Timehop, Path, Ed Sheeran dan Reta

Kalau ada orang yang berkata bahwa move-on adalah perkara mudah, pasti orang itu tidak hidup di jaman virtual storage seperti saat ini. Jaman ketika aku berusaha melupakan seseorang, namun linimasa Timehopku setiap hari terus menampilkan kenangan bersama orang tersebut. Kenangan satu tahun lalu, dua tahun lalu, empat tahun lalu. Semua terekam dan terdokumentasikan dengan baik di sosial mediaku. Kemudian  dengan istiqamah Sang Timehop memutar kembali semua kenangan digital itu. Yang dulu indah, kini menjadi bumerang. Membuat diri sulit melupakan kenangan.

Kalau ada orang yang berkata bahwa move-on adalah perkara mudah, aku pastikan orang itu tidak pernah merasakan jatuh cinta di era sosial media. Path, Facebook, Twitter, apapun itu. Era ketika aku ingin setiap orang mengetahui hal yang aku lakukan dengan mas pacar tercinta. Dalam konteksku saat ini, sosial media yang paling hip adalah Path. Kuposting setiap moment bersamanya di Path. Lokasi – lokasi yang dikunjungi, tempat-tempat makan yang dicoba, film dan musik yang ditonton, bahkan sekedar moment tidur dan bangun di Path, sambil tak lupa menyertakan namanya dalam setiap postingan.

Ketika hubungan percintaan itu berakhir, harga diriku terlalu tinggi untuk meng-unshare mas pacar dari Path. Aku pernah membaca bahwa ketika kamu menghapus mantan dari jaringan pertemanan dunia maya, mantan tersebut masih berarti di hati. Kamu tak kuat melihatnya wira-wiri bahkan di dunia mayamu. Kalau kamu membiarkan saja mantanmu tetap wira-wiri di sosial mediamu, tidak kamu unshare dan unfriend, maka konon katanya kamu sudah berhasil move on. Kamu udah ga peduli lagi terhadap apa yang dia lakukan dalam hidupnya. Maka atas nama harga diri, aku bertahan membiarkan mas mantan-pacar tetap ada di list teman Pathku.

Lalu linimasa Path menjadi musuh. Hatiku tak tenang setiap kali postingan mas mantan-pacar muncul. Jika dia memposting lokasi yang dikunjunginya, walau tidak ada penjelasan dengan siapa dia kesana, hatiku akan terasa nyeri. Cemburu, karena itu adalah tempat yang dulu biasa kukunjungi bersamanya. Ketika mas mantan-pacar memposting keluh kesah, lalu aku harus menahan diri sekuatnya untuk tidak menorehkan komentar di postingan itu. Padahal niatku baik, hanya ingin sekedar menyemangatinya. Tapi harga diri dooonng, aku bukan siapa-siapanya mas mantan-pacar lagi. Untungnya logikaku masih bekerja, senantiasa menyadarkan bahwa kita bukan apa-apa lagi.

Kalau ada orang yang berkata move-on  adalah perkara mudah, pasti dia tidak hidup di saat Ed Sheeran berjaya, menyanyikan lagu Photograph. “We keep this love in a photograph, We made these memories for ourselves, Where our eyes are never closing, Hearts are never broken, And times are forever frozen still…..” Saat ketika mengabadikan suatu momen adalah hal yang mudah. Saat ketika 64 giga byte memori ponselku terisi penuh foto aku dan mas mantan-pacar, juga terback-up di external hard disc satu tera byte. Malam demi malam kuhabiskan untuk melihat kembali foto-foto tersebut.

“And time forever frozen, still….”

“Michiiiiiii… Elo mau mie dog-dog ga?” Suara cempreng Reta mengagetkanku. Tidak cukup hanya berteriak – teriak yang bisa terdengar oleh seluruh penghuni kost, Reta juga menggedor-gedor pintu kamarku. Refleks kututup laptop, menyembunyikan tulisan patah hatiku.

“Enggak ret, gue diet!” Jawabku berteriak juga, tanpa beranjak dari kasur.

“Ah ga mungkin banget elo nolak. Udah gue pesenin.” Mahluk cempeng itu ternyata sudah berada di dalam kamarku. Untung dia teman kesayangan, yang ibarat pernikahan bisa kuterima dia apa adanya, termasuk hobinya menerobos masuk kamar orang lain.

Jika aku memprotes kelakuannya, Reta hanya akan mengelak dengan berkata, “Ya elo juga ga ngunci pintunya.”

Okey fine. Jadi tetep salah gue. Dengan demikian tak usahlah berdebat dengan mahluk cempreng ini perkara menerobos kamar.

“Heh, Michi.. elo ngapain sih sejak pulang kuliah ga keluar kamar? Hah? Masih berduka mikirin Made? Oh c’mon Michiiii, hari gini cowo banyak. Apalagi elo keceh, Tinggal pilih satu yang ada di antrian, selesai deh urusan patah hati loe. Inget Mich, obat patah hati paling manjur adalah jatuh cinta lagi!”

Reta terus merepet di kamarku. Mengingatkan pada tulisan patah hatiku barusan tentang orang – orang yang menganggap move-on itu gampang. Kurasa Reta termasuk spesies yang kutuliskan. Bagi Reta, move on adalah perkara mudah, semudah buang ingus. Dengan demikian semua premis ditulisanku tadi bisa dipatahkan. Reta hidup di jaman sosial media, mendengarkan Ed sheeran, punya Path, sering selfie, namun dia menganggap melupakan mantan adalah hal yang mudah. Sudah terbukti berkali-kali, ketika patah hati, Reta hanya akan jadi lebih pendiam selama satu atau dua hari, kemudian satu kost akan kembali terhibur eh terganggu dengan suara cemprengnya.

No comment.” Jawabku malas.

“Ya udah terserah. Selesai makan mie dog-dog langsung tidur ya bok, besok pagi gue mau ngajak elo ke suatu tempat. Awas kalo pintu kamar loe kunci. Gue gedor sampe rusak!” Ancamnya sembari meninggalkan kamarku. Lima menit kemudian dia kembali lagi membawa sepiring mie goreng hangat, favoritku. Mie dog-dog bang udin, yang lewat di depan kost-kostan kami tiap jam 11 malam. Kami namakan Mie dog-dog bukan karena mengandung daging anjing, melainkan karena suara kentongan penanda Bang Udin lewat yang berbunyi dog – dog – dog

“Thanks, Ret.” Jawabku sembari membentuk tanda love dengan jariku. Dia tertawa dan berlalu.

Demikianlah persahabatanku dengan Reta. Dia tetangga sebelah kamar kostku sejak pertama kali kuliah di Jogja. Kampus kami juga bersebelahan. Aku di Fakultas Ekonomi, Reta Fakultas hukum. Teman-teman kampusnya menjadi teman-temanku, begitu juga sebaliknya. Aku adalah saksi hidup motto Reta: “Satu  semester satu pacar.” Jelas dia tidak mengalami masalah sulitnya move-on. Hubungan ku dan Reta kadang diwarnai ribut-ribut kecil, utamanya jika dia meminjam barangku tanpa dikembalikan. Reta akan mudah marah jika aku lupa dengan janji yang sudah kubuat bersamanya. Seringnya karena aku terlalu asyik menghabiskan waktu dengan Made. Namun diluar ribut-ribut kecil itu, Reta seperti tempat pulang bagiku. Tempat berbagi hal-hal yang tidak bisa kuceritakan pada Made. Yaiyalah, Made tidak akan mengerti tentang koleksi terbaru Charles & Keith kan. Made juga akan segera menguap kebosanan jika aku bercerita menggebu-gebu tentang bagusnya akting Ji Sung Oppa di drama korea Kill Me Heal Me. Hal-hal seperti itu hanya bisa kuceritakan dan kubagi dengan Reta.

Kadang juga kami menghabiskan waktu berempat: Aku, Made, Reta, dan pacarnya-semester-ini. Jalan – jalan keliling Jogja dan sekitarnya sering kami lakukan. Lebih tepatnya RETA YANG MENGINISIASI. Hanya cewe cempreng itu yang bisa-bisanya membohongi Made, menyuruhnya datang ke kost kami dengan berkata bahwa aku sakit. Seketika Made malam-malam ke kost untuk melihat keadaanku, lalu Reta dengan cekatannya malah mengajak aku dan Made ke Semarang. Iya, kami mendadak pulang pergi Jogja – Semarang, hanya karena Reta ingin bertemu pacarnya-semester-ini yang kuliah di Semarang. Kami tiba di Semarang pukul 11 malam, kencan ganda di lesehan Simpang lima. Makan jagung bakar, naik sepeda kelap kelip, lalu pulang. Tiba kembali di Jogja pukul tiga pagi. Motifnya mengajak Made adalah untuk dikaryakan sebagai supir cadangan hahaha. Untung hanya Semarang. Terbayangkan akan sangat susah menuruti sikap impulsif Reta jika tiba- tiba dia rindu pada pacarnya (yang misalnya) di Bali, lalu dia ngotot mengajak Made menyetir malam-malam Jogja – Bali dengan alasan Made sangat mengenal jalan di Bali.

– – – – – –

“Michiiii bangun, banguuun!” Suara cempreng Reta mengagetkanku lagi. Mahluk itu sudah berdiri di sisi tempat tidurku, sembari membawa jaket tebalku di tangannya.

Kukucek mataku, dan melirik jam weker. Jam tiga pagi! mahluk cempreng ini pasti minta dijitak. Atau mungkin dia mimpi berjalan.

“Reta, gue masih ngantuk ah. Elo pengen nyari sahur di warteg depan gang? Gue males nemenin, minta temenin Mbak Surti sana. Atau mas Nemot.” Aku menarik selimutku lagi. Mbak Surti adalah pembantu di kost kami. Mas Nemot adalah bujang lapuk-penjaga kost sebelah, yang sering kujodohkan dengan Reta karena Mas Nemot sering titip salam untuk Reta.

“Ga lucu. Cepetan bangun! Nih pake jaket loe.” Dia menyeretku dari tempat tidur. Entah bagaimana mahluk cempreng kurus ini bisa punya kekuatan gaib untuk menyeretku keluar kamar.

Setengah sadar, tiba- tiba aku sudah berada di mobilnya.

“Kita kemana Ret?”

“Ga usah berisik, elo tidur lagi aja. ntar gue bangunin kalo udah sampe.”

Call.“* Dan aku melanjutkan tidur.

“Michiiii bangun, kita udah sampe!” Reta menggoyang tubuhku. Kupincingkan mata melirik jam di dashboard, 4.45 pagi. Lumayan jauh juga perjalanan yang kami telah tempuh.

“Ayo turun!” Reta membuka pintu dan menarikku keluar mobil.

Dalam keadaan setengah sadar, kuikuti semua perintah Reta. Sekelilingku gelap, angin meniup wajahku, aroma udara terasa berbeda.

Pantai! Ya kami berada di pantai.

Semua indraku mendadak sadar. Aku berusaha beradaptasi dan mengenali sekelilingku.

Indrayanti! ini Pantai Indrayanti. Walaupun suasana sekelilingku gelap karena minimnya penerangan di pantai ini, namun aku masih bisa mengenali pantai ini. Pantai Indrayanti adalah tempat yang sering kukunjungi bersama Made karena keindahan pemandangannya. Indrayanti memiliki pasir yang berwarna putih, dilingkupi tebing – tebing tinggi. Jika lapar aku dan made tinggal melangkah ke warung makan di sepanjang jalan, ikan bakar, cumi bakar, udang, semua nikmat. Pantai Indrayanti terletak di Gunungkidul, Yogyakarta. Sering disebut-sebut sebagai Pantai Kuta-nya Jogja. Diantara beberapa jejeran pantai Gunungkidul, Indrayanti memiliki kekhasan karena pasirnya yang putih, sementara pantai lainnya berpasir gelap.

Kebingungan menyeruak. Kenapa pula mahluk cempreng ini mengajak ke tempat yang jelas – jelas ingin kuhindari dan kulupakan. Reta masih menarik tanganku agar aku mengikutinya menyusuri pantai. Pasir – pasir lembut menyentuh telapak kakiku. Rasanya begitu hidup. Aroma angin dan garam menguar. Meskipun tutup, sisa – sisa aroma ikan bakar dari gubuk makan di dekat kami masih tercium.

Kuhirup udara kuat – kuat. Hidupku terasa berat sebulan terakhir ini, semenjak putusku dengan Made. Pacaran beda agama, juga berbeda suku, tuntutan orang tua untuk segera menikah, Made yang tidak berani menjanjikan segera menikah setelah kami lulus, demikianlah masalah mendasar yang menggerogoti hubungan pacaran empat tahunku dan Made. Akhirnya kami bersepakat untuk putus, meskipun kami masih terlalu saling mencintai. Putus cinta ketika tidak membenci adalah hal yang terasa sulit, karena perpisahan menjadi terasa tidak nyata. Kami baik-baik saja. Walaupun sebenarnya tidak.

Ide Reta untuk berjalan – jalan terasa masuk akal dan menyenangkan. Ternyata banyak hal yang terlupakan olehku hampir satu bulan ini.

“Ret, makasih ya ngajak gue kesini.” Tiba-tiba aku merasa tersadar kalau satu bulan terakhir ini, aku juga melupakan Reta karena sibuk menangisi diri.

“Gue baru sadar kalo sebulanan ini gue semacam vampir, cuma mondar – mandir kampus dan kamar. Kaya ga punya gairah hidup. Mencium aroma laut begini ternyata bisa membuat kabut di otak gue menghilang. Kayanya obat putus cinta perlu ditambah satu deh, Ret. Bukan cuma ‘Jatuh cinta lagi’, tapi ‘Jalan-jalan’ juga bisa jadi obat putus cinta.” Teriakku girang, terasa semua beban di hati yang sempit menghilang di antara lansekap alam yang lapang.

“Jangan seneng dulu, gue kesini mau ngajak elo ngeliat matahari terbit. Siapin hape loe, bentar lagi matahari muncul. Loe foto deh sana. Trus ganti tuh wallpaper hape loe yang isinya foto elo sama Made, ganti pake foto pantai ini saat matahari terbit. Terus udah itu loe posting lokasi loe di Path, jangan lupa tag gue.”

Aku ternganga mendengar ucapan Reta. Ternyata dia mengerti kesulitanku melupakan Made salah satunya adalah karena banyaknya kenangan foto yang masih kusimpan, dan linimasa yang masih dihiasi postingan Made.

Aku menuruti ucapannya, kukeluarkan ponselku, siap mengabadikan matahari terbit. Kami menanti sembari duduk di hamparan pasir. Menikmati angin dan langit yang perlahan memunculkan warna kuning lembut. Benar kata Reta, matahari segera terbit, muncul dari hamparan air laut menuju tahtanya di langit. Sang raja siang.

“Mich, gue sebenernya tahu elo susah ngelupain Made.” Reta kembali bersuara setelah beberapa saat diam, memberiku waktu untuk mengambil foto matahari terbit. Aku menghentikan aktivitasku, mencoba mendengarkan ocehannya yang kali ini nampak serius.

“Gue juga tahu elo masih temenan sama Made di path dan fesbuk, pasti susah banget buat elo ngelupain dia karena masih banyak hal tentang Made muncul. Apalagi elo orangnya menye-menye, apa-apa dipikirin. Sebenernya gue ga yakin apakah gue punya hak untuk nasehatin elo, karena gue ga pernah pacaran beda agama. Gue cuma mau bilang, kalo elo rindu pengen melakukan sesuatu yang biasanya elo lakukan dengan Made, ketok aja kamar gue. Gue selalu ada buat elo Mich. Kaya sekarang nih, Indrayanti sekarang bukan cuma tempat kenangan elo dan Made, ini juga tempat kenangan gue dan elo. Jadi sudahlah, mari kita biarkan yang berlalu untuk terus berlalu. Mulai sekarang tag gue aja di postingan elo, daripada ga ada yang di tag sama sekali.”

Aku tertegun mendengar perkataan Reta yang (tumben) berbobot. Pasangan hidup mungkin memang penting, karena fitrah manusia untuk berpasang-pasangan. Namun ketika ternyata yang dicintai bukanlah pasangan hingga akhir hayat, masih ada sahabat yang bisa diajak berbagi. Reta membuktikan padaku bahwa sahabat selalu ada bahkan di saat sulit hidup kita.

Aku menatap wajah Reta lekat-lekat. Dia membulatkan matanya, tanda curiga.

“Kenapa loe ngeliatin gue kaya gitu?” Dia bertanya ketus.

“Reta, elo baik banget sih. Iya gue salah. Kemaren-kemaren gue pikir dunia gue berakhir ketika hubungan gue dan Made berakhir. Tapi berada di tengah bentang alam indah begini, gue jadi sadar kalau dunia ga selebar daun kelor. Semua pasti sudah Tuhan atur yang terbaik untuk gue. Juga ada elo, teman terbaik gueeee.” Aku memeluknya. Dia tertawa sembari menepuk-nepuk punggungku. Beginilah rasa nyaman memiliki sahabat.

“RETAAAAAA ELO KEREEEEEEN. MAKASIIIHHH YAAAAA!!! Abis ini kita ke Pantai mana lagi? Belitung? Lombok?Alor?” Aku berteriak-teriak berjingkrakan di pasir. Reta menanggapi teriakanku dengan tawanya yang lebar.

Angin lembut, matahari terbit, pasir putih, deburan ombak. Siapa bilang dunia berakhir ketika cintamu berakhir. Kamu masih selalu bisa berbahagia dengan teman – teman karibmu. Tidak hanya hati yang harus dieskplorasi, keindahan alam di sekelilingmu juga menanti untuk dijamah, dan akan lebih indah jika dilakukan bersama-sama.

– – – – –

Indrayanti, 10 Mei 2015. Ketika aku dan sahabat karibku menari – menari seperti orang gila di hamparan pasir luas.

1183_Keindahan_Pantai_Indrayanti_yang_dilihat_dari_atas_menara_yang_ada_di_pantai_ini_(2)

Note:

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .

*call = Bahasa gaul korea untuk ‘Oke’

** sumber foto =  http://www.indonesiakaya.com/assets/imagesweb/_images_gallery/1183_Keindahan_Pantai_Indrayanti_yang_dilihat_dari_atas_menara_yang_ada_di_pantai_ini_%282%29.jpg

Advertisements

2 thoughts on “Timehop, Path, Ed Sheeran dan Reta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s