(Bukan) Yatim Piatu

Hari ini gerah sekali, aku duduk di dekat kasir dengan bosan, sembari memandangi ayah dan ibuku lalu lalang melayani pembeli. Sesekali orangtuaku melempar senyum kepadaku, memastikan bahwa aku nyaman dan aman di tempatku. Tapi tolonglah, aku tidak sekedar butuh senyum, aku butuh ngobrol dan bercanda, selayaknya anak dan orangtua di iklan – iklan susu di televisi. Wajahku merengut. Kuketuk-ketukkan mainan mobilanku di lantai. Bosan.

Hari ini adalah hari kelima aku ikut orangtuaku. Sebelumnya aku tinggal bersama eyang. Menurut cerita eyang, aku dititipkan pada eyang seminggu setelah aku dilahirkan. Katanya orangtuaku agak kerepotan kalau harus mengurusi bayi sembari mencari nafkah. orang tuaku konon pekerja keras, mereka hidup dari berjualan bahan kain dan pakaian jadi di pasar pinggir kota. Kerja keras mereka nampaknya membuahkan hasil. Dari sebuah kios kecil, kini menjadi sebuah toko kain dan pakaian yang cukup lengkap, terbesar di pasar ini. Karyawannya lima orang. Namun Keuangan dan kasir tetap dipegang ibuku. Itulah sebabnya aku selalu ditempatkan di pojokan dekat kasir, agar aku bisa bermain namun tetap di dekat ibu.

Melihat kesibukan orangtuaku, rasanya aku bisa paham mengapa sempat dititipkan pada eyang. Kadang aku rindu eyang. Rindu kembali tinggal di rumah eyang. Di sana keseharianku lebih beragam, tempat bermainku lebih luas, bukannya terjebak di kios kain.

Aku juga rindu ayah-ibuku. Selayaknya anak kecil, aku ingin bermain dengan mereka, namun seharian mereka selalu sibuk bekerja. Malam hari ketika kami tiba di rumah, mereka terlihat sudah kehabisan tenaga. Hanya sempat menggantikan bajuku dan menyuruhku tidur. Begitu setiap hari. Rasanya kami begitu dekat, namun hati kami begitu jauh. Nelangsa.

Pembeli semakin ramai, hari semakin siang, dan kios semakin panas. Kupandangi orang tuaku yang semakin sibuk. Hari raya sudah hampir tiba, itulah mengapa banyak orang berbelanja kain dan baju baru. Rejeki untuk kedua orangtuaku, tapi kesepian bagiku.

Aku mendekati ibu, kutarik-tarik rok ibu. Aku haus, ingin minta minum. Namun ibu sepertinya tidak merasakan tarikanku. Kutarik rok ibu lebih keras. Ibu tetap tidak menyadari tarikanku.

Aku kesal. Mataku tertumbuk pada patung manekin kecil di luar kios. Tempat ibu biasa memajang pakaian untuk anak kecil. Sebuah ide terlintas di benakku. Mungkin ide bodoh, mungkin juga tidak, tapi rasanya dua manekin bisa menjadi teman bermain dan bicaraku.

Aku menyelinap, ibu tidak melihat aku keluar kios. Kutarik dua manekin itu, satu kupegang di tangan kanan, satu di tangan kiri. Manekin rebah lalu kuseret ke jalan. Aku hendak membawanya pulang kerumah. Mungkin aku bisa mengingat arah jalan pulang. Mungkin ada baiknya aku tinggal di rumah saja, ketimbang terjebak di kios yang panas. Tidak apa tidak ada ayah ibu di rumah, dua manekin bisa menjadi temanku.

Manekin ini berat, susah payah aku menariknya dengan tubuh kecilku.

“aaaaaaaa…. Ituuu, ituuuuu. Monyetnya mengambil manekin. Bu.. bu…”

Kudengar pembeli di kios ibu mulai berisik mengomentari tingkahku. AKu tidak peduli, tetap berusaha menarik manekin ke jalan.

“Monyet lepas, monyet lepas!!!!”

Orang di pasar mulai ramai berkerumun. Aku jadi agak takut melihat mereka yang mendekatiku dan manekin. Mereka berusaha menangkapku. Aku mencari-cari wajah ayah dan ibu, mereka tidak ada di antara kerumunan itu. Hanya wajah pengunjung pasar yang tampak beringas. Aku takut, kulepaskan sepasang manekin dari tanganku, bergegas berlari, menjauh dari kerumunan…

“Thomas.. Thomassss…..” Dari kejauhan samar kudengar suara ibu memanggilku. Tapi aku tidak berani kembali ke kios karena di belakangaku banyak orang yang mengejar.

“Paaak… paak… anakmu, anakmu kabur pak. Kejar Pak…” teriakan ibu melengking memecah pasar.

Aku berlari sembari mencari pijakan, melompat-lompat ke arah atap. Ketika kurasa tidak ada yang mengikuti naik keatas, aku berhenti berlari. AKu duduk di atas atap salah satu kios. Nafasku tersegal. Asbesnya panas, membuat telapak kaki dan pantatku menderita. Aku berharap ayah segera naik ke atap dan menjemputku. Membebaskanku dari kerumunan orang-orang yang memandangku dengan aneh.

Orang-orang di bawahku menunjuk-nunjuk diriku. Sebagian berbisik-bisik.

“Ih, anaknya kok monyet.”
“Makanya jangan minta pesugihan. Kaya harta tapi tumbalnya anak.”
“Anak aslinya diambil jin, ditukar sama monyet waktu masih di perut.”

Gunjingan itu, aku mendengarnya. Aku mengerti. Aku tertunduk. Pilu. Iya aku monyet. Orangtuaku manusia. Aku lahir dari rahim ibuku. Kenapa? Kalian tidak suka? Tidak percaya?

– – – –

Berdasarkan @Fiksimini via @momo_DM: (BUKAN) YATIM PIATU. Rindu sosok ayah dan ibu, kuputuskan mencuri sepasang manekin di toko orang tuaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s