Untuk kamu, apa sih yang enggak boleh?

Tentang cinta, beberapa tahun yang lalu aku sudah berjanji pada diri sendiri, akan melupakan apapun bentuknya cinta yang membuat hari kelam.

Sudah cukup hari-hari yang kulewati tanpa semangat, merasa ada yang hilang, hanya karena cinta yang kandas. Sudah cukup malam-malam yang kulewati dengan sesekali menangis, karena menahan rindu yang tak mungkin tersampaikan. Sudah cukup.

Berapa lama sudah kutinggalkan Tanah Airku? Lima tahun tiga bulan seingatku. Sudah cukup pelarian diri ini. Saatnya kembali menghadapi kehidupan nyata, dengan atau tanpa orang yang diharapkan menemani.

Kembali ke Indonesia, for good– selamanya.

Packingku sudah selesai semua, aku siap berangkat ke bandara. Pesawatku pukul 5 sore waktu Toronto, berarti saat ini masih pukul 5 pagi di Indonesia.

Telepon selularku berbunyi. Pesan singkat masuk.

Dari Mama.

jadi pulang hari ini? harus dijemput di bandara kapan? hari apa? jam berapa?

Aku tersenyum membaca pesan dari wanita yang sangat kurindui.

penerbanganku sekitar 20 jam ma, transit di Hongkong. Mungkin besok jam 7 pagi waktu Jakarta aku tiba di cengkareng.

ya sudah nanti Mama jemput. Ada yang mau mama kenalin ke kamu. Nanti sekalian mama ajak jemput kamu.

“Hah?” Mataku membelalak membaca pesan masuk dari Mama. Ribuan kilometer jarak antara aku dan mama, dan sempat-sempatnya mama berfikiran menjodohkanku. Apa coba yang akan dikenalkan padaku kalo bukan jodoh-jodohan.

Maaaa, segitu kuatirnya sama aku. Ini maksudnya mau ngejodoh-jodohin kan? Kubalas pesan singkat Mama

Kenal saja dulu, Pruni. Urusan jadi atau tidak, Mama tidak memaksa.

Maaa, aku tapi habis terbang sehari semalam melintasi dunia loh. Bagasiku juga banyaak. Kalau mama mengajaknya menjemputku, siap-siap melihat wanita kusut berwajah minyakan dengan banyak barang bawaan, siap-siap aku karyakan jadi porter.

Dia yang memaksa mau jemput kamu, pruni.

terserah deh. semua demi Mama. untuk Mama, apa sih yang enggak boleh. asal janji, kenalan aja. ga ngarep ini itu.

iya

Ma, aku brkt dulu ya. See u in the next 24 hours

Kumatikan telepon genggam tanpa menunggu balasan dari Mama. Aku paham umurku sudah tidak muda lagi, 31 tahun. Wajar mama sangat peduli tentang jodohku. Tapi otakku rasanya penat membayangkan harus berkenalan dengan orang baru, beradaptasi, lalu mungkin kelak aku jatuh cinta pada orang itu, lalu kandas ketika cinta itu sudah besar. Ah.

Tapi baiklah, kenalan saja. Demi mama.

– – – – –

Tanah kelahiran, aku segera kembali. Perlukah kubernyanyi ‘Padamu Negeri’?

Hehehe…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s