I Miss You Till It hurts

Saya selalu berfikir, waktu adalah besaran multi dimensi yang paling multi dimensi. Terkadang dia memiliki dua sisi. Terkadang dua sisi tersebut berkombinasi menimbulkan 16 kemungkinan, kadang juga hanya berupa permutasi menjadi 4 probabilitas. Pelik. Maka saya menganggap waktu sebagai perkara relatif yang paling relatif. Seberapa lamakah “lama” itu? Seberapa sebentarkah “sebentar” itu?

Oh okay, jadi sebenarnya saya mau menulis apa?

Actually, I just miss him. So much.

Sudah 1,5 bulan dia meninggalkan Indonesia.

Parahnya, saya baru merindukan dia dua hari belakangan ini.

Ya beberapa waktu lalu juga sering terlintas rindu, namun hanya selintas. Selebihnya kalah oleh pikiran lain yang kehadirannya persis di depan saya. Benar kata pepatah, terkadang yang dicintai namun jauh, kerap kalah oleh yang selalu ada. Ish!

1.5 bulan lalu ketika dia berangkat, saya sempat berada dalam autopilot mode. Mungkin itu mekanisme otomatis jiwa dan raga untuk bertahan dari rindu dan rasa kehilangan. Saya hanya menyapanya sekali-sekali di whatsapp, mengomentarinya sekali-sekali di path. Jika sinyal bersahabat maka kami akan berbicara 5-10 menit via facetime atau line camera. Demikian saja. Tidak ada kata rindu, hanya sekedar konsolidasi urusan-urusan yang dia tinggalkan di Indonesia yang harus saya bereskan, serta alih pengetahuan mengenai apa-apa yang harus saya siapkan sebelum saya berangkat. Transaksional. Ucapan rindu dan sayang? Ada. Seadanya. Tidak terlalu berasal dari hati. Mungkin itu juga mekanisme pertahanan diri agar saya tidak tergerus emosi. Kebayanglah kalau sekali saja saya memanjakan perasaan dan berkata rindu, pasti sesi pasca videocall akan dilanjutkan dengan sesi saya menangis berjam-jam hingga jatuh tertidur.

Saya jadi setuju lirik di lagu Kangen-nya Dewa

“Jangan katakan cinta, menambah beban rasa. Sudah simpan saja sedihmu itu….”

 

Kala itu juga kesibukan saya agak luar biasa. Selang dua hari dia berangkat ke UK, saya berangkat ke Cina. Sepulang dari Cina, saya terbirit – birit membereskan urusan di Jogja yang saya tinggalkan selama seminggu ke Cina. Sepuluh hari kemudian saya berangkat ke Singapur. Lalu di Jogja seminggu. Baru mau settle, harus kembali terbirit – birit ke Jakarta karena jadwal wawancara visa saya bisa dimajukan. Ke jogja lagi, ke jakarta lagi proyek BP Migas. Demikian. Hingga tanpa sadar bulan Oktober hampir berlalu. Dan dia memberi alarm keras, “jadi pindah ga?”

Ow ow…

Akhirnya..

Meskipun harusnya salah satu agreement saya baru akan selesai per 31 Oktober 2014, akhirnya saya minta dispensasi untuk bisa meninggalkan proyek lebih awal dan kembali ke Jakarta. Akhirnya saya mahfum jika tetap berada di Jogja kerjaan saya ga akan selesai, patah tumbuh hilang berganti. Ada aja tugas yang baru. Jadi harus saya yang legowo berkata “sudah.”

Dan taraaamm.. Saya pulang ke rumah emak, sejak hari Sabtu lalu.

Sudah tiga hari saya di rumah emak, tanpa aktivitas berarti, kecuali shopping dengan justifikasi “persiapan ke Inggris.” Wanita.

Dan demikianlah waktu menjadi maha relatif dan kejam. Waktu terkadang terasa berjalan cepat, terkadang lambat. Terkadang senggang, terkadang padat. Membuat logika menjadi bingung, dan emosi mengambil alih. Saya rindu.

Iyaaa aku rindu huuhuhuuuu. Tapi masih harus menunggu dua minggu untuk bisa bertemu kamuuu. Minggu ini saya masih harus ke singapur lagi.

Dua minggu lagi ya.

Hatiku, bertahanlah. Jangan mudah didera gundah.

“KU AKAAAANNN DATAAAANGGGG.” – Nyanyi ala ari lasso

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s