Slow motion

Pernah ga kamu merasa dunia di sekeliling kamu berputar dalam gerakan sloo..oo..w m..o…ti…o..n….

Aku pernah merasakannya, hari ini.
Di parkiran sepeda area gedung ST John – Fakultas sains.

Saat itu peppa – sepeda kesayanganku baru selesai kuparkirkan. Hujan turun tiba-tiba, kakiku jadi enggan beranjak keluar parkiran. Ku-cek lagi keadaan peppa, memastikan kunci gemboknya terpasang dengan benar. Maling ternyata eksis juga di negara eyang ratu elizabeth ini.

Bukan hanya hujan yang membuat kakiku sulit meninggalkan parkiran sepeda. Aku sudah memakai jaket tebal anti air dan capucon anti badai (okay, ini lebay), mestinya hujan bukan alasan untuk berlari ke arah gedung kuliahku. Banyak koridor gedung yang bisa kulalui sehingga aku tidak akan terlalu basah menempuh perjalanan 500 meter menuju gedung kuliahku. Aku juga bisa memotong jalan dan tidak basah dengan cara masuk perpustakaan dari pintu ST. John lalu keluar di pintu LUU. Demikianlah kemudahan akses kampusku untuk memanjakan pedestrian. Jadi sekali lagi, sebenarnya hujan bukanlah alasan bagiku untuk tetap berteduh di parkiran sepeda. Pasti ada alasan lain.

Maka kala itu aku menyalahkan angin kencang musim gugur. Jika aku membaca ramalan cuaca di BBC weather, angin pada bulan-bulan ini bisa mencapai kecepatan 40KMH. Lebih cepat dari lalulintas Tol Cipularang saat akhir pekan. Hujan mungkin bukan masalah bagiku, tapi angin jelas masalah. Angin kencang akan menerbangkan capuconku, juga membuat langkah jadi berat seperti treadmill uphill di celebrity fitness. Demikianlah justifikasiku atas keberadaan angin untuk membuatku tetap tinggal di parkiran.

Lalu kemudian aku sadar, kejadian hari ini bukan hanya karena angin dan hujan. Ini adalah konspirasi semesta. Dua puluh detik aku menanti. Angin kencang tidak kunjung surut. Aku masih malas melangkah keluar parkiran, berjibaku dengan dingin dan sangat mungkin terkena risiko tertimpa ranting pohon.

Kunyalakan ipod sembari menanti angin reda. Kupilih playlist “lagu mendung.” Iya, aku perfectionist. Playlist lagu harus sesuai cuaca. Suara Nat King Cole mendayu menyanyikan lirik jazzy autumn leaves. Aku berguman turut menyanyikan liriknya yang simple namun catchy.

Lalu momen slow motion itu tiba..

Seketika dia muncul di depanku, dan tersenyum. Sloooo…ooowww moo…tion…

Rambut coklat tuanya berantakan, mungkin tertiup angin. Jaket birunya berlogo trespas, dalam keadaan basah. Kulihat bibirnya bergerak-gerak bicara padaku. Aku tidak bisa mendengar suaranya dengan jelas, kalah oleh vocal berat Nat King Cole. Atas nama sopan santun, seharusnya aku segera mematikan ipod, melepas earphone lalu mendengarkan perkataannya dengan seksama. Tapi saat itu tubuhku kelu. Terlalu terpana pada pemandangan indah tiba-tiba di hadapanku.

Sedetik… Dua detik… Tiga detik… Lima detik..

“Haiiii… Halloo, earth calling.” Dia melambai-lambaikan tangannya, didepan wajahku. Membuyarkan momen tabula-rasaku.

“Oh hay, ah sorry. It’s really cold in here, i think my brain gets freezing.” Jawaban tololku. Aaarrkk Nanda. Bisakah kamu memberi respon lebih pintar?

“Hahaha i feel it too..”

Dia tertawa! Dia tertawa. Persetan dengan ucapan bodohku, yang penting dia tertawa!

“Emmm.. do you mind to slightly move? I need to take my bike.” Dia bergerak maju, lebih dekat ke arahku.

“Hah? What?” Perkataan dan gerakan mendekatnya membuat kemampuan orientasiku hilang lagi.

“My bike. You stand in front of my bike. I need it.” Dia tersenyum, lagi.

“Ahhh, your bike.” Aku mengangguk bodoh dan begeser sedikit, memberinya jalan untuk mengambil sepeda.

“And this one is your bike, isn’t it?” Dia menunjuk peppa-ku.

“Heh? Iya. Eh yes, you are right. How do you know?”

“I notice it, only you whom take shocking pink bicycle to campus.” Jawabnya sembari tersenyum.

“Aaahh, too cheesy ya. I think i choose immature color. I regret it.” Aku menunduk, seketika merasa malu. (But indeed, i love pink. Im not really regret it).

“No, that’s not the point. There’s no correlation between maturity and color. It’s only because you ride an eye cathing bike. Sometimes you park your bike carelessly and blocked other bike’s way out. Fortunatelly mine never been blocked.” Dia mengakhiri kalimatnya dengan senyum meledek.

“Hah? Really? Im so sorry. Hard for me to wake up early in the morning, thus i coming late, put my bike in a rush. Then… ah forget it, everything seems like an excuse. Thank you for your consideration. I’ll be more careful next time. If you know someone whom ever been blocked by me, relay my sorry for them.”

“Never mind. It could happen to anyone of us. Perhaps next time i do careless things like you did. haha. See you. Cheers…”

“Bye, dear..” Jawabku pelan memakai basa-basi british. ‘dear’ and ‘darling’ are common phrase in UK. Jangan geer kalau tiba-tiba dipanggil ‘darling’ oleh orang asing. (Eh ini note to my self sih).

Dan dia pergi dengan sepedanya. Angin musim gugur masih berhembus kencang. Nat king cole masih melantunkan lagu autumn leaves yang durasinya 3 menit dua puluh detik. Hanya sesebentar itu juga percakapan pertamaku dengannya, bahkan lebih sebentar. Namun sampai dengan lima menit kemudian aku masih tetap berdiri di parkiran sepeda ini. Menenangkan hati yang berdegub kencang, seolah menang lotere 3000 poundsterling.

Dia mengingatku. Dia tahu warna sepedaku. Dia tahu kebiasaan parkir sembaranganku. Dia tahu! Seandainya aku tahu kalau dia tahu, pasti aku akan lebih memperhatikan sikapku saat parkir.

Namanya Marvin. Aku tidak tahu dia mahasiswa jurusan apa. Pertama kali aku melihatnya di velo campus bike – tempat persewaan sekaligus bengkel sepeda dikampusku. Waktu itu hanya ada Lee – mahasiswa undergrad yang magang menjadi teknisi di sana, aku dan Marvin. Aku membutuhkan kunci pas untuk menurunkan sadel sepedaku yang ketinggian. Ketika aku memintanya pada Lee, dia meneriakkan nama Marvin. Tanpa menolehkan kepala, Marvin mengangsurkan kunci pas yang berada didekatnya kepadaku. Sekilas kulihat wajahnya belepotan oli. Dan seketika aku bisa menangkap siluet teduh dari matanya yang coklat dan dalam. Pria yang sedang bersungguh-sungguh selalu tampak menarik bagiku, bahkan jika itu hanya sekedar bersungguh-sungguh memperbaiki rantai sepeda. Demikianlah pertemuan pertamaku dengannya. Lalu setelah itu aku selalu berkhayal bisa bercakap-cakap dengannya dan menikmati mata teduhnya. Tapi itu hanya khayalan.

Keesokan harinya aku kembali ke bengkel sepeda, dan kulihat Marvin sedang memarkirkan sepedanya di area parkir gedung ST John, dekat bengkel sepeda. Sebutlah aku terobsesi atau psikopat, sejak hari aku melihatnya di parkiran sepeda, aku kemudian selalu memarkir sepedaku di ST John, meskipun itu berarti aku harus berjalan agak jauh dan menanjak ke tempat kuliahku di gedung Maurice keyworth. Sayangnya setelah itu aku tidak pernah melihat atau bertemu dengannya lagi.

Jika ada teman yang menanyakan mengapa parkir sepedaku jauh sekali, aku selalu berdalih bahwa itu adalah area parkir yang terdekat dengan perpustakaan. Pencitraan yang sempurna. Padahal sudah tiga bulan aku kuliah di sini, baru satu kali aku masuk ke perpustakaan. Parkir tiap hari di dekat perpustakaan tidak serta merta menumbuhkan minatku untuk mampir dan membaca di perpustakaan kampus yang katanya memiliki koleksi novel chicklit dan komik asterix. Seharusnya surga.

Demikianlah, untuk suatu harapan bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan Marvin, setiap hari aku memarkir sepeda disini. Istiqamah. Tiga bulan kulakukan hal tersebut. Dan hari ini, semua terjadi begitu saja.

Aku merutuki jawaban-jawaban bodohku tadi. Juga mengutuki diri karena tidak mengoleskan lipstik sebelum ke kampus. Menyesal karena tidak menyemprotkan parfum sebelum berangkat. Dan beribu hal yang rasanya ingin diperbaiki jika momen tiga menit slow motion tadi bisa terulang.

Semoga besok semesta berkonspirasi lagi. Semoga.

—–

Bersambung di E(skype) from the broken heart

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s