sekilas

Ponselku berkedip-kedip lagi. Pesan kembali masuk. Kupastikan dia lagi.

*kenapa ga mau selingkuh sama aku?

*ga. hanya akan menyakiti hati orang lain.
Elo juga aneh, mendadak pengen selingkuh.

*karena faktor kamu.

*woy, wait.. Gue ga pernah kirim pelet ah.

*ndak perlu pelet.

*dan gue jadi penasaran, kalo lagi singgah di kota lain lagi, elo kirim message kaya begini ke cewe lain yang ada di kota itu?

*cewe lain? siapa?

*ya siapapunlah, perempuan-perempuan yang pernah menapaki sejarah dalam hidupmu.

*mhmmm. lalu kamu siapa? did we have any history? selama ini kita cuma berteman biasa.

*mestinya gue yang nanya. kenapa gue?

*demikianlah kita. kalah. seandainya saja agama kita sama, mungkin kita sudah pernah pacaran, tidak menutup kemungkinan kamu sudah kuperistri. tapi seperti yang terjadi, kita berdua cuma bisa memendam rasa.

*kalo menurut gue, keinginan loe ini didorong karena perasaan yang tidak tuntas. coba dulu kita pernah pacaran, walau cuma sebentar. lalu putus. maka cerita kita akan selesai pada titik putus itu. Tidak akan ada rasa penasaran yang terbawa hingga kini. 13 tahun.

*karena itu, aku pengen menghabiskan satu hari saja bersama kamu. makan, nonton, ngobrol, have a kiss, hold your hand. just like a couple. tapi kalo kamunya mau.

*hehehehe…

*apa artinya itu?

*bukan tentang mau atau tidak mau. bobot mau, kalah besar dibanding bobot faktor lainnya. Intinya begini, elo pernah menjadi orang penting dalam cerita cinta masa muda gw. tapi masa itu sudah lewat. jadi biarlah gw mengenang elo sebagai sosok yang baik. tidak lebih, tidak macam-macam.

Makan, hayuk. ngobrol, hayuk. Tidak lebih. Secara elo masih punya utang nraktir ultah. Terserah kalo elo mau mengkategorikan itu selingkuh, tapi gue menyebutnya reuni teman lama.

*then I miss you more.

Beberapa pesan masih masuk darinya. Tapi kuabaikan. Mungkin hanya tentang hasrat. Toh besok dia akan lupa.

Tentang kita yang pernah saling membawa cinta. Masing-masing kita tahu, masing-masing kita telah mengungkapkan, namun kita kembali pada titik sadar, hubungan semacam ini tidak akan kekal.

Rasanya hanya seperti memelihara serigala yang kelak akan melukai tuannya.

Maka kita sepakat, memendam saja rasa itu. Tidak usah memberinya kesempatan, ketimbang kelak memberi luka.

Namun kini dia datang lagi (baiklah ini mungkin pertanyaan yang sama yang kesekian kali darinya). kenapa dulu kita tidak coba saja? bila kelak kita terluka, waktu akan menyembuhkan. ketimbang memendam rasa seperti ini. Mati penasaran.

Maka mati saja. Kataku. Ketimbang menyakiti orang-orang yang sudah kita pilih untuk menapaki hidup. Istrinya, mungkin. Suamiku, mungkin. Orangtua kita, mungkin.

Sudahlah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s