Menulis Takdir

Hari masih pagi di Highland Park Resort. Embun bergelayutan pada ujung-ujung daun, dan kabut menyeruak tipis di udara. Dingin.

Aku melangkahkan kaki keluar kamar. Pukul enam, masih terlalu pagi untuk sarapan. Dari kejauhan kulihat playground yang masih sepi. Tidak ada anak-anak kecil yang biasanya berlarian dan main perosotan. Aku mendekati playground. Berdiri di dekat salah satu perosotan. Basah. Tetes embun tersisa disana.

Ini bukan kehidupan yang kuinginkan. Tapi kesalahan bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja.

Kubayangkan aku di sini bersama keluarga kecilku. Nathan berusia 4 tahun dan Celia, kakaknya berusia 5 tahun. Jika mereka berada disini pasti sangat senang, mereka suka playground dengan perosotan besar dan tinggi seperti ini. Juga bak-bak pasir dan ayunan yang berjejer-jejer.

“Mama.. Mama, aku bikin istana Rapunzel.” Mungkin demikian salah satu celoteh Celia jika berada di sini.

“Mama.. Aku ga berani naik perosotan, temenin aku.” Mungkin demikian rajukan Nathan jika berada di sini.

Tapi mereka tidak ada di sini. Tidak ada Celia, tidak ada Nathan, tidak ada suamiku.

Aku menghela nafas. Melangkahkan kakiku kembali ke kamar.

“Pagi sayang, kamu dari mana?” Sebuah suara dengan nada mengantuk menyapaku ketika aku kembali ke paviliun.

“Aku jalan-jalan lihat pemandangan. Sayang rasanya menginap di tempat mahal dan indah begini kalau cuma dekeman di kamar aja.” Jawabku.

“Hahaha. Tapi ada aku kan dikamar ini.” Dan lelaki bersuara mengantuk itu memelukku dan menarikku kembali kedalam selimut bersama. Aku didekap tubuhnya yang bertelanjang dada. Hangat.

Kupandangi wajah yang sekarang tertidur kembali itu. Tampan. Dia kekasihku sejak aku duduk di bangku kuliah. Lima tahun beda umur kami. Sebelas tahun berlalu sejak pertama kali kami berpacaran. Putus, sambung. Putus, sambung.

Sebelas tahun aku bersamanya. Bahkan ketika aku sudah menikah. Bahkan ketika aku sudah memiliki putra dan putri. Aku masih bersamanya.

“Aku ada workshop di Bogor ya.” Pamitku pada suamiku. Suamiku mengiyakan. Dia paham ritme kerjaku. Kucium pipi suami dan anak-anakku sebelum aku berangkat ke Resort ini.

Suamiku, Celia, dan Nathan. Orang-orang yang kucintai, kusayangi sepenuh hati.

Tapi aku juga tidak bisa lepas dari Daniel. Aku sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran Daniel. Aku tidak bisa lepas dari Daniel.

“Kita ga bisa nikah, Niel. Kita beda agama. Aku ga bisa pindah agama. Dan kamu juga pasti begitu.”

“Tapi aku sayang kamu, Ndin. Aku berharap kita bisa menikah. Enam tahun pacaran bukan waktu yang sebentar, Andin. Kenapa kamu tega meninggalkan aku dan menikah dengan orang lain? Kenapa kita tidak pergi ke tempat lain, yang bisa mensahkan pernikahan beda agama?” Ucapmu kala itu dengan mata berkaca-kaca dan intonasi frustasi.

“Menikah denganmu di tempat lain, lalu kembali ke Indonesia tidak lagi diakui anak oleh ayah ibuku? Taruhannya terlalu berat, Daniel.”

“Kamu keterlaluan, Ndin. Bagaimana hidupku setelah ini?”

“Teruskan hidupmu. Kita masih bisa bersama meskipun masing-masing kita sudah menikah, kan?” Sebuah ide terlontar begitu saja dari mulutku. Tawaran yang tidak bisa kutarik lagi. Karena ketika ucapan itu keluar, Daniel langsung memelukku.

“Berjanjilah. Janji kamu tidak akan menghilang dan pergi dariku setelah kamu menikah.” Pintanya.

“Iya.” Jawabku.

Dan aku menikah.

Dan Daniel hadir pada pernikahanku.

Lalu aku berbulan madu dengan suamiku.

Lalu aku menginap beberapa malam di apartemen Daniel.

Lalu demikianlah hubunganku dengan Daniel berlanjut. Malam – malam pendek diantara dinas-dinas luar kotaku. Atau saat suamiku pergi. Kurasa aku sakit jiwa.

Jika ada orang yang paling disakiti, itu adalah suami dan anak-anakku. Istri dan ibu macam apa aku ini.

Orang bilang, kita tidak bisa memilih takdir. Semua sudah ditentukan oleh-Nya.

Aku bilang, kita bisa memilih takdir. Dan sayangnya aku memilih untuk melukis takdirku dalam gambaran yang sangat buruk.

Aku ingin berhenti. Namun lukisan takdirku sudah terlanjur terlalu kelam.

Daniel membuat gerakan yang membuyarkan lamunanku.

“Kenapa, Ndin. Kok seperti orang mikir?” Bisik Daniel sembari menciumi leherku.

“Ga papa.” Bisikku sembari membalas menciumi bibirnya.

Hasrat kami kembali membara. Lupakan suamiku. Lupakan Ceila. Lupakan Nathan. Dia Daniel. Orang yang seharusnya aku nikahi, jika aku punya sedikit keberanian.

Akankah tiba waktu ketika aku mendapat kesempatan melukis takdirku lagi dalam kertas putih? Akankah aku akan melukis sesuatu yang indah? Atau aku akan membuatnya kelam lagi? Entahlahm

Advertisements

One thought on “Menulis Takdir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s