Minum atau ‘minum’?

Budaya minum-minuman beralkohol itu nampaknya udah mulai jadi acara reguler di masyarakat kita ya. Kita? Gw doang kali.. Hihi..

Ya maksudnya bagi temen-temen sekeliling gw aja kali ya. Bukan society secara luas.

Dulu banget itu kalo Bank mantan kantor saya ngadain gathering untuk nasabah prioritas, sering ada cocktail party. Tapi itu sebatas minum alkohol ringan kayanya yah, kadar alkohol rendah.

Tapi itu pertama kalinya saya ketemu acara yang minuman beralkohol-nya disediakan di muka publik dengan damai. Hihi damai itu maksudnya ga menimbulkan persepsi negatif bagi yang meminum. Ya biasa aja, semacam soft drink.

Dan setelah itu saya sering dan akhirnya terbiasa menemui cocktail jadi hidangan lumrah di acara-acara pertemuan (bukan cuma acara kantor saya), umumnya di hotel berbintang.

Jauh sebelum itu, saya kenal minuman alkohol mah hasil bandel2an waktu SMA. Di sekolah saya ada tongkrongan namanya wk (warung kuning=karena warung rokoknya dicat warna kuning). Secara sekolah saya itu ada tradisi belajar malem (dan nginep di sekolah) dalam rangka mempersiapkan UN dan UM, bareng alumni, jadi seringnya habis belajar, jam 11an gitu kita melipir ke wk’. Yang cowo-cowo biasanya udah pada bawa anggur orangtua. Itu katanya sih bikin mabok, tapi murah meriah. Konon bagi mereka sekedar menghangatkan badan. Entahlah. Kadang kalo lagi pada banyak duit, mereka bawa bir bintang atau guinness gitu.

Saya kadang nyicip. Tapi ga suka. Jadi ya gitu doang. Dan tetep dalam persepsi saya, yang namanya orang minum bir atau alkohol lainnya itu, ga oke. Bandel aja gitu kesannya. Mungkin juga karena perkara tempat maboknya cuma di warung rokok kali ya hehehe. Padahal kayanya minum sebotol gitu ga mabok ya, cuma pusing2 aja kali ya. Kali..

Pas lulus SMA, terus mulai kuliah jauh dari emak, maka mulai sering ikut klubing-klubing gitu. Di sini minuman beralkohol letaknya jadi lebih prestise. Harganya mahal, dan yang dateng untuk minum adalah cowo-cowo keren. Beda jauh sama jaman gw ngeliat temen2 SMA saya minum bir bintang dan anggur orang tua . Hihi.

Kalo jaman SMA minumnya outdoor. Di wk atau pas lagi naek gunung gitu, pada terang2an minumnya. Kadangnya ada guru yang ikutan minum juga hehe. Mungkin klo udh diluar sekolah gitu mereka menempatkan diri sejajar kali ya sama muridnya. Bisa mabok bareng, dingin pula sih di gunung 😀

Nah pas klubing itu, kalo yang minum akan dipersepsikan gaul. Beda pas jaman sma, klo minum itu brarti bandel. Klo pas klubing, cuma minum cola itu cemen. Duh. Saya cemen. Untungnya jaman dulu itu klo klubing barengan sama pacar2 (pada masanya) yang gak suka liat cewe mabok. Jadi si pacar minum, tapi saya cuma dikasih jus oren. Oke sip.

Nah begitu deh, tadinya kan saya kira minum alkohol itu cuma kenakalan jaman muda aja kan.

Eh ternyata enggak. Pas udah kerja, ternyata akses untuk itu malah lebih luas. Ada societynya.

Jadi kalo acara gathering itu kan clean ya. Tempatnya terang. Nah kadangnya ada acara kantor yang non official sih, berubah jadi ajang minum. Saya sebagai nubie, cuma bisa bengong. Hehehe.

Misalnya dulu sering ada undangan pemberian penghargaan untuk apa terbaik gitu (biasanya sih dari pihak ketiga. Asuransi atau manajer investasi gitu) nah diundanglah saya, acaranya di private room klub tertentu. Dateng, terima penghargaan, acara formal bla bla bla. Lalu sesudah jam 9, privat roomnya berubah jadi tempat maboknya orang-orang kantor yang saya kirain kaga pernah mabok. Duh. Itu yang namanya buka botol berpuluh-puluh kali, kaya minum air putih aja. Dragonfly atau zoom. Kayanya dua tempat itu sering didatengin para profesional muda untuk nongkrong-nongkrong melepas lelah sambil begaul.

Saya norak ya hihihi..

Itu yang komunitas. Yang sifatnya sosialisasi rame-rame.

Yang sifatnya person-to-person juga sering. Kadang pekerjaan mengharuskan saya untuk entertain nasabah-nasabah prioritas dalam acara private dinner/lunch. Saya traktir dulu, sebelum saya todong mereka tandatangan penempatan dana atau investasi hehehe (walaupun pada akhirnya sering juga jadinya saya yang ditraktir, ga jadi pake duit kantor). Nah nasabah2 taipan saya itu kan udah pada tuwir-tuwir ya, anggaplah berumur 45tahun ke atas. Bagi mereka, menyesap cocktail dan mocktail seharga seratus ribu segelas tuh adalah hal biasa. (Puter-puter mata. Terpana). Dan bagi mereka adalah hal lumrah juga, duduk ngobrolin bisnis sambil minum minuman beralkohol. Semacam minum cola aja gitu.

Saya aja yang kadang sering bingung nolaknya, kalo pas private dinner gitu. Tapi berhubung pake jilbab, kadangnya mereka tau diri, ga maksa saya untuk ikut minum.

Ya intinya saya amazing gitu sih. Budaya bergeser. Mabok itu sekarang udah ga identik dengan bandel lagi. Malah sekarang jadi cara untuk mencairkan suasana saat bersosialisasi, juga jadi ajang unjuk prestise.

Apalagi sekarang udah banyak seven eleven, lawson, dan sejenisnya. Itu smirnoff (jenis vodka) dijual bebas. Siapa aja bisa beli. Dan harganya relatif murah ketimbang beli di tempat klubing. Muntah-muntah deh loe sono, beli seratus ribu di sevel dapet sekodi, ga cuma segelas kaya di klub.

Tapi minum-minuman beralkohol itu bukannya tak berisiko, kan ya? Ada ancaman kanker hati.

Jadi ga usah sering-sering gitu, kenapa sih.

*baiklah*

*sesap wedang ronde*

– – – – – –

ditulis karena sebel sama temen2 yang pada rewel gitu ga nemu sevel atawa sminrnoff di bukittinggi. Ish loe kiraaaa..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s