Menanti lamaran

Pesawatku mendarat dengan selamat, terparkir di jalurnya dengan sempurna. Kurenggangkan pinggang yang terasa kaku karena penerbangan panjang. Pintu mulai dibuka, sudah tersambung dengan garbarata. Syukurlah. Di tengah gempuran maskapai Low Cost Carier, penerbangan non LCC jadi ikut-ikutan memangkas fasilitas yang dianggap mengeluarkan biaya. Garbarata jadi barang mewah di bandara Indonesia. Tanpa garbarata -belalai yang menyambungkan bagian bandara (misalnya boarding room) ke pesawat- berarti penumpang harus turun tangga pesawat, lalu naik tangga lagi untuk menuju bandara. Sangat menyiksa bagi penumpang renta seperti saya, hihi.

Perkiraanku tepat tentang waktu mendarat. Pukul 7 pagi Waktu Indonesia Barat. Kudorong troli berisi bagasi menuju pintu keluar. Mataku mencari-cari sosok mama. Konon beliau akan menjemputku di bandara. Tidak kulihat sosok yang kucari. Tanganku menggapai tas selempang, mencari ponsel.

Kutekan nomor telepon mama, terdengar nada sambung, sembari mataku menyapu kerumunan penjemput, siapa tahu wajah mama sudah ada di sana. Nihil.

Diantara nada sambung telepon, sekilas kudengar suara memanggil namaku. Suara yang kukenal. Aku menoleh mencari sumber suara. Jantungku berdetak dalam tempo kacau.

“Pruni. Aku bantu.” Suara Adjie.

Refleks tubuhku berbalik arah hendak kembali ke dalam airport. Sialnya gelombang penumpang dari pintu keluar menutupi jalanku. Adjie terlanjur memegang tangan dan troliku.

“Lepaskan!” Ucapku pelan namun tajam. Kupandang langsung bola mata hitam lelaki yang pernah kucintai itu.

Adjie menurut. Melepaskan pegangan tangannya.

“Permisi, aku mau jalan lagi. Mama sudah menungguku.”

“Pruni tunggu!” Adjie masih menghalangi jalanku. “Mama tidak bisa menjemputmu, dia memintaku menjemputmu.”

Geram. Hatiku geram mendengar perkataan Adjie. Lelucon apa ini. Geram karena Adjie berani membawa nama mama. Tidak mungkin mama menyuruh mantan pacarku slash suami orang slash lelaki yang ingin kulupakan, untuk menjemputku.

Aku mengabaikan ucapannya.

“Minggir, beri aku jalan. Atau aku akan berteriak maling agar kamu habis dikeroyok orang-orang ini!” Suaraku masih pelan namun penuh intimidasi.

Adjie memberi jalan. Aku tersenyum miring, tanda kemenangan. Semudah itu menyingkirkan dia dari jalanku, mestinya akan mudah juga menyingkirkan dia dari kenangan.

Kudorong troli menuju tempat pemesanan taksi. Adjie masih mengikuti di belakangku. Namun semesta sepertinya tidak bersahabat. Aku lupa bahwa taksi adalah barang langka di terminal internasional. Kebanyakan taksi lebih memilih menunggu di terminal domestik. Konon lebih banyak penumpang di terminal domestik ketimbang internasional.

Payah. rutukku.

Adjie berdiri di sampingku. Aku tidak peduli. Kuanggap dia tidak ada.

“Pruni. Papa anfal, semalam kena serangan jantung. Mama bilang ringan. Mama tidak bisa menjemputmu. Tadi subuh mama menelponku meminta tolong untuk menjemputmu. Karena adik dan supirmu sedang dalam posisi standby di rumah sakit untuk membantu mama menemani papa.” Adjie berbicara panjang, memandangku yang masih separuh tidak peduli akan ucapannya.

“Liar. You’re such a liar. Sekarang kamu karang cerita tentang papa. Kemarin mama menelponku tidak bercerita apapun tentang papa.” Desisku pelan.

“Pruni. Akupun berharap tidak terjadi apa-apa pada Papa. Tapi kamu lihat ini.” Adjie menunjukkan foto di ponselnya. Foto papa terbaring di RS, dengan selang infus, oksigen dan alat deteksi detak jantung. “Mama mengirimnya tadi pagi setelah memintaku menjemputmu. Aku belum sempat menengok papa karena setelah menerima telepon mama aku langsung menuju ke sini menjemputmu. Pruni. Lupakan dulu semua benci, kita bergegas ke rumah sakit.” Katamu sembari mendorong troliku.

Aku bengong, berusaha mencerna semua perkataan Adjie. Cukup lama bagiku untuk memahami situasi. Ketika sadar, aku langsung menjerit.

“Papaaa..” Tanganku refleks menyambar tangan Adjie. “Cepat antar aku!!”

Adjie mendorong troli sembari berlari, berusaha mengimbangi gerak cepatku. Sesekali berteriak memberi arah tempat parkir mobilnya. Gerak Adjie lebih lambat dariku karena meskipun dia berusaha lari, dirinya tertahan troli penuh koper yang sedang didiorongnya.

Kami masuk mobil. Adjie dengan sigap dan efisien merapihkan semua koperku di bagasi mobilnya. Perjalanan menuju rumah sakit kutempuh dalam keadaan separuh linglung. Tanpa kusadari kami sudah tiba di parkiran rumah sakit.

“Papa.. Papa.. Papa..” Desisku dalam hati.

“Tenanglah. Insya Allah papa tidak apa-apa. Mari kita masuk.” Ucap Adjie berusaha menenangkanku. Tanpa sadar kugenggam tangannya erat, mencari kekuatan.

Rachmalia 203. Kamar papa. Aku berdiri di depan pintu. Adjie mengangguk, memberi tanda agar aku masuk. Kembali kugenggam tangan Adjie, ingin ditemani masuk ke dalam. Aku takut terjadi apa-apa pada papa.

Kudorong pintu, dan..

Papa terbaring di kasur. Namun dengan sangat mengejutkan, kondisinya terlihat bugar. Tidak ada kabel oksigen dan infus seperti foto yang diperlihatkan Adjie kepadaku tadi. Tidak ada mama di ruang itu.

“Aaaah Pruni! Anak Papa. Siniii..” Papa tersenyum sumringah, segar, tidak seperti orang yang habis terkena serangan jantung.

“Papaaaa.. Papa nih! Bikin orang deg-degan aja. Apaan sih pake mondok di rumah sakit kalo segar sehat begini! Ayo pulangggg.” Rajukku sambil memeluk papa yang sekarang dalam posisi duduk di ranjang.

Berapapun umur seseorang, ketika masih ada ayah ibunya, tetaplah dia seorang anak. Itulah yang kurasakan pada momen ini. Kembali menjadi anak, bermanja pada orang tua, semacam melepaskan beban hidup setelah beberapa tahun kutempuh hidup sendiri jauh dari mereka.

“Hahaha, ya namanya juga sudah tua, Nak. Kadang kambuh, kadang sembuh. Maaf kalau bikin was-was. Doakan saja papa selalu sehat.” Papa mengelus-elus kepalaku yang masih terbenam di dadanya. Aku mengangguk-angguk dalam pelukannya.

“Nak Adjie. Terima kasih sudah menjemput Pruni ya. Ingat, Papa menanti lamaranmu untuk pruni.” Kata papa sambil terkekeh.

Aku terkejut. Spontan melepaskan pelukanku dan memandang tajam ke arah papa.

“Ada kongkalikong apa di keluarga ini?” Tanyaku penuh selidik. Kupandangi papa lalu adjie, bergantian.

Terasa ada nyeri berderit di hati. Kupegang dadaku yang kacau karena degup jantung. Perutku terasa tergelitik, kupu-kupu dalam perut, gelisah. Bukan, bukan kupu-kupu. Ini ular dalam perut, ular yang membuat perutku terasa tergelitik lalu sebentar lagi ular ini akan naik ke atas memakan semua hati dan jantungku.

“Papa.. becanda apa ini? Lima tahun aku pergi untuk melupakan dia.” Kataku tajam, telunjukku menuding Adjie. “Sekalipun aku sayang papa, aku tetap tidak bisa menerima lelucon seperti ini. Dia pria beristri, pa! Dia meninggalkan aku untuk menikahi orang lain! Bahkan mestinya dia tidak boleh menampakkan wajah di sini. Papa terlalu!” Aku berbalik badan. Keluar dari ruang rawat papa. Tidak menghiraukan suara papa dan Adjie yang memanggilku.

Kupegang dada yang bergemuruh penuh rasa benci. Amarah memenuhi kepalaku. Sedikit was-was terselip di hati. Aku takut ucapanku terlalu keras dan membuat papa anfal. Aku berhenti berjalan, melihat kebelakang, takut-takut ada kehebohan, misalnya para suster berderap masuk ke kamar papa karena anfal.

Kutunggu semenit, dua menit, tiga menit. Tidak ada kehebohan. Koridor dekat kamar papa tetap sepi. Kuasumsikan papa baik-baik saja.

Aku menghela nafas, merasa menyesal berkata terlalu keras pada papa. Dengan langkah gontai menjauh dari kamar papa.

“Ini semua karena Adjie. Sialan!” Aku memaki sembari mengepalkan tangan.

Papa menanti lamaranmu untuk pruni..

Kata-kata papa terngiang terus di telingaku. Kututup telinga. Bodoh.

Papa menanti lamaranmu untuk pruni..

Papa menanti lamaranmu untuk pruni..

Bodoh! Aku bodoh! Mestinya aku tidak usah kembali ke Indonesia, semua hanya membuka luka hati.

Air mataku mengalir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s