Lima menit kemudian

“Aku pengen naik naga terbang.” Ucapmu sembari menatap layang-layang yang berterbangan di atas kita.

“Sama. Aku juga. Tapi aku ga suka naga terbang. Pteranodon aja, kayanya lebih ringkas ketimbang naga.” Timpalku sembari berdiri dan berjalan merentangkan tangan agar tetap seimbang.

“Ih dinosaurus. Kamu hidup jaman kapan sih, dasar manusia purba!” Ucapmu dengan pandangan mencela.

“Biarin. Daripada kamu, ga jelas naga itu benar ada atau enggak. Apalagi naga terbang. Pteranodon jelas ada jejak sejarah dan keberadaannya.”

“Ah, aku punya ide. Kita ke Museum Geologi lagi yuk. Siapa tau ada fosil yang mirip naga yang belum kita lihat.” ucapmu dengan mata berbinar-binar, seolah idemu cemerlang setara penemuan lampu pijar atau telepon.

“Enggak ah, Yu. Dua minggu lalu kita sudah kesana.”

“Ah ga seru!” Mukamu kusut.

“Ayuuuu turun! Anak perempuan naik-naik atap rumah orang. Turun!” Sebuah teriakan mengagetkan kita. Mamamu berdiri galak di depan pagar rumah kosong yang kita panjat atapnya. “Turun! Bima juga.” Mamamu kembali berteriak, kali ini namaku disertakan.

– – – –
Demikianlah kenangan yang tersimpan dibenakku mengenai percakapan terakhir kita, 12 tahun yang lalu. Saat kamu masih berusia 10 tahun, dan aku 12 tahun. Masa ketika imajinasi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari kita.

Lalu sang waktu menggilas imajinasi. Terkadang menyedotnya hingga kering. Mengurungnya dalam penjara bernama karir. Dalam sebuah dunia kecil bernama gedung perkantoran dan jeratan borgol bernama kemacetan ibukota. Menyisakan jiwa letih dan lelah yang tidak memiliki ruang imajinasi. Tidak ada lagi ruang untuk naga terbang dan pteranodon tunggang.

Menyusuri ruang-ruang masa kecilku di Bandung adalah salah satu caraku untuk tetap waras. Mengenang masa kecil bisa membangkitkan imajinasi dan semangat hidupku lagi.

Seperti hari ini misalnya.

Hari ini ulang tahunmu, Ayu. Dan aku merasa rindu. Itulah sebabnya kuluangkan waktuku datang ke Bandung. Rendezvous.

Mungkin kamu ingat, bahwa aku bisa baca tulis pada usia 5 tahun. Sejak aku bisa baca tulis, aku selalu memberimu kartu ucapan yang dilampiri 3 buah kupon, sebagai kado ulang tahunmu.

Kupon-kupon itu memberimu privillege. Kamu bisa menyuruhku sesuai privillege yang aku tuliskan di kupon itu, Seperti:
“Main monopoli.”
“Sampulin buku.”
“Bawain tas dua hari.”
“Kerjain PR matematika.”
“Gantiin aku piket membersihkan kelas.”

Kupon yang akan menjadikanku budakmu, tapi dengan senang hati kujalani. Karena tidak mengeluarkan biaya. Hahaha.

Dua belas tahun berlalu, Ayu. Tapi masih sulit menerima kenyataan bahwa setelah ketahuan memanjat atap, esok pagi rumahmu kosong. Rumahmu digerebek polisi, katanya ada pesta narkoba. Hal yang saat itu tidak terjangkau oleh akal pikirku. Kata orang, ayahmu dijebak teman kantornya, agar ayahmu batal promosi sebuah jabatan penting.

Bisa jadi ayahmu memang dijebak. Ayahmu yang kukenal adalah orang yang bersih dan bergaya hidup sangat sehat. Narkoba, entahlah, nampaknya sulit diterima akal sehat jika ayahmu menggunakannya.

Yang aku tahu, rumahmu lalu dikelilingi tanda kuning garis polisi. Dan kamu pindah, tidak pernah terlihat lagi.

– – –

Museum Geologi masih sepi, mungkin karena baru pukul 9 pagi. Suasananya hening, menurutku masih layak disebut sebagai sanctuary.

Aku menuju sayap kanan museum. Gedung sayap kanan adalah tempat favoritmu karena berisi fosil-fosil dinosaurus dan tengkorak manusia purba yang ditemukan di Indonesia.

Fosil T-Rex adalah yang paling menarik perhatianmu. Fosil sepanjang 8 meter. Berdiri kokoh tinggi menjulang hingga menyentuh langit-langit museum. Cukup besar untuk memantik imajinasi, betapa tidak berdayanya manusia jika harus hidup satu jaman dengan dinosaurus.

“Bim, orang – orang bilang ini fosil T-rex. Padahal bisa jadi ini naga terbang. Lihat, begitu kokoh tulang belulangnya. Pasti ada bagian berupa sayap yang belum ditemukan dari fosil ini.” Ucapmu kala itu.

Aku hanya mengangguk seolah setuju. Mendebatmu mengenai naga terbang berarti mencari gara-gara. Karena mukamu akan kusut sepanjang hari, merusak acara jalan-jalan kita.

– – –

Lima menit berlalu sejak aku masuk sayap kanan gedung ini. Aku melayangkan pandang ke sisi lain T-rex. Nampaknya baru ada aku di museum ini. Di seberang T-rex ada fosil mastodon atau gajah purba. Sesuatu menarik perhatianku di sana.

Ternyata aku tidak sendiri. Ada yang datang lebih pagi ke museum ini dibanding aku. Seorang wanita tampak tertunduk tekun, bersandar pada salah satu tiang museum. Dari samping nampaknya dia sibuk mencoret-coret di atas kertas.

Aku sangat menyukai siluet wanita yang sedang serius mengerjakan sesuatu. Entah itu sekedar membaca komik dengan serius, atau membuat sketsa fosil seperti wanita di dekatku ini.

Tanpa sadar tanganku membidikkan kamera kepada wanita itu.

Yang kupotret sadar. Dia menghentikan pekerjaannya dan menatapku tajam, pertanda tidak suka diambil gambarnya. Segera aku mengutuk shutterku yang berisik dan kealpaanku membawa lensa jarak jauh. Jika shutterku tidak berisik, atau jika aku memotretnya dari jauh, pasti wanita ini tidak akan terganggu.

Dan wanita ini cantik. Rambutnya ikal terkuncir berantakan. Balutan kaos putih longgar dan celana jeans warna khaki, memperjelas warna cerah kulitnya. Dan dia marah, sehingga sorot matanya menjadi terlihat sangat hidup.

“Maaf, kamu tadi memotret saya atau fosil?” Tanyanya ketika sudah berada didekatku.

“Emmm.. Itu… ” Aku gelagapan tidak siap dengan pertanyaan lugasnya.

“Kamu memotret saya?” Tanyanya lagi. Untung dia cantik. Sehingga pertanyaan lugasnya tidak terdengar terlalu narsis.

“Enggak. Saya memotret badak.” Jawabku berdusta, sembari menunjuk fosil badak didekat tempatnya berdiri tadi.

“Oh. I see. Maaf. Hehehe. Struktur kalimat tanyaku tadi kesannya kegeeran ya.” Dia tersenyum seperti malu akan sikap impulsifnya barusan. Suasana mencair.

“Ga apa-apa. Aku minta maaf sudah mengganggu konsentrasimu. Silahkan diteruskan, aku memotret bagian lain saja.”

“Eh jangan gitu, ini tempat umum, kamu boleh memotret dimana saja. Silahkan kalau kamu mau meneruskan memotret fosil badak atau gajah atau apalah. Aku tidak terganggu.” Ucapnya serius.

Aku mengangguk. (Berpura-pura) membidik kamera ke arah fosil-fosil lagi.

Lima menit kemudian, aku selesai dengan kegiatan memotretku. Wanita itu masih berdiri bersandar pada tiang museum. Tangannya masih sibuk membuat sketsa.

Selintas keberanian timbul.

“Hai. Masih membuat sketsa?” Sapaku.

“Iya.” Jawabnya pendek, tanpa mengangkat kepala.

“Namaku Bima. Terkadang aku memotret sebagai hobi. Ini kartu namaku kalau-kalau kamu butuh fotografer amatir untuk mendokumentasikan pameran sketsamu.” Ucapku.

Wanita itu mengangkat kepala. Menghentikan kegiatannya dan memandangku.

“Aku Ayu. Saraswati Rahayu.” Jawabnya sembari mengulurkan tangan hendak mengambil kartu nama dariku.

Dan aku mengenal nama itu.

“Kamu, masih pengen naik naga terbang?” Tanyaku kaget dengan kebahagiaan penuh.

“Hah?” Jawabmu bingung. Lalu kamu melirik kartu namaku. “Bima! Bima Arsaka! Pteranodon!” Teriakmu memecah keheningan museum.

– – – –

Hari ini, ulang tahunmu ke 22, Ayu. Aku menemukanmu lagi. Dan lima menit kemudian kita berpelukan lama sekali di bawah fosil T-rex, ditonton mastodon, badak purba dan penyu raksasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s