Naga tempur dan Pteranodon tunggang

20131231-035208 PM.jpg

31 Desember 2013

Bima melirik jam tangannya, dua jam sebelum tahun berganti. Dia mendesah, yang dinanti belum kunjung tiba.

“Bim, dari dulu aku pengen banget punya rumah di sini, Dago giri!” Bima teringat sebuah percakapan dua tahun yang lalu,  dengan gadis yang sedang dinantinya saat ini.

“Kenapa gitu?”

“Tebingnya bagus, Bim. Bayangkan kamu punya rumah di sisi ini, ketika kamu membuka jendela, kamu melihat lembah, kebun sayuran dan terasering. Keren banget, Bim!” Gadis itu berkata dengan semangat sembari menunjuk satu titik yang diimpikannya bisa membangun rumah di sana.

“Bukan karena di sini sepi, lalu kamu bisa memelihara naga tempur?” Jawab Bima separuh meledek.

“Eh iya, itu juga deh. Hebat juga ide kamu. Disini masih hijau dan banyak pohon-pohon, kalau Nagaku bosan terkurung di halaman rumah yang luas, dia bisa terbang tanpa takut ketahuan warga sekitar.” Gadis itu menanggapi ledekan Bima dengan serius.

Bima berusaha menahan tawa melihat ekspresi wajah yang bersemangat ketika bercerita tentang naga.

“Yu, kamu tahu harga tanah satu hektar di Dago giri bisa belasan milyar?”

“Hah? Serius Bim? Tapi di sini masih pedesaan, Bim. Kalau di Dago pakar harga tanahnya belasan milyar, aku bisa memahami karena dekat tengah kota Bandung. Lah ini, mencil dan aksesnya susah, masa sudah belasan milyar. Kapan aku bisa punya tanah di sini, harus korupsi dulu ya?” Tanya gadis yang bernama Ayu, putus asa.

Bima mendaratkan jitakan ke kepala Ayu.

“Ngaco! Ga ada korupsi-korupsian. Usaha yang bener. Sesuai bidangmu, bikin game keren yang diunduh separoh penduduk dunia. Uang belasan milyar rupiah akan jadi recehan bagi kamu.” Jawab Bima.

“Ah, diunduh separoh penduduk dunia. Aamiin.” Ayu mengamini dengan khusu’. Bima tersenyum melihat wajah Ayu yang berubah serius.

Angin semakin dingin. Ingatan mengenai percakapan yang terjadi lebih dari dua tahun lalu sudah usai berkelebat di benak Bima. Ayu yang ditunggu belum juga datang.

Bima merapatkan jaketnya. Mengecek ponsel dan tidak menemukan notifikasi apapun.

Bima tahu Ayu tiba di Indonesia minggu lalu. Terimakasih pada social media yang terus memberinya berita terkini mengenai Ayu. Percakapan formal Bima dan Ayu berakhir beberapa bulan sebelum Ayu meninggalkan Indonesia. Berarti sudah lebih dari dua tahun. Semenjak Ayu berpamitan, mereka tidak pernah lagi bercakap-cakap melalui media apaun. Email yang ditulis Bima tidak pernah dibalas. Mungkin bagi Ayu, kisah mengenai Bima sudah selesai. Tapi bagi Bima, Ayu adalah cerita yang baru saja dimulai, tapi kandas. Obsesi mengenai Ayu menjadikan Bima pemerhati setia semua social media yang berhubungan dengan Ayu. Untunglah Ayu tidak secara sadis menghapusnya dari daftar teman di social media.

Ayu jarang memposting kegiatannya di akun socmed, kadang ada satu dua postingan dari mutual friend Bima dan Ayu yang memberi Bima petunjuk mengenai Ayu. Ada dimana, dengan siapa, melakukan apa. Dari beberapa mutual friend yang memberinya ucapan selamat via twitter, Bima tahu bahwa Ayu sudah lulus dari kuliah masternya di bidang ilmu komputer. Dari foto yang di tag rekannya ke akun facebook Ayu, Bima tahu bahwa Ayu lulus cumlaude. Dari path, Bima tahu bahwa Ayu sudah tiba di Jakarta. Jakarta, bukan Bandung.

“Lalu aku dengan bodohnya mengirim pesan di path, meminta dia datang ke sini, ke Bandung. Berharap bisa memulai cerita tentang kita kembali. Tidak, bahkan saat itu belum dimulai. Kamu sudah terlanjur berlalu pergi.” Desah Bima dalam hati.

Dan kenangan masa lalu kembali berkelebat.

– – – –

20 Maret, 1999.

“Aku ingin naik naga terbang. Akan aku latih menjadi naga tempur yang hebat.” Ucap Ayu sembari menatap layang-layang yang berterbangan di atas mereka.

“Sama. Aku juga. Tapi aku ga suka naga terbang. Pteranodon aja, kayanya lebih ringkas ketimbang naga.” Timpal Bima sembari berdiri dan berjalan merentangkan tangan agar tetap seimbang.

“Ih dinosaurus. Kamu hidup jaman kapan sih, dasar manusia purba!” Ucap Ayu dengan pandangan mencela.

“Biarin. Daripada kamu, ga jelas naga itu benar ada atau enggak, apalagi naga terbang. Pteranodon jelas ada jejak sejarah dan keberadaannya.”

“Ah, aku punya ide. Kita ke Museum Geologi lagi yuk. Siapa tau ada fosil baru yang mirip naga yang belum kita lihat.” Ucap Ayu dengan mata berbinar-binar, seolah idenya cemerlang setara penemuan lampu pijar atau telepon.

“Enggak ah, Yu. Dua minggu lalu kita sudah kesana.”

“Ah ga seru!”

“Ayuuuu turun! Anak perempuan naik-naik atap rumah orang. Turun!” Sebuah teriakan mengagetkan mereka. Mama Ayu berdiri galak di depan pagar rumah kosong yang mereka panjat atapnya. “Ayu turun! Bima juga.” Mama Ayu kembali berteriak, kali ini nama Bima disertakan.

 

– – – – –

Demikianlah kenangan yang tersimpan dibenak Bima mengenai percakapan terakhir mereka, 12 tahun yang lalu. Masa ketika imajinasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka bersahabat. Bima lebih tua dua tahun dari Ayu. Cukup setara untuk menjadi partner in crime yang memusingkan orangtua mereka. Setiap Ayu berulang tahun, Bima akan memberinya kupon – kupon berisi privillege. Dengan kupon itu Ayu bisa menyuruh Bima melakukan hal – hal yang tertera dalam kupon.: Main monopoli. sampulin buku, bawain tas dua hari, kerjain PR matematika, gantiin aku piket membersihkan kelas. Ayu seperti adik yang tidak dimiliki Bima, dan Bima seperti kakak yang tidak dimiliki Ayu.

Lalu sang waktu menggilas imajinasi. Terkadang menyedotnya hingga kering. Mengurungnya dalam penjara bernama karir. Dalam sebuah dunia kecil bernama gedung perkantoran dan jeratan borgol bernama kemacetan ibukota. Menyisakan jiwa letih dan lelah yang tidak memiliki ruang imajinasi. Bima merasa hampa, tidak ada lagi ruang untuk naga terbang dan pteranodon tunggang.

Menyusuri ruang-ruang masa kecil di Bandung adalah salah satu cara yang dilakukan Bima untuk tetap waras. Mengenang masa kecil bisa membangkitkan imajinasi dan semangat hidup, menurutnya.

– – – –

15 Mei, 2011

Ketika beban pekerjaan terasa berat, sering kuluangkan waktu untuk datang ke Bandung. Rendezvous. Mengenang masa kecil yang kuhabiskan di kota ini.

Museum Geologi masih sepi, mungkin karena baru pukul 9 pagi. Suasananya hening, menurutku masih layak disebut sebagai sanctuary. Aku menuju sayap kanan museum. Aku teringat, gedung sayap kanan adalah tempat favorit Ayu, sahabat masa kecilku. Dia menyukai bagian gedung ini karena berisi fosil-fosil dinosaurus dan tengkorak manusia purba yang ditemukan di Indonesia.

Fosil T-Rex adalah yang paling menarik perhatiannya. Fosil sepanjang 8 meter. Berdiri kokoh tinggi menjulang hingga menyentuh langit-langit museum. Cukup besar untuk memantik imajinasi, betapa tidak berdayanya manusia jika harus hidup satu jaman dengan dinosaurus.

“Bim, orang – orang bilang ini fosil T-rex. Padahal bisa jadi ini naga terbang. Lihat, begitu kokoh tulang belulangnya. Pasti ada bagian berupa sayap yang belum ditemukan dari fosil ini.” Ucapnya kala itu.

Aku hanya mengangguk seolah setuju. Mendebatnya mengenai naga terbang berarti mencari gara-gara. Mukanya akan kusut sepanjang hari, merusak acara jalan-jalan kita.

Lima menit berlalu sejak aku berada di gedung ini. Aku melayangkan pandang ke sisi lain T-rex. Di seberang T-rex ada fosil mastodon atau gajah purba. Sesuatu menarik perhatianku di sana, ternyata aku tidak sendiri. Ada yang datang lebih pagi ke museum ini dibanding aku. Seorang perempuan tampak tertunduk tekun, bersandar pada salah satu tiang museum. Dari samping nampaknya dia sibuk mencoret-coret di atas kertas.

Aku sangat menyukai siluet perempuan yang sedang serius mengerjakan sesuatu. Entah itu sekedar membaca komik dengan serius, atau membuat sketsa fosil seperti perempuan di dekatku ini.

Tanpa sadar tanganku membidikkan kamera kepada perempuan itu.

Yang kupotret sadar. Dia menghentikan pekerjaannya dan menatapku tajam, pertanda tidak suka diambil gambarnya. Segera aku mengutuk shutterku yang berisik dan kealpaanku membawa lensa jarak jauh. Jika shutterku tidak berisik, atau jika aku memotretnya dari jauh, pasti perempuan ini tidak akan terganggu.

Perempuan ini cantik. Rambutnya ikal terkuncir berantakan. Balutan kaos putih longgar dan celana jeans warna khaki, memperjelas warna cerah kulitnya. Dan dia marah, sehingga sorot matanya menjadi terlihat sangat hidup.

“Maaf, kamu tadi memotret saya atau fosil?” Tanyanya ketika sudah berada didekatku.

“Emmm.. Itu… ” Aku gelagapan tidak siap dengan pertanyaan lugasnya.

“Kamu memotret saya?” Tanyanya lagi. Untung dia cantik. Sehingga pertanyaan lugasnya tidak terdengar terlalu narsis.

“Emm… Saya memotret badak.” Jawabku berdusta, sembari menunjuk fosil badak didekat perempuan tadi berdiri tadi.

“Oh. I see. Maaf. Hehehe. Struktur kalimatku tadi kesannya kegeeran ya.” Dia tersenyum, nampaknya malu akan sikap impulsifnya barusan. Suasana mencair.

“Ga apa-apa. Aku minta maaf sudah mengganggu konsentrasimu. Silahkan diteruskan, aku memotret bagian lain saja.”

“Eh jangan gitu, ini tempat umum, kamu boleh memotret dimana saja. Silahkan kalau kamu mau meneruskan memotret fosil badak atau gajah atau apalah. Aku tidak terganggu. Maaf tadi aku overacting.” Ucapnya serius.

Aku mengangguk. (Berpura-pura) membidik kamera ke arah fosil-fosil lagi.

Lima menit kemudian, aku selesai dengan kegiatan memotretku. Perempuan itu masih berdiri bersandar pada tiang museum. Tangannya masih sibuk membuat sketsa.

Selintas keberanian timbul.

“Hai. Masih membuat sketsa?” Sapaku.

“Iya.” Jawabnya pendek, tanpa mengangkat kepala.

“Namaku Bima. Terkadang aku memotret sebagai hobi. Ini kartu namaku kalau-kalau kamu butuh fotografer amatir untuk mendokumentasikan pameran sketsamu.” Ucapku.

Perempuan itu mengangkat kepala. Menghentikan kegiatannya dan memandangku.

“Aku Ayu. Saraswati Rahayu.” Jawabnya sembari mengulurkan tangan hendak mengambil kartu nama dariku.

Dan aku mengenal nama itu.

“Kamu, masih pengen naik naga tempur?” Tanyaku kaget dengan kebahagiaan penuh.

“Hah?” Jawabmu bingung. Lalu kamu melirik kartu namaku. “Bima! Bima Arsaka! Pteranodon!” Teriakmu memecah keheningan museum.

Hari ini 15 Mei, 2011. Hari ulang tahunmu ke 22, Ayu. Aku menemukanmu lagi. Dan lima menit kita berpelukan lama sekali di bawah fosil T-rex, ditonton mastodon, badak purba dan penyu raksasa. Menandai pertemuan kita kembali setelah 12 tahun terpisah.

– – – –

Bima melirik lagi jam tangannya. Satu jam menjelang pergantian tahun. Ayu belum juga datang. Ingatannya melayang pada percakapan kala pertemuannya yang lain dengan Ayu.

– – –

4 Juni 2011

“Jadi kamu ngapain kalo suntuk sama kerjaan, Bim?”

“Pake tiga senjata andalan.”

“Apa?”

“Jalan-jalan, motret motret.”

“Itu dua?”

“Satu. Jalan sama motret satu paket.”

“Okay. Senjata kedua?”

“Mabok. Social drinking.”

Are you serious, Bim?”

“Yah adanya itu, Yu. Mau ngapain lagi coba. Orang-orang nyaranin sports untuk ngilangin stres kerjaan. Tapi aku udah ga punya energi lagi untuk aktivitas fisik macam itu. Paling gampang dan ga cape ya kongkow sama temen-temen. Tempat nongkrong di Jakarta ya palingan cafe, club, bar.”

“Segitu susahnya ya, Bim kerja jadi forex dealer seperti kamu.”

“Entah Yu. Mungkin karena baru tahun pertama penempatan aku di forex desk. Aku belum biasa, belum tahu celah-celahnya. Sebelumnya aku di bond market, obligasi. Daily swingnya kecil, ga terlalu volatile. Pindah ke forex market yang gerakan hariannya cepat, jadi butuh penyesuaian. Pas aku masuk forex desk, pas global financial market lagi gunjang ganjing pula. Euro, USD, rupiah naik turun kaya roler coaster. Bikin jantung deg-degan tiap hari. Padahal bukan duit aku ya, duit perusahaan. Kalopun rugi kan palingan aku dipecat. Hahaha..” Aku berkata sembari terbahak. Menertawakan kebodohanku sendiri. Kalau dipikir-pikir, aku terlalu serius menjalani pekerjaanku.

“Iya sih, aku bisa bayangin hiruk pikuk hidup kamu. Tapi jangan dibiasain minum lah, Bim. Kasian hatinya.”

“Hahaha iya, Yu. Makasih diingetin. Abahku kalo tau aku mabok mungkin bakal nyemplungin aku di empang belakang rumah, biar aku sadar. Hahaha..” Ucapku berkelakar.

Ayu tertawa mendengar kelakarku. Rambut ikalnya bergerak-gerak seperti per yang naik turun, lucu. Gigi kelincinya membuat wajahnya semakin kekanakkan ketika tertawa, menggemaskan.

“Hahaha iya, aku inget kamu pernah dihukum Abahmu berendam di empang belakang rumah. Malam-malam pula. Dingin. Hahaha. Gara-gara kamu ketahuan nyolong layangan di Warung Bik Juju.”

“Heh. Aku ga nyolong. Aku cuma ambil duluan bayar belakangan. Kamu nih sama aja ama Abah. Pake azas praduga tak bersalah dong!” Jawabku pura-pura ketus.

Tawa Ayu kembali meledak.

“Yu, kerjaanmu enak ya. Sesuai dengan hobi mengkhayal kamu.” Ucapku lagi ketika tawa kita mereda.

“Hahaha iya. Jadi game developer itu menyenangkan. Kalo aku sebel sama kamu misalnya, aku tinggal modelling karakter yang mirip kamu, aku jadiin villain trus mukanya aku bikin penyok sana sini, giginya maju, idungnya mekar, naik pteranodon yang juga bermuka penyok. Hahahaha.” Ayu berucap sembari tertawa terbahak-bahak.

Aku tidak ikut tertawa, sibuk membayangkan bagaimana jadinya wajah tampanku kalau penyok dan berhidung mekar. Imajinasinya kadang keterlaluan.

“Yu, ga pengen pindah Jakarta?” Tanyaku. Kali ini dengan intonasi serius. Ayu yang masih tertawa kecil lalu terdiam mendengar intonasi seriusku.

“Enggak Bim. Aku lebih suka di Bandung. Sejak kecil aku suka Bandung, adem. Gara-gara ayah pindah kerja akhirnya harus pindah dari Bandung. Bisa kuliah di Bandung, lalu dapat kerja di Bandung juga, bagi aku adalah anugerah. Pindah ke Jakarta yang panas, macet, enggak mau ah. Nanti aku jadi gampang suntuk dan hobi mabok kaya kamu. Ih!” Jawabnya sembari memasang ekspresi jijik.

Aku menyeruput jahe hangat. Lampu- lampu kota Bandung terlihat kecil dan jauh dari tempat kita duduk. Instaweather di ponselku menunjukkan bahwa langit Lembang malam ini bersih cerah, dengan suhu 16 derajat celcius. Kulirik jam tangan, pukul 10 malam. Pantas udara semakin dingin.

“Yu, pulang yuk. Aku mau balik Jakarta. Besok ngantor lagi. Ada RKK pula pagi – pagi. Jadi ga bisa telat.”

“Apa itu RKK?”

“Rapat komite kredit. Rapat untuk nentuin perusahaan atau institusi mana aja yang dapet plafon pinjaman dari Bank. Berapa nominalnya, terus kalo bentuknya valuta asing, mau dikasih forex line berapa, dan seterusnya.”

“Ga ngerti.”

“Iya, ga usah ngerti. Aku juga setelah 3 tahun kerja di Bank masih belum ngerti.” Jawabku asal. Yang dibalas Ayu dengan juluran lidahnya.

Ayu berdiri. Aku mengikutinya berdiri.

“Bim, tadi katanya tiga senjata. Baru disebutin dua. Senjata terakhir, kalo suntuk apa?”

“Pacaran.” Jawabku lugas.

“Hah?” Tanya Ayu. Pencahayaan di resto The Peak temaram, namun masih cukup untuk menangkat sorot kaget dan bingung di mata Ayu.

“Iya, Pacaran. Makan, minum, becanda, ngobrol sama pacar. Itu obat stres. Asal pacarnya ga lagi rewel dan PMS.”

Ayu memalingkan wajahnya. Berjalan mendahuluiku keluar dari The Peak. Angin dingin menerpa kami.

“Yu, tunggu. Kunci mobil aku di tas kamu.”

Ayu merogoh tas, dan menyerahkan kunci mobil yang kutitipkan di tasnya. Dia menyerahkan kunci itu tanpa melihat wajahku. Aku merasa aneh. Tapi tidak yakin apa penyebab keanehan itu.

Jalanan Lembang menuju Bandung cukup sepi. Tidak seperti saat berangkat yang penuh percakapan konyol, perjalanan pulang terasa hening.

Kukecilkan volume radio. Menoleh pada Ayu yang menatap keluar dari jendela samping.

“Yu, kok diem aja sih. Biasanya cerewet.”

“Iya, hehehe. Ngantuk.” Jawabnya.

“Jadi kamu punya pacar ya, Bim. Makanya kamu ga bisa tiap weekend ke sini ya.” Ucap Ayu pelan. Saking pelannya sehingga nyaris seperti berbicara pada diri sendiri.

“Hah?”

“Ga papa. Hehehe. Udah sana nyetir yang bener, jangan nengok2 ke aku mulu.” Jawab Ayu berkelakar.

Aku memfokuskan kembali pandanganku ke jalanan. Selintas pemikiran terbersit dibenakku. Perkataan Ayu yang diucapkan pelan itu, terdengar seperti cemburukah?

– – – –

“Iya itu cemburu.” Desis Bima dalam hati ketika teringat percakapan itu. Otaknya mengutuki hati yang tidak sensitif terhadap perasaan sahabat masa kecilnya. Otaknya mengutuki kelakuan bodohnya, salah satunya memperkenalkan Ayu pada Kiara kekasihnya. Menjadikan Ayu tempat curhatnya tentang Kiara. Menepiskan Ayu ketika Ayu menawarkan jadi pengganti ketika Kiara meninggalkannya. Ingatan kembali melintas di benak Bima.

– – – –

11 September 2011

“Bim, sudahlah. Kiara ga akan kembali. Dia sudah memilih.” Ucap Ayu sembari menepuk pundakku.

“Udah Yu, tinggalin aku.” Jawabku ketus.

“Yakin minta ditinggal, kamu jauh – jauh dari Jakarta ke Bandung, bukan karena mau curhat sama aku?”

“Kalaupun aku jauh-jauh ke sini, nyari kamu, bukan berarti kamu bisa masuk jauh ke dalam kehidupan aku, kasih saran ini itu seolah kamu paling paham aku. Jangan coba-coba merasa paham mengenai aku. Kita cuma teman saat weekend kan? Berbagi cerita senang tentang masa kecil. Tapi saat sulitku, saat sedihku, Kiara yang tahu. Cuma dia yang paham aku!” Ucapku keras saat itu. Menahan sakit menerima pernyataan dari Kiara bahwa minggu depan dia akan bertunangan dengan kenalan keluarganya.

“Jadi kamu maunya gimana, Bim?” Tanya Ayu pelan.

“Puk – puk saja punggungku. Itu lebih baik ketimbang berbagai saran.” Jawabku putus asa.

Dan Ayu menanggapi permintaanku dengan tepukan pelan di punggung. Diam, tanpa kata-kata. Hanya tepukan punggung. Aku tidak sadar jika ucapanku kala itu menyakitinya.

Dan setelah itu aku sibuk mengobati luka hatiku. Cukup lama aku tidak mengunjungi Ayu. Akhir pekan banyak kuhabiskan bersama rekan – rekan lelakiku, melakukan olahraga. Aku mengajukan diri melakukan perjalanan dinas keluar kota yang biasanya malas kulakukan. Apapun asalkan benakku sibuk, berhenti memikirkan Kiara yang tanggal pernikahannya dengan pria lain semakin dekat.

Hingga Email dari ayu datang.

14 November 2011

Bim, minggu depan aku berangkat ke US.  Aplikasiku untuk Stanford diterima, beasiswanya juga granted! Bayangin Bim, Stanford; Silicon Valley’s queen mother. Tempat start-up bermunculan. Founder Google dan Zalora juga lulusan Stanford. Kemungkinanku untuk  bisa bikin naga tempur yang diunduh separuh dunia jadi semakin besar!

Kuliahku di mulai awal Januari. Aku berangkat lebih awal, banyak yang harus disiapkan sebelum kuliah mulai. Ada preparation class. Kamu baik – baik ya disana. Terakhir kali  aku bilang ke kamu untuk move on dari Kiara, aku diomelin kamu. Baiklah aku cuma teman masa kecil, tidak punya kapasitas untuk masuk terlalu jauh dalam kehidupan kamu.  Kali ini izinkan aku berkata sebagai teman masa kecil yang sudah beranjak dewasa, dan mencoba memahami impian dewasamu, tidak sekedar bertukar khayalan tentang naga tempur dan pteranodon tunggang. Dear Bima, Perempuan ga Cuma satu. Bukan cuma Kiara. Jadi berhentilah patah hati.

Dan salah satu perempuan itu, coba pertimbangkan aku. 12 tahun berpisah dari kamu, dan bertemu lagi secara tiba- tiba. Aku jadi berharap banyak bisa mengulang cinta monyet masa kecilku. Sayangnya saat itu sudah ada Kiara.

Apakah aku akan selalu hanya menjadi teman masa kecilmu, Bim?

Love,

Ayu.

– – – –

“Aku teman masa kecilmu yang bodoh.” Desis Bima pelan, kembali melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 23.50 WIB. Lima menit sebelum tahun baru. Ayu belum juga muncul. Bima ingat benar bahwa pesan yang ditinggalkannya di Path Ayu menyebutkan Dago Giri pukul 22.00 WIB. Memang tidak pernah ada balasan dari Ayu terhadap pesannya itu, namun Bima tetap menanti. Saat ini sudah hampir dua jam Bima menanti.

“Sudah selesai. Dia tidak akan datang” Bima membatin. Menyalakan mobilnya untuk kembali ke Jakarta.

Sinar senter menerpa kaca mobilnya. Satu kali, dua kali. Bima menoleh.

Ayu tersenyum di luar mobilnya. Entah dari mana dia datang. Dibalut jaket hoodie tebal warna merah. Wajahnya masih lucu seperti dua tahun yang lalu.

“Heh, pteranodon tunggang. Menunggu dua jam saja kamu menyerah. Bayangkan perasaanku menanti kamu, terpisah dua belas tahun sesudah itu masih harus menanti dua tahun, aku harus pergi dulu baru kamu sadar bahwa ada teman cantik yang ngefans kamu sejak dulu!” Kekeh Ayu.

“Jadi cerita kita belum berakhir?” Tanya Bima takjub.

“Yaa belum tahu juga sih, tergantung kamu masih marah – marah dan bilang aku cuma teman masa kecil, atau gimana?”

“Aku bodoh, Yu. I shouldn’t do that silly things. Butuh waktu lama untuk mencerna bahwa selama ini kamu yang paling memahamiku, bahkan impian terbodohku cuma kamu yang paham.”

“Shall we start?” Tanya Ayu.

“Yes. Happy new year, happy new relationship” Jawab Bima pelan sembari mengecup kening Ayu.

– – – –

Dago giri, 1 Januari 2014. Tidak ada terompet tahun baru di sini. Hening, namun bersamamu, itu cukup.

 

Advertisements

One thought on “Naga tempur dan Pteranodon tunggang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s