Tunggu Aku

“Kenapa memilih jadi penyelam?” Tanyamu pada pertemuan pertama kita.

“Agar tidak berada di ketinggian.” Jawabku malas.

“Kamu takut ketinggian?”

“Aku tidak takut ketinggian, yang aku takut adalah jatuh dari ketinggian. Karena itu aku memutuskan menjadi penyelam.”

“Tapi hidupmu jadi nomaden, dari satu site selam ke site selam lainnya.”

“Setiap keputusan ada konsekuensinya. Kurasa, aku bisa menanggung konsekuensi hidup berpindah.” Jawabku pendek. Malas menanggapi pertanyaannya tentang pilihan hidup.

Kita saling kenal 15 menit lalu tapi kamu sudah memburuku dengan beragam pertanyaan pribadi. Sok akrab.

Kamu berhenti bertanya. Hening muncul di antara kita.

“Kamu, kenapa jadi penyelam?” Aku memecah hening. Berusaha sopan berbasa-basi padamu, gadis cantik yang baru saja kukenal ketika masuk restoran dekat pelabuhan ini.

“Aku bukan penyelam. Aku peneliti terumbu karang. Menyelam adalah bonus. Kulakukan karena hobi.”

“Aku juga karena hobi.” Selaku.

“Tapi mahzab selammu maskulin. Anjungan minyak lepas pantai, kapal – kapal karam pada kedalaman ekstrem, pemetaan laut dalam. Yang bertemperatur rendah. Sedangkan aku menyelam hanya untuk melindungi terumbu karang, taman laut, …”

“Itu bukan hanya” Potongku tajam.

Kamu tersentak, kaget melihat reaksiku. “Jika tidak ada orang-orang yang bersedia memperhatikan konservasi bawah laut, kata-kata ‘terumbu karang’ hanya akan jadi mitos bagi anak cucu kita. Jangan pernah menyepelekan urusan konservasi.”

“Oh…” hanya kata itu yang keluar dari mulutmu. Lalu hening kembali muncul antara kita.

“Maaf, aku kelepasan. Terlalu semangat bertemu orang yang mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan terumbu karang. Kamu pasti bangga pada pekerjaanmu saat ini.” Nada suaraku melunak.

“Yeah, aku bangga.” Senyummu terulas.

“Aku pulang duluan, besok pagi aku kembali anjungan. Terimakasih sudah menemaniku mengobrol.” Aku beranjak.

“Waru. Namaku Waru. Kapan kamu kembali ke darat? Aku disini hingga minggu depan. Kita masih bisa bertemu lagi ?” Tanyamu pelan, menahan langkahku.

“Aku Iwan. Rekan-rekan memanggilku ‘Jo’. Paijo nama ayahku. Semoga kita bertemu lagi.” Jawabku, tidak yakin, tidak terlalu berharap. Terlibat secara emosional dengan wanita bukan pilihan hidup untuk orang-orang nomaden sepertiku. Tidak ada jabat tangan pada perkenalan pertama kita. Aku berlalu, meninggalkan restoran.

– – – –

Matahari belum terbit penuh. Crew Boat Bourbon – Kapal transfer berbobot 500 ton, sandar di Pelabuhan. Bersiap membawa aku dan teman – teman PSK ke anjungan minyak lepas pantai di selat Madura. Ganti kata ‘seks’ dengan ‘selam’. Pekerja Selam Komersial – PSK, demikian kami mengguyoni profesi kami. Dengan tarif ratusan dollar amerika per jam, PSK versi kami adalah pekerjaan berkelas.

‘Jo.” Suara lembut memanggil, menahan langkahku naik ke atas CB.

“Hei, Waru. Pagi sekali sudah tiba di sini.”

“Untuk mengantarmu.”

“Hahaha.. aku sudah bertahun – tahun berpergian, baru kali ini ada yang bilang mau mengantar. Aku jadi terharu.” Jawabku ringan, sedikit bernada meledek. “Tidak perlu diantar. Bahkan almarhum ibuku tidak pernah mengantar aku berangkat menyelam.” Jawabku. Kali ini dengan intonasi serius.

“Agar kamu punya alasan untuk kembali dengan selamat.”

“Maksudmu?”

“Jika ada yang mengantarmu pergi, pasti kamu akan merasa ada yang menantimu kembali. Aku tidak percaya cinta pada pandangan pertama. Tapi padamu aku merasakannya. Kembalilah dengan selamat. Aku menanti di sini..”

Hening. Aku tidak siap menerima pernyataan cinta blak – blakan dari wanita yang kukenal dari percakapan yang hanya 15 menit kemarin.

“Entahlah Waru. Aku tidak berani menjanjikanmu apa –apa. Dorang bilang pelaut obral cinta, dompet so kosong baru inga pulang. Frase itu tidak berlaku untukku. Jangankan banyak wanita, satupun aku tidak berani memberinya janji. Aku tidak ingin menyiksa seseorang dalam penantian menungguku kembali ke darat.”

“Tak apa, Jo. Semua butuh waktu. Mungkin kelak akan tiba waktumu rindu daratan, rindu disambut di darat, oleh orang-orang yang kamu cintai.”

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Aku belum memutuskan. Aku tidak berani bertaruh. Tapi saat itu, hatiku jadi hangat. Semacam kapal yang letih berlayar, menemukan harapan sandar karena melihat lampu-lampu pelabuhan dikejauhan.

Aku naik tangga CB. “Tunggu aku, seminggu lagi, Waru.” Teriakku.

jo

Advertisements

2 thoughts on “Tunggu Aku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s