Kurban

Just babbling my thought..

Sebelumnya, selamat hari raya idul kurban bagi yang merayakan 🙂

Tulisan ini ada hubungannya dengan perayaan kurban yang belakangan saya lihat. Mohon maaf kalau kurang berkenan karena ilmu saya memang masih cetek.

Terus terang beberapa tahun belakangan ini saya agak risih dengan perayaan idul kurban yang menurut saya jadi jor2an. Bahkan di kalangan keluarga jauh saya juga.

Waktu masih kecil, orang tua saya biasanya turut berkurban, bisa di lingkungan rumah, di sekolah saya, kadang juga di kampung halaman. Tergantung jatahnya nama siapa yang akan ditaro di leher kambing pada hari itu. Setiap tahun ayah menganggarkan dua ekor kambing, bergantian untuk keluarga kami. Jadi kalo tahun itu bagian saya dan adik, biasanya saya minta agar kurbannya di sekolahan saya. Jadilah akan ada kambing dengan nama dian eka di sekolah saya selama beberapa hari. Okay, thats irritated 😀

Yang menarik bagi saya adalah, kami tidak pernah mengambil jatah kurban. Seperti yang kita ketahui, orang yang berkurban punya jatah atas daging yang dikurbankannya. Namun orang tua saya tidak mengambilnya, dengan alasan: “masa nanti kendaraan kita ke surga kakinya pincang satu karena kita makan.” Masuk akal.

Ayah saya juga bukan orang yang paham2 banget perkara agama, tapi untuk hal ini saya setuju dengan ayah. Jikapun tidak ada tuntunannya, kita anggap saja sebagai totalitas beribadah. Dan ketika saya beranjak dewasa, mulai kuliah, beberapa kali saya mendengar kata-kata demikian dari ulama terkenal, waktu itu saya dengar hal serupa dari aa gym dan almarhum zainuddin mz. Maka makin jelaslah saya untuk tidak pernah mengambil bagian kurban kami. Dengan menggunakan alasan yang lebih ringan dipahami, nenek saya berkata: “jangan seperti orang susah, kalo cuma mau daging, beli aja di pasar sekilo dua kilo, ga usahlah ambil jatah kurban orang miskin.”

Okay granny, noted.

Makanya di rumah saya kalau idul adha ga pernah ada sajian kambing. Menu lebaran idul adhanya mirip aja kya idul fitri: opor ayam, rendang, tekwan, mpek2.

Ketika kerja dan bisa kurban sendiri juga saya masih memegang ajaran ayah dan nenek. Ya selain untuk membulatkan kurban kami, juga biar ga nambah sakit kolesterol sih hehehe.

Tapi kemudian saya merasa hiruk pikuk idul adha jadi terlalu geser. Ketika idul adha tiba, kurbannya didistribusikan ke orang-orang yang kurang membutuhkan, misalnya ke semua warga komplek saya, dengan alasan solidaritas. Maksud gue, please lah orang2 komplek bukannya mampu ya beli sekilo dua kilo daging?

Trus udah gitu, anak2 muda komplek saya juga jadi bebakaran sate pakai jatah kurban itu. Entahlah itu dapat jatah karena mereka mustahiq dari kalangan fakir miskin atau ghorim, atau krn mrk panitia atau karena mereka yang berkurban? Mbuh. Intinya jadi heboh ajalah muda-mudi dan bapak2 komplekan saya nyate2. Saya sih berusaha berfikir positif mungkin itu jatah karena mereka panitia kurban atau karena mereka berkurban.

Tapi kalo nurani saya mau tereak, pengen sih bilang: kenapa sih anda sebagai panitia ga kreatif dikit dalam mendistribusikan?

Masih banyak warga dan daerah yang kurang pangan. Sebenernya kalau panitianya mau capek sedikit, kan bisa dibikin abon atau kornet atau dendeng. Lalu kemudian bisa didistribusikan ke tempat2 yang lebih jauh dan terpencil, ketimbang cuma jadi makanan hura-hura warga komplek (atau warga kampung sekitar komplek yang saya tahu juga cukup mapan).

Terus yang bikin saya geli lagi, saya dicurhatin panitia kalau ada warga komplek yang minta jatah dua bungkus, padahal dia ga ikutan kurban. Trus apa kabar satu mobil dan satu motor yang nangkring di garasinya? Halloooo…

Ya gitu deh. Saya jadi nyinyir.

Maksud saya, sudahlah daripada bikin pincang kendaraan kita ke surga, atau malah menerima (bahkan meminta) jatah kurban yang bukan hak kita, mending kita usahakan agar daging kurban bisa merata ke daerah2 yang masih kekurangan.

Demikian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s