Signalling theory

“Hari gini kok masih ada aja yah orang ngopi-ngopi di starbuck trus minumannya difoto lalu diposting di path.” Kata Om betmen pada suatu sore.

“Kata-katanya apa?” Tanya saya.

“Ga ada kata-kata bermakna, paling caption ‘starbuck’ atau ‘minuman gue sore ini’, hal-hal macam itu. Apa spesialnya starbuck? Kenapa harus diposting fotonya tiap minum di sana?”

“Yang diposting bukan moment di starbucknya? Misalnya foto hang out with friend at starbuck, atau kejadian lucu di starbuck, atau some thought about the starbuck coffee?”

“Bukan foto moment atau opini, cuma foto cup minuman. Kalau baru pertama kali seseorang posting seperti itu mungkin masih menarik, trus misalnya dikasih caption “my favorite beverage.” Bisa jadi petunjuk kalau ada yang PDKT, bisa tahu apa minuman favoritnya. Tapi terlalu sering posting foto cup minuman walau bermerk sekalipun, rasanya ga menarik lagi. Iya orang-orang udah tahu dia suka minuman itu, lalu apa? nyampahin TL dan ndeso. Kalau posting cup minuman starbucknya tahun 2002 waktu starbuck baru ada di Indonesia, masih oke lah pamer starbuck. Nah ini 12 tahun berlalu, outletnya patingtelecek dimana-mana, again whats so special with strbuck? Mending kopi buatan kamu ya?”

eciyee gue dipuji.

“Ya mungkin aktualisasi dirinya baru sampe situ. Belum ada pencapaiannya yang lebih tinggi dari minum kopi mahal. Jadi ya baru bisa posting itu.” Saya, alih-alih mengademkan malah ikutan menjudge dan nyinyir. Hihi.

“Bisa jadi. Bisa jadi. Kasian ya kalo seseorang menganggap kopi mahal merupakan simbolisasi pencapaian tertinggi hidup.” Ucap Om betmen sambil ngakak.

Tumben juga on Betmen komplen tentang orang lain, biasanya dia ga ambil pusing tentang hal-hal disekelilingnya. Kalau sampai dibahas, berarti hal tersebut menarik sekali atau gengges sekali.

Lalu saya mikir, iya sih, norak hihi. Maksud saya, kalau kulineran yang unik, ga perlu mahal atau bermerk, yang penting ga pasaran, mungkin menarik juga untuk diposting di media sosial. Siapa tahu bisa menginspirasi orang lain yang bingung mau kencan atau makan apa dimana.

Tapi kalau yang diposting cuma itu-itu saja, tanpa caption yang jelas, walau mahal sekalipun jadinya bikin orang mikir, pamer kok cuma sebatas itu terus ya. Punyanya cuma itu ya? Mampunya cuma itu ya? Bosen.

Lalu saya kepikiran ‘signalling theory’. Teori yang sering dipakai orang-orang di major keuangan dan investasi untuk menganalisa atau memprediksi kejadian di pasar keuangan.

Misalnya ketika CEO mengumumkan pembagian deviden, oleh investor hal tersebut akan ditangkap sebagai sinyal positif terkait kinerja perusahaan. Lalu investor akan berbondong-bondong berinvestasi di perusahaan tersebut. Atau ketika Jokowi dimandatkan untuk nyapres, pasar melihat hal tersebut sebagai sinyal positif bagi keadaan ekonomi Indonesia di masa yang akan datang, maka terangkatlah IHSG hingga hampir 1000 point. Daebak!

Dalam sains keprilakuan dan psikologi, signalling theory juga sering dipakai. Mungkin kalau pakai bahasa koran, disebutnya ‘pencitraan’.

Iya, setiap kita tentu membangun citra. Disadari atau tidak, diinginkan atau tidak. Bahkan jika yang terbentuk adalah citra yang buruk. Nah sosial media saat ini sangat memudahkan kita untuk melakukan pencitraan. Kita bisa memposting hal-hal, sinyal-sinyal, yang diharapkan bisa membentuk persepsi orang lain sebagaimana kita ingin orang lain tersebut melihat kita.

Kita bisa tiap hari posting foto selfie dengan bibir manyun, untuk memberi citra bahwa kita lucu imut (atau kurus ya? Hehehe). Kita juga bisa tiap hari posting quote2 motivasi, sehingga orang berfikir kita adalah manusia setara mario teguh. Kita juga bisa posting foto-foto travelling, agar citra sebagai traveller melekat pada diri kita. Kita bisa melakukan apapun, dan itu lumrah! Manusiawi banget.

Yang jadi concern saya adalah, alangkah sayangnya jika niat pencitraan tersebut malah jadi backfire, bikin orang jadi males dan menganggap kita gengges, karena yang kita posting kurang pas.

Saya pribadi lebih suka melihat ‘thought’ ketimbang ‘thing’ bersliweran di sosial media saya.

Jadi jika ada dua foto minuman starbuck yang bertuliskan nama si pemesan, yang satu fotonya dikasih caption “starbuck”dan yang satu lagi dikasih caption “nama saya BERTI, mas. Bukan BARBIE.”

Tentu saya akan lebih mengapresiasi dan terhibur dengan foto kedua. Benda yang sama, namun diposting dengan tujuan berbeda. Yang satu mungkin sekedar menunjukkan ‘gue mampu beli/punya/melakukan hal ini tiap hari.’ Sementara foto yang satu lagi menunjukkan ‘moment/pemikiran/wawasan’ bagi yang melihatnya, bahwa dengan salah menulis nama di cup minuman, seorang barista starbuck telah merubah nama konsumennya yang tadinya berbau jawa menjadi beraroma internasyenel tanpa harus pake upacara bubur merah putih.

Contoh lain, dua orang sama-sama pasang foto selfie. Yang satu tiap hari pasang foto selfie dengan caption ‘me’, tanpa informasi yangberarti kecuali mukanya (dan ironisnya dengan ekspresi yang selalu sama, muka manyun misalnya, atau muka dengan pipi dikempotkan). Sementara orang yang satunya posting foto selfie dengan caption, ‘bok, jangan lewat tugu tani kalo ga mau muka loe kusut kaya gue, macet tiga jam.’

Foto pertama terasa cuma pamer. Yang melihat foto itu mungkin dalam hatinya berkomentar “iya, itu elo, terus kenapa?” Sementara foto yang kedua pasti akan menimbulkan banyak tanggapan, entah tanggapan kasian atas muka kusut atau macetnya, atau tanggapan terimakasih karena sudah berbagi info lalulintas.

Keliatan ya bedanya?

Jadi begitulah. Mari bersignalling theory (baca: mari membentuk citra diri). Self branding penting agar kita dikenal pasar, sukur dicari headhunter. Jadi sah saja memposting apapun yang menjadi passion diri masing-masing. Sukur-sukur hal tersebut turut membangun citra positif dalam diri. Namun sekali lagi, meskipun yang diposting itu adalah hal yang menjadi passion kita, pastikan orang lain bisa mendapat manfaat dari postingan tersebut.

#NoteToSelf

*soalnya gue juga manusia banget yang mungkin sering juga pamer2 seperti orang2 yang gue kritisi hihi. #insap

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s