Executive Lounge That No Longer Executive

Zaman dahulu kala, executive lounge di bandara adalah ruang publik yang saaaanggaaat menyenangkan. Secara namanya saja adalah ‘executive’ maka isinya antara lain adalah mas-mas eksekutif muda yang tampan dan bermasa depan cerah, dong dong dong.

Zaman dahulu, executive lounge tidak terlalu ramai, karena pemilik gold credit card belum terlalu banyak. Ragam makanan yang disediakan cukup banyak, mirip acara pransmanan kawinan. Sofa-sofa empuk. Majalah dan koran luar negeri paling baru, dan wifi super cepat yang sangat keren (karena 6 tahun yang lalu, wifi belum sebanyak sekarang).

Tapi itu dulu…

Karena bisnis kartu kredit di Indonesia semakin marak, maka pemegang gold credit card juga semakin banyak. Efeknya adalah, semakin banyak yang memiliki privillege untuk masuk ke executive lounge bandara.

Executive lounge jadi ramai tiada tara, tidak ada bedanya dengan menunggu di boarding room biasa. Kadang juga saya tidak dapat tempat duduk, sehingga terpaksa keluar lagi dari executive lounge setelah nyemil sambil berdiri.

Semakin banyak orang, membuat kebersihan jadi tidak terjaga. Toilet di bandara di Indonesia belum sebersih toilet di XXI, sehingga buat saya, adanya executive lounge dengan toilet bersih adalah suatu berkah. Tapi yaaa, karena pengunjung executive loungenya over kuota yang tidak diikuti dengan penambahan petugas kebersihan, maka toilet bersih juga tinggal kenangan.

Lalu masa kelam over kuota itu akhirnya selesai. Dua tahun terakhir fasilitas executive lounge hanya diberikan kepada pemegang kartu platinum. Secara pemegang katru platinum masih sedikit, maka executive lounge kembali sepi.

Tapiiii.. Pelayanannya tetap tidak bisa kembali ke zaman dahulu kala. Mungkin karena sudah terbiasa melayani orang banyak dengan standar pelayanan seadanya, maka ketika pengunjung executive loungenya tidak lagi banyak, mereka tetap melayani dengan alakadarnya.

Makanan tidak lagi berlimpah, AC yang tidak telalu dingin, toilet yang tidak lagi sebersih dulu. Dan layout ruangan yang dibuat sangat minimalis, tanpa sofa empuk. Mungkin karena dulu harus menampung banyak orang jadi furniturenya dibuat yang fungsional ketimbang luxury.

Padahal ya, kalau kita bayar tunai (bukan pemegang kartu) harus mengeluarkan biaya sebesar 50rebu. Ga rela banget, untuk fasilitas jelek gini bayar 50 rebu. Tapi ya berhubung masih bisa menikmati gratisan, jadi saya tetap nunggu di executive lounge (yang tidak lagi executive).

Executive lounge indonesia yang masih lumayan adalah Bali. Makanannya sangat beragam dan tradisional (mirip-mirip kalau kita breakfast di ambarukmo), ada ubi rebus, kacang rebus, nasi merah, sate lilit, ayam betutu, aneka sup, wedang jahe, bajigur, ih macem2 deh pokoknya. Kalaupun saya harus bayar untuk masuk kesana, saya rela.

Kalau berpergian ke luar negeri, executive lounge justru tidak penting. Karena apa? Ya karena bandaranya udah baguuuuuus. Malah rasanya sayang kalau cuma termenung di executive lounge. Saya malah harus bisa tawaf di bandara. Di sono mah bandaranya bagus-bagusssss. Seperti mol hahaha (saya norak).

Tipikal kota juga mempengaruhi tipikal pengunjung executive lounge.

Dubai, Canberra, Sydney, kebanyakan mas-mas dan mbak-mbak bule dengan office attire terpaku di layar laptop mereka, keren! Bikin ngiler!

Melbourne, banyak mahasiswa indonesia tajir yang sekolah di sana, maka isi executive loungenya (pada musim tertentu) banyak mahasiswa indonesia (keren yak, masih mahasiswa aja udah punya platinum card, enaknya jadi anak orang kaya!), kadangnya mereka gengges dan brisik, ngobrolnya sok pake bahasa bule dengan vocab terbatas, jadinya campur-campur. Ih.

Macau, kebanyakan pelancong. Executive loungenya terhitung sepi, mungkin karena para backpackers tidak punya kartu platinum hihi.

Yak, demikian sedikit curhatan saya. Iseng aja sih hehe, karena pesawat saya delay 30menit. Huh.

– – – – –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s