Kampanye: perspektif lain

Sedang musim kampanye. Setiap hari pasti ada suara “grong-grong” dari kendaraan para peserta pawai kampanye. Setiap hari juga kita (saya) harus bersiap-siap putar arah/mencari jalan alternatif karena jalan yang biasa ditempuh jadi ditutup untuk kepentingan kampanye. Belum lagi lingkungan sekitar rumah dan jalan-jalan yang jadi kumuh karena banyak spanduk (etapi pemerintah Jogja masih lumayan deh, mereka berani melarang pemasangan umbul2 di jalan protokol, makanya lingkungan rumah yang jadi padat umbul2).

Kalau dirangkumkan, maka kampanye ini akan lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Iya kan ya?

Terus tiap kali ketemu arak-arakan kampanye di jalanan, gue bakal ngeluh kan yaa. Terus bertanya-tanya, kenapa sih ada orang-orang yang segitu relanya panas-panasan ikut kampanye? Semacam kurang kerjaan aja. Hingga suatu hari keluhan itu tertumpah di depannya om betmen.

“Aku kesel sama kampanye, bla bla bla.. Blu blu blu…”

“Yang buat kamu ga penting dan ganggu, mungkin adalah hal penting dan menyenangkan buat mereka.” Tanggapan om betmen.

“Gimana bisa menyenangkan?”

Lalu on betmen menunjuk beberapa tukang becak yang mangkal di dekat kami parkir, juga tukang sampah yang ngadem di bawah pohon di dekat kami. “Lihat baju mereka? Kumuh? Kotor, yang itu sudah sobek-sobek. Masih tetap dipakai. Jika mereka ikut kampanye, atau ada arak-arakan kampanye melintas, bisa dipastikan mereka akan dapat pembagian kaos. Menurut kamu ga penting, sehelai kaos dari combad murahan, bahan saringan tahu. Tapi bagi mas-mas itu, adalah berkah bagi mereka, bisa mendapat kaos yang baru dan lebih layak untuk bekerja sehari-hari. Jika ada 10 parpol saja, mereka bisa mendapat 10 kaos, yang bisa mereka berikan juga untuk anggota keluarga yang lain, istri atau anak-anaknya. Belum lagi jika mereka ikut kampanye, mereka akan dibayar 50-100 ribu. Jumlah yang mungkin sulit mereka dapat jika hanya menarik becak. Dan selama kampanye itu mereka akan disuguhi panggung musik dan game-game menyenangkan, ajang refreshing bagi mereka yang tidak mengenal istilah holiday gate out atau vacation dan sejenisnya. See..?”

Aku mantuk-mantuk diceramahin. Dalam hati membenarkan juga kata-kata om betmen.

“Mereka ikut kampanye mungkin bukan karena simpatisan salah satu partai. Bisa jadi motifnya cuma kaos gratis, dan itu benar terjadi ada di sekeliling kita. Makanya money politic, serangan fajar masih laku di negara ini. Karena baru seharga kaos gratis taraf hidup sebagian rakyatnya. Kasihan ya.” Om betmen lagi.

Aku mantuk-mantuk lagi.

“Tapi memang benernya ganggu sih. Semoga pemilu kelak pemerintah lebih tegas mengatur tata tertib pemilu di jalanan.” Om betmen lagi.

Aku masih mantuk-mantuk. Teringat beragam kaos dan pakaian yang menumpuk di lemari. Mengutuki diri sendiri yang ternyata perlahan menjadi tidak peka terhadap sekeliling.

Tuhan jadikan bangsa ini lebih baik, jadikan aku lebih peka. Jangan tutup nuraniku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s