Anyelir Segar

“Aku mencintaimu. Aku mencintai aroma kamar ini. Aku mencintai Anyelir segar yang selalu menghiasi kamar ini. Seleramu selalu membuatku merasa nyaman.” Kamu menciumku lembut. Aku mempererat pelukan.

Pagi merangkak tiba. Kamu mengenakan pakaianmu lagi.

“Sampai bertemu minggu depan ya.” Pamitmu hangat. Aku mengangguk lesu. Berharap tidak harus berpisah. Ah betapa aku mencintaimu juga.

… Aku bahagia dengar kata cintamu..
Tapi aku sedih menerima kenyataan…

Selepas kepergianmu, aku bersiap membuka toko bunga yang kiosnya di halaman depan rumahku. Maman, karyawanku sudah hadir di sana. Sejak subuh Maman sudah datang, menerima kiriman bunga-bunga segar dari para pemasok, menata bunga-bunga tersebut di nakas display, lalu melayani pesanan-pesanan pelanggan.

Aku mencintai toko bunga ini. Sudah banyak energi tercurah untuk mendirikan dan membesarkannya. Toko ini hidupku. Sekarang toko ini yang menghidupiku. Hasilnya cukup layak. Aku mencintai tata letak toko ini. Mencintai aromanya yang merupakan perpaduan beragam bunga segar. Mencintai warna-warnanya, perpaduan merah, kuning, hijau, ungu, peach. Bicara tentang mencintai, aku jadi teringat kamu yang subuh tadi berkata mencintaiku dan kamarku karena kontribusi bunga-bunga yang biasa kuletakkan dikamar. Ah, aku semakin mencintai bunga-bunga, juga mencintai kamu.

– – – –

Hari masih terlalu pagi, bahkan Maman belum selesai menata semua bunga yang datang. Seorang wanita cantik tiba di toko bungaku. Pandangannya menyapu seluruh koleksi bunga yang ada. Kusapa wanita itu, menawarkan bantuan.

“Mbak, bunga anyelir itu seperti apa ya? Saya mau beli. Suami saya bilang, bagus jika diletakkan di kamar.”

Aku mengajaknya ke dalam toko. Menunjukkan rangkaian Anyelir yang dimaksud.

“Cantiknya. Saya beli yang rangkaiannya sudah jadi. Untuk di kamar katanya bagus ya, mbak?”

Aku mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkannya dengan mata berbinar-binar.

Wanita itu dengan cepat menyelesaikan transaksi. Katanya ditunggu suami dan anak-anak di mobil. Aku berkomentar bahwa pasti anak-anaknya cantik seperti mamanya ini, dan bahwa beruntung sekali pria yang menjadi suaminya. Wanita cantik itu tersenyum dan mengucap terimakasih atas pujianku.

Maman membantunya membawakan rangkaian anyelir segar ke mobilnya. Dari kejauhan kulihat suami dan dua orang anak kecil menunggu di mobil. Ah keluarga bahagia. Pastilah rumah tangga mereka tambah ceria dengan adanya rangkaian bunga.

Wanita itu mengangguk dan melambaikan tangannya melalui kaca mobil yang terbuka separuh. Aku turut mengangguk dan melambaikan tangan. Mataku menatap nyalang melewati kaca mobil. Lambaian tangan yang sejatinya tidak kutujukan pada wanita itu, tapi pada lelaki yang duduk di belakang kemudi. Lelaki itu, yang kutebak sebagai suaminya, membalas anggukanku, sebagai tanda hormat dan pamit. Hatiku bergetar.

Duapuluh menit berlalu, pikirku masih mengawang pada keluarga bahagia tadi.

Ponselku berbunyi, sebuah SMS masuk.

Ninda, maafkan. tadi pagi terpaksa Dina kuajak ketokomu. Tiba dirumah, Dina bilang kalau semalam melihatku masuk toko itu. Kubilang ‘karena hendak memberinya kejutan, tapi kejutannya batal karena aku harus lembur’. Agar dia tidak curiga, langsung kubawa ke tokomu, kubilang untuk ‘merealisasikan kejutanku’. Kamu bisa mengerti kan?”

.. Bahwa tak hanya diriku yang menjadi milikmu..
Bahwa tak hanya diriku yang menemani tidurmu..
Bahwa tak hanya diriku yang slalu ada dihatimu slamanya..

Tanganku memegang ponsel dengan gemetar. Begitu juga hatiku, getar seperti tadi pagi ketika aku melambaikan tangan padamu melewati jendela mobil yang terbuka separuh.

Akhirnya kumengenal dia, rivalku, yang pernah kamu ceritakan ketika pertama kali kita berkenalan. Akhirnya kulihat rivalku dari dekat, dengan mata kepalaku sendiri. Juga kusaksikan kebahagiaanmu sebagai suami dan ayah, kebahagiaan yang kamu kecap ketika tidak disisiku.

Adakah kamu akan teringat aku, ketika berpelukan dengan istrimu, di kamar beranyelir segar itu? Karena anyelir harusnya identik denganku.

Air mata menitik pelan. Kompensasi atas hati yang berdenyut, terluka.

Tapi aku bisa apa. Tentang ini sudah kuketahui semua. Aku yang gelap mata oleh cinta, mengabaikan semua kenyataan bahwa kamu tidak sendiri. Tapi aku memutuskan untuk tetap mencintai dan menerima cintamu.

Maka aku yang harus legawa menerimanya.

Baiklah, selama aku masih kuat bertahan mencintaimu. Selama kamu masih berucap cinta aku. Aku rela tidak menjadi satu-satunya..

.. Ini begitu salah tapi ini juga..
Begitu benar untuk aku yang dilanda..
Cintamu yang terus membakar aku..
Cintamu yang akhirnya membunuhku..

—–

*dewi dewi – Begini Salah Begitu Benar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s