Deadline

Ya namanya juga manusia ya, jarang atau bahkan ga pernah puas. Ada aja yang dicacat, ketimbang mensyukuri nikmatnya.

Coretan ini sekedar pengalihan, jangan disebut keluh kesah ya, sebut saja pengalihan. Pengalihan dari kepala yang burn out hohohoho..

Jadi ceritanya, waktu jaman dulu masih di bank, saya sering sambat bosen. Iya bosen. Karena aktivitas kerja ya daily operations gitu ya. Berulang dari hari ke hari, kecuali kitanya yang iseng cari hal-hal aneh (yang biasanya pada akhirnya cuma nyusahin diri sendiri).

Berangkat dari rasa bosen itulah, maka dimulai doa-doa pengen kerjaan yang ga rutin. Yang tiap hari suasananya berbeda-beda, yang based on project, ada start up date, ada ending date. Gitu.

Lalu kejadianlah, bisa ngajar. Pastinya beda suasananya ya. Dinamika kelas selalu berubah. Oke deh. Sip.

Ditambah lagi kerjaan by project seperti ngajar training, atau penelitian. Sip. Berwarna. Ga bosen.

Tapinya, belakangan ini kok rada enek sama kata bernama ‘deadline’ ya huhuhuhiks.

Semester genap ternyata banyak international conference. Banyak dana hibah penelitian juga. Impaknya: saya pontang-panting. Berusaha submit proceeding untuk conference, sekaligus paralel garap hibah penelitian. Harus gitu ya, demi menambah daftar tulisan publish di cv.

Kalau punya tabungan ide sih enak ya. Semacam bikin cerpen atau flashfiction yang sudah ada bank premisnya, dan sudah lengkap karakter serta setting. Tinggal putar otak aja mau dibikin konflik seperti apa.

Nah yang ribet itu kalau deadlinenya mepet, tapi ga tau mau nulis apa, dan didera rasa malas juga untuk riset literatur awal. Mati aja.

Ya kaya gue ini sekarang. Biasanya satu paper konseptual 3000-5000 kata (dalam bahasa inggris) bisa selesai dalam sepuluh hari termasuk revisi (lebih cepat dua hari untuk yang bahasa indonesia. Halah. Hehehe).

Tapi bulan ini, rasanya nangis darah. Ga tau mau nulis apa, males juga baca-baca untuk cari ide. Salahkan juga idealisme, pengennya nulis ini itu yang konon ga mainstream. Tapi jadinya melilit nafas sendiri, susah sendiri cari literaturnya yang jarang.

Belum lagi proposal untuk lintas multi disiplin ilmu. Kenapa juga gue kepikiran green electricity. Padahal bisa cari hal lain yang gampang misalnya isu seputar aktivitas social media. Tapi kan udah terlanjur terucap, ya masa ditarik lagi.

Efeknya, depresi lagi.

Dan saya rindu nulis cerpen romantis menye-menye. Memanjakan diri lewat imajinasi dan diksi-diksi natural tanpa catatan perut dan citasi.

Ya sudahlah. Tidur saja. Semoga cepet dapet ide ya *berkata pada diri sendiri* amiiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s