The Library

Selamat pagi, Tuan sepeda biru.

Pagi ini kudedikasikan untuk mengenangmu. Lelaki bermata biru, dengan jaket biru dan sepeda biru.

Mungkin kamu tidak mengingatku, namun aku bisa mengingat wajahmu dengan jelas. Sore itu langit Leeds sedang labil, seperti biasa. Pagi hujan, kemudian cerah, turut pula bertiup angin ngebut yang mencapai kecepatan 50kmh. Bagi pengendara sepeda yang bobotnya 48kg sepertiku, angin ngebut merupakan momok. Sepedaku dan aku tidak cukup berat untuk melawan lajunya angin, sehingga bisa digoyang ekstrim ke kiri dan ke kanan, kadang malah sepedaku terhenti total ketika arah angin ngebut berlawanan arah tujuanku.

Demikianlah semesta memulai konspirasi pertemuan kita wahai Tuan bersepeda biru. Aku memutuskan untuk mampir The Library sebentar sembari menunggu angin reda. Kuparkirkan sepedaku di tempat yang sudah disediakan kemudian memesan secangkir cappucino.

Oh okay, The Library bukanlah tempat untuk orang-orang rajin belajar dan gemar membaca. The Library di sini adalah nama kafe di dekat kampus. Cappucino-nya enak dan murah, juga croissant coklatnya nikmat. Tempat sempurna untuk menanti hujan dan angin reda.

Namun sore itu nasibku sama buruknya dengan cuaca. Notifikasi skype-ku berkedip-kedip. Dari Wira. Kuterima sambungannya dengan gembira. Namun skype 2 menit itu berakhir dengan berita bahwa dia meminta putus.

Pengalaman pembicaraan via skype paling buruk yang pernah kualami. Semenit, dua menit, sepuluh menit telah berlalu sejak hubungan skype (dan hubungan pacaranku) terputus. Momen tabularasa menghiasi benak. Kosong. Semua terasa tidak nyata.

Lalu pada menit kelimabelas aku tersadar. Sambungan skype itu nyata, aku dan wira benar tiada. Air mata mulai menggenang. Cepat kutenggak cappucino yang sudah dingin. Lalu bergegas keluar The Library. Aku tidak ingin terlihat bodoh menangis di tempat umum.

Angin mulai bersahabat, mendesir dengan lembut, tidak lagi menderu cepat. Hujan turut mengkamuflase tangisku, dia menetes perlahan dari langit. Tidak deras, namun cukup untuk menyamarkan air mataku.

Aku menuju ke parkiran sepeda. Lalu kulihat sebuah sepeda biru menghalangi jalan keluar sepedaku. Perasaan kesal, depresi, sedih dan tak berdaya bercampur jadi satu. Berkali-kali kutendang sepeda biru sialan yang menghalangi jalan keluar sepedaku itu. Korban pertama drama putus cintaku.

Aku terus menendang sepeda biru tak berdosa, sambil mengeluarkan berbagai umpatan untuk Wira.

Lalu kamu datang, mencengkeram bahuku, membuatku otomatis berhenti menendangi sepeda biru.

“Hey, what is your problem? You’re kicking my bike!” Katamu saat itu, dengan nada sedikit kesal.

YOUR BIKE IS MY PROBLEM! It’s blocking my way!!” Jawabku sambil menunjuk sepedaku dan menangis. Tangisan yang sungguh tidak ada hubungannya denganmu, wahai tuan bersepeda biru.

Lalu kulihat wajahmu melunak. Mungkin luluh melihat wanita menangis. Lalu kamu meminta maaf padaku dengan nada suara yang lebih lunak, malah seperti bingung. Aku bisa maklum, sepedamu ditendangi wanita gila yang menangis tersedu-sedu di bawah hujan.

“Please, you may leave now.” Katamu setelah sepedamu sudah tidak lagi menghalangi sepedaku.

Saat itulah aku bisa melihat wajahmu. Rambut coklat, mata biru yang dalam, alis yang hampir menyatu, tulang pipi yang cukup tinggi untuk menonjolkan brewok tipis yang melingkari wajahmu. Sempurna, tidak terlihat terlalu galak, namun juga tidak terlalu lunak. Kurasa kamu campuran inggris dan timur tengah, entah iran atau yordania. Varian blasteran yang banyak dijumpai di kota Leeds.

Wahai Tuan sepeda biru,

Saat kita pertama bertemu, aku terlalu larut dalam kebingungan dan kesedihan sehingga tidak sempat terpikirkan olehku untuk mengucap maaf, terimakasih ataupun sekedar tersenyum kepadamu. Namun hari ini, dua minggu sejak kita pertama bertemu, pikiranku mulai jernih, kabut patah hatiku mulai terkuak, perlahan aku bisa mengingat kembali wajahmu dengan jelas, Tuan bersepeda biru. Kusesali tindakan bodohku menendang sepedamu.

Kata petuah bijak, obat paling mujarab dari patah hati adalah jatuh cinta lagi. Kurasa aku ingin jatuh cinta lagi, kepadamu. Bisakah? Kapankah kita bisa bertemu lagi? Di The Library lagi?

Semoga…

2015/02/img_3712.jpg

Advertisements

One thought on “The Library

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s