidur tanpa sempat sahur hehe. Selesai shalat subuh barulah kami tidur. Begitupun dengan buka puasa bersama, biasanya langsung dilanjutkan dengan sahur bersama karena jarak antara berbuka puasa dan subuh yang cukup dekat.


*foto Leeds Grand Mosque

Warga Inggris sangat menjunjung privacy dan kenyamanan penduduknya. Termasuk perkara tidak boleh berisik ketika tiba waktu beristirahat. Dalam tes citizenship (tes yang dilakukan jika seseorang imigran ingin menjadi warga negara Inggris), terdapat pertanyaan seputar kehidupan bertetangga di Inggris, semisal ‘Jika anjing tetangga berisik dan menggangu tidur, maka kita bisa menelepon city council, dan biasanya saat itu juga polisi akan datang lalu mbuh kayanya anjingnya dibawa ke shelter atau gimana gitu,’ Jika tetangga party dengan desibel tidak waras, kita bisa telepon cicy council trus biasanya ga berapa lama polisi akan datang dan menyita alat musik kita.’ Jadi intinya ga boleh ganggu tetangga. Terus saya jadi keingetan debat kaset ngaji di Indonesia. Hihi..
Nah terkait menjaga kenyaman bertetangga tersebut, beberapa minggu sebelum Ramadhan, LGM menyebarkan undangan ke kotak pos warga yang tinggal di sekitar LGM. Kotak pos saya turut menerima undangan tersebut. LGM mengundang warga sekitar untuk urun rembug, bagaimana saran warga terhadap pelaksanaan ibadah selama Ramadhan, mengingat waktu berbuka dan tarawih sudah di atas jam 21, sudah masuk jam istirahat warga. Saya tidak hadir dalam rapat tersebut hehehe. Tapi memang ketika magrib dan tarawih tiba, jalan di sekitar LGM dalam radius 100 meter akan sangat penuh kendaraan parkir. Beberapa yang datang terburu-buru karena sudah terlambat sholat, kadang parkir sembarangan sehingga mungkin menutup jalan masuk warga. Mungkin hal seperti ini yang hendak diantisipasi LGM: ketertiban, keamanan dan polusi suara.

Selama Ramadhan banyak aktivitas keagamaan dilakukan di LGM. Sekolah Quran (diluar sekolah Quran rutin), sister circle, tajweed course, youth circle, dll. Bahkan sampai ada voluntary childcare untuk wanita-wanita yang ingin khusu’ beribadah di LGM, dan childcarenya gratis. Lumayan ya kalo mau ngaji atau berdiam di mesjid selama dua jam gitu, ada yang bisa dititipin untuk jaga anak hehehe.

Berbuka puasa di LGM juga berarti festival kebudayaan. Banyak sekali donasi makanan dari jamaah LGM. Sehingga setiap hari ada buka puasa bersama di LGM, untuk siapa saja yang ingin makan di sana. Menunya mengenyangkan, mulai dari cemilan hingga nasi briyani lengkap dengan ayam atau daging. Juga jus dan minuman lainnya. Siapa bilang Islam identik dengan kemiskinan? Disini terbukti orang islam sangat mampu untuk berbagi, mengenyangkan sesama umat muslimnya. Coba rata begini ya di semua negara dan semua bulan, ga cuma Ramadhan.

Shalat Tarawih di LGM dilakukan 8 rakaat, tidak ada kultum. Sehingga pukul 12 malam sholat tarawih jamaah biasanya sudah selesai. Ayat yang dibaca pendek-pendek, berbeda dengan sholat berjamaah Subuh yang biasanya membaca ayat Alquran lebih lama.

Mungkin demikian dahulu cerita tentang Ramadhan di Leeds, utamanya di LGM. See you.

jadwal ramadhan

Jadwal Ramadhan 1436H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s