Cuti sakit hati

Aku menangis memeluknya di ruang tamu. Tergugu di ketiaknya. Dia mengelus rambutku dengan sebelah tangan. Tangannya yang lain memeluk erat gitar yang beberapa waktu lalu dipetiknya, memainkan beberapa lagu kenangan kami berdua.

“Setelah ini semua tidak sama lagi, ya?” Aku bertanya padanya dengan suara pelan. Tertutup isak tangisku yang tak kunjung mereda.

“Iya.” Jawabnya juga pelan, tidak yakin.

“Kita adalah orang-orang yang kalah oleh keadaan, ya?” Tanyaku lagi, sambil tetap menyusrukkan wajahku di ketiaknya.

“Tidak. Bukan kita. Mungkin hanya aku yang kalah. Tidak memperjuangkanmu.” Suaranya lirih. Kupastikan diucapkannya sembari memandang menerawang jauh, seperti yang biasa dia lakukan jika sedang berfikir keras.

“Mestinya aku tidak usah menikah besok, ya?” Tanyaku dalam isak yang semakin dalam.

Dia diam. Tidak menjawab pertanyaan terakhirku.

Rasa sakit semakin sesak di dada. Mengapa sulit menerima kenyataan. Padahal kenyataan ini adalah aku yang memilihnya.

Kaosnya basah oleh air mataku yang tak henti mengalir. Kukeluarkan kepalaku dari hangat ketiaknya. Aroma musk parfum kesukaannya terasa berbekas di rambutku. Aku memandang wajahnya, mungkin untuk terakhir kalinya sebelum semua berubah esok hari..

When I look into your eyes
I can see a love restrained…
But darlin’ when I hold you
Don’t you know I feel the same

Dia tersenyum hangat. Jemari kukuhnya mendarat di pipiku, menghapus jejak airmataku.

“Insya Allah hidupmu akan bahagia dengan lelaki pilihanmu itu. Aku kenal dia, teman baikku. Dia akan menjagamu dengan sepenuh jiwa raganya.” Ucapnya pelan, suaranya berat, pertanda meredam emosi.

“Chantaaal..” Sebuah suara teriakan memanggil namaku, mengagetkan aku dan dia. Kami melepaskan pelukan, memperbaiki letak duduk kami. Berusaha bersikap wajar.

“Aduuuh ini calon pengantin, kekepan melulu sama kakaknya. Bobo dulu, biar matanya ga bengkak. Besok ijab mukanya seger. Mas-mu itu ga akan kemana-mana, Kamu tidak akan berubah, tetap adik kecilnya.” Mama tiba-tiba berada di ruang tamu dan mencerocos panjang lebar.

Ucapan yang tidak disadari mama, menyadarkanku sekaligus menorehkan luka dalam pada hatiku.

Aku tetap adik kecilnya. Hanya akan menjadi adik kecil-nya, hingga kapanpun.

– – – – – – – – –

Malam semakin hening. Kesibukan sedari pagi hingga menjelang malam ini mulai memudar. Satu persatu tukang dekorasi pamit pulang. Ruang tamu rumah kami yang biasa hanya berbalut cat putih gading, malam ini terlihat hangat dengan rumpun sedap malam dan mawar merah di beberapa pojok ruang. Halaman depan rumah kami cukup luas, bisa menampung 300 orang bila ada standing party. Kini halaman kami tertutup semua atasnya oleh tenda. Juga dihiasi sedap malam dan mawar merah. Harum, sekaligus mistis.

Malam semakin larut, menyisakan beberapa menit sebelum dinyatakan resmi berganti hari.

Cinta tidak pernah mudah. Terutama bagi orang-orang yang terlibat cinta terlarang, seperti mencintai adik tiri-nya sendiri, misalnya.

Aku mengingat dirinya ketika baru datang di rumah kami. Ayahku menikahi ibunya.,

Ayah berpesan padaku, “Dia Chantal, adikmu. Jaga dia jangan sampai disakiti orang lain.”

Selalu kupegang nasehat ayah. Kujaga Chantal dimanapun dia berada.

Chantal, adik kecilku.

Namun seberapapun besarnya logika mengambil porsi, tetap tidak bisa mengalahkan satu rantai yang hilang, bahwa dia bukan adikku. Bahwa tidak ada pertalian darah pada diri kami.

Dan cinta itu, timbullah.

Semula hanya rasa ingin melindungi. Lalu berkembang menjadi sayang, kemudian cinta, dan ingin memiliki.

Kami tersadar, kami saling mencintai. Sebagai kekasih, bukan kakak adik.

Chantal, adik kecilku.

Aku yang gagal.

Aku yang tidak berani memperjuangkan kepada orangtua kami bahwa kami saling cinta.

Hingga akhirnya dia memilih jalannya sendiri, berusaha lepas dari cinta kami yang tak jelas.

Dia memilih menerima lamaran Ardi, sahabatku.

Kutelan pahit ini.

Sesudah ini aku harus menghilang. Bertapa masuk gua. Menyembuhkan luka . Cuti sakit hati. Libur jatuh cinta.

But if you could heal a broken heart
Wouldn’t time be out to charm you

Sometimes I need some time…on my own
Sometimes I need some time…all alone

— — —

Pagi tak pernah lupa datang. Siap mengoyak tabir hitam malam. Meskipun ada penghuninya yang belum sempat tertidur.

Pelan kupetik gitarku. Bernyanyi untuk Chantal. Bernyanyi untuk menenangkan diriku sendiri..

Now that I’ve lost everything to you
You wanna start something new
It’s breaking my heart, you’re leaving..

Baby its a wild world..
Baby its a wild world..
I always remember you like a child girl..

Baby I love you..

Advertisements

2 thoughts on “Cuti sakit hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s