Dimana etika jurnalistik?

Dulu saya termasuk yang galau ketika foto almarhum mbah Maridjan berseliweran di lini masa. Logika saya bertanya mengapa bisa foto jenazah tersiar begitu mudahnya di ranah publik? Juga mengapa orang-orang tanpa rasa bersalah bisa memforward foto itu kepada kolega atau keluarganya demi kepentingan sensasi ketimbang turut berduka?

Jelas, saya bukan penggemar berita di koran maupun televisi. Dengan alasan, banyak berita yang kalau ditonton atau dibaca lebih berfungsi sebagai racun ketimbang vitamin jiwa.

Dulu saya juga pernah memposting topik serupa, bahwa alasan saya tidak suka menonton berita adalah karena genre sensasi dan kriminalitas yang dilebih-lebihkan, menjauhi esensi berita itu sendiri, misalnya gambar-gambar darah dan jenazah yang terekspos berlebihan. Atau eksploitasi cerita duka korban yang terlalu berlebih-lebihan.

Lalu kemarin saya dan keluarga besar kesripahan . Kakak sepupu saya meninggal dunia ketika beliau sedang dinas di luar kota. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Duka bagi kami semua, terutama karena beliau masih terhitung muda, tidak ada yang menyangka beliau pergi secepat ini. Dan keadaan bahwa beliau meninggal di dalam kamarnya sendirian tanpa ada keluarga yang tahu dan baru ditemukan 8 jam kemudian oleh rekannya yang hendak menjemput beliau meeting, itu sangat menambah duka kami.

Namun ternyata tidak semua pihak bisa berempati pada keadaan duka seperti ini. Misalnya para wartawan abal2 yang tidak punya berita lalu memberitakan apapun demi kejar setoran.

Karena kakak sepupu saya meninggal di hotel dan dalam keadaan sendirian, maka perlu dilakukan olah TKP oleh kepolisian dan otopsi atas jenazah beliau. Dari sanalah lalu wartawan bermunculan. Proses olah TKP, otopsi serta mengeluarkan jenazah dari RS yang tidak mudah, sudah cukup membuat kami berang. Jenazah tidak bisa langsung dibawa ke Jogja karena harus menunggu surat keterangan dari kepolisian, dan mengingat jabatan almarhum yang cukup tinggi di salah satu BUMN, konon surat tersebut harus ditandatangani oleh kapolres, anak buahnya tidak ada yang berani mewakilkan, dan kapolresnya sedang berada di luar kota! shit!

Yang semua itu Ujung-ujungnya duit.

Namun yang lebih tidak manusiawi adalah, surat kabar lokal memuat berita kematian tersebut. LENGKAP dengan foto jenazah ketika ditemukan di tempat kejadian! Astagfirullah.

Ga ada berita yang lebih pentingkah yang bisa diangkat daripada foto jenazah dalam pakaian lengkap yang jelas2 dalam berita itu juga dinyatakan meninggal karena terkena serangan jantung. Apa nilai beritanya sehingga foto jenazah harus terpampang secara jelas disana!

Apakah kita sangat butuh sensasi untuk menyalakan periuk nasi, walau itu menyakiti hati orang lain? Pernah ga si wartawan mikirin anak dari jenazah tersebut. Mungkin anaknya bisa dengan ikhlas, bertahan dan legowo menerima kematian bapaknya, tapi apakah anaknya bisa bertahan jika teman2nya bertanya simpang siur akibat foto jenazah bapaknya masuk koran?

Dalam Pasal 49, 50, 51 P3-SPS yang dikeluarkan KPI, tegas diatur, pemberitaan mengenai musibah atau bencana dilarang menambah penderitaan atau trauma korban. Lalu berita dan pemuatan foto ini, apa?

Dimana etika jurnalistik?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s