Cintaku mentok di kamu

Baru separuh jalan menuju bandara, namun berita banjir Jakarta dari radio sudah memenuhi kabin mobilku. Kemacetan mulai terlihat wujudnya, mobil yang kutumpangi berjalan melambat-melambat, lalu berhenti sama sekali. Semenit, lima menit, lima belas menit, tidak ada gerakan dari mobil-mobil di depanku. Berhenti total.

Aku sibuk menelepon, menghubungi beberapa orang, memastikan semua hal berjalan lancar walau tanpa kehadiranku. Terakhir kutelepon maskapai penerbangan yang akan kutumpangi.

“Saya konfirmasi ya pak, reschedule Cengkareng – Denpasar, pindah ke hari Sabtu 19 Januari 2013, pukul 6.00 pagi WIB.” Suara petugas call center di seberang teleponku.

“Ya.” Jawabku pendek yang lalu disambut dengan kalimat penutup dari petugas layanan call center tersebut.

Kututup telepon, menghela nafas, lalu kuperintahkan Indra, supirku untuk mulai mengambil jalur paling kiri dan mencari jalur alternatif pulang. Menurutku pulang adalah solusi terbaik ketimbang tetap memaksakan berjibaku dalam kemacetan dan banjir Jakarta. Negeri ini membutuhkan akses menuju bandara yang bebas macet, bebas banjir, dan tepat waktu. Semoga segera terwujud.

Why don’t you go away and I’ll go mine.
Live your life and I’ll live mine
Baby, you do well and I’ll be fine.
Cuz we’re better off, separated.

Telingaku menangkap suara Usher di radio. Tuhan. Bahkan playlist radiopun seakan menghakimi.

Lirik yang dinyanyikan Usher, mirip kata-kata yang kuucapkan kepada Pruni ketika kuputuskan menerima perjodohan, dan meninggalkannya.

“You’ll do well and I’ll be fine.” Ucapku saat itu. Dihadapan Pruni yang membelalak dengan mata berkaca-kaca.

Nyatanya, You do well and I’m not fine. It’s a curse.

– – – –

Hari masih siang ketika aku tiba di rumah. Sepi. Mungkin Luli sedang di kamar. Kakiku melangkah menuju kamar. Pintu kamar sedikit terbuka. Sayup-sayup terdengar suara Luli tertawa. Sepertinya dia sedang menelpon.

“Ah ditunda sehari kangennya, dong. Banjir. Aku ga bisa ke apartemen kamu dalam keadaan banjir begini. Besok saja ya. Mas Adjie ke Bali sampai hari Rabu. Kita masih punya banyak waktu untuk bersama.”

Diam sejenak..

“Iya aku juga kangen kamu, mas. Tapi kamu tahu situasiku. Pernikahanku karena perjodohan. Hatiku tetap untuk kamu. Cintaku mentok di kamu.”

Suara Luli terdengar lirih.

Perutku terasa ditohok. Sakit pada ulu hati. Tanganku terkepal tanpa sadar.

Aku tidak mencintai Luli, aku sadar itu. Tapi aku selalu berusaha memperlakukan Luli dengan baik. Belajar mencintainya, mencoba melupakan Pruni, meskipun cintaku hanya untuk Pruni. Jika aku dan Luli tidak saling mencintai, lalu hanya saling mengkhianati, untuk apa pernikahan ini?

Rasa empati pada penderitaan Luli yang mirip deritaku, tumpang tindih dengan rasa marah karena ego yang tercoreng. Istriku berselingkuh dengan lelaki lain. Aku hanya berselingkuh hati, sedangkan dia mungkin juga fisik. Mendadak aku merasa mual.

Akhirnya kuputuskan untuk masuk kamar. Kutunggu hingga Luli menyadari kehadiranku.

Semenit, dua menit, tiga menit, menit-menit yang menyiksa mendengar Luli tertawa, merajuk, menasehati, lelaki entah siapapun itu diseberang telepon.

Tidak tahan dengan apa yang kudengar, aku terbatuk kecil sebagai tanda kehadiran.

Luli terkesiap. Tergagap. Diam.
Aku pun terdiam cukup lama. Terlalu banyak emosi yang berkecamuk, sehingga rasanya sulit untuk sekedar marah atau prihatin.

“Kita sudahi saja, Luli. Sudah cukup pernikahan ini.” Akhirnya aku mampu berkata. Tegas.

Kukemasi barang-barang penting. Niatku pergi meninggalkan rumah ini, rumah tangga kami. Persetan bahwa orang tua Luli memiliki saham 30% pada perusahaan keluargaku. Persetan bahwa orang tua Luli adalah taipan kaya yang banyak membantu pada awal-awal berdirinya perusahaan ayah. Persetan.

Luli tidak mencegah. Aku hanya sempat mendengarnya berkata ‘maaf’ yang sangat pelan, dengan intonasi tercekat menahan tangis.

“Aku maafkan kamu. Aku juga minta maaf, membiarkanmu tersiksa dalam pernikahan ini. Kuusahakan semua urusan perceraian kita selesai dalam waktu yang paling cepat. Hingga kamu bisa segera berbahagia dengan lelaki yang kamu cintai.” Ada nada sinis dalam suaraku.

– – – – –

Malam datang. Udara puncak begitu dingin. Aku berdiri pada salah satu sisi tebing parkiran rumah makan Rindu Alam. Kutinggalkan rumah dan Luli, langsung kugeber motorku pada kecepatan tinggi menuju puncak pass, berharap bisa menemukan kejernihan pikir di sini. Tempat ini, puncak pass, tempat aku dan Pruni sesekali menghabiskan akhir pekan. Berpacaran, mengendarai motor melintasi lekukan-lekukan jalan yang diapit kebun teh. Dan berakhir makan jagung bakar. Tangan Pruni akan memeluk erat tubuhku. Sesekali memarahiku dari kursi penumpang jika dirasanya aku sudah terlalu cepat mengendarai motor.

Tapi hari ini tidak ada Pruni. Yang tersisa hanya dingin dan hujan.

Kupandangi telepon genggamku. Kupilih namanya dari kontak Line-ku. Pruni.

Pruni. Pulanglah. Pernikahanku sudah selesai. Dua tahun yang sia- sia. Bisakah kita kembali bersama? Cintaku hanya kamu.

Kusentuh tanda send.

Semenit, dua menit, tiga menit. Tidak ada tanda terbaca.

Kusentuh tanda call.

Nada sibuk. Nada sibuk. Nada sibuk.

“Pruniiiiiiiiii.” Teriakku penuh emosi pada jurang di bawah Rindu Alam.

– – – – –

Why don’t you go your way and I’ll go mine.
Live your life and I’ll live mine
Baby, you’ll do well and I’ll be fine
Cuz we’re better off, separated.

– – – –

Advertisements

2 thoughts on “Cintaku mentok di kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s