Sarung Merah Muda

Gadis itu cantik. Rambutnya selalu berkepang dua. Seringnya memakai baju kurung berwarna putih, kadang merah. Namun sarungnya, selalu sama warna merah muda. Apapun motif sarungnya, warnanya akan merah muda. Aku tidak tahu nama gadis cantik itu. Maka dari itu selalu kusebut dia dengan ‘Nona Sarung Merah Muda’.

Nona Sarung Merah Muda sangat cekatan, dia akan mengambilkan barang-barang yang kita beli, lalu memasukkan belanjaan tersebut ke dalam kantong kresek dengan cepat dan rapih. Dan yang terpenting, dia selalu melayani pembeli dengan tersenyum. Itulah mengapa aku sangat suka berbelanja di tokonya.

Hari ini aku ke Pasar Besar lagi. Pasar Tradisional di tengah kota kecil Prabumulih. Aku berbelanja di Toko Nona Sarung Merah Muda. Sebagai petugas kebersihan di SD 1 Prabumulih, aku kadang ditugasi oleh Bapak kepala sekolah untuk berbelanja bulanan. Biasanya tugas ini kuterima dengan senang hati. Karena pastinya aku bisa bertemu pujaan hati, Nona Sarung Merah Muda. Gadis cantik yang langsung membuatku jatuh cinta sejak pandangan pertama.

Aku sulit jatuh cinta. Agak pemilih. Ada kriteria tertentu yang biasanya jarang bisa dipenuhi wanita yang ibunda jodohkan untukku. Ibunda jadi rewel, karena di usiaku yang sudah 32tahun, aku belum juga menikah. Pacarpun aku tak punya. Ibu sempat mengira aku suka sejenis. Dengan keras kutampik hipotesa ibu. Aku suka wanita, Gadis cantik ini contohnya.

Mang Eman menepuk pundakku, mengganggu kekhusu’anku memandang sang pujaan hati. Mang Eman menyerahkan belanjaanku. Untuk barang-barang yang jarang dibeli orang, letaknya ada di gudang. Tugas Mang Eman mengambil barang-barang di gudang. Tapi kalau barang tersebut sering dibeli orang, ada di toko dan mudah dijangkau, biasanya Nona Sarung Merah Muda yang mengambilkan.

Aku menerima belanjaanku dengan gundah. Pertanda harus segera meninggalkan toko. Meninggalkan pujaan hatiku. Entah kapan bisa bertemu dengannya lagi. Tergantung titah kepala sekolah, tergantung kapan kapur tulis habis, tergantung kapan karbol pewangi lantai habis. Dan lebih penting, tergantung kapan dana operasional sekolah dari Provinsi cair.

Ketika kaki hendak melangkah keluar toko, sebuah tangan kecil menarik-narik bajuku. Gadis Sarung Merah Jambu, menggenggam beberapa lembar uang.

“Paman, ini kembaliannya. Hati-hati di jalan. Belanja lagi di toko kami, ya.” Ucap Nona Sarung Merah Muda.

Aku mengangguk dan tersenyum mendengar ucapannya. Pilihan kata yang sangat dewasa dan bijaksana untuk ukuran anak kecil berumur 6 tahun, mungkin hasil didikan bapaknya.

Sebut saja aku gila. Namun begitulah diriku ketika jatuh cinta. Selalu saja kepada mahluk-mahluk mungil dan menggemaskan. Bagiku mereka menyimpan rahasia dan kepolosan yang sangat menarik untuk dinikmati. Itulah sebabnya aku sangat menikmati pekerjaanku di SD. Sangat mudah bagiku berdekatan dengan wanita-wanita polos mungil itu.

Kadang khayalku menerawang nyalang, membayangkan aku dan Nona Sarung Merah Jambu saling bercumbu. Membayangkan tubuh yang mungil dan beraroma kanak-kanak. Ringkas dan fleksibel. Tidak seperti tubuh wanita dewasa yang penuh lekuk dan lemak. Menyebalkan.

Ah. Adakah dia akan mencintaiku. Wahai Nona Sarung Merah Jambu.

Advertisements

4 thoughts on “Sarung Merah Muda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s