Entertain; the root of the evil

Kehidupan kita ga lepas dari putaran menjamu dan menghibur, macem geisha lah ya. Ga peduli jenis kelamin kita apa sih, ya mungkin jaman dulu ada geisha cowo juga, tapi ga terekspos hehehe.. *apeuuu*

Kembali ke masalah entertain atau menjamu..

Waktu saya masih kerja di pabrik korea, sering banget ada acara jamu-menjamu. Tadinya kukira karena orang korea senang makan2 dan karaoke, makanya nyaris tiap malam saya pulang larut karena departemen saya nyaris tiap malam harus escort pak Bos dan rombongan tamunya.

Ketika saya pindah ke Bank, ternyata masalah entertain ini berlanjut. Dan polanya lebih beragam, ga sekedar makan atau karaoke. Jadi bukanlah sekedar budaya korea, indonesia juga punya istiadat jamu-menjamu. Kadangnya hal ini yang membuat sabtu pagi sudah harus nangkring di lapangan karena harus entertain golf yang tee off nya jam 6 pagi.

Pola entertain lainnya adalah nemenin belanja! Hah. Ini agak unik, karena misalnya ybs sukanya belanja batu akik, maka saya harus survey dulu pasar batu mulia di Jatinegara itu, sebelum hari H nemenin yang harus dijamu di sana. Atau suka belanja bordir atau bakiak, saya harus survey dulu beberapa hari sebelumnya di Tasikmalaya.

Baiklah, bukan tentang bagaimana dan dimana yang mau saya bahas, sih. Saya lebih tertarik bahas ‘kenapa’ sih kita harus entertain orang-orang itu?

Dalam kehidupan pribadi, kadang kita menjamu seseorang sebagai bentuk negosiasi agar orang tersebut bisa memuluskan, meluluskan, urusan kita. Kita nraktir temen biar si temen mau nyalamin untuk gebetan kita. Nraktir pacar biar dibolehin absen ngapel minggu depan karena mau touring CB, dan sejenisnya.

Tapi perihal jamu-menjamu ini jadi masalah buat saya ketika berada dalam tataran institusi.

Saya sering membandingkan, bahwa kalau perkara suap ada pagar-pagarnya, bahwa benda/uang yang bisa menjadikan kita ‘berubah pikiran’ mengenai suatu keputusan, hal tersebut bisa dikatakan suap.

Makanya kantor (dan mantan2 kantor) saya ketat sekali dalam hal aturan menerima ‘bingkisan’ dari client. Sebisa mungkin menolak pemberian client, dan sebisa mungkin juga ga memberi client benda-benda yang nominalnya berlebihan.

Tapi ketika tiba halnya dalam bentuk jamuan (makan, karaoke, golf, jalan-jalan), pagarnya jadi blur. Antara sekedar silaturahmi, atau treatment yang sengaja dibuat agar memuluskan keinginan.

Perkara tender atau audit, yang kadang bikin hati nurani saya berontak. Entertain macam gini bakal merubah keputusan counterpart ga sih?

Yang lebih nyebelin lagi adalah, jika counterpart-nya yang mancing2 minta dientertain. Menurut saya, orang-orang seperti itu adalah senista-nistanya manusia.

Auditor- auditor dari kantor audit asing biasanya lebih terhormat, kalau mereka ngaudit biasanya mereka bawa sangu sendiri. Dikasih lunch oleh clientpun mereka sebisa mungkin menolak. Ga pernah juga minta ditreatment macem-macem selepas jam kantor.

Yang bikin jengkel itu panitia-panitia tender lokal, dan korps2 semacam audit lokal juga (go figure lah). Ga tau oknum atau memang sudah mendarah daging di institusinya, mereka ga malu-malu minta makan dihotel/restoran A,B,C-X sebagai bentuk jamuan bagi mereka saat lunch jam kantor. Dan juga minta aktivitas X,Y,Z selepas jam kantor, yang sama sekali ga ada hubungannya dengan kegiatan audit atau pekerjaan. Blah banget ya.

Saya cuma lagi pengen sambat itu aja sih. Hayolah, berhenti meminta. Jadilah orang yang memberi. Punya pride gitu, kerja ya kerja, ga usah ngarep di entertain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s