Tiga Senjata

“Jadi kamu ngapain dong kalo suntuk sama kerjaan, Bim?”

“Ya paling pake tiga senjata andalan.”

“Apa?”

“Jalan-jalan motret motret.”

“Itu dua?”

“Satu. Jalan sama motret satu paket.”

“I see.”

“Senjata kedua?”

“Mabok. Social drinking.”

“Are you serious, Bim?”

“Yah adanya itu, Yu. Mau ngapain lagi coba. Orang-orang nyaranin sports untuk ngilangin stres kerjaan. Tapi aku udah ga punya energi lagi untuk aktivitas fisik macam itu. Paling gampang dan ga cape ya kongkow sama temen-temen. Tempat nongkrong di Jakarta ya palingan cafe, club, bar.”

“Segitu susahnya ya, Bim kerja jadi forex dealer seperti kamu.”

“Entah Yu. Mungkin karena baru tahun pertama penempatan aku di forex desk. Aku belum biasa, belum tahu celah-celahnya. Sebelumnya aku di bond market, obligasi. Daily swingnya kecil, ga terlalu volatile. Pindah ke forex market yang gerakan hariannya cepat, jadi butuh penyesuaian. Pas aku masuk forex desk, pas global financial market lagi gunjang ganjing pula. Euro, USD, rupiah naik turun kaya roler coaster. Bikin jantung deg-degan tiap hari. Padahal bukan duit aku ya, duit perusahaan. Kalopun rugi kan palingan aku dipecat. Hahaha..” Aku berkata sembari terbahak. Menertawakan kebodohanku sendiri. Kalau dipikir-pikir, aku terlalu serius menjalani pekerjaanku.

“Iya sih, aku bisa bayangin hiruk pikuk hidup kamu. Tapi jangan dibiasain minum lah, Bim. Kasian hatinya.”

“Hahaha iya, Yu. Makasih diingetin. Abahku kalo tau aku mabok mungkin bakal nyemplungin aku di empang belakang rumah, biar aku sadar. Hahaha..” Ucapku berkelakar.

Ayu tertawa mendengar kelakarku. Rambut ikalnya bergerak-gerak seperti per yang naik turun, lucu. Gigi kelincinya membuat wajahnya semakin kekanakkan ketika tertawa, menggemaskan.

“Hahaha iya, aku inget kamu pernah dihukum Abahmu berendam di empang belakang rumah. Malam-malam pula. Dingin. Hahaha. Gara-gara kamu ketahuan nyolong layangan di Warung Bik Juju.”

“Heh. Aku ga nyolong. Aku cuma ambil duluan bayar belakangan. Kamu nih sama aja ama Abah. Pake azas praduga tak bersalah dong!” Jawabku pura-pura ketus.

Tawa Ayu kembali meledak.

“Yu, kerjaanmu enak ya. Sesuai sama hobi mengkhayal kamu.” Ucapku lagi ketika tawa kita mereda.

“Hahaha iya. Jadi game developer itu menyenangkan. Kalo aku sebel sama kamu misalnya, aku tinggal modelling karakter yang mirip kamu, aku jadiin villain trus mukanya aku bikin penyok sana sini, giginya maju, idungnya mekar. Hahahaha.” Ayu berucap sembari tertawa terbahak-bahak.

Aku tidak ikut tertawa, sibuk membayangkan bagaimana jadinya wajah tampanku kalau penyok dan berhidung mekar. Imajinasinya kadang keterlaluan.

“Yu, ga pengen pindah Jakarta?” Tanyaku. Kali ini dengan intonasi serius. Ayu yang masih tertawa kecil lalu terdiam mendengar intonasi seriusku.

“Enggak Bim. Aku lebih suka di Bandung. Sejak kecil aku suka Bandung, adem. Gara-gara ayah kena fitnah akhirnya harus pindah dari Bandung. Bisa kuliah di Bandung, lalu dapat kerja di Bandung juga, bagi aku adalah anugerah. Pindah ke Jakarta yang panas, macet, enggak mau ah. Nanti aku jadi gampang suntuk dan hobi mabok kaya kamu. Ih!” Jawabnya sembari memasang ekspresi jijik.

Aku menyeruput jahe hangat. Lampu- lampu kota Bandung terlihat kecil dan jauh dari tempat kita duduk. Instaweather di ponselku menunjukkan bahwa langit Lembang malam ini bersih cerah, dengan suhu 16 derajat celcius. Kulirik jam tangan, pukul 10 malam. Pantas udara semakin dingin.

“Yu, pulang yuk. Aku mau balik Jakarta. Besok ngantor lagi. Ada RKK pula pagi – pagi. Jadi ga bisa telat.”

“Apa itu RKK?”

“Rapat komite kredit. Rapat untuk nentuin perusahaan atau institusi mana aja yang dapet plafon pinjaman dari Bank. Berapa nominalnya, terus kalo bentuknya valuta asing, mau dikasih forex line berapa, dan seterusnya.”

“Ga ngerti.”

“Iya, ga usah ngerti. Aku juga setelah 3 tahun kerja di Bank masih belum ngerti.” Jawabku asal. Yang dibalas Ayu dengan juluran lidahnya.

Ayu berdiri. Aku mengikutinya berdiri.

“Bim, tadi katanya tiga senjata. Baru disebutin dua. Senjata terakhir, kalo suntuk apa?”

“Pacaran.” Jawabku lugas.

“Hah?” Tanya Ayu. Pencahayaan di resto The Peak temaram, namun masih cukup untuk menangkat sorot kaget dan bingung di mata Ayu.

“Iya, Pacaran. Makan, minum, becanda, ngobrol sama pacar. Itu obat stres kan. Asal pacarnya ga lagi rewel dan PMS.”

Ayu memalingkan wajahnya. Berjalan mendahuluiku keluar dari The Peak. Angin dingin menerpa kami.

“Yu, tunggu. Kunci mobil aku di tas kamu.”

Ayu merogoh tas, dan menyerahkan kunci mobil yang kutitipkan di tasnya. Dia menyerahkan kunci itu tanpa melihat wajahku. Aku merasa aneh. Tapi tidak yakin apa penyebab keanehan itu.

Jalanan Lembang menuju Bandung cukup sepi. Tidak seperti saat berangkat yang penuh percakapan konyol, perjalanan pulang terasa hening.

Kukecilkan volume radio. Menoleh pada Ayu yang menatap keluar dari jendela samping.

“Yu, kok diem aja sih. Biasanya cerewet.”

“Iya, hehehe. Ngantuk.” Jawabnya.

“Jadi kamu punya pacar ya, Bim. Makanya kamu ga bisa tiap weekend ke sini ya.” Ucap Ayu pelan. Saking pelannya sehingga nyaris seperti berbicara pada diri sendiri.

“Hah?”

“Ga papa. Hehehe. Udah sana nyetir yang bener, jangan nengok2 ke aku mulu.” Jawab Ayu berkelakar.

Aku memfokuskan kembali pandanganku ke jalanan. Selintas pemikiran terbersit dibenakku. Perkataan Ayu yang diucapkan pelan itu, terdengar seperti cemburukah?

Advertisements

2 thoughts on “Tiga Senjata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s