Perkara Wafat

Kamis malam suami yang sedang berada di Bandung memberi kabar bahwa Risa, istrinya Arwin sedang kritis. Arwin adalah kolega suami saya, yang kebetulan rumahnya sebelahan persis dengan rumah dinas suami di Bandung.

Kaget dong, karena minggu lalu saya dan suami masih sempat nongkrong2 cantik dengan Risa dan Arwin, juga beberapa rekan kerja suami di Bandung. Tiba-tiba dapat kabar kalau dia kritis dan ada di ICU itu rasanya unbelievable banget.

“Iya, sudah kritis, Yang. Orangtuanya Risa di Jogja sudah tiba di Bandung sore tadi. Risa sudah ga sadar sejak masuk ICU.” Kabar suami saya. Ah sekritis itu.

Jam 1 dini hari suami kembali memberi kabar: “aku otw Jogja sama teman2, ngiringi ambulansnya Risa. Kamu ga usah ke Bandung.”

“Kenapa harus dibawa ke Jogja, apa ga riskan bawa pasien kritis lewat perjalanan darat sejauh dan selama itu?” Tanya saya.

“Risa udah ga ada. Ini kita mau ngiringin ambulans jenazahnya. Orangtuanya minta Risa dimakamin di Jogja.” Jleb. Lemas.

Perkara umur sulit diterka. Sebelumnya saya tidak pernah merasa sedekat ini dengan kematian. Pemakaman yang saya hadiri biasanya adalah untuk menghormati jenazah ayah/ibu dari teman2 saya. Terakhir yang saya hadiri adalah putri teman saya, tapi masih 3 bulan usia putri teman saya itu, sehingga tidak menjejak kesan kehilangan yang terlalu mendalam, kecuali perasaan empati kepada teman saya tersebut bahwa mereka sudah menanti putrinya bertahun-tahun.

Tapi Risa, dia terasa begitu dekat karena usia kami relatif sama, interest kami relatif serupa. Suami kami bekerja di Instansi yang sama, pun tempat tinggal kami bersebelahan (walau saya tidak setiap saat ada di Bandung).

Bahwa perkara meninggal ternyata bukan dominasi orang-orang tua saja. Saya baru menyadari bahwa seusia sayapun tidak lepas dari perkara kiamat kecil.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga khusnul khatimah ya Risa. Aamiin.

– – – – –

Sebelum kami berangkat ke pemakaman Risa, suami berkata: “Yang, kalau kamu kelak opname, tolong ingatin aku untuk tidak dinas keluar kota. Larang aku.”

“Kenapa gitu?”

“Risa masuk RS rabu malam. Kamis pagi Arwin berangkat meeting ke Jakarta. Kalau aku ada di posisi Arwin, aku tidak akan pergi keluar kota, karena Risa cuma sendirian, tidak ada keluarga lain yang menemaninya di Rumah sakit.”

“Terus?”

“Siang jam 11an, Arwin dapat telepon dari RS, minta Arwin segera tiba di RS dalam lima menit karena ada tindakan kritis yang harus dilakukan.”

“Aaaaaaa…” Aku mengeluh sedih. “Ga bakal bisalah, karena dia di Jakarta kan. Jakarta – Bandung paling cepat 2,5 jam.”

“Iya. Itulah yang jadi sesalan Arwin hingga saat ini. Kalimat yang dia ucapkan berulang-ulang ketika sadar Risa sudah meninggal. Semua berusaha membesarkan hatinya bahwa memang sudah takdir Risa meninggal saat itu, tapi Arwin masih terus merasa bersalah. Arwin berpikir, kalau saat itu dia ada di RS pasti bisa segera dilakukan tindakan , tidak harus menunggu hampir tiga jam karena tidak ada tanda tangan pihak keluarga.”

“Ah.” Aku cuma bisa menutup wajah dengan tangan. Tidak bisa membayangkan beratnya hidup dengan rasa bersalah.

“Gitu ya, jadi ingetin aku ya, kalau ada anggota keluarga kritis, ingatkan aku untuk tidak pergi jauh.” Ucap suami.

“Tapi harus inget juga ya, kalau terjadi sesuatu pada salah satu diantara kita, jangan pernah merasa bersalah. Apapun kasusnya. Ikhlasin aja, biar semua lebih mudah.” Jawabku.

Dan kabin mobil kami kembali hening, didera kesibukan pikir dalam masing2 benak aku dan suami.

Advertisements

2 thoughts on “Perkara Wafat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s