Media Richness Theory

Salah satu teori dalam lingkup komunikasi organisasi adalah Media Richness Theory. Greenberg (2011) dalam bukunya Behavior in Organization memaparkan Media Richness Theory sebagai konsep yang menjelaskan bahwa setiap media komunikasi memiliki efektivitas yang berbeda dalam penyampaian sebuah pesan, tergantung pada ambiguitas pesan tersebut.

Media Richness Theory membagi pesan kedalam sebuah kontinum. Dimulai dari titik kontinum paling kiri untuk pesan yang sifatnya rutin dan memiliki pesan yang jelas. Semakin ke kanan kontinum tersebut, maka pesan yang disampaikan akan dikelompokkan kedalam jenis pesan yang tidak rutin, dan memiliki tingkat ambiguitas tinggi. Medium penyampaian informasi yang dianggap paling tepat untuk pesan yang berada di sebelah kiri adalah “lean medium”, media-media yang sifatnya ringan, tertulis, dan tentunya memiliki biaya lebih murah, contohnya flyer, email. Ketika sebuah pesan berada di kontinum kanan, maka medium yang paling tepat adalah “Rich medium”, medium non verbal, yang melibatkan interaksi para pihak, misalnya video conference dan tatap muka.

Media komunikasi saat ini sangat beragam. Impaknya adalah arus informasi, kuantitas dan kualitas semakin besar. Greenberg menyatakan, jika kita berada pada posisi sebagai pemberi pesan, maka sangat penting bagi kita untuk memilih media yang tepat, gunanya agar yang diajak berkomunikasi dapat menangkap isi pesan tersebut dengan tepat. bahkan konon, kesuksesan seorang manajer, ditentukan dari kemampuan dia dalam memanfaatkan media komunikasi yang tepat kepada kolega, atasan dan bawahannya.

Jika kita berada dalam posisi sebagai penerima pesan, maka pastikan kita dapat memilah pesan tersebut. Tentukan terlebih dahulu apakah pesan tersebut bersifat rutin atau tidak rutin, mengandung ambiguitas atau tidak. Jika ternyata kita mendapati pesan yang sifatnya tidak rutin, dan mengandung ambiguitas, namun disampaikan dalam media yang tidak memadai, maka bijaksanalah untuk mencari pendapat lain, atau meminta klarifikasi kepada pemberi pesan. Jangan serta merta menerima dan mengiyakan pesan tersebut.

Hal ini kemudian saya kaitkan dengan konteks twitter.

Twitter adalah sebuah situs jejaring sosial, yang menawarkan layanan mikrobloging. Penciptaan twitter awalnya ditujukan sebagai pengganti SMS kepada grup-grup dalam kelompok tertutup. Twitter semakin berkembang, tidak lagi sekedar untuk grup tertentu. Kini twitter dapat diakses siapa saja, diseluruh dunia.

Isinya pun tidak lagi sekedar pesan singkat antar pengguna. Twitter sekarang berisi curahan hati, tautan situs informasi, ngobrol ngalor ngidul antar pengguna twitter, premis cerpen/novel (fiksimini), guyonan lucu, kampanye, dan banyak lagi. Bahkan di Indonesia, fungsi twitter merambah sebagai tempat kuliah. Biasa disebut kultwit.

Salahkah?

Salah benar itu relatif. Tergantung apa yang diyakini untuk menjadi benar atau tidak.

Namun saya pribadi, tetap berusaha logis, mengacu pada konsep media richness. Ada hal yang dapat secara mudah dipahami ketika ditulis dalam bentuk twit dengan 140 karakter, ada hal yang tidak.

Kalau saya pribadi, menggunakan twitter untuk memantau headline peristiwa yang terjadi di seputar dunia ini. Saya posisikan hanya sebagai pengantar headline, karena menurut saya 140 karakter tidak cukup untuk menggambarkan suatu hal secara jelas. Utamanya jika hal tersebut bersifat konseptual. Jika menurut saya ada headline yang menarik untuk digali lebih dalam, saya akan mencari di sumber lain yang bisa memberi lebih lengkap, semisal buku, majalah, surat kabar, dll.

Lalu bagaimana dengan fenomena kultwit?

Ya kembali lagi pada apa yang diyakini, jika itu diyakini benar, maka bisa jadi itu benar.

Saya sendiri berpendapat, jika materi yang hendak dikultwitkan bersifat konseptual, tolonglah jangan sekedar dikultwitkan dalam sepatah dua patah tweet. Sangat rentan memicu ambiguitas dan salah paham. Alangkah bijaknya jika kultwit tersebut hanya menjadi overview yang nantinya dilanjutkan dengan twit berisi tautan yang memuat penjelasan lebih jelas.

Apalagi kepada selebtwit dengan follower banyak, tolonglah jangan dengan mudah mengeluarkan twit kontroversi tanpa menyertakan tautan atau sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan dan memberi penjelasan komprehensif. Masih banyak follower yang menelan sebuah statement bulat-bulat, mentah-mentah. Lebih buruknya lagi jika yang menelan statement tersebut lalu ikut menjudge dengan modal keawaman mereka.

Ini juga note untuk diri saya sendiri sih. (Yak gw bukan selebtwit, tapi sering bikin twit aneh2 kali ya, jd pastikan ada tautan yang bisa membackup ide di balik twit gw itu, gitu kali ya).

Untuk para follower, ya kalo merasa awam, jangan lantas menelan bulat-bulat apa yang terpapar dalam sebuah kultwit. Cari referensi lain kali ya, itung2 nambah baca, nambah pengetahuan.

Buat follower yang ga tau, ga usah sok tahu, sok mendukung atau sok menyerang. Yee ga tau aja sok. (Ini juga note to self diri sendiri).

Kadangnya sih untuk twit-twit bash ga penting bin salah, seringnya diam. Ya males sih ribut di twitter, orangnya aja kita ga kenal. Kecuali kalo orangnya memang udah ganggu banget, pengen banget di-block, tapi klo sampe pake kata dungu dan kasar, ya kadangnya harus ditempeleng juga orang kaya gitu 😀

Sering juga ada twit-twit yang konteksnya dan isinya ga tepat, dari selebtwit dengan follower berjibun, dan selebtwit itu ga mau menerima kritik pula. Nah yang kaya gitu kan malesin ya. Misalnya h*tra dengan twit competitive advantage nya. Kala itu, terlihat banyak mensyen masuk yang mendebat, tapi ya desyenya ga terbuka untuk perspektif lain selain yang sudah dia twit.

Mungkin ada kultwit2 desye dengan topik lain yang beliau oke dan paham, tapi untuk twit tertentu, banyak bolongnya juga. Dan susahnya, topik kultwit yang bolong2 itu sulit dihandle dengan kultwit juga, karena ya kembali lagi, itu konseptual dan memicu ambiguitas.

Misalnya kompetitive advantage itu, itu teori kuliah 4 tahun bok. dan yang di twitkan h*tra adalah mindset awam kala saya masih duduk di semester satu, pertemuan pertama. Dengan berjalannya waktu dan ilmu yang lebih komprehensif, akhirnya bisa paham kenapa tidak baik bergantung pada impor. Dengan kata lain, kalo setuju kompetitif advantage versi h*tra itu berarti saya degradasi, mundur ke kuliah tahun pertama.

Dan ya susah juga kan kalo mau bantah orang model begitu dalam sebuah twit. Rasanya sih pengen nyolot aja nimpuk dia pake buku makro/mikroekonomi. Udah konsepnya ga pakai tataran teori yang jelas, pakai nyebut dungu pula. Huh. Dan pengen nimpuk juga orang-orang yang (gue tahu dan ybs mengakui klo ga ngerti) tp ikut-ikut ngejudge. Mau jadi apa sih..

Jadi ya begitulah.

Bagaimana twitter bisa membuat yang salah jadi benar, yang benar jadi salah. Yang salah malah dapat simpati, yang berusaha memberi koreksi malah terlihat seperti ibu tiri. Hahahaha. Tapi yasudahlah, cuma twitter. Semoga dalam dunia nyata sih, orang-orang ga sepolos twit2nya menelan apa2 yang bersliweran di TL. Ada kata sakti bertajuk second opinion, mari nyari second opinion.

Dan yuk lebih bijak memilih media dalam menyampaikan sebuah informasi. Inget, kalo itu penting dan konseptual, atau rentan menimbulkan ambiguitas, tolong kasih tautannya. Dan kalo ga paham, ga usah ikutan ngomong kecuali kalo bisa memberi alasan atau tautan antitesis yang valid. (Note to self. Bold).

Nb. Tentang swasembada dan impor. Sedikit ulasan, kalo mau lebih lengkap bisa baca buku makroekonomi.
Tidak ada yang salah dengan impor. Boleh impor tapi ada hukumnya: Bukan barang-barang bersifat endowment. Jelas dong.

Indonesia, negara agraris, negara maritim. Ya masa impor beras. Concern ybs h*tra saat itu adalah daging sapi, komplain karena daging sapi mahal, dia beranggapan harusnya impor saja.

Kalau semua seperti itu, maunya gampang, ya lama-lama semua yang kita konsumsi akan jadi barang impor.
Daging sapi, termasuk faktor endowment. Tanah kita jelas luas dan cukup untuk bisa berternak sapi. Sekarang tinggal kita sebagai rakyat, mau ga berbesar hati menunggu pemerintah dan peternak sapi melalui proses belajar agar bisa swasembada. Semua ada prosesnya. Ya impor memang gampang, ga pake proses lama. Tapi kelak akan jadi mahal. Devisa kita akan habis hanya untuk impor barang yang sejatinya bisa kita produksi sendiri.

Tapi indonesia ga efisien produksinya. Bukan ga efisien, tapi belum efisien. Cina dan Jepang juga butuh waktu kok untuk mereka bisa seperti sekarang ini. Indonesia aja yang hampir 14 taun (saya hitung sejak reformasi) yang hidupnya tenggelam dalam concern politik, jadi agak lelet untuk kembali belajar tentang produksi dan industri pangan yang batu landasannya sudah diletakkan mantan presiden suharto. Apalagi pake iming2 “swasembada adalah warisan orde baru, ga usah diteruskan”, nah loh orde baru tapi kalo bagus ya diterusin sih mestinya.

Nah itu gunanya kita bersabar, memberi ruang untuk belajar. Dua tahun lagi pasti sudah bisa efisien. Entah sapi, entah beras, entah gula. Dengan catatan, pemerintahnya juga transparan dan fully support, jadi swasembadanya bukan cuma jargon.

Habibie saja dikecam saat buat N250. Dianggap muspra, sia-sia, mending impor. Tapi waktu itu backing dari pemerintah kuat. Dan nyatanya bisa. Asal dikasih ruang, waktu dan dukungan untuk membuatnya. Sektor lain juga pasti bisa, apalagi yang sifatnya natural gift, natural resources, endowment.

Jadi saran saya sih, Om h*tra ga usah berisik teriak daging mahal. Ngompor2in orang banyak bilang program pemerintah dungu. Pake bilang ga makan daging nanti jadi bodoh dll. Sabar dulu, biarin dulu sih kita susah sedikit, dua tahun ini agak terbatas makan daging, ga bakal bikin lost generation. Masih ada ikan, om. proteinnya lebih tinggi ketimbang daging sapi. Insya Allah kalau impor dibatasi, daging sapi lokal bisa naik pamor, teknologi peternakannya bisa cepat berkembang, bisa swasembada. Asal semua serius, asal proyek swasembadanya ga jadi tempat korupsi. Amiin.

– – – –
* first published: 29 Nov 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s