Bales kangenku, dong!

Kisahku ringkas saja, seorang wanita patah hati yang mendapat kesempatan pergi ke belahan dunia lain. Kuambil kesempatan itu, tidak murni karena ingin menyelesaikan tugas yang harus diemban di negeri orang, namun lebih karena ingin melupakan luka hati.

“Kenapa Toronto?” Pertanyaan yang biasa kudengar sebelum aku berangkat ke sini.

Jawabanku sangat bervariasi, tergantung siapa yang bertanya.

Jika kolega yang bertanya, maka akan kujawab, “iya, UT adalah research university, basis risetnya kuat, cocok untuk kampus kita yang berorientasi riset.”

Jika sekedar teman yang tidak terlalu dekat, akan kujawab dengan gurauan, “Mau ke Harvard tapi ga lolos.”

Jika dia yang bertanya, (sayangnya dia tidak pernah bertanya), aku akan menjawab, “Agar jauh dari kamu, tidak ada tiket murah seperti kalau aku sekolah di Australia, sehingga tidak tergoda untuk kembali padamu.”

Jika hatiku yang bertanya, maka akan kujawab, “Toronto dingin. Biasanya luka, mungkin juga termasuk luka hati, lebih cepat sembuh pada suhu dingin. Membeku. Terkristal. Lupa.”

Dan begitulah pelarianku selama hampir dua tahun. Jenjang masterku sudah selesai lima bulan lalu. Lalu Universitas Toronto menawariku program fellowship untuk meneruskan ke jenjang doktoral. Belum kujawab penawaran mereka. Kampus asalku di Indonesia tidak keberatan, bersedia menunggu aku kembali dan siap mengajar empat tahun lagi ketika aku lulus doktor.

Faktanya, saat ini aku pengangguran (intelektual) tak kentara. Hidupku sebagian besar ditopang uang beasiswa yang masih terus mengalir meskipun aku sudah lulus. Jatah beasiswaku dua tahun, baiklah bulan depan jatah beasiswaku habis. Untuk mengisi waktu luang, aku mengajar di Lab statistika, namun hanya sekadarnya. Tidak membuat riset, tidak mengajar full time, tidak juga menulis makalah. Aku berada pada titik terendah dalam sejarah produktivitas.

Siang sangat pendek di Toronto. Seperti hari ini, baru pukul empat sore namun langit sudah gelap seperti pukul enam sore di Jakarta. Sendiri di Negeri orang, tanpa aktivitas yang jelas, tanpa target hidup yang jelas akan membawamu mudah melankolis, teringat kenangan-kenangan lalu.

Aku teringat dia. Sedang apa dia di sana? Bahagiakah? Kuusap layar tablet pc, menelusuri satu-persatu kontak yang ada di sana. Sekedar mengingat-ingat siapa teman-teman yang sudah lama tidak kujumpai. Jariku berhenti pada namanya. Tergoda untuk menekan perintah ‘Face Time’. Melihat wajah dan senyumnya, meski hanya dalam tataran video call mungkin bisa membangkitkan gairah hidup dan produktivitasku.

Tekan.. Tidak.. Tekan..

“Ah shit. Jangan lemah, Pruni!” Batinku memaki diri sendiri.

Kupandangi lagi layar tabletku. Hampa.

Tiba-tiba terdengar suara denting dari tablet itu. Pesan masuk di ‘Line’.

Hai, apa kabar? Kamu dimana sekarang? Aku install Line. Namamu ternyata otomatis terdaftar di kontak Lineku. Aku kangen kamu. Bales kangenku, dong.

Aku tersedak membaca pesan yang masuk. Dia. Apakah ini yang dinamakan ‘satu konstelasi pikir akan mampu menembus ruang dan batas’. Aku memikirkan dia, dan dia memikirkanku. Berbalas.

Cepat kuketik kalimat balasan. Senyumku terhias lebar.

Aku juga kangen. Sudah selesai tugasku disini. Bulan depan aku pulang, jemput aku ya di bandara.

Hatiku buncah oleh bahagia.

Hingga akhirnya sebuah kesadaran muncul. Runtutan peristiwa menggenang dalam ingatan.

“Tidak, jangan begitu. Aku harus kuat.” Rutuk hatiku.

Terbayang olehku, mungkin dia mengetik pesan di Line itu sembari memunggungi istrinya.

Tidak, aku tidak mau menjadi pengganggu rumahtangga orang. Jika dia rindu aku, dan tidak bahagia dengan wanita pilihan keluarganya, itu adalah urusannya. Aku tidak mau terseret dan menjadi kambing hitam. Tidak.

Kupilih tombol ‘Option’, block user. Yes.

Selesai. Sudah selesai diantara kita. Biarkan aku menapaki jalanku sendiri. Seperti kamu menapaki jalanmu sendiri.

Kubuka akun surat elektronik. Formulir fellowship doctoral. Kuberi tanda centang pada kolom persetujuan.

Kuputuskan, menjauh darimu lagi, empat tahun kedepan. Semoga pada masa itu kenangan tentangmu sudah sepenuhnya beku, tertimbun dinginnya salju Toronto. Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s