Sambungan Hati Jarak Jauh

Menteng, pukul 11 siang.

Matahari bersinar cerah, namun sebagaimana layaknya perumahan elit Menteng, tetap terasa teduh. Nyaman.

Satu jam sebelum janjianku dengan Nala. Aku berjalan masuk ke sebuah rumah kuno di kawasan Menteng, rumah yang sudah disulap menjadi pusat kebudayaan Jerman, Goethe Institute.

Selain menampilkan kebudayaan Jerman dan tempat les bahasa jerman, Goethe sering menjadi tempat pemutaran film indie dan film-film asing yang tidak mendapat slot di bioskop komersil.

Aku melayangkan pandang, sesekali tersenyum pada perempuan-perempuan cantik, seumuranku. Mereka berseliweran di Goethe. Mungkin hendak les, atau mungkin mereka pengurus persatuan mahasiswa Indonesia di Jerman yang sedang libur lalu mudik ke Indonesia, atau mungkin panitia Film Induced Tourism ini. Ah siapapunlah mereka, yang pasti cantik-cantik, modis-modis. Mataku segar dibuatnya.

Lalu mataku terpaku pada sosok yang kukenal. Nala. Ternyata dia sudah tiba lebih dulu. Sedang memandangi poster-poster film yang tertempel sepanjang mading Goethe.

@miumiu hai sudah sampai? Aku sudah.

Dua menit kemudian berbalas.

@bersahaja udah. pake baju apa?

@miumiu betmen warna biru

Dari kejauhan kulihat Nala memandang sekeliling Goethe. Matanya terhenti padaku, kaos Batman berwarna biru. Dia tersenyum, melambaikan tangan. Aku pura-pura tidak paham kalau lambaian itu untukku. Bukankah skenarionya aku belum kenal miumiu.

“Hai, bersahaja ya?” Sapanya ramah ketika sudah di dekatku.

“Hai, iya. Miumiu?” Aku belagak bertanya, sembari berusaha keras terlihat wajar.

“Iya. Namaku Nala. Kamu siapa namanya?” Dian menyodorkan tangan, mengajak salaman.

“Adjie.” Jawabku pendek, sembari menyambut uluran tangannya.

“Muka kamu familiar. Pernah ketemu di mana kita?” Tanyanya riang. Tuhan ternyata dia begitu ramah.

“Mukaku memang pasaran. Kadang dibilang mirip Tom cruise, kadang Brad pitt, kadangnya JGL, kadangnya…”

“Halah! Hahaha…”Tawanya memotong perkataan narsisku. Lalu kami tertawa bersama.

Dalam sekejap kami terlibat obrolan akrab. Kuberitahu dia bahwa kuliahku di Jogja, bukan di Jakarta, bahwa aku sedang mudik karena kampus libur.

Kulihat matanya membelalak tidak percaya. Lalu dia bercerita bahwa dia juga kuliah di Jogja, di kampus yang sama denganku, bahwa dia juga sedang liburan, betapa dunia sempit, dan seterusnya..

Hatiku hangat, oleh harapan. Mungkin jika bersama Nala, melupakan Shinta menjadi mudah.

Kami terus bercakap dan bercakap, tentang kampus, tentang kuliah, tentang kepanitiaan yang pernah kami ikuti bersama.

Lagi-lagi dia terbelalak dan berkata betapa dunia sempit. Lalu kami tertawa terbahak lagi.

Pukul 11.45 kami sedang tertawa karena membahas acara gelanggang expo yang terancam bubar karena ada ampli yang meledak. Lalu telepon genggamnya berbunyi.

“Sebentar ya.” Katamu sembari melirik ponselmu. Lalu kamu berdiri menuju tempat yang lebih sepi.

Dari kejauhan kulihat kamu sedang bercakap-cakap. Wajahmu menghadap layar ponsel. Video call. Tebakku.

Sepuluh menit berlalu. Aku mulai jenuh. Kuputuskan untuk beranjak dari tempat duduk, mendekati ruang audio visual yang sudah dibuka. Pertanda sebentar lagi film yang hendak kami tonton akan dimulai.

“Upppss.. Sori yaa adjie, maaf lama. Harap maklum, sambungan hati jarak jauh.” Katamu ringan, tiba-tiba sudah ada di sampingku.

“Hah? Sambungan apa?” Tanyaku kurang mengerti.

Lalu kamu tertawa terbahak, membuatku bingung. Bagian mana dari ucapanku yang lucu.

“Hehehe ekspresi muka kamu kocak kalau bingung. Sambungan Hati Jarak Jauh. Video call, skype, atau apalah aplikasinya terserah kamu. Cara kami kaum LDR untuk tetap menjaga dan menyambungkan hati.” Jawabmu sambil tersenyum.

“LDR? Pacar kamu?” Tanyaku bodoh.

“Iya. Pacar aku. Dia sedang ada proyek di Vienna. Baru jalan enam bulan. Katanya setahun, jadi masih ada enam bulan lagi aku jadi jomblo area. Hehehe.” Jelasmu.

Aku menelan ludah. Pahit. Bagian ini belum pernah kupertimbangkan. Selama ini aku mengamati Nala dari jauh, belum pernah kumelihatnya diantar jemput lelaki. Twitternya juga bersih, tidak ada convo mesra dengan pria manapun, jadi kemarin-kemarin kuasumsikan dia single.

Ternyata…

Sambungan Hati Jarak Jauh? Shit!

Aku merutuk. Hatiku runtuh sekarang. Aku yang butuh sambungan hati. Jarak dekat tapi. Plester mana plester?
Toloooong..

Advertisements

2 thoughts on “Sambungan Hati Jarak Jauh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s