Orang ketiga pertama

@bersahaja mau. tapi kamu bukan penjahat yang suka nyulik anak orang kan?

– – –

Aku tersenyum membaca twit terakhir darinya untukku.

“Semoga aku tidak terlihat seperti penculik ya. Semoga kamu tidak kabur ketika besok melihatku.” Ucapku lirih sembari memandang bayangan wajahku di cermin.

Aku dan dia, perkenalan kami di twitter terjadi dua minggu lalu. Setelah sekian lama aku follow twit-nya, dan menjadi pelanggan blog-nya, akhirnya kuberanikan diri menyapanya. Untunglah sambutannya baik, tidak ketus, tidak dingin.

Demikianlah kontribusi positif social media terhadap hidupku. Lebih tepatnya, terhadap peluangku untuk mengenalnya lebih jauh. Sesungguhnya perkenalan ini tidak terlalu adil. Dia tidak mengenal aku. Sementara aku mengenalnya. Sangat mengenalnya.

Namanya Nala. Persis seperti nama tokoh singa betina dalam film animasi Lion King. Aku dan dia berbeda fakultas. Dia ekonomi, aku teknik. Meskipun demikian, ada beberapa kali kegiatan yang membuat aku dan dia berlintasan. Namun hanya sekedar berlintasan. Hanya cukup membuatku terpukau akan kata-kata dan pemikiran kritisnya. Namun kami tidak sempat saling mengenal lebih jauh. Belum ada waktu, belum ada kesempatan. Tadinya kupikir aku bisa mengenal dia pada acara pembubaran panitia. Dalam situasi yang lebih akrab dan santai, antar panitia. Tapi dia tidak pernah hadir. Tiga event kami menjadi panitia bersama. Tiga event aku melihatnya sekilas-sekilas. Tiga event yang sia-sia, aku tak bisa berkenalan dengannya. Memupuskan asa.

Namun satu hal yang kutahu, dia kontributor pada majalah kampusnya, Equilibrium. Sesekali juga kontributor untuk majalah Universitas, bulaksumur pos. Berbekal pengetahuan itulah kudapatkan alamat blog dan twitternya. Jadi tidak murni hasil googling, seperti yang kukatakan padanya. Anggap saja ini kebohongan putih, toh kalau aku googlingpun bisa kutemukan blognya.

Beginilah nasib pria, kadangkala ketika pria tertarik pada seseorang wanita, hambatannya adalah tentang bagaimana mendapat akses untuk mengenalnya lebih jauh. Tanpa terlihat norak dan menjatuhkan pride sebagai pria.

Sekali lagi, untunglah ada twitter.

Semoga ini awal baru.

Tiga tahun berlalu semenjak kematian Shinta. Kecelakaan tragis merenggut nyawanya. Dan lebih tragis lagi, aku ada di tempat kejadian itu.

Tiga tahun lalu, sepulang sekolah, Shinta dengan bangga memamerkan SIM barunya. SIM C untuk motor. Dengan penuh percaya diri dia memintaku duduk di kursi penumpang. Dia ingin memamerkan padaku bahwa dirinya sudah bisa mengendarai motor dengan baik.

Mestinya kucegah. Mungkin dia sudah bisa mengendarai motor, namun dia belum bisa menguasai emosinya ketika berkendara di jalan raya. Jalanan kosong, Shinta merasa jumawa. Melarikan motor pada kecepatan 100km perjam. Pada tanjakan organon tanah kusir, motornya terlalu ke tengah jalan. Sebuah truk melaju cepat dari arah berlawanan. Tidak ada separasi jalur di jalan itu. Shinta sempat memperlambat motornya, hendak kembali ke jalur kiri, namun tersenggol mobil di sisi kiri. Aku jatuh lebih dulu. Shinta jatuh belakangan. Malangnya Shinta jatuh tepat di depan truk lalu terlindas.

Dan setelah itu semua gelap bagiku.

Dan sesudah itu, semua terasa seperti mimpi dalam kendali otomatis. Aku berjalan dan hidup tanpa jiwa. Kehilangan seseorang yang dicintai tentu hal yang menyakitkan. Apalagi jika kehilangan secara naas. Di depan mata.

Orangtuaku memindahkan sekolahku, agar tidak melulu teringat tragedi Shinta. Juga memasukkanku ke sebuah pengajian untuk memberiku makanan jiwa. Lumayan. Hal tersebut berhasil, lama-lama jiwa ini ikhlas. Namun belum sepenuhnya berani mencinta lagi. Terlalu sakit rasanya kehilangan itu.

Hingga akhirnya aku melihat Nala. Perawakannya mirip Shinta. Rambut bob seleher, dengan senyum yang bisa membuat harimu mendadak terang. Ucapannya yang singkat dan tidak bertele-tele. Logis, praktis, tidak seperti umumnya wanita yang dikuasai hati belaka.

Mengenal Nala membuatku merasa berselingkuh dari Shinta. Nala jadi seperti orang ketiga yang pertama kalinya dalam hubunganku dan Shinta. Tapi Shinta sudah tiada. Lalu aku harus bagaimana?

Besok jam 12 di Goethe. Semoga lancar.

“Doakan aku, Shinta. Dia bukan sainganmu. Kamu, tetap bertahta di hati sebagai yang paling kucintai. Namun izinkan aku memulai hidup baru. Doakan lancar.” Bisikku, sembari mengelus foto almarhum Shinta.

Advertisements

2 thoughts on “Orang ketiga pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s