Kita tidak (terlalu) terbelakang

Beberapa waktu lalu saya mengikuti internasional conference yang diadakan sungkyukwan university. Antusias dong, siapa tahu ada aa lee min ho (Abaikan. Abaikan. Abaikan). Antusias dong karena sungkyukwan alias SKKU adalah universitas tertua yang dibangun pada tahun 1300-an pada Dinasti Joseon, dan dibikin serialnya dengan judul Sungkyukwan scandal. Antusias dong, secara saya pecinta drama bergenre saeguk hahaha. (Abaikan. Abaikan. Abaikan).

Baiklah, setelah berbagai alasan non akademis di atas, mari mulai memasukkan beberapa deskripsi yang sifatnya akademis. Halah.

Antusias dong, karena Sungkyukwan business school itu ada di rangking 47 top university versi financial times. Sementara fakultas ekonomika dan bisnis UGM ga masuk top 100 itu, huahahaha (tangis haru).

Namun jangan berkecil hati, ada beberapa hal yang bisa saya banggakan dari indonesia dibanding korsel; bahwa bahasa inggris kita lebih fluent dan metode riset kita lebih rigor dibanding mereka :’)

Perkuliahan yang dilakukan dalam bahasa inggris oleh beberapa dosen korea, masih bisa saya tangkap. Mungkin karena logat para profesornya tidak terlalu korea, mengingat sebagian besar dosen sungkyukwan mengambil master dan doctoral degreenya di luar korea (mostly amerika).

Tapi ketika giliran Ph.D studentnya presentasi, kepala saya agak pening. Ph.D student loh huhuhu. Awalnya saya pikir karena perkara logat yang membuat saya sulit memahami apa yang mereka maksudkan. Bahasa inggris dalam logat korea bernada agak diseret dan intonasinya tinggi. Beberapa vocab bahasa inggris diucapkan dengan menambahkan huruf vokal di akhir. Misal: word akan dilafalkan ‘wordii’ oleh mereka. Word of mouth : wordii of moutee. Namun belakangan saya berkesimpulan, saya sulit memahami presentasi dari mahasiwa korea, karena sistematika presentasinya yang kurat runut. Dari empat presentasi riset yang disampaikan para Ph.D student tersebut, hanya satu yang sistematikanya runut. Tiga lainnya agak loncat-loncat sehingga sulit dipahami. Tampilan presentasinya juga tidak terlalu keren, masih lebih keren dan kreatif tampilan presentasi beberapa mahasiswa S1 UGM yang pernah saya ajar. Hehehehe.

Hal lain adalah, riset mereka tidak terlalu rigor. Secara hasil riset mereka ditampilkan dalam conference, maka sudah biasa akan menimbulkan pertanyaan atau didebat. Sayangnya beberapa pertanyaan mengenai metode riset yang menurut saya basic sekali, tidak dapat mereka jawab dengan memuaskan. Saya berfikir, apakah karena kendala bahasa, sehingga mereka tidak dapat menyampaikan background riset mereka dengan baik? Tapi setelah saya pikir-pikir, kalau mereka tidak dapat menjawab pertanyaan riset, minimal seharusnya mereka bisa memahami pertanyaannya. Tapi bahkan pertanyaan dari floor juga tidak bisa dengan mudah mereka tangkap, sehingga moderator dan profesor harus berulang kali menjelaskan maksud penanya kepada presenter. Sebagai perbandingan, dalam forum yang sama tersebut, presenter dari negara lain, bahkan indonesia bisa menjawab pertanyaan dan berdiskusi dengan floor dengan baik. Dung dung dung.

Tapi saya sangat tertarik dengan tema-tema riset pemasaran mereka. Sangat kreatif. Topik-topik kontemporer semacam aplikasi smartphone, gesture tubuh dalam memutuskan hubungan, pola donasi dan keprilakuan, skema gongsi dan mahamentor untuk penyetaraan pendidikan, merupakan topik yang baru dan happening saat ini yang diteliti oleh mahasiswa SKKU. Sementara langgam riset UGM kinda boring menurut saya (termasuk riset saya) yaitu seputar merk, sikap,dan niat beli. Yang agak baru dari Indonesia adalah tentang religiousity. Mungkin karena tuntutan metode riset di UGM yang harus rigor, jadi lebih banyak riset-riset UGM yang main aman dengan mengembangkan konstruk2 yang sudah mapan ketimbang mengeksplorasi konstruk kontemporer macam penelitian yang dilakukan mahasiswa2 korea ini. Dilema ambidexterity deh: Eksplorasi atau eksploitasi?

Baiklah, terlepas dari bahasa inggrisnya yang sulit dicerna, dan pemahaman yang agak dung dung dung dari teman-teman korea, saya tetap suka aa lee min ho. (Ga nyambung sih. Abaikan).

Ya udah gitu aja. Laporan dari SKKUnya. Saya menulis posting ini sebenernya pengen bilang, wahai bangsa Indonesia, ga perlu takut kalo ga bisa bahasa inggris. Ga usah juga membully teman2 kita (atau malah orang asing di twitter atau socmed lainnya) yang salah grammar atau pelafalan ketika menggunakan bahasa inggris, toh bahasa inggris bukan mother language.

Kalo bisa bahasa inggris, itu point plus. Kalo ga bisa juga bukan berarti nista. Namun ada baiknya tetap belajar bahasa inggris agar bisa berkomunikasi sebagai bagian dari mahluk global. Yang lebih penting menurut saya adalah seberapa pede kita untuk maju dan menjual ide kita (tidak terbatas dalam hal riset saja). Buktinya orang-orang korsel dengan bahasa inggrisnya yang terbatas tetap pede tampil dimuka publik, mempresentasikan ide riset mereka walau terbata-bata.

Saya melihat bahwa global society memiliki toleransi tentang perkara foreign language ini. Global society mahfum bahwa ada negara-negara yang bahasa inggris hanya merupakan secondary language. Lalu mengapa kita yang sesama orang Indonesia, yang sama-sama berbicara bahasa indonesia harus sok2an mencela kalau ada yang salah ngomong bahasa inggris dipergaulan lokal? Itu sama saja secara perlahan membunuh kepedean kita untuk berbicara dalam bahasa inggris. Udah pede aja, dan ga perlu saling bully. Saling mengingatkan atau mengoreksi, boleh. Selama dalam koridor membangun, bukan menjatuhkan.

Jangan kecil hati (note to self) terhadap negara ini. indonesia juga punya banyak talenta yang pintar dan cerdas melebihi orang-orang korea yang digadang-gadang sebagai negara yang maju pesat. Banyak mahasiswa Indonesia yang idenya layak ditampilkan dalam forum internasional, tapi kadang mereka tidak jadi tampil karena ga pede dan takut bahasa inggrisnya belepotan. Jangan takut, tetap maju saja. Kalo idenya bagus dan orisinil, pasti akan tetap diapresiasi.

Kita ternyata ga (terlalu) terbelakang kok (emang siapa yang bilang indonesia terbelakang?) tapi tetep sih, indonesia belom bisa bikin sinetronnya sekeren serial drama korea. Byahahaks. (Tetep).

Bubyeeeee

__ __ __

Nb: sepertinya fenomena pengucapan bahasa inggris yang aneh ini disadari deh oleh orang korea. Anda yang mengikuti serial my love from another star pasti inget betapa annoyingnya cara cheon song yi mengucapkan kata sorry dengan ‘sowwwreeyy’. Pengucapan tersebut jadi parodi di acara running man (lupa episode berapa). Lucuk.

^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s