1001 mantan – 1

Saya percaya bahwa semua hal bersifat subyektif. Sangat dipengaruhi rasa dan asa manusia yang menilai hal tersebut. Tidak terkecuali hal yang berkaitan dengan mantan. Tidak dapat dipungkiri, dari jajaran list orang-orang yang pernah dekat dengan kita, pasti ada yang namanya ‘mantan terbaik’.

Ih itu paradoks pula ya, jika dia baik, kenapa dijadiin mantan. Ya mungkin dia terbaik buat kita, tapi kita ga terbaik buatnya, menurut dia hehehe.

Hal apa yang lalu saya sebut subyektif?

Hal semisal, mantan ngajak ketemuan.

Ada orang-orang yang dengan senang hati saya iyakan ajakan ketemuan mereka. Ada juga yang enggak. Bolehlah kalau dibilang feeling dan judgement saya tentang karakter manusia biasanya tepat.

Apakah hal itu terkait saya masih punya rasa atau tidak? Saya rasa bukan tentang itu. Tapi lebih kepada karakter orang yang akan kita temui. Ada orang yang bawaannya menyenangkan sekali, meskipun sudah beberapa dekade berlalu, saya tahu bahwa kadar sifat menyenangkan orang tersebut tidak akan tergerus. Sebagai pacar, mantan atau teman biasa, sama menyenangkannya. Hal ini membuat ajakan bertemu menjadi hal yang patut untuk ditanggapi. Datang bersama pasangan masing-masing pun dijabanin, karena memang karakter orang tersebut bisa berbaur dengan banyak orang dan banyak kalangan.

Ada orang yang karakternya kurang asyik. Sehingga ketika orang tersebut tiba-tiba mengajak bertemu, itu rasanya curiga. Ga mungkin ga ada hidden agenda. Kemungkinan paling enteng adalah jualan asuransi atau MLM. Biasanya begitu.

Itu padahal mantan loh. Orang yang pernah dekat di hati kita. Apalagi orang yang cuma sekedar kita kenal sekilas, pasti lebih subyektif lagi. Kalo diajak ketemuan ya jawabnya males-malesan, tergantung mood atau PMS dan tidak. Hahaha.

Back to subyektifitas terhadap mantan, terlepas dulu pacaran cuma karena kasian atau karena lagi ga ada gebetan yang penting, ya tetap saja dia menyandang status mantan. Mempertanyakan keburukan mantan, sama saja mempertanyakan selera sendiri. Kadang saya jadi berpikir, “ih gue kok dulu pernah pacaran sama orang kaya gitu sih. Buta kali ya gue waktu itu.” Hehehe. Sadis yak.

Padahal sih kalau mau obyektif, ya semua mantan harusnya diperlakukan sama. Kalau yang satu ngajak ketemuan dan kita menanggapinya dengan senang, berarti mantan yang lain kalau ngajak ketemuan juga harus ditanggapi dengan senang.

Tapi ya gitu deh. Itu yang saya sebut sebagai. Subyektif.

Jadi, dimata mantan kamu, kamu termasuk mantan yang nyenengin untuk diajak ketemuan, atau termasuk yang dihindari untuk ketemuan?

Dan saya? saya termasuk mantan yang mana ya? yang dihindari atau yang diharap-harap bisa ketemu? Hahaha…

– – –

ditulis sebagai pelengkap studi literatur untuk event #menulis1001mantan oleh masmo ,serta #mantan divapress :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s