E(skype) from broken heart. |read: Escape

Aku memandang ponselku, tanpa mengerti mengapa aku terus menatap benda yang menampilkan layar kosong belaka itu. Sesi skype dengan Wira tidak pernah sesebentar ini sebelumnya. Biasanya 10 menit, 20 menit, bahkan pernah semalaman skype di laptopku terhubung terus dengan Wira. Saat itu malam keduaku tiba di Leeds. Saat perasaan kami tentang rindu masih sangat antusias dan hangat. Hari ini anomali. Hanya dua menit percakapan di skype, dengan satu kalimat darinya yang bisa kuingat: “Dinda, sepertinya aku harus break dari hubungan ini.” Lalu semuanya terasa kosong bagiku. Tidak sempat kukatakan apa-apa untuk merespon perkataan Wira. Hanya tanganku otomatis memilih perintah untuk mengakhiri pembicaraan jarak jauh kami. Begitu saja.

Berikutnya yang bisa kuingat adalah Made melambai-lambaikan tangannya di depan mukaku. Menghentikan hampa yang kubuat sendiri. “Kenapa, Nda? Muka loe domblong gitu.”

“Wira minta putus, De.” Jawabku sepelan mungkin. Padahal jika aku berkata keras-keraspun tidak akan ada teman kampusku yang akan menguping lalu menyebarkannya. Pertama karena perkara bahasa: hey berapa banyak sih orang di Inggris yang bisa bahasa indonesia? Dan kedua karena aku tidak setenar dan seberharga itu untuk dijadikan bahan gosipan kampus.

“Hah, are you kidding Dinda? Weren’t you, couple whom going to marry next year after you get your MBA?

I think so. But perhaps some circumstances have changed. Wira leaves me. Or at least, he doesnt want to wait for me.”

“Halah kupret tuh laki, cuma nunggu 1 tahun lagi aja ga sabar.”

“Hahaha ga usah misuh-misuh menghibur gue, De. Elo juga termasuk yang sering curhat ga sabar pengen cepet pulang dan nikahin Sylvi kan?”

“Dan gue masih sabar kan? Gue ga secemen cowo loe yang ujug-ujug minta putus.” Made mengoceh sembari merogoh tas punggungnya, kemudian menyodorkan sekantong Walkers biru. Kesukaanku.

Aku menatap Walkers biru, menimbang apakah akan memakannya atau tidak. “Ah i hate stress eating. Biasanya elo akan gue kutuk karena bikin gue nyemil. Tapi hari ini eksepsi. Makasih De.” Seruku sembari mengunyah irisan kentang tipis-tipis yang populer sekali di Inggris.

“Dia tiba-tiba minta putus, Nda? Ga ada tanda-tanda aneh sebelumnya?”

Aku menjawab pertanyaan Made dengan gelengan. Bingung. “Ga tau, De. Seinget gue ga ada tanda2 apapun. Kita masih sering messenger-an, skype-an, komen-komenan di path. Walau intensitasnya semakin menurun, ga sesering ketika awal-awal gue di sini.”

I see..” Made mengangguk-anggukkan kepalanya (seolah) mengerti. “Dan elo cuma pengen makan? Ga pengen nangis?”

“Pengen banget gue nangis ya? Trus gue bersandar di dada loe, trus elo curi-curi kesempatan ngelus-ngelus rambut gue. Iya kan? Kan? Kan?” Jawabku sembari terbahak-bahak.

“Nda, gue curi-curi kesempatan pake milih juga kali. Kalo Barbara yang break up, gue rela antri jadi shoulder to cry on-nya” Made menyebut nama mahasiswa asal Skotlandia yang tercantik di jurusan kami menurut versinya Made.

“Ah ngimpi! Udah ah,. Aku mau pulang. Mumpung hari ini cerah. See you.” Pamitku sembari beranjak meninggalkan Made yang masih mengunyah keripik kentang rasa keju dan bawang bombay. Suhu -1 sebenarnya tidak cocok untuk sekedar duduk-duduk di kursi taman kampus seperti yang barusan kulakukan dengan Made. Namun sepertinya Made menikmati momen nyemilnya itu.

“Elo yakin ga butuh temen, Nda? Gue ke tempat loe deh ntar malem. Jangan suicide dulu sebelum gue dateng.” Wira teriak dari kursinya dengan mulut yang masih penuh keripik kentang. Yucks.

“Becandaan loe ga lucu!” Jawabku galak.

Sorry Nda.” Made memasang wajah menyesal.

Mendengar kata ‘suicide‘ barusan jadi seperti mendengar kata ‘pain killer‘. Mungkin kalau bunuh diri semua sakit akan hilang. Untunglah ide itu terlintas sesaat saja. Ketika logika kembali mengambil kendali pikirku, kata suicide jadi terdengar menyeramkam dan membuat dada semakin sesak. Pantaslah banyak abg yang konyol mati bunuh diri karena putus cinta. Mungkin saat ide bunuh diri terlintas di benak mereka, logikanya tidak cepat mengambil alih sistem pengambilan keputusan.

Ada beberapa kemungkinan mengapa logika tidak mengambil alih pengambilan keputusan disaat genting, menyebabkan keputusan yang diambil hanya berlandaskan perasaan belaka dan bias. Fenomena ini disebut dengan heuristis afek. Heuristis afek sering terjadi ketika glukosa darah sebagai bensin untuk otak sedang habis (bok, makanya sering2 sedia cemilan ya biar kalo suntuk ga gampang bilang bunuh diri) membuat kemampuan kognitif jadi mandek. Kedua, karena fungsi kognitif (logikanya) yang memang rendah akibat rendah intelejensia. Aku saat ini tidak lapar dan tidak berintelejensia rendah. Jadi jangan sampai perkara bunuh diri muncul lagi di benakku. Amit-amit..

Kulangkahkan kaki cepat-cepat menuju parkiran sepeda Gedung ST. John. Seonggok sepeda menutupi jalur keluar sepedaku. Kutendang keras-keras ban sepeda sialan itu. Setelah fase tidak memiliki pikiran apapun di otak, nampaknya aku mulai pindah ke fase marah dan penyangkalan. Tanpa kusadari air mataku mengalir. “Wira sialan! Bancii!!” Gerundelku. Sembari kakiku terus menendang ban sepeda tersebut. Korban pertama drama putus cintaku. Aku tidak tahu berapa lama mengumpat dan menendang-nendang ban sepeda tak berdosa di depanku. Yang bisa kuingat hanya sebuah tangan menggenggam bahuku kencang, mengagetkanku, membuatku berhenti mengumpat dan menendang.

Hey, what is your problem? You are kicking my bike! Many time.” Sosok di belakangku berkata berat dan tajam. Terdengar seperti intonasi marah.

Your stupid bike block my way!” Jawabku tajam sembari menoleh ke arah suara dan memasang pandangan tajam, berusaha menantang orang yang barusan mengomeliku.

“Haaaa, there you are. Pink bike’s owner hahahaha.”

Lawan bicaraku tertawa terbahak-bahak. Aku terkesiap. Marvin. Tapi sudah terlambat untuk bersikap layaknya gadis baik-baik. Aku tertangkap tangan menendang sepedanya dan membentaknya.

Dan waktu kemudian berubah menjadi s…l..oww m..o..ti..o..n l…a…gi…

Namun kali ini dalam situasi yang tidak terlalu baik.

Aku mengalihkan wajahku, tidak berani memandangnya.

Are you crying?” Marvin belum melepaskan cengkraman tangannya dipundakku.

Aku menggeleng sembari menunduk. Tidak berani mengeluarkan suara, khawatir tangisku semakin pecah. Hanya kaki Marvin yang nampak dari penglihatan mataku yang berkaca-kaca. Putus cinta via skype, lalu gebetanmu tahu bahwa kamu menendang sepedanya. Apalagi yang bisa lebih baik dari hal tersebut. Diam rasanya solusi cerdas, ketimbang bicara namun kata-kata yang kukeluarkan malah menjadi bumerang bagiku.

Hallo, Nanda? Are you okay? Are you hurt?

Aku tetap diam.

Sedetik, dua detik, lima detik, Marvin menyerah, tidak lagi mengharap jawabanku dan tidak bertanya lagi. Dengan sigap dipindahkan sepedanya sehingga tidak menghalangiku.

Please, you are able to leave now. Sorry for the inconvenience caused by me.”

Aku mengangguk, masih tidak memandang wajahnya. Kuambil sepedaku dan pergi. Seperti adegan dalam film – film korea kesukaanku, hujan turun ketika karakter utamanya putus cinta, menyembunyikan air mata yang turun sama derasnya dengan butir hujan. Hal yang sama terjadi padaku hari ini. Hujan biasa terjadi di Leeds, tidak mengenal musim. Kali ini pun demikian. Dingin, hujan dan patah hati. Suicide jadi terasa masuk akal.

Dan Hey, did i misheard? did he call my name? did he say Nanda or something? He do knows my name.. Marvin? And im too broken heart to noticed it..

Arrrrrrkkkk….

– – – –

Sambungan dari Slow Motion (1)

Advertisements

One thought on “E(skype) from broken heart. |read: Escape

  1. Pingback: Slow motion | Blossom dan Batman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s